Mr. Secretary: Destiny Bound

Mr. Secretary: Destiny Bound
BAB 26 - PESAN


__ADS_3

Akbar tengah bercerita kepada Alif saat Mami datang. Mendengar ada yang datang, mereka berdua berhenti bercakap.


Saat melihat bed Arini, Papi dan Mami terkesiap. Mami menatap linu pada Arini yang tengah terpejam.


“Ini masih belum siuman dari tadi?” Papi menatap Indra, “Bram mana?”


“Tadi sudah siuman. Ini mungkin karena pengaruh obat,” Indra menatap Arini, “Bramasta ke kantor. Ada trouble dengan vendor garment.”


“Keluarganya gak ada yang datang, Ndra?” Mami memperbaiki selimut Arini.


Indra menggeleng.


“Dia yatim piatu, Mi. Keluarganya hanya Alif dan Akbar saja.”


“Mereka dimana?” Mami langsung berdiri.


“Di sebelah,” Indra menunjuk tirai pembatas.


“Kenapa gak dibuka saja tirainya, Ndra?” Papi mengernyit.


“Jangan Pi. Melihat kondisi Bundanya, anak-anak jadi sedih. Terutama Abay, dia ketakutan. Takut kehilangan Bundanya.”


“Ah.. Betul-betul keterlaluan ya mantan suaminya. Mereka sudah berpisah sejak berapa lama sih?”


“Dua setengah tahun, Pi. Dan selama itu, dia lepas tanggung jawab tidak memberikan nafkah kepada anak-anaknya.”


“Biadab betul!” Mami terlihat geram sekali.


Mami bergerak menyibak tirai pembatas di sebelah bed Arini.


"Assalamu'alaikum.. Kalian sedang apa?”


“Wa’alaikumussalam..” Alif menjawab lemah.


“Tata.. iwni oma. Nang tadi oblowl Abay syama Om Inda..” Akbar yang duduk di atas bed Alif menunjuk Mami dengan ibu jarinya.


Mami tersenyum melihat Akbar.


“Hai Oma..” sapa Alif berusaha menyalimi Mami.


“Udah.. Alif gak usah bangun dulu,” Mami menyodorkan tangannya untuk disalimi Alif.


“Abay eyum Oma..”


Mami tertawa dan membelai kepala Akbar. Menyodorkan tangannya yang langsung disalimi oleh Akbar.


“Alif kepalanya masih sakit?”


“Nggak Oma.”


“Mual gak?”


“Nggak..”


“Oh iya, Oma bawa pie susu. Tadi Abay kasih tahu Oma, Kakak Alif suka banget dengan pie susu. Mau makan sekarang?”


“Mau Oma..”


Mami keluar dari bilik bed Alif. Mengambil kotak berlabel toko bakery.


“Pi, sini deh. Lihat anak-anak itu. Manis banget mereka. Cerdas lagi. Buruan, Pi. Yuk kenalan dengan mereka.”

__ADS_1


Papi menatap Indra dengan kedua alis terangkat. Sedetik kemudian tersenyum lebar. Sedangkan Indra menyembunyikan senyumnya.


“Halo.. Kakak Alif, Adik Abay..” sapa Papi.


“Kenalin, ini Opa. Opa Dhani,” Mami memegang lengan Papi.


“Syayim Opa..” Akbar mengulurkan tangannya.


Papi yang tidak mengerti memandang Mami.


“Salim, katanya..” Mami menerjemahkan ucapan Akbar.


Papi terkekeh lalu menyodorkan tangannya pada Akbar dan Alif.


“Kalian tadi sewaktu Opa dan Oma datang kok gak ada suaranya?”


“Kata Bunda, kalau ada tamu, Kakak dan Adik gak boleh berisik. Gak boleh ganggu tamu yang sedang mengobrol kecuali saat ditanya..” Alif menjelaskan sambil menerima pie susu dari Mami.


“Bunda kalian luar biasa ya. Didikannya kepada kalian betul-betul hebat,” Papi menekan remote bed supaya Alif bisa duduk sambil bersandar.


“Nda mang eba. Tata dan Abay syayang banet ke Nda.." Akbar menggigit pie susunya.


“Apa?” Papi menatap bingung.


“Bunda memang hebat. Kakak dan Abay sayang banget ke Bunda..” Mami menerjemahkan.


“Kok Mami tahu?” Papi menatap heran.


“Masa gitu aja gak tahu?” Mami balas bertanya.


Indra membawa laptopnya di dekat bed Arini. Dia mengerjakan pekerjaannya, memeriksa laporan-laporan yang masuk.


Suara erangan tertahan membuatnya melirik ke arah bed. Mata Arini mengerjap. Indra berdiri dan menundukkan tubuhnya agar bisa mendengar ucapan Arini.


“Teteh mau minum?”


Arini mengedip. Indra menyodorkan botol air mineral. Mendekatkan sedotannya pada bibir Arini untuk disesap.


“Alif?”


“Alif sudah sadar. Sekarang sedang makan kue dengan Abay. Ditemani kedua orangtua saya.”


“Ma’af..”


“Tidak perlu meminta ma’af Teh. Jangan sungkan. Jangan khawatir dengan anak-anak. Insyaa Allah saya akan mengurus mereka dengan baik.”


Mami menyibak tirai. Papi melihat bagaimana anak semata wayangnya berinteraksi dengan Bundanya Alif dan Akbar.


Keduanya melangkah mendekati Arini.


“Ehm.. Saya Kusumawardhani, papinya Indra. Dan ini istri saya..” Papi mengenalkan diri.


“Saya...,” Mami terdengar kaku dan terdengar menjaga jarak, “Saya maminya Indra.”


Arini mencoba tersenyum. Tapi bibirnya terasa perih. Dia mengernyit menahan rasa sakitnya.


“Ma’af.. merepotkan..” bisik Arini.


“Papinya Indra diberitahu Hans tentang apa yang terjadi dan langsung menjemput saya di rumah untuk segera ke sini,” Mami duduk di kursi dekat bed.


“Hans?”

__ADS_1


“Sekretaris Sanjaya Group. Papi bekerja di Sanjaya Group,” Indra menjelaskan.


Indra menegakkan tubuhnya. Memandang Mami.


“Mami bukannya tadi bilang akan segera ke rumah sakit setelah mengobrol dengan Abay?” Indra tersenyum lebar membuat Mami menatapnya dengan jengkel.


Papi menggelengkan kepala ke arah Indra. Meminta Indra untuk tidak membuat Mami kesal.


“Terima kasih..”


Mami mengangguk.


“Kakak Alif dan Abay, keduanya anak-anak manis dan hebat..” Mami memuji dengan kaku.


“Terima kasih..” suara Arini terdengar lemah.


Arini menatap Indra.


“A..”


“Ya?” Indra memajukan tubuhnya untuk mendekat.


“Kalau terjadi apa-apa dengan saya.. Saya titip anak-anak. Saya percaya A Indra bisa mendidik mereka dengan baik. Tolong, jangan sampai ayahnya mengambil hak asuh mereka..”


“Eh?” Mami terperanjat.


“Nggak, Teh. Teh Arini gak boleh ngomong begitu. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Teteh. Teteh akan sehat lagi. Tidak ada patah tulang, tidak ada pendarahan organ dalam. Hanya beberapa tulang iga memar. Insyaa Allah Teteh akan pulih,” Indra mengambil tisu dan menyeka air mata yang keluar dari sudut mata Arini.


“Bunda gak boleh mati!” Alif berteriak sambil terisak dari tirai sebelah.


Akbar ikut menangis.


“Abay itut Nda.._Abay ikut Bunda.._”


Mami langsung berdiri menghampiri bed sebelah dikuti Papi. Mereka berdua menenangkan anak-anak.


Mami menggendong Abay sedangkan Papi memeluk Alif yang menangis sesunggukan.


“Oma, gak benar kan Bunda akan meninggal?” Alif yang dipeluk Papi menatap Mami dengan penuh tanya.


Mata Mami sudah tidak dapat dikompromikan lagi. Matanya sudah basah oleh air mata.


“Nggak.. Bunda akan sehat lagi,” Papi membelai punggung Alif.


“Opa gak bohong kan?”


“Tadi Opa sudah baca laporan visum yang dibuat oleh dokter.”


“Abay tatut Nda ninggal..”


“Nggak.. Bunda akan sehat lagi kok setelah istirahat di rumah sakit,” Mami menenangkan Akbar.


“Teh..” Indra memajukan kursinya semakin mendekati bed, “Tetap kuat dan jangan buat anak-anak sedih. OK?”


“Ma’af.. saya hanya khawatir..”


“Teh Arini harus kuat. Jangan patah semangat..”


.


***

__ADS_1


Sad part ini...


Single parent kalau lagi sakit, rasanya memang nelangsa banget. Dan anak-anak pun menjadi teramat cemas dengan kesehatan satu-satunya orangtua yang mengasuh mereka.


__ADS_2