Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Bergerak Dalam Keremangan


__ADS_3

“Sekarang, kau sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya,” ucap Ludwig datar. “Aku merasa tidak memiliki beban lagi, karena pergi tanpa memberikan penjelasan padamu.”


Lilia diam terpaku menatap pria tampan di hadapannya. Dia tak tahu harus berkata apa. Sudah terlalu banyak hal mengejutkan dalam hidupnya. Lilia tertunduk beberapa saat, sebelum kembali mengarahkan tatapan kepada Ludwig. “Lalu, siapa wanita yang malam itu melarikan diri bersamamu?” tanyanya pelan.


“Ceritanya sangat panjang. Kau tak perlu mengetahui hal itu. Namun, satu yang pasti bahwa dia tidak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak pernah memiliki wanita istimewa ….” Ludwig tak melanjutkan kata-katanya.


“Tidak juga diriku.” Lilia tersenyum kelu. “Ya. Itu sudah pasti.” Ucapan wanita muda berambut merah tersebut menyiratkan rasa kecewa. “Pergilah. Sebentar lagi pagi akan datang. Aku juga sangat lelah. Selamat malam, Tuan Stegen.” Tanpa menunggu tanggapan dari Ludwig, Lilia langsung menutup pintu ruang apartemennya rapat-rapat. Dia tak peduli, meskipun Ludwig masih terpaku di tempatnya.


Lilia bersandar pada pintu. Perlahan, tubuh rampingnya merosot hingga dia terduduk di lantai. Tangis kepedihan itu tak dapat ditahan lagi. Untuk kesekian kalinya, dia harus melawan rasa sakit karena ketidakadilan hidup.


Air mata terus mengalir deras. Lilia memeluk erat kedua lutut. Dia merintih teramat pelan, karena tak ingin ada siapa pun yang mendengar tangisannya. Tidak juga dinding yang selama ini menjadi saksi, dari sekian banyak siksaan batin dalam menjalani kehidupan keras tak menyenangkan.


Sementara, Ludwig masih berdiri dengan pikiran tak karuan. Kegalauan yang telah sekian lama dia buang jauh, tiba-tiba hadir kembali. Ludwig pernah terpenjara dalam perasaan tidak menentu seperti saat ini, ketika dirinya tergoda oleh paras cantik yang mampu melumpuhkan seluruh akal sehat.


“Jangan,” ucap Ludwig sambil berjalan meninggalkan gedung apartemen tempat tinggal Lilia. Dia memiliki urusan yang sangat penting kali ini. Sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya di masa mendatang. Ludwig harus berkonsentrasi dalam misi pencarian Radko Trava.


Keesokan malamnya, Ludwig dan Jedrick sudah membuat janji bertemu, di sebuah bar kecil. Tempat itu merupakan sarana hiburan pelepas lelah, bagi orang-orang kalangan menengah ke bawah. Suasana serta minuman yang disuguhkan pun tentu sangat berbeda kualitasnya, dengan yang biasa Ludwig nikmati.


“Minuman macam apa ini?” keluh Ludwig. Pria itu meringis tak suka, setelah mencicipi bir yang baru disuguhkan oleh pelayan.


“Kuli itu biasa datang kemari setiap malam,” ujar Jedrick, tanpa menanggapi keluhan Ludwig tentang rasa minuman yang tak enak. Pria dengan gaya serta warna rambut nyentrik tersebut, melihat jam tangan kasual di pergelangan kiri. “Seharusnya, dia sudah datang pada jam seperti ini,” ucap Jedrick lagi seraya mengedarkan pandangan. Pria itu sudah mulai khawatir, karena takut mengecewakan sang tuan.


“Tunggu saja sebentar lagi,” balas Ludwig. Dia kembali berdecak kesal, karena harus menikmati bir dengan cita rasa tak karuan.


“Iya ….” Belum sempat Jedrick melanjutkan kata-katanya, tatapan pria muda itu terkunci pada sosok pria berperawakan tegap. Dari ciri fisiknya, tampak jelas bahwa pria tadi terbiasa melakukan pekerjaan berat. “Itu dia,” ucap Jedrick seraya mengarahkan ekor matanya, pada orang yang sedang mereka tunggu.


Ludwig menoleh ke arah yang ditunjuk anak buahnya tadi. Dia memperhatikan pria yang duduk di bar counter. Pria itu tampak menyapa beberapa rekannya yang ada di sebelah. Mereka berbincang akrab sambil sesekali tertawa.


Sekitar satu jam kemudian, pria tadi keluar dari bar itu. Dengan segera, Ludwig dan Jedrick menyusulnya. Namun, mereka tetap menjaga jarak dari pria yang tengah berjalan bersama dua orang rekannya tersebut.


“Kau tahu dia akan ke mana?” tanya Ludwig pelan.

__ADS_1


“Kita lihat saja, Tuan,” jawab Jedrick. Dia lalu berhenti, saat melihat si pria memisahkan diri dari kedua rekannya.


Pria itu melanjutkan perjalanan, hingga tiba di satu kawasan pemukiman pinggiran kota. Di sana, ada beberapa wanita berpakaian minim. Namun, tentu saja tidak terlihat menarik di mata Ludwig, yang terbiasa memakai jasa wanita penghibur kelas atas.


Si pria sempat bertegur sapa dengan satu dari beberapa wanita tadi. Dia merengkuh pundak wanita yang kemudian dibawanya pergi, ke tempat yang jauh lebih sepi dan rimbun.


“Astaga,” decak Jedrick diiringi senyum geli. “Apa kita akan menunggunya menyelesaikan ritual, Tuan?” Pria muda itu tak kuasa menahan tawa.


“Kita lihat seberapa lama,” sahut Ludwig seraya memeriksa arlojinya. Saat itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.30.


“Anda yakin akan menunggunya hingga selesai bercinta?” tanya Jedrick memastikan. Namun, sesaat kemudian pria muda itu menepuk kening. “Tentu saja. Kita tidak boleh melanggar hak asasi manusia,” celotehnya.


Ludwig tidak menanggapi. Dia berdiri beberapa meter dari tempat pria tadi menyalurkan kebutuhan biologisnya. Sayup-sayup, terdengar suara-suara yang menandakan bahwa permainan mereka telah dimulai. Namun, Ludwig terlihat biasa saja. Dia seperti tak terpengaruh sama sekali. Hingga lima belas menit kemudian, barulah Ludwig mengajak Jedrick bergerak semakin mendekat.


“Apa kalian sudah selesai?” tanya Ludwig tanpa basa-basi. Dia dan Jedrick berdiri gagah, memperhatikan si pria yang tengah menaikkan resleting celana jeans dengan terburu-buru. Begitu juga yang dilakukan si wanita. Dia mengenakan kembali pakaian dalamnya, lalu bergegas pergi meninggalkan para pria tadi.


“Siapa kalian?” tanya pria yang sejak tadi diikuti oleh Ludwig dan Jedrick. Sorot mata pria itu penuh kewaspadaan.


“Untuk apa aku memberitahukan nama kepada orang asing seperti ….”


Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Jedrick lebih dulu menyergap tangan si pria lalu menekuk keduanya di balik punggung. Saat itulah, Ludwig menodongkan pistol berperedam milik Marik, yang kemarin sempat diambil oleh Jedrick. Moncong senjata api tadi menempel tepat di kening si pria yang mulai ketakutan.


“Namaku … A-Anatoli Lucjan. Apa mau kalian? Jangan libatkan diriku lagi.” Belum apa-apa, pria bernama Anatoli tersebut sudah meracau tak menentu.


“Melibatkan dalam hal apa?” tanya Ludwig dingin.


Akan tetapi, Anatoli tidak segera menjawab. Pria berambut pirang itu terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Ludwig. Dia malah menatap penuh selidik terhadap pria tampan tersebut. “Senjatamu membuatku takut, Tuan,” ujarnya sesaat kemudian.


Jedrick tertawa mendengar ucapan polos Anatoli. “Tenanglah, Bung. Pistol itu bukan ular yang akan mematukmu,” ujarnya setengah meledek.


“Namun, senjata ini bisa menghancurkan kepalamu, jika kau tak bersedia bekerja sama,” timpal Ludwig penuh gertakan.

__ADS_1


Mendengar gertakan Ludwig, Anatoli langsung bereaksi. Dia berusaha melepaskan diri dari pegangan Jedrick. Pria itu terlihat gusar.


“Hey! Tenanglah, Kawan,” ucap Jedrick tanpa mengendorkan pegangannya dari tangan Anatoli, yang masih terlipat di belakang punggung. “Kami tidak akan menyakitimu. Tuanku hanya ingin bertanya beberapa hal. Kuharap, kau bersedia memberikan jawaban tanpa banyak bertele-tele,” ujar anak buah Ludwig tersebut.


“Apa yang kalian inginkan? Aku tidak ingin berurusan dengan orang-orang seperti kalian lagi,” tolak Anatoli sambil terus berusaha melepaskan diri.


“Orang-orang seperti kami?” Ludwig menaikkan sebelah alisnya. Dia menyunggingkan senyuman samar dalam keremangan cahaya lampu jalan, yang terhalangi rindangnya pepohonan. “Katakan, siapa yang pernah mendatangimu sebelumnya?” Nada pertanyaan Ludwig penuh penekanan, yang menandakan bahwa dia sedang benar-benar serius dan ingin mendapat jawaban yang pasti.


“Mereka … mereka … aku tidak mengenal orang-orang itu. Tiba-tiba saja mereka mendatangiku seperti yang kalian berdua lakukan saat ini,” jelas Anatoli agak terbata.


Ludwig mengembuskan napas berat. Dia menoleh kepada Jedrick, memberi pria muda tersebut satu isyarat dengan matanya. Jedrick mengangguk. Dia tahu apa yang harus dilakukan terhadap Anatoli. Jedrick semakin kencang menarik kedua tangan pria yang berprofesi sebagai kuli bangunan tersebut, hingga Anatoli memekik kesakitan.


Namun, suara teriakan pria malang itu hanya sesaat, karena Ludwig langsung menyumpal mulutnya dengan moncong senjata. “Jangan bertele-tele, Bung.” Ludwig sudah bersiap menarik pelatuk, ketika Anatoli mengangguk kencang. “Bagus,” ujar Ludwig diiringi seringai menakutkan.


“Cepat bicara! Kau sudah membuang waktu kami yang sangat berharga!” desak Jedrick sambil sesekali mengencangkan pegangannya, hingga Anatoli kembali memekik pelan.


“Bisakah lepaskan aku dulu?” pinta Anatoli memelas.


“Tidak!” tegas Ludwig.


“Baiklah.” Anatoli mengembuskan napas pendek, sebelum menceritakan semuanya kepada Ludwig. “Sekitar dua bulan yang lalu, ada beberapa pria yang tiba-tiba mendatangiku. Mereka menawarkan sejumlah uang, dengan catatan aku harus menjalankan satu misi untuk mereka,” tutur Anatoli.


“Misi apa?” tanya Ludwig dingin.


“Aku harus berpakaian rapi, lalu menemui seorang pengusaha besar. Mereka memasang alat komunikasi di pakaianku, sehingga diriku tinggal mengikuti apa yang diinstruksikan. Semua perbincanganku dengan pengusaha itu, atas tuntunan seorang pria yang hanya kudengar suaranya,” tutur Anatoli lagi.


“Apa yang kalian bahas?” tanya Ludwig lagi penuh selidik.


“Aku tidak terlalu memahami. Kami membicarakan masalah bisnis yang sepertinya ilegal. Terus terang, saat itu aku sangat takut. Namun, aku terlanjur membuat perjanjian dan menerima uang dalam jumlah banyak dari pria itu.”


“Apa isi perjanjiannya?” selidik Ludwig lagi.

__ADS_1


Anatoli tampak ragu saat mendengar pertanyaan tadi. Dia menggeleng pelan. “Aku tidak bisa. Keselamatan keluargaku dipertaruhkan,” tolaknya. Namun, Anatoli tak bisa mengelak, saat melihat ekspresi Ludwig yang menyiratkan sesuatu. “Mereka mengawasi istri dan anak gadisku hingga saat ini, agar diriku tidak membuka mulut kepada siapa pun.”


__ADS_2