
“Kau mengenal gadis itu?” tanya Gunther, dengan ekor mata tertuju pada Petra yang terus berontak. Dia berusaha melepaskan diri dari kedua anak buah Gunther yang masih memegangi lengannya.
Gunther berjalan mendekat kepada Petra. Dia menatap gadis cantik itu beberapa saat, sebelum kembali mengarahkan perhatian kepada Ludwig yang berdiri terpaku dengan tatapan lurus kepada putri dari Oliver Harald tadi. “Aku menemukan gadis ini di dalam lumbung,” ucap Gunther seraya kembali ke hadapan Ludwig. “Peternakanku bukanlah tempat yang mudah dimasuki orang luar, tanpa adanya seseorang yang memberikan akses secara leluasa.” Ucapan yang dilontarkan Gunther terhadap Ludwig, bernada sindiran dan seakan langsung mengarah pada intinya.
“Lalu?” Ludwig menanggapi tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Gunther tidak menjawab. Dia menoleh pada kedua anak buahnya. “Bawa kembali gadis itu ke lumbung. Jaga yang benar, jangan sampai dia melarikan diri. Pastikan juga agar Lilia tidak melihatnya,” titah sang pemilik peternakan tersebut. Dia mengibaskan tangan, sebagai isyarat agar kedua pria yang memegangi Petra segera keluar dari ruang kerja itu.
Tanpa mengeluarkan kata-kata bantahan, kedua pria tadi langsung mengangguk. Mereka setengah menyeret paksa gadis cantik berambut pirang tadi. Petra sempat menoleh dan menatap tajam kepada Ludwig, saat melintas di dekat pria itu. Namun, suami Lilia tersebut tak membalas sama sekali.
“Katakan sesuatu, Heinz.” Gunther kembali berbicara, setelah mereka hanya berdua di ruangan itu. “Siapa gadis itu?” Ayahanda Lilia tersebut tak banyak basa-basi. Dia langsung bertanya pada intinya.
Ludwig tak segera menjawab. Tatapan pria tampan tersebut tampak sedikit aneh terhadap sang ayah mertua. Seperti biasa, Ludwig bersikap dingin dan seakan tak memedulikan risiko apa yang akan dirinya hadapi.
“Aku berjanji tak akan mengatakan hal ini kepada Lilia,” ucap Gunther lagi, seakan sudah merasa yakin bahwa memang Ludwig lah yang menyembunyikan gadis tadi di dalam lumbung.
“Apa yang Anda inginkan?” tanya Ludwig setelah beberapa saat kemudian.
Gunther tertawa pelan. Dia membalikkan badan, lalu berjalan menuju meja kerja. Pria paruh baya tersebut duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya. “Aku ingin kau membantuku melakukan sesuatu,” ujar pria itu.
Ludwig tidak menanggapi. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Sudah sejak lama aku ingin memperluas area peternakan ini. Namun, tanah yang berada di sekitar sini sangat sulit untuk kudapatkan. Sebenarnya, itulah yang menjadi salah satu alasanku menikahkan Lilia dengan Franklin Clemens. Sayang sekali, kau datang tanpa diduga,” terang Gunther dengan sorot tajam tertuju kepada Ludwig.
__ADS_1
“Kau menjadikan putrimu sebagai alat untuk memperluas wilayah?” Ludwig menyunggingkan senyuman sinis. “Aku juga tidak mengerti, kenapa kau membuat keadaan Lilia menjadi seperti saat ini?”
“Maksudnya?” tanya Gunther tak mengerti.
“Kau seakan menyembunyikan dia dari dunia luar.”
Gunther tertawa seraya menggeleng pelan. “Lilia adalah putri yang kubesarkan seorang diri. Terserah apapun yang ingin kulakukan terhadapnya. Lagi pula, aku memanggilmu kemari bukan untuk membahas dia.” Gunther menyandarkan tubuhnya dengan sangat nyaman.
“Pemilik tanah yang ada di sekitar peternakanku bernama Wolfgang Clemens. Dia merupakan orang yang sangat berpengaruh di daerah sini. Semua tunduk dan menaruh hormat padanya. Selain itu, dia juga disegani karena satu hal."
"Kudengar, Wolfgang mendapat dukungan penuh dari salah satu organisasi kriminal terkenal di Austria. Mereka adalah perkumpulan orang-orang bayaran. Berani melakukan apapun tergantung dari permintaan orang yang menyuruh,” terang Gunther.
“Lalu, apa hubungannya denganku?” Ludwig menatap sinis kepada pria paruh baya di hadapannya.
“Hanya karena aku menikahi putrimu, tak berarti kau bisa memerintah dan menguasai diriku,” tolak Ludwig penuh penekanan. “Aku tidak dilahirkan untuk hidup mengabdi kepada siapa pun,” tegas Ludwig dingin.
Gunther mengernyitkan kening mendengar penolakan tegas sang menantu. Sesaat kemudian, pria paruh baya itu tersenyum puas. “Benar rupanya,” ucap ayahanda Lilia tersebut. Gunther beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke hadapan Ludwig. “Aku sudah menginterogasi gadis berambut pirang tadi. Dia mengatakan semuanya, Ludwig Stegen.”
Seketika, Ludwig seakan membeku. Pria itu merutuki apa yang Petra lakukan. Namun, Ludwig tak menanggapi ucapan Gunther.
“Aku bersedia memberikan tempat bernaung bagimu, hingga kau bisa kembali ke Jerman. Aku juga merahasiakan identitas serta tindakanmu, yang telah menyembunyikan gadis di dalam lumbung dari Lilia. Kujamin tak akan ada siapa pun yang mengetahui bahwa kau adalah buronan paling dicari di Jerman.” Gunther mulai memberikan penawaran kepada Ludwig.
Ludwig menggeleng samar. Jelas sudah bahwa dirinya tidak tertarik dengan semua yang Gunther katakan. “Kau ingin aku terikat balas budi padamu? Tidak, Tuan Lienhart,” tolak pria tampan tersebut. “Aku akan kembali ke Jerman, tanpa harus menjadikan diri sebagai anjing peliharaan seseorang,” tegasnya. “Kurasa semua sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu dibahas, karena putrimu sudah menungguku.” Ludwig membalikkan badan. Dia berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Namun, baru Ludwig hendak keluar, Gunther lebih dulu menahan pria itu dengan kata-kata yang membuat Ludwig tertegun. “Aku juga bisa membantu mencabut status buronmu, tanpa melalui perantara gadis berambut pirang tadi.”
Ludwig langsung menoleh dengan raut tegang. “Lelucon macam apa lagi ini? Sejauh mana kau menginterogasi gadis itu?”
“Aku tidak perlu menginterogasi gadis itu dengan banyak pertanyaan, hanya untuk mencari tahu latar belakangmu. Aku bisa melakukan segala sendiri. Seandainya kau tahu, diriku bahkan tidak tidur semalaman demi memperoleh fakta menarik ini.” Gunther tersenyum puas.
Sikap yang ditunjukkan Gunther, berbanding terbalik dengan Ludwig yang terlihat semakin waspada. “Apa maumu sebenarnya?” geram pria tiga puluh dua tahun tersebut.
“Seperti yang telah kukatakan tadi. Kau harus membantuku. Sebagai gantinya, aku juga akan membantu mengembalikan nama baikmu agar kau bisa kembali ke Jerman dengan mudah,” jawab Gunther enteng. "Ini adalah penawaran yang sangat menarik."
Ludwig menanggapinya dengan senyum mencibir. “Membantuku? Bagaimana caranya? Kau hanya pemilik peternakan biasa yang tinggal di daerah terpencil. Di dekat Pegunungan Alpen."
“Biar kuberitahu sesuatu, Anak muda. Jangan pernah sekalipun meremehkan lawan. Sesuatu yang tampak kecil, lemah, dan tak berdaya, bisa saja menghabisimu dengan sangat mudah." Gunther terkekeh pelan, lalu meraih sebatang cerutu dari kotak kayu yang menghiasi meja kerja. “Kau mau?” Dia menawarkan sebatang cerutu itu pada Ludwig.
“Siapa kau sebenarnya?” Ludwig memicingkan mata dengan sorot tajam terhadap Gunther.
Namun, pria paruh baya itu tetap terlihat tenang. “Anggap saja bahwa aku adalah seorang pria yang dulunya bernasib sama denganmu,” jawab Gunther enteng.
Ludwig maju selangkah. Dia sudah berniat menanggapi perkataan mertuanya tersebut. Akan tetapi, suara Lilia telah lebih dulu menyela. “Kenapa kalian lama sekali? Masakanku hampir dingin,” ujar wanita muda itu.
“Lilia.” Ludwig langsung berbalik dan menghampiri istrinya tersebut. “Kebetulan sekali. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu,” ujarnya seraya merengkuh pinggang Lilia dan mengarahkannya keluar dari ruang kerja. Ludwig menoleh sekilas ke arah Gunther yang tengah mengisap cerutu. Dia tak menunjukkan reaksi apapun.
“Kau hanya boleh bertanya setelah kita selesai sarapan,” sahut Lilia. Membuat Ludwig kembali memusatkan perhatian pada wanita cantik itu.
__ADS_1
“Aku ingin bertanya sekarang." Ludwig menghentikan langkah Lilia, seraya mencekal kedua lengan wanita yang menjadi istrinya tersebut. “Aku ingin kau mengatakan segala sesuatu, yang tidak kuketahui tentang ayahmu,” desis Ludwig dengan sorot mata menakutkan.