Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Lemparan Pisau


__ADS_3

“Di tangan ayahmu?” Ludwig seketika kehilangan rasa kantuknya. “Apa kau yakin? Rasanya, aku tidak pernah melihat hal itu,” bantah pria tampan tersebut ragu.


“Aku sangat yakin,” balas Lilia. “Saat itu, usiaku baru sepuluh tahun. Ayah membantuku mengerjakan tugas sekolah. Aku bertanya padanya tentang tato yang ada di tangan. Ayah mengatakan bahwa dia akan segera menghapus tato tersebut. Beberapa hari setelah itu, gambarnya memang sudah hilang,” jelas Lilia yakin. Wanita muda itu terdiam beberapa saat. “Apa menurutmu ayahku ….”


Ludwig tidak berani memastikan terlalu dini. Dia harus menyelidiki terlebih dulu, sebelum mengambil kesimpulan. “Kau mengenal ayahmu dengan sangat baik. Apa selama itu kau tidak melihat sesuatu yang janggal darinya?”


“Aku rasa tidak ada. Semua yang ayah lakukan terlihat normal di mataku. Tak ada satu hal pun yang mencurigakan, selain saat dia menyembunyikan kematian ibu dan … kerangka manusia di dalam lemari di pondok kayu dekat peternakan.” Tiba-tiba, Lilia merasakan sesuatu yang aneh. Kepalanya berputar kencang, sehingga dia menjadi tidak nyaman. “Astaga,” ucapnya pelan.


“Kenapa” tanya Ludwig khawatir.


“Kau … semua ini gara-gara kau! Hidup serta tempat tinggalku hancur karena dirimu, Tuan Stegen! Kau penyebab semua kemalangan yang terjadi padaku! Astaga! Seharusnya aku membenci dan tak pernah memaafkan dirimu selamanya!” Lilia tiba-tiba histeris. Setelah itu, terdengar suara berisik. Tak jelas apa yang sedang Lilia lakukan di apartemennya.


“Lilia? Lilia?” panggil Ludwig cemas. Dia sudah berdiri dan hampir menyambar jaket kulit serta topi, jika tak kembali mendengar suara Lilia di ujung telepon. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Ludwig. Dia begitu mengkhawatirkan wanita cantik tersebut.


“Aku … aku harus tidur. Selamat malam.” Tanpa ada basa-basi lagi, Lilia menutup sambungan telepon. Dia membiarkan Ludwig berada dalam perasaan tak menentu.


“Ah, sial!” Ludwig melempar ponsel ke kasur. Dia mencondongkan tubuh, lalu meraup kasar wajahnya. Harus diakui bahwa kekacauan yang terjadi memang karena dirinya. “Maafkan aku, Lilia,” ucap Ludwig penuh sesal. Belum pernah dirinya merasa selemah itu, karena menghadapi perasaan bersalah.


Ludwig mengempaskan tubuh ke kasur. Dia memang sangat mencemaskan keadaan Lilia. Namun, dirinya sudah teramat lelah. Tanpa terasa, kedua matanya terpejam sempurna hingga Ludwig benar-benar terlelap.


Saat pagi menjelang pun, Ludwig masih berada dalam buaian mimpi. Hingga jarum jam di arloji menunjukkan pukul sepuluh, pria tampan tersebut baru membuka mata. Ludwig meraih telepon genggam, lalu memeriksa beberapa pesan masuk. Salah satunya adalah dari Jedrick. Dia mengabarkan bahwa nanti malam Red Lily akan mengadakan pertunjukan.


Ludwig tidak membalas pesan tersebut. Dia justru langsung menghubungi Lilia. Sayangnya, tiga kali panggilan yang dilakukan pria itu tak ada yang dijawab satu pun. “Bagaimana ini?” Ludwig mengeluh pelan. Konsentrasinya menjadi terpecah, karena dia harus memikirkan Lilia. Sedangkan, dia belum mendapat titik terang tentang orang yang menjadi target buruannya, yaitu Radko Trava.


Ludwig sudah berniat bangkit dari tempat tidur, ketika ponselnya bergetar. Dia berharap itu merupakan panggilan dari Lilia. Namun, ternyata berasal dari nomor tak dikenal. Ragu, Ludwig memutuskan tak menanggapi panggilan tadi. Dia membiarkan telepon genggam inventaris yang diberikan oleh Oliver tersebut. Pria tampan tersebut lebih memilih masuk ke kamar mandi.


Di bawah deraian air yang mengalir deras dari shower, Ludwig terus berpikir. Pergerakan serta kekuatannya menjadi sangat terbatas. Dia tak memiliki kekuasaan, setelah pemerintah Polandia juga menutup semua bisnisnya yang ada di negara itu. Dia jadi kesulitan untuk mencari informasi tentang Radko Trava. Terlebih, dirinya justru malah dipertemukan lagi dengan Lilia, yang telah berhasil membuat konsentrasinya menjadi terbagi.


Malam itu, Ludwig pergi seorang diri ke bar tempat Lilia biasa melakukan pertunjukan. Ludwig sengaja tidak mengajak Jedrick ke sana. Setelah menikmati beberapa teguk minuman, perhatian Ludwig tertuju pada sosok semampai yang tengah berjalan anggun dengan penjagaan dua pria berpostur tinggi besar.

__ADS_1


Ludwig langsung beranjak dari duduknya. Dia mengikuti mereka tanpa ada yang menyadari, hingga pria itu berhenti di depan sebuah ruangan. Dari luar, dia mendengar suara tawa manja Lilia. Karena merasa penasaran, Ludwig mengintip melalui celah kecil di pintu.


Dari celah kecil tadi, Ludwig melihat Lilia tengah duduk di pangkuan seorang pria yang dirinya yakini sebagai Lech, karena pria itu sangat leluasa menyentuh tubuh wanita berjuluk Red Lily tersebut. Lech bahkan mencium Lilia hingga beberapa kali. Pria itu juga memberikan rokok yang tengah diisapnya kepada Lilia, untuk wanita itu cicipi.


Gemuruh dalam dada Ludwig kembali hadir. Pria tampan tersebut mencoba menafsirkannya sebagai rasa cemburu. Ya, Ludwig begitu cemburu melihat Lilia diperlakukan seperti itu oleh pria lain. Ada perasaan tak rela yang teramat besar, memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu. Namun, belum sempat Ludwig bertindak, tepukan keras lebih dulu dia terima di pundak.


Ludwig menoleh. Seketika, satu pukulan keras mendarat mulus di paras tampannya. Ludwig terjengkang menimpa pot bunga hingga pecah. Suara gaduh itu telah mengundang perhatian Lilia dan Lech yang tengah bermesraan di dalam.


“Ada apa di luar?” tanya Lilia.


“Akan kuperiksa.” Lech menyingkirkan Lilia dari pangkuannya. Dia berjalan ke dekat pintu, saat terdengar suara perkelahian di luar. Benar saja, Lech melihat beberapa anak buahnya tengah berhadapan dengan seorang pria asing yang memiliki kemampuan beladiri di atas rata-rata. Lech berdiri di ambang pintu, menyaksikan adegan itu dengan sorot tak dapat diartikan.


Karena merasa penasaran, Lilia yang sudah bersiap untuk tampil di panggung, mendekat ke pintu. Dia langsung membelalakkan mata, saat melihat Ludwig yang tengah berjibaku menghadapi anak buah Lech. Mereka berjumlah sekitar sembilan atau mungkin lebih. “Tidak.” Lilia menggeleng tak percaya.


Ludwig benar-benar kewalahan. Dalam beberapa menit saja, orang-orang yang menyerangnya terus bertambah hingga berkali lipat. Sekuat apapun Ludwig, dia tak akan sanggup menghadapi puluhan pria hanya seorang diri.


Ludwig sempat mengalahkan tiga orang yang berusaha mencekiknya dari belakang.


Dalam kondisi setengah sadar, Ludwig merasakan tubuhnya diseret melintasi ruangan belakang, tempat di mana Lilia bersantai bersama Lech. Sekilas, sorot matanya menangkap wajah cantik wanita itu yang tampak khawatir.


Akan tetapi, tak ada yang bisa Ludwig lakukan, selain mengikuti apa yang dilakukan anak buah Lech. Kedua tangan dan kakinya dipegang kuat oleh beberapa orang. Mereka lalu melemparkan tubuh Ludwig ke halaman belakang bar, hingga punggung Ludwig menimpa tong sampah besar yang terbuat dari besi.


Pria tampan berambut gelap itu tertawa pelan sambil mengusap darah, yang mengucur deras dari mulut. Dia menahan napas, ketika beberapa orang menendangi perut sekuat tenaga, sampai-sampai dadanya terasa sesak.


“Hentikan!” seru seorang pria yang tak lain adalah Lech. “Jangan sampai dia mati, karena harus aku sendiri yang membunuhnya!"


Puluhan pria yang mengerubungi Ludwig seketika menyingkir. Mereka memberi tempat untuk sang bos besar, agar dapat mendekat ke arah pria rupawan yang kini terkapar. “Pergilah kalian. Aku ingin bicara berdua dengan bajingan ini!” titah Lech, seraya mengeluarkan pistol semi otomatis. Dia menempelkan moncongnya tepat ke kening Ludwig.


“Tunggu!” cegah suara seorang wanita yang terdengar nyaring. Suara yang membuat Ludwig seketika membuka mata. Samar, dia melihat Lilia berlari ke arahnya. Wanita itu dengan berani menjadikan dirinya sebagai tameng. “Tolong, jangan lukai suamiku, Tuan Lech. Aku berjanji akan memberikan semua yang kau inginkan, asal dirimu bersedia melepaskannya,” pinta Lilia sambil terisak.

__ADS_1


“Suamimu?” ulang Lech sambil memicingkan mata. “Luar biasa. Aku jadi semakin berambisi untuk mencincangnya sampai habis.” Pria itu menyeringai lebar, sambil memandang Ludwig dengan sorot menakutkan.


“Kumohon,” pinta Lilia lagi. Dia bersimpuh di hadapan Lech sambil melingkarkan tangan di salah satu paha pria itu.


“Lily-ku.” Lech membungkuk, lalu meraih dagu Lilia. Dia mencengkeram erat dagu lancip wanita itu sambil tertawa. “Sudah kukatakan bahwa tak ada siapa pun yang bisa memilikimu selain diriku," ucap Lech. Dia melepaskan dagu Lilia sambil mendorongnya pelan.


“Aku hanya memberimu waktu untuk menyampaikan pesan terakhir kepada suamimu, sebelum diriku membunuhnya. Hanya itu yang bisa kukabulkan. Tidak lebih!” tegas Lech, kembali memperlihatkan seringai jahatnya.


“Kau ….” Lilia menggigit bibir. Dia lalu mengalihkan perhatian pada Ludwig sepenuhnya. “Kau … sedang apa kau di sini? Kenapa harus datang kemari dan melakukan hal yang konyol?” Lilia menangis pelan. Kesedihan tampak jelas di matanya, saat melihat pria yang dia cintai dalam kondisi seperti itu.


“A-aku mencintaimu, Lilia. Aku tak rela dia melecehkanmu seperti i-tu,” jawab Ludwig terbata. Dia menahan rasa sakit dari semua lukanya.


“Apa?” Mata indah Lilia membulat sempurna, seakan tak percaya mendengar pengakuan Ludwig.


“Dengarkan aku ....” Susah payah, Ludwig mendekatkan wajahnya pada Lilia. Dia juga memperhatikan Lech, yang berdiri beberapa langkah di belakang Lilia. Lech menyilangkan tangan di depan tubuh, dengan pistol semi otomatis yang sudah siap ditembakkan kepada Ludwig.


“Apa kau membawa pisau lipatmu?” bisik Ludwig teramat pelan.


“Ya. Aku selalu menyembunyikannya di dalam sini.” Sambil terisak, Lilia menepuk dadanya untuk menunjukkan letak pisau lipat itu tersimpan.


“Bagus. Keluarkan pelan-pelan, lalu berikan padaku,” bisik Ludwig lagi.


Lilia mengangguk pelan. Dia berpura-pura mengusap tengkuk dengan lemah lembut, lalu berpindah ke bagian dada. Luwes, tangannya mengambil pisau yang terselip di dalam bra. Lilia memberikan pisau itu kepada Ludwig.


“Menjauhlah sebentar. Kau percaya padaku, kan?” Ludwig tersenyum lembut, sambil menyembunyikan pisau lipat itu di balik genggaman tangannya.


“I-Iya." Lilia memaksakan tersenyum. Dia beringsut menjauh dari Ludwig, lalu berdiri di belakang Lech.


“Apakah sudah selesai reuni kalian, Lily-ku?” Lech menoleh pada Lilia.

__ADS_1


Tepat pada saat itu, Ludwig melemparkan pisau lipatnya, dan tepat mengenai dada kanan Lech.


__ADS_2