Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 38 – RENCANA UNTUK ARINI


__ADS_3

“Hans, Lu datang sendiri?” Bramasta menyalakan TV di depan sofa L.


“Nggak, gue tadi bareng Tuan Alwin dan Pak Dhani. Mereka di bawah. Gabung dengan para nyonya di kafe.”


“Nih barangnya..” Anton menyerahkan kotak berwarna gradasi cobalt blue dan blue cyan.


“Jam buat anak-anak tapi kotaknya seserius ini?” Hans terkekeh.


“Karena harga dan fiturnya juga gak kaleng-kaleng,” Bramasta terkekeh.


Anton mengangguk sambil terkekeh.


“Guys, would you come here, please?” Indra memanggil dari bed Arini.


Ada Adisti dan Adinda yang duduk di sana.


“What’s up?” Hans sambil berjalan meraih botol air mineral di atas meja pantry bar.


“Sini, kita rembugan bareng..” kata Adisti.


Anton merebahkan sandaran sofa bed agar bisa diduduki menghadap ke arah bed pasien. Mereka bertiga duduk di sana. Agung menarik sebuah kursi.


“Bagaimana?” tanya Bramasta.


“Yang pertama, tentang bisnisnya Teh Arin,” Indra memandang Arini yang mengangguk ke arahnya, “Kita gak tahu berapa lama Teh Arin dirawat di rumah sakit ini. Berharap sih ada keajaiban seperti sewaktu Adisti di rawat setelah jatuh dari tebing, kondisi fisiknya saat itu bisa dibilang ajaib kan, tidak ada cedera parah, hanya lepas persendian bahu akibat benturan dengan dahan pohon yang menahan tubuhnya.”


Adisti mengangguk mengiyakan.


“Juga sewaktu Agung yang tertembak. Dokter yang mengoperasi saja sampai terheran. Dari luka tembus peluru seharusnya mengenai organ vital, kalau gak jantung ya paru-paru. Tapi Allah berkehendak lain, pelurunya numpang lewat doang tanpa menyentuh organ vital tersebut. Walau sempat koma 3 hari tapi begitu sadar, kondisi Agung pulih dengan cepat. Iya gak, Gung?”


“Iya, Bang..” Agung mengangguk, “Alhamdulillah. Walaupun terkadang terasa ada yang aneh di dada ini..”


“Aneh bagaimana Kak? Kok baru cerita sekarang sih?” Adisti menatap cemas kakaknya.


“Aneh seperti ada yang bergerak di dalam dada. Seperti bergerak dengan cara menggeserkan tubuhnya seperti.... ular?”


Semua terkejut mendengar penjelasan Agung.


“Lu gak konsul ke dokter?” Hans memandang cemas.


“Om Agung kok gak pernah cerita sih?” mata Adinda sudah mengembun.


“Kata dokter itu efek operasi. Beberapa pasien operasi biasanya akan merasakan sesuatu yang berbeda dan aneh di area bekas operasinya,” Indra tersenyum, “Sudah dicek, semuanya normal. Jadi ini lebih ke psikis saja.”


“Om..”

__ADS_1


“Gak apa-apa, Dinda. Om gak apa-apa."


"Rasa seperti itu ada kalau Kakak Ipar sedang apa?" Bramasta menatap Agung dengan serius.


“Mostly_Seringnya_ saat cemas. Dan beberapa kali karena entahlah.. tiba-tiba merasa tidak enak karena merasa akan terjadi sesuatu yang buruk.”


“A sighning?” Anton mengangkat kedua alisnya.


Bahkan Arini yang menyimak obrolan Agung ikut menaikkan alisnya.


Agung mengangkat kedua bahunya, “Maybe.._Mungkin.._”


“Efek samping koma mungkin, Gung..” Indra menatap Agung.


“Mungkin juga..” Agung berhenti sejenak, “Tapi sih kebanyakan saat berada di dekat Adinda. Berdua...”


“Haisssh! Lu Gung! Kebangetan banget! Kayak gitu diceritain..” Hans berdiri dengan sebelah tangan di pinggangnya.


“Ciyeeee udah gak sabar buat ngehalalin Adinda nih..” Anton tergelak diikuti yang lainnnya.


Kecuali Adinda. Pandangannya menunduk tidak berani menatap Agung. Pipinya sudah merah.


“Eh! Bukan perasaan seperti itu..” Agung menggerakkan kedua tangannya, “Bukan yang mengarah ke arah sana. Tapi ini tentang sesuatu yang lebih dalam.”


Semuanya terdiam. Menunggu Agung melanjutkan lagi penjelasannya.


Mereka mengangguk kecuai Arini, selain karena tidak tahu kisahnya juga karena lehernya dipasang penyangga yang membatasi ruang gerak lehernya.


“Terus?” Hans bertanya dengan tidak sabar.


“Seperti ada yang lain dalam diri gue. Perasaan lebih menyayangi, lebih ingin melindungi, lebih menjaga, dengan perasaan tanpa syarat. Seperti kasih sayang orangtua kepada anaknya yang ada tanpa syarat. Senakal apapun anaknya pasti tetap disayangi sampai kapan pun..” Agung tanpa sadar memegangi dada kirinya.


“Eh, itu..” Adisti menunjuk tangan kakaknya.


“Iya.. ini berasa lagi. Menggeser dari sini,” Agung menunjuk letak jantungnya, “Nanti berakhir di sini,” Agung menunjuk ke paru-paru kanan ujung bawah.


“Kok gue merinding ya?” Anton mengelus leher beakangnya.


“Gue juga..” Indra ikut mengelus leher belakangnya.


“Eh, udah lanjutin lagi, tadi Lu mau ngomong apa, Bang?” Agung menatap Indra.


“Eh iya.. Terus saat Adinda masuk rumah sakit. Luka-lukanya lebih ke trauma psikis ya. Pasca dia hampir dijual oleh ibu tiri dan teman prianya kepada orang kedutaan Jerman, juga dari situ baru terkuak kematian Papanya adalah karena pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berdua...”


“Gue masih ingat jelas, saat itu Adinda betul-betul terpuruk secara psikis dan emosinya. Menolak didekati oleh laki-laki siapapun kecuali Agung. Bahkan dokter jaga pun diteriaki olehnya. Gue, Hans, Lu juga dibentak Adinda..”

__ADS_1


Adinda menatap Bramasta dengan takut-takut.


“Ma’af...”


“Eh, gak perlu minta ma’af. Itu semua terjadi di luar kesadaran kamu,” Bramasta tersenyum lembut pada Adinda.


“Hikmah dari kejadian itu, walau kamu yatim piatu dan sudah tidak mempunyai kerabat lagi, tapi kamu punya keluarga yang banyak. Kamu disayangi oleh banyak orang. Dan kamu menjadi adik angkat kami semua,” Hans memegang kepala Adinda yang tertutup hijab, “Abang suka dengan kondisi kamu sekarang. Lebih strong, lebih percaya diri. Kamu luar biasa.”


Arini menatap Adinda dengan mata berembun. Cerita ini tidak pernah diungkap media manapun. Keluarga Sanjaya, Keluarga Kusumawardhani, keluarga Gumilar dan Keluarga Fernandez menutup rapat kisah Adinda dari media.


Hatinya terasa hangat melihat bagaimana hubungan persahabatan yang berubah menjadi kekeluargaan. Saling menyayangi, menjaga dan mengingatkan satu sama lainnya.


“Kondisi Dinda saat itu juga disebut oleh psikiater yang merawatnya sebagai keajaiban yang luar biasa. Dinda cepat pulih karena berada di lingkungan positif.”


Semua mengangguk setuju.


“Sekarang dengan Teh Arin, kita hanya berharap, ada keajaiban juga bagi Teh Arin agar bisa cepat pulih,” Indra menatap Arini sambil tersenyum.


“Aamiin Yaa Mujibbassalimiin.”


“Tadi gue mendengar tentang kondisi rumah produksi Teh Arin yang sedang dikejar pesanan. Bagaimana kalau B Group menawarkan kerja sama kepada perusahaannya Teh Arin. Tadi kami berempat sudah mengobrol. Teh Arin alhamdulillah menyambut baik dan setuju untuk bekerja sama menjadi mitra B Group di divisi Fashion & Accesoris yang dibawahi oleh Disti.”


Bramasta mengangguk, “Gue sih OK.”


“Nanti kerjasamanya meliputi bantuan memperluas marketingnya supaya bisa go internasional juga. Penyediaan bahan baku. Pemilihan materi bahan baku tetap kita bebaskan pada Teh Arini juga ide-ide rancangannya agar tetap orisinil,” Adisti menjelaskan.


“Terima kasih banyak, A Indra dan kalian semua. Tadinya saya cemas sekali mengingat sekarang ini kami tengah banyak pesanan yang harus dipenuhi sementara saya mengalami musibah.”


“Gak apa-apa, Teh.. Gak usah terlalu sungkan dengan kami,” Bramasta tersenyum pada Arini.


“OK.. yang pertama done_selesai_, sekarang gue mau minta pendapat dengan kalian tentang rumah Teh Arini.”


“Kenapa?” Agung mengernyit.


“Gue rasa, teh Arini harus pindah dari rumahnya. Karena sudah tidak aman untuk Teh Arini dan anak-anaknya.”


Semua mengangguk.


“Bukan tidak mungkin mantan suaminya akan mendatangi lagi rumah Teteh nantinya. Dan peristiwa ini akan terulang lagi,” Hans berkata dengan wajah datar seperti biasa.


“Oleh karena itu, bagaimana kalau mereka tinggal di eks The Ritz?” Indra memandang ke semuanya.


.


***

__ADS_1


Kakak beradik dari keluaga Gumilar punya kenangan buruk dengan The Ritz, yaitu Agung dan Adisti, kira-kira bagaimana tanggapan mereka ya?


Cerita selengkapnya mereka semua ada di CEO Rescue Me! Ya..


__ADS_2