
“Hai, Tampan. Akhirnya kau pulang juga,” sambut Petra. Dia berjalan mendekat, lalu menarik bagian depan baju yang Ludwig kenakan agar lebih mendekat padanya.
“Minggir! Aku sangat lelah,” tolak Ludwig ketus.
“Hey! Kau lupa sedang berbicara dengan siapa?” Tangan Petra semakin erat mencengkram bagian depan baju Ludwig. “Jika bukan karena diriku, maka kau masih berada di kandang sapi hingga saat ini, Sayang,” ujarnya bernada cibiran.
“Aku tidak merasa berutang budi kepada siapa pun,” bantah Ludwig. Dia menepiskan tangan Petra dari bajunya. Ludwig langsung berlalu dari hadapan wanita muda itu.
Namun, belum sempat Ludwig menjauh, Petra kembali menarik baju pria tampan tersebut dari arah belakang, sehingga membuatnya seketika menghentikan langkah. Tanpa rasa canggung, Petra memeluk erat tubuh tegap Ludwig. “Astaga, senyaman inikah rasanya?" ucapan Perta begitu nakal. Dia membenamkan wajah di pundak belakang si pemilik rambut ash grey tadi. “Aku sudah menunggumu sekitar satu jam di sini.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan itu,” ujar Ludwig dingin dan tak acuh.
“Memang tidak. Namun, aku ingin melakukannya.” Tangan Petra bergerak nakal, menggerayangi dada serta perut kokoh Ludwig. Dia bahkan berani menyentuh bagian resleting celana jeans pria itu.
“Hentikan!” Ludwig menepiskan tangan nakal putri Oliver Harald tersebut, dari area sensitifnya. Dia bahkan melakukan itu sedikit kasar. “Aku tidak sedang ingin melakukan apapun selain tidur,” ujarnya.
“Tidak apa-apa. Kau diam saja dan biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. Kujamin rasanya tetap sama,” bisik Petra penuh godaan. Dia juga mencium daun telinga serta leher belakang Ludwig. “Oh, aku suka bau keringat ini.” Ucapan Petra terdengar semakin menantang naluri kelelakian Ludwig, yang tak merespon sama sekali.
__ADS_1
“Berbaliklah, Tampan. Katakan, kau ingin melakukannya di mana? Mobilku ada di tempat parkir, jika kau tidak ingin bercinta di sini.” Tangan berjemari lentik milik Petra, terus bergerak nakal menggerayangi dada bidang Ludwig.
Ludwig mengembuskan napas berat penuh keluhan. Siasatnya yang telah menjadikan Petra sebagai jaminan kepulangan dari Austria, ternyata merupakan sesuatu yang sangat keliru.
Dulu, Ludwig kerap memakai jasa wanita panggilan kelas atas yang ada di klub malam miliknya. Dia bisa bercinta dengan siapa pun, di mana, dan kapan saja dirinya inginkan. Pria tampan bermata cokelat madu tersebut, sebenarnya sudah terbiasa menghadapi wanita dengan tipe seperti Petra.
Namun, Ludwig tak pernah mengira, bahwa putri seorang menteri pertahanan bisa bersikap sedemikian liar. Pria itu menggeleng samar, seraya mengembuskan napas panjang penuh keluhan. “Sebaiknya kau pulang sekarang juga. Walaupun kau melakukan tarian nakal tanpa busana sekalipun, sayangnya aku tak akan tergoda. Kau tahu kenapa, Petra? Karena aku sedang tidak ingin melakukan apapun dengan seorang wanita,” tegas Ludwig. Dia menyingkirkan tangan Petra, yang sejak tadi menggerayangi dada dan perutnya.
“Astaga. Kau benar-benar sombong, Ludwig Stegen.” Petra melepaskan dekapannya. Dia lalu berpindah ke hadapan pria dengan topi baseball hijau army tadi.
“Kalau begitu, berikan aku ciuman selamat malam. Ciuman yang sama seperti yang kita lakukan saat di lumbung.” Petra menangkup paras tampan Ludwig tanpa permisi. Dia sudah hendak menyentuh bibir berhiaskan kumis tipis pria tampan berpostur tegap tadi, bersamaan dengan ponsel milik Ludwig yang bergetar.
Petra tidak pernah mendapat penolakan seperti tadi dari seorang pria. Wanita muda itu menggerutu kesal, sambil menendang pintu yang sudah tertutup rapat. Karena misinya untuk merayu Ludwig telah gagal total, putri Oliver Harald tersebut memutuskan pulang. Lagi pula, malam sudah semakin larut. Namun, jauh dalam lubuk hati gadis cantik tadi, dia masih merasa penasaran akan sosok Ludwig, yang telah menarik perhatiannya dari pertama mereka bertemu.
Sementara itu, Ludwig sudah kembali ke ruangan yang disediakan untuknya. Setelah meletakkan tas jinjing berisi pakaian ganti, dia lalu mengeluarkan ponsel. Ludwig membuka pesan yang Dietmar kirimkan. Dalam pesan itu, ada beberapa foto pria dengan wajah berbeda-beda. Pada pesan yang dikirimkan terakhir, Dietmar menuliskan kata-kata bahwa semua foto tersebut merupakan Radko Trava.
Tanpa membalas pesan tadi, Ludwig segera menyalakan komputer. Dia kembali membuka file yang telah dibacanya beberapa saat lalu. Ludwig mengamati foto yang disertakan dalam file itu. “Oh, bagus. Kau memberikan penawaran yang sepadan dengan harga kebebasanku, Oliver Harald,” gumam Ludwig. Dia menopang kening menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
Ludwig memejamkan mata beberapa saat. Tiba-tiba, bayangan tentang penyerangan yang terjadi di Peternakan Lienhart kembali hadir dalam ingatannya. Raut wajah sedih Lilia saat dirinya pergi pun turut hadir, lalu berubah menjadi kobaran api yang sangat besar.
“Astaga, Lilia.” Seketika, Ludwig membuka mata. Pria tampan tersebut melihat penunjuk waktu yang tertera di ponsel. Saat itu, sudah hampir tengah malam. Namun, Ludwig tak peduli. Dia tetap menghubungi seseorang, yang tak lain adalah Oliver Harald.
“Tidak sopan! Memangnya tidak ada hari esok?” Oliver tak suka saat harus menerima panggilan dari Ludwig. “Lagi pula, kau bisa mengirimkan pesan kepada anak buahku,” ujar ayahanda Petra tersebut diiringi dengkusan pelan.
“Nomormu ada di sini. Apa salahnya jika kuhubungi?” balas Ludwig tak peduli. “Lagi pula, aku tidak ingin menunggu sampai besok.”
“Masalah sepenting apa, sehingga kau harus menggangguku pada jam seperti ini?” tanya Oliver yang masih bicara dengan nada teramat ketus.
Ludwig terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan sang menteri pertahanan. Sesaat kemudian, pria itu terdengar mengembuskan napas pendek. “Siapa yang telah berani membumihanguskan Peternakan Lienhart?” tanyanya penuh penekanan.
Kali ini, giliran Oliver yang terdiam. Ludwig sampai merasa kesal, karena tak sabar menunggu jawaban dari pria paruh baya tersebut.
“Bicaralah, Tuan menteri. Sekali lagi kutanyakan padamu, siapa yang telah membakar habis Peternakan Lienhart?” Nada pertanyaan Ludwig terdengar semakin menakutkan.
“Apa urusanmu dengan peternakan itu? Kau hanya bersembunyi di sana. Aku tidak yakin bahwa pria sejahat dirimu akan memikirkan utang budi,” ucap Oliver, yang membuat kemarahan dalam dada Ludwig kian bergemuruh. Kembali terngiang suara lembut Lilia yang terus memanggil namanya.
__ADS_1
“Kau tidak perlu tahu urusanku dengan Peternakan Lienhart. Siapa pun yang sudah melakukan pengrusakan terhadap tempat itu, maka dia akan berhadapan dengan kemarahan Ludwig Stegen! Entah kau, Oliver Harald ….” Ludwig mengatur napasnya yang mulai memburu. “Aku tak peduli siapa pun ….”
“Night Crawler,” sela Oliver dengan segera. “Kami langsung pergi, setelah mengetahui bahwa kau berhasil melarikan diri bersama putriku. Merekalah yang telah membakar peternakan sampai habis," ujarnya yakin.