
Malam telah tiba. Seperti biasa, Ludwig terjaga dari tidurnya. Dia melirik sekilas pada Lilia yang sudah terlelap. Entah mengapa, tiba-tiba terbesit rasa iba terhadap wanita muda itu. Namun, Ludwig masih belum memahami, hal apa yang membuatnya merasa demikian.
Hati-hati sekali, Ludwig menyibakkan selimut. Dia turun dari ranjang, kemudian mengenakan celana panjang serta T-Shirt yang berserakan di lantai. Setelah itu, Ludwig berjalan ke dekat laci meja di dekat Lilia berada, lalu membukanya tanpa menimbulkan suara.
Ludwig mengambil ponsel milik wanita muda itu. Dimasukkannya ponsel yang sudah ketinggalan zaman tadi ke dalam saku celana. Pria tampan tersebut melangkah ke pintu. Sebisa mungkin, dia tak menimbulkan suara sedikit pun. Ludwig melangkah keluar kamar. Dia menyusuri koridor temaram yang tidak terlalu panjang menuju tangga. Rencananya, pria asal Jerman tadi akan ke lumbung untuk melihat kondisi Petra.
Beberapa saat kemudian, Ludwig sudah berdiri di depan lumbung. Dua pria yang menjaga pintu bangunan itu masih ada di sana. Seperti tadi siang, mereka menghalangi Ludwig yang hendak masuk. “Aku hanya ingin bicara sebentar dengan gadis itu. Lagi pula, Tuan Gunther sudah memberikan izin,” ucap Ludwig terdengar sangat meyakinkan.
Kedua pria tadi saling pandang. Namun, mereka tidak langsung percaya begitu saja. “Maaf. Kami tidak ingin mengambil risiko,” tolak salah satu dari dua pria itu.
“Haruskah kulaporkan kalian karena telah membantah ucapanku? Aku adalah menantu pemilik peternakan ini,” balas Ludwig bernada mengancam. Sorot matanya tajam tertuju kepada dua penjaga tadi secara bergantian. “Terserah kalian.” Setelah berkata demikian, Ludwig membalikkan badan. Dia bermaksud untuk pergi dari sana.
Akan tetapi, baru saja Ludwig berjalan dua langkah, salah satu penjaga itu memanggilnya. Dia mempersilakan menantu Gunther tersebut agar masuk.
“Aku tidak akan lama,” ucap Ludwig dingin. Dia berjalan masuk. Pria itu mendapati Petra yang tengah tidur meringkuk di atas tumpukan jerami. “Bangun!” suruh Ludwig sedikit kasar. Dia berdiri di dekat tumpukan jerami tadi.
Petra yang sepertinya belum terlelap, segera membuka mata. Dia begitu semringah saat melihat kehadiran Ludwig di sana. Gadis berambut pirang itu langsung bangkit. Dia bahkan bermaksud hendak merangkul pria itu.
Namun, dengan segera Ludwig menahannya, sehingga Petra mengurungkan niat tersebut. “Bukankah kau ingin menghubungi ibumu?”
“Ya.” Petra mengangguk yakin.
“Ini.” Ludwig melemparkan ponsel ketinggalan zaman milik Lilia ke sebelah Petra. “Cepatlah, karena aku tidak memiliki banyak waktu.”
Tanpa banyak bicara, Petra langsung mengambil ponsel tadi. Dia mengetikkan nomor telepon sang ibu. Gadis itu menunggu beberapa saat, hingga panggilannya dijawab oleh penerima yang tak lain adalah Albertina Harald, ibunda Petra.
__ADS_1
“Siapa ini?” tanya suara dari seberang sana.
“Ini aku, bu. Petra,” jawab Petra pelan.
“Astaga. Kenapa kau tidak ikut pulang dengan ayahmu?” Nada bicara Albertina menyiratkan kecemasan khas seorang ibu. “Apa kau tidak berpikir bahwa aku kesulitan tidur setiap malam?”
Petra tidak segera menanggapi. Dia menatap sejenak kepada Ludwig. Sesaat kemudian, barulah gadis itu kembali bicara. “Bisakah kau membujuk ayah, agar dia bersedia memenuhi syarat yang kuajukan?” tanya Petra penuh harap.
Albertina tidak segera menjawab. Hanya helaan napas berat yang terdengar dari istri Oliver Harald tersebut. “Kenapa kau harus menempatkan ayahmu dalam situasi sulit seperti ini? Kau tahu bahwa Oliver telah melakukan banyak pengorbanan, demi memperoleh jabatannya sekarang. Apa yang kau minta terlalu berlebihan, dan tentu saja bertentangan dengan tugas ayahmu," tegur Albertina.
"Kau tahu bahwa Ludwig Stegen merupakan buronan berbahaya. Dia adalah seorang kriminal sejati. Bisnis yang dijalaninya sangat mengerikan. Aku heran bagaimana bisa dirimu jatuh cinta pada pria jahat seperti itu.” Albertina terdengar sangat kecewa dengan sikap dan keputusan yang diambil Petra.
“Tidak ada yang bisa memprediksi cinta akan tertuju kepada siapa,” bantah Petra. “Sudahlah, bu. Aku tidak bisa bicara terlalu lama. Aku ingin agar ibu bisa mendukung keputusanku. Tolong bujuk ayah. Jika tidak ….” Gadis bermata hijau itu menjeda kata-katanya.
“Jika ibu tidak bersedia membujuk ayah hingga dia mengabulkan permintaanku, maka terpaksa akan kuberitahukan kepadanya bahwa kau telah berselingkuh dengan Tuan Kurt Schneider,” ancam Petra, yang membuat Albertina seketika terdiam. Wanita paruh baya tersebut tak bersuara sama sekali, padahal dia masih berada dalam sambungan telepon. Sedangkan, Petra malah tersenyum puas kepada Ludwig yang menanggapi dengan menaikkan sebelah alis.
“Akan kucoba.” Suara Albertina kembali terdengar, setelah dirinya membisu beberapa saat. “Hubungi aku lagi besok malam,” pesannya sebelum menutup sambungan telepon.
“Ah, tunggu!” cegah Petra. “Katakan pada ayah, agar dia tidak memberitahukan keberadaan Ludwig kepada siapa pun.”
“Kau tidak perlu khawatir. Setahuku, ayahmu belum berkoordinasi dengan siapa pun tentang masalah ini. Ya, sudah. Jaga dirimu baik-baik, nak.” Setelah berkata demikian, Albertina benar-benar menutup sambungan teleponnya.
Petra mengembalikan ponsel kepada Ludwig yang tersenyum sinis saat menerima telepon genggam tadi. Tanpa mengatakan apapun, pria dengan warna rambut ash grey tersebut membalikkan badan.
Ludwig meninggalkan Petra begitu saja. Akan tetapi, langkah tegap pria tampan itu terhenti saat hendak membuka pintu. Pasalnya, Petra menyusul, lalu memegangi bagian belakang T-Shirt yang dia kenakan.
__ADS_1
Ludwig menoleh dengan sorot dingin. Tampak jelas bahwa dirinya tak berminat meladeni gadis cantik berambut pirang tersebut. Namun, mau tak mau Ludwig harus memberikan tanggapan, atas apa yang Petra ucapkan.
“Aku sudah mengupayakan banyak hal untukmu. Apa kau tidak ingin memberikan imbalan kecil saja untukku?”
“Apa maumu?” tanya Ludwig dingin, tanpa membalikkan badan.
Petra berpindah posisi ke hadapan Ludwig. Gadis itu tersenyum nakal, seraya mencengkram erat bagian depan T-Shirt yang Ludwig kenakan. Sementara, pria itu hanya memicingkan mata, saat Petra semakin mendekat padanya.
Beberapa saat kemudian, Ludwig keluar dari lumbung. Dia tak mengatakan apapun pada kedua pria yang menjaga pintu bangunan itu. Ludwig berjalan gagah menuju kediaman Gunther, yang hanya berjarak beberapa meter dari peternakan.
Namun, langkah tegap Ludwig harus terhenti, saat dia melihat sosok Gunther yang berjalan seorang diri dalam keremangan. Pria itu bukan menuju ke arah lumbung, melainkan langsung ke kandang sapi.
Karena merasa penasaran, Ludwig mengikuti ayahanda Lilia tersebut sambil mengendap-endap. Dia berjalan waspada, agar Gunther tidak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.
Tadinya, Ludwig mengira bahwa sang pemilik peternakan tersebut hendak menuju ke kandang sapi. Namun, ternyata pria paruh baya itu membelokkan tujuan ke arah lain. Ludwig masih ingat betul, dengan jalan menuju pondok kayu yang tadi siang dirinya datangi bersama Lilia.
Dengan tetap menjaga jarak, Ludwig mengawasi semua gerak-gerik sang ayah mertua. Beberapa meter jauhnya, dia melihat pria paruh baya itu berjongkok, lalu membuka kunci pondok kayu tadi. Gunther masuk setelah menutup pintu rapat-rapat. Merasa bahwa situasi aman, Ludwig bergegas mendekat. Dia mencari celah, agar dirinya dapat mengintip ke dalam.
Ludwig mengelilingi bangunan yang semuanya terbuat dari kayu itu. Namun, sayangnya dia tak menemukan celah sedikit pun untuk mengintip. Terpaksa, Ludwig harus menajamkan pendengaran agar bisa menangkap suara dari apa yang tengah Gunther lakukan di dalam sana. Sayangnya, semua sia-sia. Suara gemericik air sungai di dekat pondok, jauh lebih jelas di pendengaran pria tampan tersebut.
“Sial!” gerutu Ludwig kesal. Dia hampir saja memukul dinding samping pondok tadi, andai dirinya tak langsung menahan gerakan. Ludwig mendengar suara berdebuk dari dalam sana. Entah apa yang terjadi dan sedang Gunther lakukan. Satu yang pasti, malam itu Ludwig tak menemukan apapun yang dirinya inginkan. Terlebih, karena Gunther sudah keluar lagi dari sana.
Sambil terus bersembunyi, Ludwig mengawasi ketika sang pemilik peternakan mengunci kembali pintu pondok. Gunther lalu setengah berjongkok. Dia membuka salah satu papan dekat pijakannya. Dari sana, pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah kotak besi kecil. Ayahanda Lilia tersebut menyimpan kunci tadi di dalamnya.
“Semudah itu?” seringai Ludwig.
__ADS_1