
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Petra sedikit mendongak, menatap wajah Ludwig yang memesona saat dilihat dari jarak teramat dekat.
“Walaupun kujelaskan, aku tak yakin bahwa kau akan mengetahui siapa diriku,” jawab Ludwig. Dia kembali menegakkan tubuh, lalu menyodorkan ponsel milik Lilia. “Sekarang, hubungi ayahmu. Katakan bahwa kau ada di Tirol, Austria,” suruh Ludwig dengan sorot tajam yang terarah pada wanita muda di hadapannya.
‘Ta-tapi … aku ….” Petra seperti tak setuju dengan apa yang Ludwig suruhkan padanya. “Kau tahu bahwa aku datang kemari secara diam-diam. Ayahku pasti akan sangat marah jika ….”
“Terserah kau. Aku bisa melemparmu sekarang juga dari peternakan ini,” sela Ludwig penuh ancaman.
Nyali Petra menjadi ciut. Wanita muda itu kembali teringat dengan para penjahat, yang sempat menyekap dia dan sahabatnya. Petra menggeleng tak suka. “Ba-baiklah,” putusnya kemudian. Dia mengulurkan tangan, bermaksud hendak mengambil ponsel yang Ludwig sodorkan.
Akan tetapi, Ludwig menarik kembali telepon genggam tadi dengan cepat. Pria itu menyeringai kecil. “Dengarkan dulu instruksi yang akan kuberikan padamu, Nona Harald,” ujarnya dingin. Ludwig mengangkat sebelah kaki ke atas jerami yang menjadi alas tidur Petra. Dia menatap lekat wanita muda bermata hijau tersebut.
“Pertama, hubungi ayahmu. Katakan bahwa kau berada di Austria,” ujar Ludwig. “Kedua, suruh dia agar menjemputmu ke Hall in Tirol. Tekankan padanya agar tak membawa siapa pun. Ingat kata-kataku, Nona. Suruh ayahmu datang seorang diri.” Kata-kata yang keluar dari bibir Ludwig penuh penekanan.
Petra yang tadinya terlihat biasa saja, tiba-tiba menjadi takut dengan pria di hadapannya. Gadis itu bergerak mundur perlahan. “Kau seorang penjahat. Kau sama saja seperti mereka!” sergahnya cukup lantang.
“Pelankan suaramu!” tegas Ludwig dengan raut serta tatapan yang terlihat semakin menakutkan. “Aku memang seorang penjahat. Kusarankan agar kau bekerja sama, karena aku bisa menghabisimu sekarang juga. Akan kubuang mayatmu ke jurang, sama seperti yang kita lakukan semalam terhadap empat pria asing itu.” Ludwig kembali menyeringai, saat melihat wajah cantik Petra yang seketika memucat.
Ludwig menurunkan kakinya dari tumpukan jerami. Dia berdiri gagah penuh wibawa di hadapan Petra yang membisu. Gadis itu seperti telah keluar dari mulut buaya, lalu masuk ke mulut harimau. “Ini!” Ludwig melemparkan telepon genggam kuno milik Lilia ke atas jerami, tepat di samping Petra. “Cepat hubungi ayahmu!” suruhnya, bagai seorang tuan terhadap bawahan.
Petra mengulurkan tangan penuh keraguan. Dia bahkan terlihat gemetaran saat mengambil ponsel, lalu mengetikkan deretan angka yang merupakan nomor ponsel sang ayah. Beberapa saat lamanya, Petra menunggu panggilan itu dijawab. Namun, dia harus mencoba hingga beberapa kali, hingga sang ayah akhirnya mengangkat telepon.
“Ayah, ini aku.” Suara Petra terdengar sedikit bergetar, sebagai pertanda bahwa gadis itu sedang dilanda ketakutan. Dia berkali-kali menoleh kepada Ludwig, yang terus memperhatikannya dengan sorot tajam. “Ayah, aku ada di Tirol,” ucap Petra lagi, karena sang ayah tak kunjung bicara.
__ADS_1
“Apa? Tirol? Sedang apa kau di sana?” Nada bicara Oliver, ayahanda Petra terdengar sama menakutkan dengan Ludwig. “Bukankah kau sedang berada di Hamburg?”
“A-aku ….” Petra terlihat ragu saat menoleh kepada Ludwig. “Maaf, ayah. Aku dan Adeline pergi ke Austria untuk berlibur. Namun, ternyata semua tak seperti yang kuharapkan. Kami … kami dirampok. Aku meminjam ponsel seseorang agar bisa menghubungimu,” terang Petra berbohong.
“Astaga! Gadis bodoh!” maki Oliver. “Apa yang kau ada dalam pikiranmu?” sentaknya.
“Aku mengaku salah, ayah. Aku benar-benar minta maaf.” Petra memperlihatkan raut penuh penyesalan. Andai saja dia tak pergi secara diam-diam ke Austria, dirinya mungkin tak akan pernah berurusan dengan komplotan pria jahat. Petra juga tak perlu berurusan dengan Ludwig yang menakutkan. “Ayah, aku ingin agar kau menjemputku kemari. Saat ini, aku berada di Tirol,” ucap Petra lagi.
Oliver tak menanggapi. Pria itu hanya mengembuskan napas berat.
“Kutunggu besok di Hall in Tirol. Usahakanlah untuk datang sendiri. Aku tidak menyukai pengawalan resmi yang akan menarik perhatian banyak orang. Kau hanya akan menjemput putrimu. Bukan untuk urusan kenegaraan.” Petra begitu pandai merangkai kata-kata yang terdengar meyakinkan.
“Lalu, semalam kau tidur di mana?” tanya Oliver mulai terdengar cemas. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang ayah. Sedangkan, Petra merupakan putri semata wayangnya.
“Ada seseorang yang bersedia memberikan tumpangan. Namun, aku ingin segera pulang ke Jerman,” sahut Petra. Sesekali, dia menoleh kepada Ludwig yang tak mengalihkan perhatian sedikit pun. Sikap pria itu dirasa begitu mengintimidasi bagi Petra.
Petra baru melanjutkan percakapan dengan Oliver, setelah Ludwig memberikan secarik kertas berisikan alamat yang menjadi tempat pertemuan mereka, lengkap dengan jamnya. “Jangan menghubungiku di nomor ini,” pesan gadis itu kemudian. Setelah didapat kata sepakat, Petra mengakhiri panggilan telepon. Dia mengembalikan ponsel kepada Ludwig.
“Kerja bagus, Nona Harald. Aku menyukainya.” Ludwig menyunggingkan senyuman kalem, yang membuat rasa takut dalam diri Petra tiba-tiba memudar. “Ingat. Bersembunyilah jika ada yang datang kemari selain diriku,” pesan si pemilik mata cokelat madu tersebut. Dia mengambil wadah stainles yang sudah kosong, kemudian berlalu ke pintu. Ludwig menutupnya rapat-rapat.
Hari itu, tak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan. Hingga siang berganti malam, Ludwig kembali ke lumbung untuk mengantarkan makanan. Hal tersebut dirinya lakukan setelah semua penghuni rumah terlelap. Dia tak ingin mengambil risiko.
“Aku sudah kelaparan,” keluh Petra yang menyambut antusias makanan di hadapannya.
__ADS_1
Akan tetapi, Ludwig tak menanggapi. Pria tampan tersebut langsung pergi dari sana. Hal seperti itu terus berlangsung hingga keesokan malam. Tepat pukul delapan tiga puluh, Ludwig sudah bersiap untuk pergi.
“Kau mau ke mana?” tanya Lilia. Dia berdiri di belakang sang suami, lalu memeluk erat tubuh tegap pria itu.
“Aku akan keluar sebentar,” jawab Ludwig datar.
“Kau tidak ingin mengajakku?” tanya Lilia polos.
“Tidak,” jawab Ludwig singkat. Dia membalikkan badan, menatap Lilia beberapa saat. “Aku akan menemui teman-teman pria. Kau tidak akan nyaman di sana,” ucapnya beralasan. Belum sempat wanita muda itu memberikan jawaban, Ludwig sudah lebih dulu menciumnya. Seperti biasa, Lilia takluk hanya dengan perlakuan seperti itu. Wanita muda tersebut langsung diam dan menurut.
Ludwig melenggang dengan leluasa, keluar dari kediaman sang pemilik peternakan. Dia hanya mengangguk samar, saat dirinya berpapasan dengan Gunther. Ayahanda Lilia itu pun membalas dengan hal yang sama.
Beberapa saat kemudian, Ludwig telah berada di lumbung. Seperti kemarin malam, dia mengarahkan Petra ke dekat kandang anak sapi. Ludwig membantu gadis itu memanjat tembok pembatas. Setelah memastikan Petra berada di luar, barulah dirinya mengendap-endap keluar dari peternakan.
Tak ingin membuang waktu, Ludwig bergegas menuntun Petra meninggalkan area peternakan. Tanpa dirinya ketahui, ada sepasang mata yang terus mengawasi pergerakan mereka, bahkan mengikuti langkah cepat Ludwig dan gadis itu hingga tiba di tempat yang telah dijanjikan.
Namun, setelah tiba di sana, Ludwig tak segera menghampiri Oliver. Dia bahkan mencegah Petra yang hendak berlari ke arah pria paruh baya tersebut. Ludwig mengawasi sekitar terlebih dulu. Dia harus memastikan bahwa Oliver benar-benar datang seorang diri.
“Itu ayahku,” protes Petra tegas.
“Aku tahu,” balas Ludwig. “Aku hanya ingin memastikan terlebih dulu, bahwa ayahmu menepati kata-katanya.”
“Ayahku seseorang yang berasal dari militer. Dia selalu memegang teguh apa yang sudah dirinya ucapkan,” tegas Petra. Dia mulai tak suka dengan sikap Ludwig, meski dalam hati gadis itu merasa tertarik dengan ketampanan pria dengan rambut berwarna ash grey tersebut.
__ADS_1
“Mari temui ayahmu.” Ludwig menatap penuh arti kepada Petra. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Ludwig menuntunnya menghampiri Oliver yang sendirian. “Tuan Oliver Harald?”
Seketika, Oliver menoleh. “Ludwig Stegen?” desisnya pelan.