
Ludwig tak segera menoleh. Dia menatap Lilia yang terlihat memberi isyarat kepada seseorang di belakang pria itu. Sorot mata Lilia menyiratkan tanda tak setuju.
“Menyingkir dari kekasihku, Brengsek!” Seseorang yang berdiri di belakang Ludwig, semakin menempelkan moncong senjatanya ke tengkuk pria itu, karena dia tak juga menyingkirkan tangannya dari lengan Lilia. “Lepaskan dia atau kuledakkan kepalamu sekarang juga!” gertak pria tadi.
Ludwig tersenyum sinis. Dia malah sengaja menurunkan tangannya perlahan dari lengan ke pergelangan Lilia. Pria tampan tersebut menggenggam erat sambil membalikkan badan.
Saat itulah, Ludwig berhadapan langsung dengan seseorang bertubuh tegap setinggi dirinya. Pria itu berambut cokelat sebahu. Sepasang iris matanya berwarna hijau. Menatap tajam kepada Ludwig, seakan ingin menguliti tanpa ampun. Kali ini, pria itu mengarahkan moncong senjatanya ke kening.
“Tidak, Marik. Jangan lakukan apapun,” cegah Lilia. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Ludwig dari pergelangannya. Akan tetapi, pegangan pria itu terlalu kuat untuk tenaga wanita selembut Lilia.
“Moncong senjataku tak akan berpindah dari kepala si keparat ini, jika dia tak juga melepaskan tangannya darimu, Sayang,” tolak pria bernama Marik tadi. Dia tak juga menyingkirkan pistol yang ditodongkan kepada Ludwig.
“Lepaskan aku!” Lilia terus berusaha menarik diri dari genggaman Ludwig. Dia menggunakan tangan kiri untuk menyingkirkan genggaman pria itu, yang dirasa semakin kencang.
“Menjauh dari kekasihku! Setelah itu, mari bertarung secara jantan! Akan kupatahkan tanganmu karena telah berani menyentuh Lily-ku!" gertak Marik pelan, tapi penuh penekanan.
“Kau pikir aku takut?” balas Ludwig dingin.
“Aku sudah merekam wajahmu, Brengsek! Jika tidak malam ini, maka kau akan mati malam berikutnya,” ancam Marik lagi. “Kau tidak ingin melepaskan tangan kekasihku? Sepertinya tak masalah berdekatan dengan wanita cacat.” Marik memindahkan moncong pistolnya, dari kening Ludwig ke tangan Lilia yang masih digenggam pria itu.
“Persetan dengan ancamanmu!” Ludwig menangkis pistol tadi menggunakan tangan kanan, sehingga senjata api itu menyalak ke udara. Namun, karena pistol tersebut sudah dilengkapi peredam, maka suaranya tidak sampai menimbulkan kegaduhan. Ludwig juga melesakkan tendangan keras di perut Marik, yang seketika mundur beberapa langkah.
“Brengsek!” umpat Marik kesal. Dia kembali mengarahkan pistolnya dan bersiap menembak Ludwig. Namun, dari arah belakang tiba-tiba ada yang memukul tengkuk pria itu hingga dia terhuyung ke depan, dan berhenti tepat di hadapan Ludwig. Tanpa ampun, pria tampan berambut cokelat tembaga tersebut melayangkan satu pukulan keras ke rahang Marik.
Marik yang belum dalam posisi siaga, langsung terjengkang. Belum sempat dirinya bangkit, Ludwig telah lebih dulu melayangkan tendangan keras ke wajahnya. “Seharusnya kau menembakku sejak tadi, Bodoh!” Satu tendangan lagi Ludwig lesatkan, hingga Marik terkapar.
Namun, Ludwig tak merasa puas. Dia mendekat, lalu menginjak leher Marik hingga pria berambut sebahu itu gelagapan karena tercekik. Satu tangan pria berambut gondrong tersebut menahan kaki Ludwig, agar tidak terlalu menekan lehernya. Sedangkan, tangan lain meraba-raba permukaan paving block, mencari pistol yang tadi terlempar. Akan tetapi, senjata api miliknya telah diambil oleh Jedrick, yang tadi memukul tengkuk Marik dari belakang.
Menyaksikan adegan kekerasan yang dipertontonkan oleh Ludwig, membuat Lilia semakin ketakutan. Dia tak pernah menyangka bahwa pria yang pernah menikahinya itu bisa berbuat demikian. Tanpa Ludwig sadari, Lilia bergerak mundur perlahan. Wanita muda berambut merah tadi menjauh sedikit demi sedikit, lalu berbalik dan berlari meninggalkan area parkir bar.
__ADS_1
“Tuan!” seru Jedrick yang melihat Lilia melarikan diri.
Ludwig menoleh ke tempat Lilia tadi berdiri yang kini telah kosong. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Jedrick. Pria itu menunjuk ke arah Lilia pergi. Tak ingin kehilangan jejak, Ludwig bergegas menyusul. Dia tak memedulikan Marik yang terkapar hampir mati lemas karena kehabisan napas. Begitu juga dengan Jedrick yang langsung mengikuti sang tuan, sambil menyelipkan pistol milik Marik ke balik pinggang.
Sementara, Lilia yang memakai sepatu hak tinggi, tak bisa bergerak cepat. Dia juga kesulitan melepas sepatu, karena sambil terus berlari. Alhasil, Ludwig tak kesulitan mengejarnya.
“Lilia!” Ludwig meraih lengan wanita muda itu, hingga Lilia tertegun.
“Lepaskan aku, Heinz!” Lilia berontak, saat Ludwig menarik tubuhnya hingga masuk ke pelukan pria tersebut. Dia memukul-mukul Ludwig agar melepaskan dirinya. “Menjauh dariku, Heinz!” Lilia berusaha mendorong tubuh tegap pria, yang justru semakin mengeratkan dekapannya.
“Menjauh dariku! Kau penjahat! Kau pria yang sangat jahat!” Lilia terus memukul-mukul dada Ludwig yang tak juga melepaskan dirinya. “Aku membencimu, Heinz Lainer! Aku sangat membencimu!” maki Lilia lagi. Dia tak putus asa, berusaha melepaskan diri dari dekapan Ludwig yang membiarkan wanita itu meluapkan segala kemarahannya.
Ludwig hanya diam menahan semua pukulan serta makian dari Lilia. Dia memperhatikan wanita cantik bermata abu-abu tersebut. Tatapan yang dilayangkan Ludwig begitu lekat, sehingga makin lama semakin membuat Lilia tak berdaya. Wanita muda itu akhirnya diam, dengan kedua tangan terkepal di dada Ludwig.
“Sudah selesai?” tanya Ludwig, dengan nada bicara yang masih terkesan dingin.
“Lepaskan aku.” Lilia mencoba mendorong tubuh Ludwig, agar menjauh darinya.
“Aku tidak peduli! Lepaskan aku!” sentak Lilia.
Tersungging senyuman kecil di sudut bibir Ludwig. “Sekarang kau menjadi galak seperti ini,” ujarnya.
Ludwig yang belum melepaskan dekapan dari Lilia, tiba-tiba mencium paksa wanita muda itu.
Namun, sesaat kemudian dia melepaskannya sambil memekik tertahan. Ludwig bahkan refleks melepaskan dekapannya, lalu menyentuh bibir yang terasa sakit karena digigit kencang oleh Lilia.
“Astaga. Kau menjadi sangat liar, Lilia,” ucap Ludwig tak percaya.
“Semua orang bisa berubah dengan cepat karena keadaan. Tak terkecuali diriku.” Lilia bergerak mundur, memberi jarak yang cukup jauh antara dirinya dengan Ludwig.
__ADS_1
“Aku bersyukur karena kau selamat dan masih hidup ….”
“Kau bajingan!” maki Lilia, memotong ucapan Ludwig dengan cepat. “Apa yang sudah kau lakukan padaku? Pada ayahku. Peternakan Lienhart porak-poranda karena dirimu, Heinz!” sentak wanita cantik dengan mantel cokelat itu.
“Kau! Kau telah membuat banyak orang terbunuh di sana. Sapi-sapi itu melenguh keras, saat tak bisa melarikan diri api yang bergerak cepat membakar kandang mereka!” Sorot mata Lilia terlihat sangat aneh. Dia terus bergerak mundur, karena Ludwig berjalan mendekat padanya.
“Tetap di tempatmu, Heinz Lainer!” sentak Lilia lagi. “Jangan berani-berani mendekat padaku atau ….”
“Atau apa?” tantang Ludwig. Dia tak memedulikan gertakan yang diberikan Lilia.
“Aku tak akan segan ….” Lilia mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku mantel. Dia mengarahkan pisau tadi ke dekat lehernya.
Seketika, Ludwig tertegun. Dia menatap lekat wanita cantik di hadapannya. "Jangan lakukan itu, Lilia," bujuk Ludwig dengan nada bicara yang terdengar begitu lembut, sehingga membuat Jedrick terheran-heran. Pasalnya, Ludwig tak pernah bersikap demikian kepada siapa pun.
Jedrick memang tak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena keduanya memakai Bahasa Jerman. Akan tetapi, dia dapat menilai dari cara sang tuan bersikap kepada Lilia. Jedrick yakin bahwa Ludwig dan Red Lily telah saling mengenal. Mungkin karena itu pula, sehingga majikannya tersebut memaksa untuk menemui si penari striptis tersebut.
"Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu," geram Lilia. Jemarinya gemetaran, saat dia menekan mata pisau ke kulit leher.
"Letakkan pisau itu. Kita bisa bicara baik-baik," bujuk Ludwig.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan denganku? Lilia yang kau kenal dulu sudah lama mati," desis si pemilik rambut merah itu penuh kebencian.
"Bagiku kau masih sama," sahut Ludwig sambil terus menatap lekat, wanita cantik yang pernah menikah dengannya tersebut.
"Kau benar-benar sok tahu, Heinz!" sentak Lilia.
"Aku memang tahu semua tentang dirimu. Apakah kau lupa bahwa kita sudah mengikat janji suci di depan pendeta?"
"Oh, ya?" Lilia tertawa sinis. "Apakah kau tahu bahwa hidupku terlunta-lunta setelah malam itu? Aku diperkosa pria brengsek, sebelum dia menjadikanku sebagai penari telanjang?"
__ADS_1
"Apa?" seringai Ludwig tak percaya.