
“Lilia ….” Ludwig kembali berjalan mendekat, berusaha mengalihkan Lilia agar tak berbuat nekat. “Berikan pisaunya padaku, Sayang,” bujuk pria tampan berambut cokelat tembaga itu.
Lilia menggeleng kencang seraya berjalan mundur. “Jangan mendekat, Heinz! Kau tahu bahwa kulitku tak boleh tergores sedikit pun. Tubuhku harus selalu terlihat sempurna.” Lilia tak menyingkirkan pisau tadi dari dekat lehernya. Dia terus mundur. “Tetap di tempatmu!”
Ludwig tertegun. Dia berdiri mematung, menatap wanita yang dulu pernah menemani beberapa malam dalam hidupnya. Ludwig harus memikirkan cara agar bisa merebut pisau yang Lilia pegang, tanpa melukainya sedikit pun. “Baiklah. Aku akan pergi, tapi singkirkan pisau itu.”
“Aku tidak percaya padamu. Kau seorang pembohong!”
Ludwig menggeleng samar. “Aku janji. Singkirkan pisau itu,” ucap Ludwig menegaskan. Dia berjalan mundur, sehingga jaraknya menjauh dari Lilia. “Aku akan pergi.” Ludwig membalikkan badan. Ekor mata pria itu tertuju pada Jedrick yang bersembunyi di tempat cukup gelap. Lirikan Ludwig terlihat penuh isyarat.
Jedrick mengangguk samar. Dia mengerti apa yang harus dilakukannya. Pria itu keluar dari tempat persembunyian, lalu mengikuti Lilia dengan tenang.
Lilia yang tengah berjalan menyusuri trotoar, merasakan ada sesuatu yang tak beres. Wanita muda itu tertegun, lalu sedikit menoleh ke samping. Ekor mata si pemilik rambut merah tadi, menangkap sosok pria di belakangnya. Lilia yakin bahwa pria itu bukanlah Ludwig, karena postur mereka sangat berbeda.
Hembusan napas pelan meluncur dari bibir berpoleskan lipstik merah Lilia. Dia mencoba bersikap tenang, meski harus mempercepat langkah. Sialnya, high heels yang dikenakan menghambat pergerakan wanita muda itu. Lilia mulai gelisah, karena pria yang tak lain adalah Jedrick terus mengikutinya.
“Ya, Tuhan. Tolonglah aku,” ucap Lilia dalam hati dengan raut was-was. Namun, tiba-tiba hatinya merasa begitu lega, ketika dari seberang jalan terlihat seseorang yang berjalan menghampirinya. Pria itu kemudian berjalan tepat di sisi sebelah kanan Lilia.
“Aku tahu kau tak akan berani pulang sendiri,” ucap pria yang tak lain adalah Ludwig. Dia memberi isyarat dengan tangan yang sengaja diletakkan di balik pinggang, menyuruh agar Jedrick pergi.
“Kau mengikutiku?” Lilia masih bersikap sinis dan ketus kepada Ludwig.
“Ya. Dari seberang jalan sana,” tunjuk Ludwig, meski Lilia tak menoleh sama sekali. Dia mengembuskan napas berat. Baru kali ini, dirinya kebingungan saat di dekat seorang wanita.
Ludwig mengusap tengkuknya berkali-kali, demi mengurangi rasa kikuk yang menggelayutinya. Terlebih, karena Lilia juga tak banyak bicara. Wanita muda itu terus berjalan sambil menatap lurus ke depan.
Kebisuan menemani perjalanan mereka, hingga keduanya tiba di depan bangunan apartemen puluhan lantai. Tanpa mengucapkan terima kasih, Lilia mempercepat langkahnya memasuki bangunan tadi.
__ADS_1
“Kau tinggal di sini?” tanya Ludwig cukup nyaring, karena Lilia sudah menjauh beberapa langkah darinya.
Lilia menoleh. Namun, wanita cantik bertubuh semampai itu tak menjawab. Dia berbalik, kembali mengalihkan pandangan ke depan.
“Tidak ada ucapan terima kasih?” Suara Ludwig kembali terdengar. Akan tetapi, lagi-lagi Lilia tak mengubris. “Ah, baiklah. Aku masih bisa merasakan gigitanmu di bibirku,” ujarnya.
Lilia terus berjalan masuk tanpa menghiraukan Ludwig yang masih berdiri di halaman depan. Pria itu terus memperhatikan, hingga Lilia masuk dan tak terlihat lagi.
“Baiklah,” ucap Ludwig datar. Dia membalikkan badan, kemudian berpindah ke tempat yang sedikit tersembunyi. Ludwig berdiri di sana selama beberapa saat, hingga dirinya melihat Lilia berjalan keluar dari bangunan apartemen tadi.
Lilia tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum akhirnya meninggalkan gedung itu. Dia berjalan cepat ke gedung sebelah.
“Gadis pintar,” ucap Ludwig seraya tersenyum simpul, “tapi aku jauh lebih berpengalaman.” Pria tampan bermata cokelat madu tersebut menyeringai kecil, sebelum berlalu meninggalkan tempat itu.
Sementara. Marik yang tadi sempat terluka, memaksakan diri untuk mengendarai mobil hingga tiba di sebuah rumah satu lantai bercat putih. Di sekeliling bangunan itu terdapat tumbuhan dan beberapa pohon rimbun, yang cukup menyamarkan pandangan.
Cukup lama, Marik berdiri di depan pintu. Pria berambut gondrong sebahu itu berkali-kali meringis, merasakan beberapa luka yang membuatnya terlihat babak belur. Marik juga mengusap-usap leher, yang tadi diinjak sekuat tenaga oleh Ludwig.
Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang membuka kunci dari dalam. Berhubung suasana cukup temaram, sehingga tak menampakkan jelas sosok pria yang berdiri di ambang pintu rumah itu. Satu yang pasti, pria tadi memiliki perawakan yang tak jauh berbeda dengan Ludwig.
“Selamat malam, Tuan,” sapa Marik penuh hormat. “Maaf mengganggu Anda selarut ini.”
“Masuklah,” suruh pria berambut cepak, yang sepertinya merupakan pemilik rumah tadi. Marik mengikuti pria itu masuk. Tak lupa, dia menutup pintu rapat-rapat.
Setelah tiba di dalam, si pria pemilik rumah menyalakan lampu. Dia keheranan melihat wajah Marik yang babak belur. “Kau kenapa?” tanya pria yang kali ini sosoknya tampak jelas.
Pria itu berambut cokelat, dengan garis wajah tegas dan rahang kokoh yang tampak sangat maskulin. Sepasang iris matanya berwarna hazel, menatap tajam dan lurus penuh selidik. Dia juga memiliki tato dengan tulisan Bahasa Polandia, yang berukuran tidak terlalu besar di pundak belakangnya. Tulisan itu disandingkan dengan gambar iblis Lucifer.
__ADS_1
“Ada seseorang yang membuat onar di bar. Dia mendekati Red Lily,” lapor Marik.
“Siapa yang telah berani melakukan itu?” tanya si pria, penuh penekanan.
“Aku tidak mengenalnya, Tuan. Dia sangat mahir dalam berkelahi, bahkan melawan Lew dan Vasili secara bersamaan. Dia juga melumpuhkan beberapa penjaga yang ada di bar serta ….”
“Dirimu?”
Marik mengangguk ragu. Dia seakan sudah tahu apa yang akan dihadapinya.
“Bodoh,” cibir pria itu pelan, tapi terdengar begitu sinis.
“Maaf, Tuan.” Marik tertunduk, tak berani melawan tatapan pria yang merupakan majikannya tersebut.
“Lalu, di mana Red Lily saat ini?” tanya pria itu. Dia maju satu langkah, hingga dirinya berada tepat di hadapan Marik yang tak segera menjawab. “Di mana Lily Merahku?” tanyanya lagi penuh penekanan.
Karena Marik tak kunjung menjawab, akhirnya satu tamparan keras mendarat di pipi pria yang sudah babak belur itu. Lagi, Marik terjengkang sambil menahan sakit. Bibirnya kembali mengeluarkan darah, dan mungkin terluka lebih parah.
“Aku tadi sempat pingsan, Tuan. Jadi, aku tidak tahu bagaimana keadaan Red Lily saat ini,” jawab Marik, yang berbalas satu tendangan kencang di dada. Kali ini, pria itu sampai memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Sebutkan ciri-ciri si pembuat onar itu?” Pria dengan tato Lucifer tadi, menurunkan tubuh di dekat Marik.
“Dia ….” Marik menuturkan ciri-ciri fisik Ludwig secara detail. Begitu juga dengan tato yang ada leher pria itu.
Setelah mendengarkan penuturan dari Marik, si pria kembali berdiri. Dia lalu mengambil telepon genggam dari meja, kemudian menghubungi seseorang. “Sambungkan aku dengan Ignac Lubos,” pintanya.
“Siapa ini?” tanya seseorang dari ujung telepon. "Kenapa menghubungi tengah malam begini. Sebaiknya, anda menelepon kembali besok pukul sembilan pagi."
__ADS_1
“Tidak bisa. Katakan saja bahwa Lech Czeslaw ingin bicara sekarang juga" jawab pria bermata hazel tersebut dengan sorot dingin.