Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Rahasia Berdua


__ADS_3

“Selamatkan aku. Mereka ingin melakukan hal yang tidak baik, bahkan mungkin membunuhku,” ucap gadis yang kini bersembunyi di belakang tubuh Ludwig.


Ludwig tak langsung menanggapi. Suami Lilia tersebut sedikit menoleh ke belakang, lalu tersenyum samar. “Dia mengatakan bahwa kalian hendak menyakitinya,” ujar Ludwig seraya kembali mengalihkan perhatian pada empat pria di hadapannya. .


“Apapun yang akan kami lakukan, itu tidak ada hubungannya denganmu!” sentak salah satu dari keempat pria asing tadi..


“Memang tidak, tapi wanita muda ini menggunakan tubuhku sebagai tamengnya. Itu berarti, kalian harus melewatiku terlebih dulu,” balas Ludwig enteng. Raut wajahnya yang tampan, tak menunjukkan ekspresi apapun.


“Baiklah, jika itu yang kau inginkan.” Pria asing tadi merogoh sesuatu dari balik jaketnya.


Ludwig sudah dapat menebak benda apa yang tersembunyi di sana. Dia langsung mengarahkan kaki kanan, lurus ke tangan si pria. Tendangan yang kencang, telah membuat keseimbangan si pria asing menjadi goyah.


Pria itu ambruk sebelum sempat memegang pistol. Senjata api tersebut terlempar ke dekat jurang, yang berada sekitar dua meter di samping kiri Ludwig. Batas antara Ludwig dengan jurang tadi berupa bebatuan, dengan ilalang tinggi yang biasa tumbuh di wilayah perbukitan.


“Brengsek!” Tiga pria lain sudah mengokang senjata. Mereka siap menarik pelatuk ke arah Ludwig.


Akan tetapi, Ludwig malah menarik si wanita yang sedari tadi berada di belakangnya. Dia sengaja mengganti posisi dengan menjadikan wanita itu sebagai tameng. “Tembaklah.” Ludwig menyeringai sembari berjalan mundur. Dia baru berhenti, ketika tumit sepatu ketsnya menabrak batu besar. Masih dalam posisi waspada, Ludwig menoleh sekilas ke belakang. Batu tadi bisa dijadikan tempat persembunyian untuk dua orang dewasa.


Ludwig kembali mengarahkan tatapan ke depan. Empat pria asing tadi berdiri gagah, sambil mengarahkan moncong pistol masing-masing ke kepala si wanita. Ludwig dapat merasakan ketakutan yang muncul dari wanita itu. “Kenapa kalian tidak menembak? Apakah nona ini tidak boleh dilukai? Ah, aku mengerti. Kalian harus membawanya hidup-hidup. Benarkah begitu?” Ludwig memicingkan mata. Dia masih memperlihatkan sikap tenang.


Keempat pria tadi terdiam untuk sesaat, sebelum salah seorang dari mereka maju selangkah. “Serahkan gadis itu sekarang juga. Kujamin kau akan selamat,” ujar pria yang berada paling depan.

__ADS_1


“Bukan ide buruk,” balas Ludwig. Dia memaksa mendorong tubuh wanita muda itu, sampai mendekat ke arah pria asing yang masih dalam sikap waspada.


“Tidak! Jangan! Kumohon. Tolong aku! Akan kuberikan semua yang kau inginkan! Ayahku memiliki kekuasaan yang besar!” Si wanita memohon. Susah payah, dia menahan laju tubuhnya agar tak semakin dekat kepada pria-pria yang mengejarnya tadi.


Seketika, Ludwig menghentikan apa yang dia lakukan. “Ayahmu punya kuasa? Sebesar apa?” tanya pria itu dingin.


“Jangan percaya padanya! Sebaiknya, cepat serahkan gadis itu dan pergilah yang jauh dari sini! Anggap tak pernah terjadi apa-apa!” sentak salah seorang dari pria tadi.


Dalam pencahayaan yang sangat terbatas, Ludwig memicingkan mata sambil memperhatikan keempat pria di hadapannya. Wajah-wajah serius dengan sikap tubuh siap menyerang, menunjukkan bahwa ucapan mereka tak sesuai dengan kenyataan. Ludwig sudah bisa menerka seperti apa akhir dari insiden yang tengah berlangsung kali ini.


“Baiklah, kalau begitu. Bawa saja dia.” Ludwig memegang kedua tangan si wanita muda, lalu menekuknya ke belakang punggung. Dengan gerakan cepat, dia mendorong kencang wanita itu ke depan. Satu hal yang sudah Ludwig perhitungkan, bahwa para pria tadi tak akan melukai wanita tersebut.


Hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Ludwig. Wanita itu bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menghalau serangan. Tepat pada saat tubuh wanita muda tadi maju dan menempel pada moncong pistol pria yang berdiri paling depan, Ludwig segera merunduk. Dia menumbuk perut si pria menggunakan kepala.


Kali ini, giliran Ludwig yang membidik keempat pria itu. Dia melakukannya sambil kembali merengkuh tubuh si gadis, yang lagi-lagi dijadikan tameng. “Maaf. Aku berubah pikiran. Aku lebih percaya pada nona ini daripada kalian,” cibirnya sinis.


“Sialan! Akan kupastikan kau menyesal dengan keputusan ….” Belum selesai pria itu berbicara, Ludwig sudah lebih dulu menarik pelatuk, lalu menembak dada kiri pria asing tadi hingga tewas.


“Kurang ajar kau!” Salah satu dari tiga pria yang tersisa, bermaksud hendak membalas tindakan Ludwig.


Namun, sayangnya Ludwig bergerak cepat. Pria yang telah menikahi Lilia meski dengan identitas palsu tersebut, lebih dulu menembak tangan dan dada masing-masing dari tiga pria tadi. Mereka roboh secara bersamaan. Ludwig sempat berdiri terpaku beberapa saat. Dia sudah menghabisi nyawa empat orang di tanah pelarian. Itu adalah sesuatu yang tidak bagus untuk dirinya, yang tengah berusaha melepas status buron.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan,” ucap si wanita lirih.


Suara wanita muda berambut pirang itu, seketika membuyarkan angan Ludwig. Pria tampan tersebut tak membalas ucapan wanita muda tadi. Dia malah mencekal lengan wanita itu sambil mere•masnya kencang. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Ludwig dengan sorot yang terlihat menakutkan.


“Aw! Sakit.” Wanita muda bermata hijau itu meringis kecil, merasakan cengkraman tangan Ludwig di lengannya yang makin lama semakin kencang.


“Kenapa mereka mengejarmu? Gara-gara kau, aku jadi membunuh orang-orang ini!” geram Ludwig seraya mendengkus kesal.


“Ma-maafkan aku,” sahut si wanita terbata. “Aku akan mengganti semua kerugian yang kau alami,” lanjutnya yakin. “Jangan khawatir,” ucap wanita muda itu lagi. Rona ketakutan masih terlihat jelas dari sorot matanya.


Perlahan, Ludwig melepaskan cengkraman dari lengan si wanita. Pria itu menatap tajam paras cantik yang terlihat samar. Ludwig terdiam dan berpikir. Dia harus segera menyingkirkan jasad keempat pria asing, yang telah dirinya habisi beberapa saat lalu.


Ludwig mengambil pistol yang tadi digunakannya untuk membunuh pria-pria itu. Dia mengelap dengan teliti, agar dapat menghilangkan sidik jari yang menempel di sana. Setelah itu, Ludwig melemparkan pistol tadi ke jurang. Begitu juga dengan senjata api lain yang berserakan di tanah berbatu.


Sementara, wanita muda berambut pirang tadi hanya berdiri mematung. Dia tak tahu harus melakukan apa. Seumur hidup, ini adalah pertama kali baginya mengalami kejadian yang teramat mengerikan seperti tadi. Namun, jika tidak begitu maka nyawanya yang menjadi taruhan. Wanita itu tak akan menyalahkan Ludwig. Dia justru sangat bersyukur. “Sekali lagi, kuucapkan terima kasih.”


Ludwig yang tengah berpikir, sontak menoleh. Meski hanya sekilas, tapi dia dapat menangkap ketulusan dari sorot mata wanita muda tersebut. “Kita harus segera menyingkirkan mayat-mayat ini sebelum pagi. Lagi pula, aku harus segera pulang,” ujar Ludwig.


“Buang saja mayat mereka ke dalam jurang. Tidak ada yang mengetahui kejadian malam ini selain kita berdua” cetus si wanita berambut pirang itu. “Kau sudah membantuku. Ini akan menjadi rahasia antara kau dan aku,” ucapnya yakin.


“Kuharap kau tidak semakin menambah masalahku,” balas Ludwig. Dia menyeret satu per satu mayat keempat pria asing ke bibir jurang.

__ADS_1


Wanita muda tadi membantu mengangkatnya, lalu melempar sekencang mungkin. Namun, setelah itu dia termenung.


__ADS_2