
“Bagaimana, Tuan?” tanya seseorang di seberang sana.
“Apa kau sedang sibuk saat ini, Ignac?” Pria bertato Lucifer itu balik bertanya.
“Tidak, Tuan. Tidak apa-apa,” jawab Ignac.
“Kalau begitu, aku akan memberimu tugas. Lakukan sekarang juga,” titah pria bernama Lech tersebut.
“Tentu. Apa yang anda inginkan?” tanya Ignac lagi.
“Aku ingin kau mencari tahu tentang pria yang memiliki tato pedang bersayap di lehernya. Dia sudah membuat keonaran di bar. Pria itu bahkan mengganggu Lily Merahku,” sahut Lech, si pria berwajah garang.
“Itu adalah pekerjaan yang sangat mudah, Tuan. Aku akan bergerak sekarang," sahut Ignac.
“Bagus. Kutunggu informasi darimu.” Nada bicara Lech terdengar begitu tegas. Pria bermata hazel tersebut mengakhiri panggilannya, kemudian beralih pada Marik. “Kau,” tunjuknya. “Datangi apartemen Lily dan periksa keadaannya. Cepat beri laporan padaku, jika dia tidak ada di sana. Kita akan langsung melakukan pencarian besar-besaran!” titah Lech penuh penekanan.
“Baik, Tuan.” Sambil menahan sakit, Marik setengah membungkuk sebagai bentuk penghormatan. Dia bergegas meninggalkan kediaman pria yang berada di pinggiran Kota Warsawa. Dia langsung mengendarai mobil menuju apartemen Lilia.
Sementara itu, Ludwig yang tadi mengikuti Lilia hingga ke apartemennya, langsung tertegun saat melihat sebuah jeep melaju kencang. Jeep tersebut berhenti di dekat trotoar. Pengendara jeep tadi turun dengan tergesa-gesa.
Ludwig sempat terkesiap, ketika menyadari bahwa pengendara jeep itu adalah orang yang dia hajar hingga babak belur di tempat parkir bar beberapa jam yang lalu. “Hm.” Seulas senyuman licik terlukis dari bibirnya.
Diam-diam, Ludwig mengikuti pria yang tak lain adalah Marik dari belakang. Dia bersembunyi, saat pria itu menekan tombol di samping pintu lift. Marik masuk setelah pintu terbuka.
Dengan langkah waspada, Ludwig setengah berlari ke depan lift yang sudah tertutup. Dia memperhatikan tombol angka yang berada di atas pintu lift. Lampu menyala secara berurutan dari angka satu, kemudian berakhir di tombol angka tujuh. “Lantai tujuh,” gumamnya. Dia bergegas menaiki tangga darurat sampai tiba di lantai yang dituju.
Ludwig seketika berhenti, saat mendapati Marik berdiri di depan salah satu pintu apartemen. Dia lalu bersembunyi di balik pot raksasa yang ditumbuhi tanaman palem. Pencahayaan gedung yang temaram, cukup menguntungkan untuk menyamarkan keberadaannya.
Ludwig harus menajamkan pendengaran sekaligus penglihatan, sebab jaraknya yang cukup jauh dari tempat Marik berada. Dadanya berdesir pelan, ketika pintu apartemen terbuka dan menampakkan sosok Lilia.
__ADS_1
“Ada apa kau datang kemari malam-malam begini, Marik?” Suara wanita muda nan cantik jelita itu sungguh merdu mendayu, memanjakan telinga Ludwig.
“Apa kau baik-baik saja, Sayang?” Marik berusaha menyentuh pipi mulus Lilia. Namun, wanita berambut merah tadi lebih dulu menghindar.
“Apa kau tidak ingat perkataan bos besar, bahwa tidak ada siapa pun yang boleh menyentuhku sesuka hati. Termasuk dirimu?” tolak Lilia.
“Kau tidak akan mungkin berani mengadukanku padanya,” ujar Marik.
“Kita lihat saja,” balas Lilia tak acuh.
“Kau tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padamu, sejak bertemu pertama kali di belakang lumbung ….” Marik terus berusaha merayu Lilia.
Mendengar hal itu, Ludwig merasa muak sekaligus marah. Tanpa sadar, kedua tangannya terkepal sempurna. Akan tetapi, dia harus bisa menahan diri. Ludwig kembali berusaha bersikap tenang dan terus menguping pembicaraan.
“Berapa kali pula harus kukatakan padamu, bahwa aku tidak akan pernah memberikan cintaku pada pria manapun! Termasuk kau!” tegas Lilia sembari mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Marik.
Ludwig tersenyum samar. Ganjalan dalam hatinya sedikit berkurang, saat Lilia menolak cinta Marik.
“Tuan yang menyuruhku kemari untuk memeriksa keadaanmu. Dia khawatir dengan kejadian tadi di depan bar!” Marik masih juga tak putus asa. Dia berbicara dengan sedikit nyaring. Marik tak peduli, walaupun pintu di depannya sudah tertutup rapat.
Sesaat kemudian, Lilia kembali membuka pintu apartemen dengan raut was-was. “Kau … mengatakan padanya tentang kejadian tadi?” tanya Lilia gugup.
“Ya. Aku harus melaporkan siapa pun yang sudah berbuat kurang ajar padamu. Tuan besar sudah mencari keberadaan pria brengsek itu. Sebentar lagi, kami akan menangkap dan menghabisinya,” papar Marik percaya diri.
“Tidak! Jangan!” cegah Lilia begitu saja tanpa berpikir. “Eh, um ... maksudku ... tidak usah membuang-buang tenaga mencarinya. Dia bukan orang yang penting dan berbahaya.”
Lagi-lagi Ludwig tersenyum. Dia dapat merasakan kekhawatiran yang Lilia tujukan untuk dirinya.
“Apa kau mengenalnya?” Marik menatap penuh selidik.
__ADS_1
“Tentu saja tidak!” sanggah Lilia. “Aku hanya tidak ingin kalian melakukan sesuatu yang tidak berguna.”
Marik memperhatikan wajah cantik Lilia dengan sorot curiga. Sesaat kemudian, pria itu mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah. Aku percaya padamu. Namun, kami akan tetap mencari keberadaan pria itu sampai berhasil ditemukan,” tegasnya.
“Ah! Terserah kau saja+” Lilia mengembuskan napas pelan, kemudian menutup pintu rapat-rapat. Kali ini, dia tak ingin membukanya lagi. Mau tidak mau, Marik harus pergi dari sana.
Ludwig langsung beringsut ke dalam sebuah ruangan kecil di belakang tanaman palem, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat kebersihan. Dia bersembunyi di tempat itu, sampai Marik menghilang di balik pintu lift yang mulai tertutup.
Setelah merasa aman, Ludwig keluar dari persembunyiannya. Sambil terus bersikap waspada, dia berjalan pelan hingga tiba di depan apartemen Lilia. Diketuknya daun pintu itu pelan sampai beberapa kali. Barulah Lilia membukanya.
“Ada apa lagi, Ma ….” Lilia menghentikan kalimatnya. Seluruh tubuh wanita cantik itu membeku, saat mendapati bahwa bukan Marik yang berdiri di hadapannya. “Kau?” desis Lilia tak percaya. “Bagaimana kau menemukanku di sini?” Wanita itu keheranan.
“Aku mengikuti kata hatiku,” jawab Ludwig sedikit berkelakar. Sesuatu yang tak pernah dilakukan kepada siapa pun.
“Oh, jadi baru sekarang kata hatimu berfungsi? Lalu, ke mana nuranimu enam bulan lalu saat meninggalkanku hampir terbakar di peternakan?” cibir Lilia.
“Aku ….” Ludwig kalah telak. Dia tak mampu berkata-kata. Ludwig bahkan tergagap menanggapi pertanyaan Lilia. “Aku memang egois,” ucap Ludwig beberapa saat kemudian.
“Baguslah jika kau menyadarinya.” Lilia bermaksud membanting pintu apartemen.
Akan tetapi, Ludwig segera menahannya. Dia menahan tepian daun pintu dengan menggunakan kedua tangan.
“Izinkan aku berbicara dan menjelaskan semua,” pinta Ludwig. Raut wajah tampannya tampak datar saat berucap demikian.
“Aku tidak butuh penjelasan apapun, Heinz Lainer! Semua sudah berlalu. Aku sudah mengubur masa laluku dalam-dalam!” Lilia berusaha keras mendorong pintu itu agar tertutup. Namun, apa daya tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Ludwig.
“Nama asliku adalah Ludwig Stegen, bukan Heinz Lainer!” ungkap Ludeig. Membuat Lilia tertegun. “Aku adalah buronan yang paling dicari agen federal dan pemerintah Jerman. Selama dua tahun aku bersembunyi di Austria, sampai akhirnya menemukan peternakan ayahmu. Waktu itu, aku berniat mencari perlindungan di sana, dan ….” Ludwig menjeda penjelasannya, ketika melihat mata Lilia berkaca-kaca.
“Untuk apa kau menikahiku?” tanya Lilia lirih.
__ADS_1
Ludwig menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Saat itu, dia tak memiliki pilihan selain berkata jujur kepada Lilia. “Waktu itu, aku tidak dapat berpikir panjang. Niatku hanyalah demi mencari suaka,” jawab Ludwig sambil menatap Lilia dengan tatapan berbeda.