
“Ludwig Stegen.” Oliver mengulang nama pria di hadapannya dengan sorot tak percaya.
“Kau mengenalku?” Ludwig menyunggingkan senyuman sinis kepada pria paruh baya tersebut.
“Bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu. Wajah serta data dirimu terpampang di deretan paling atas, dalam daftar buronan paling dicari Agen Federal Jerman.” Oliver menatap tajam Ludwig yang terlihat biasa saja. Tak ada raut takut atau khawatir yang ditunjukkan pria tampan itu.
“Aku sangat mengenal mendiang ayahmu. Jenderal Inre Harald adalah rekan yang sangat menyenangkan,” ujar Ludwig enteng.
Sikap tenang Ludwig berbanding terbalik dengan raut wajah yang diperlihatkan Oliver. Dia belum bisa melupakan kematian tragis yang dialami sang ayah. “Kau yang membuat ayahku berada dalam masalah, di akhir masa jabatannya! Demi apa sehingga dia harus tewas dengan menanggung citra buruk?”
“Uang,” jawab Ludwig segera. “Ayahmu ingin menikmati masa tua dengan nyaman. Aku menawarkan segala yang dirinya inginkan. Kau pikir, dari mana uang yang digunakan Inre untuk memanjakan cucu semata wayangnya ini?” Ludwig menoleh kepada Petra yang terbelalak tak percaya. Senyum sinis nan dingin terukir di bibir berkumis tipis pria tampan itu. Ludwig terlihat menakutkan, sekaligus tampak sangat memesona di mata gadis berambut pirang tersebut.
“Kurang ajar!” geram Oliver. Dia mengepalkan tangan sebagai tanda bahwa dirinya sudah dilanda emosi.
Namun, kepalan tangan yang telah membulat sempurna itu hanya bisa dia letakkan di samping tubuh, setelah melihat Ludwig merengkuh mesra pundak Petra. “Kau! Jangan ganggu putriku!” sergahnya tegas. Untunglah karena saat itu suasana temaram, sehingga wajah Oliver yang merah padam tidak terlihat jelas oleh gadis itu.
“Aku tidak mengganggu putrimu. Dia sendiri yang datang padaku,” ujar Ludwig tenang. “Bukankah begitu, Sayang?” Rengkuhan Ludwig di pundak Petra kian erat. Membuat si gadis menjadi salah tingkah. Terlebih, karena pria itu memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.
“Apa-apaan ini?” sentak Oliver tegas dengan intonasi cukup tinggi. Namun, sesaat kemudian pria yang menjabat sebagai menteri pertahanan tersebut segera menguasai diri. “Jangan pernah menjadikan putriku sebagai alat, Ludwig Stegen!” Oliver berkata dengan penuh penekanan. Telunjuknya lurus tertuju ke depan wajah Ludwig, yang tak memperlihatkan ekspresi takut.
Oliver mengalihkan perhatian kepada Petra. Sepasang matanya berkilat karena amarah yang terlampau besar. “Jangan katakan jika kau kemari untuk menemui bajingan ini!” Jika bukan di tempat umum, Oliver mungkin sudah menampar keras pipi putrinya. Dia tak suka, saat harus menahan amarah seperti saat ini.
“Maafkan aku, Ayah. Aku ….”
__ADS_1
“Kami bertemu secara tidak sengaja. Siapa sangka bahwa aku dan putrimu akan saling jatuh cinta. Bukankah begitu, Sayang?” Lagi-lagi, Ludwig memanggil Petra dengan sebutan ‘sayang’. Membuat si gadis merasa semakin tak karuan.
Petra mengangguk pelan. “I-iya.” Entah mengapa, dia malah mengikuti sandiwara yang Ludwig mainkan. “Aku menyukainya. Kami saling jatuh cinta.” Rasanya seperti telah melepaskan ribuan penat yang tertahan dalam dada, setelah Petra berkata demikian.
“Kau!” Oliver menunjuk tak suka terhadap putri semata wayangnya. Napas pria berambut pirang dengan wajah sangar tersebut, semakin memburu. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Ludwig. “Tinggalkan putriku atau aku akan membuat perhitungan denganmu!” ancamnya tegas.
Ludwig tidak menanggapi. Dia menatap tajam Oliver yang masih diliputi amarah. Namun, pria tampan itu tak menyingkirkan tangannya dari pundak Petra.
Ludwig bahkan menggerakan tangannya perlahan, seakan tengah membelai lembut lengan gadis berambut pirang tersebut. “Sudah kukatakan bahwa ayahmu tak akan menyukai hubungan kita. Itu artinya, kau harus membesarkan sendiri bayi yang ada dalam kandunganmu," ujarnya.
Petra dan Oliver sama-sama tersentak dengan ucapan Ludwig. Ayah dan anak itu menatap pria tampan berjaket kulit cokelat tadi, dengan mata terbelalak. Akan tetapi, hal itu menjadi sangat menguntungkan bagi Petra, yang memiliki ketertarikan lebih terhadap Ludwig.
“Ayah, tolong pertimbangkan lagi. A-ak … aku ….” Petra terbata. Dia menoleh kepada Oliver dan Ludwig secara bergantian.
“Tidak, Ayah! Jangan!” cegah Petra dengan segera. Dia berdiri di depan tubuh tegap Ludwig, seakan menjadi tameng bagi pria tampan tersebut. “Aku akan bunuh diri jika kau sampai melakukan hal itu,” ancamnya.
“Apa? Kau benar-benar tolol!” hardik Oliver. Dia sudah mengangkat tangan, bermaksud hendak menampar Petra. Namun, dengan segera Ludwig menahannya.
“Dengarkan aku, Ayah.” Petra memohon diiringi raut memelas. “Aku justru memintamu datang dan menjemput kemari, karena ingin membicarakan sesuatu. Aku berharap kau bisa membantu dia agar dapat kembali ke Jerman. Bagaimanapun juga, aku tidak bersedia berpisah dengannya.” Petra kembali memperlihatkan kelihaiannya dalam berakting.
Sementara, Ludwig memicingkan mata melihat sikap wanita muda itu. Dia bisa menebak bahwa Petra bukan gadis polos seperti Lilia. Ludwig harus berhati-hati dengan tipe orang seperti Petra.
“Omong kosong macam apa ini?” protes Oliver ketus. “Aku tidak bersedia! Kau dengar itu, Petra? Aku tak akan pernah membantu seorang buronan berbahaya seperti dia!” tunjuknya kepada Ludwig.
__ADS_1
“Kau tahu segala usaha yang telah kulakukan agar bisa mencapai posisi ini. Aku tak akan pernah mempertaruhkan jabatan yang telah kudapat dengan banyak pengorbanan, hanya demi kisah cintamu yang konyol!” Oliver meludah ke samping, saking tegasnya dia dalam menolak permintaan Petra.
“Sekarang, lebih baik kau ikut pulang denganku. Kita akan kembali ke Jerman dan menemui dokter kandungan. Jika kau benar-benar hamil, aku tak keberatan meski dirimu harus melakukan aborsi!” tegas Oliver lagi. Dia bermaksud meraih tangan Petra.
Akan tetapi, dengan segera Ludwig menarik mundur gadis itu. Dia menyembunyikan di belakang tubuhnya.
“Aku tidak akan kembali ke Jerman tanpa Ludwig,” ujar Petra dari belakang tubuh Ludwig.
“Terserah kau!” Oliver membalikkan badan. Dia bermaksud pergi dari hadapan Ludwig dan Petra.
“Inre Harald dan kau sama-sama serakah,” cibir Ludwig, kembali memantik amarah Oliver.
Oliver yang sudah hendak berlalu, kembali membalikkan badan. Dia menatap tajam kepada Ludwig. Namun, pria paruh baya itu tak mengatakan apapun.
“Putrimu tak akan pernah kembali ke Jerman, jika kau tak melakukan apapun untuk membantu mencabut status buron yang mereka sematkan pada namaku. Selain itu, aku juga ingin semua lahan usahaku yang sudah berizin agar dikembalikan. Kalian tidak berhak mengambilnya dengan sesuka hati.” Dalam dan penuh penekanan, kata-kata yang terlontar dari bibir Ludwig.
Oliver menyunggingkan senyuman sinis. Dia sempat mengarahkan tatapan kepada Petra, lalu beralih pada Ludwig. “Tidurlah yang nyenyak, agar kau bisa terus bermimpi,” ledeknya. Tanpa mengatakan apapun lagi, pria yang menjabat sebagai menteri pertahanan itu berlalu begitu saja.
Dalam hati, Oliver membawa rasa kecewa. Dia juga menyesal karena menuruti ucapan Petra yang melarangnya membawa pengawal. “Setidaknya, sekarang aku tahu kau ada di mana, Ludwig Stegen.”
Ludwig mendengkus kesal. Dia ingin melampiaskan kemarahannya secara habis-habisan. Namun, akan sangat mengerikan jika sampai hal itu dirinya tunjukkan di hadapan Petra. “Kau pandai sekali sekali bersandiwara. Apa maumu?” tukas Ludwig, yang seakan sudah bisa menebak karakter gadis itu.
“Kau,” jawab Petra. “Aku ingin kau benar-benar menjadi kekasihku.”
__ADS_1