
“Makhluk tak kasat mata,” ulang Ludwig diiringi senyum kecut. “Tidak mungkin. Jika memang nama itu ada dan begitu terkenal, maka pasti ada wujud yang memiliki nama tersebut,” sanggahnya.
“Terserah kau. Aku hanya mengingatkanmu. Apapun yang kau lakukan untuk menemukan sosok Radko Trava, semuanya hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Kau hanya membuang waktu dengan percuma.”
“Aku harus menemukan pria itu bagaimanapun caranya!” ucap Ludwig penuh penekanan, sembari mencekal lengan Valeska cukup kencang. Wanita itu meringis kecil, menahan sakit. “Kau menyebutnya makhluk tak kasat mata? Atas dasar apa dirimu menyebut pria itu demikian?”
Belum sempat Valeska menjawab pertanyaan Ludwig, terdengar suara pintu yang terguncang karena berusaha dibuka dari luar. Sepertinya, ada seseorang yang hendak masuk ke toilet itu.
Ludwig merapikan topi baseball yang dia kenakan. Tanpa banyak bicara, pria tampan tersebut beranjak ke dekat pintu lalu membuka kunci. Tampaklah seorang pria yang mengangguk ramah saat melihat Ludwig. Namun, ekspresi ramah itu seketika berubah terkejut, saat Valeska muncul di balik tubuh tegap Ludwig yang keluar begitu saja tanpa ada basa-basi.
Valeska terus berjalan mengikuti Ludwig yang melangkah gagah menyusuri koridor, hingga mereka kembali ke ruangan tadi. Pria tampan itu tak peduli, meski Jedrick menatapnya aneh. Terlebih, karena setelah Ludwig masuk ke sana, Valeska juga muncul.
“Kau dari mana, Val?” tanya Jedrick.
“Menyelesaikan urusan yang tertunda,” jawab Valeska tak acuh.
Jedrick mengalihkan perhatiannya kepada Ludwig yang tampak sudah bersiap. “Apa Anda akan pergi, Tuan?” tanyanya.
“Ya,” jawab Ludwig dingin. “Kau boleh tetap di sini jika mau.” Ludwig kembali berdiri, setelah memasukkan rokok, kertas dengan sketsa wajah, serta barang pribadinya yang lain ke saku jaket. “Selamat malam, Jed.” Tanpa menoleh kepada Valeska, pria tampan tersebut berlalu ke pintu lalu keluar begitu saja.
Ludwig berjalan menyusuri jalanan Kota Warsawa yang masih cukup ramai, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket kulitnya. Beruntung, topi baseball yang dia kenakan dapat sedikit menyamarkan wajah, dalam keremangan cahaya lampu jalanan yang terkadang menerpa dirinya.
Pria tampan berambut cokelat tembaga itu terus memikirkan ucapan Belinda alias Valeska Vandro, yang menyebut bahwa Radko Trava merupakan sosok tak kasat mata. Mengingat sulit sekali menemukan wujud asli dari pemilik nama tersebut. “Brengsek kau, Oliver!” umpat Ludwig pelan. “Mahal sekali harga kebebasanku.”
__ADS_1
Ludwig menghentikan langkah di depan bangunan apartemen tempat tinggal Lilia, saat dirinya melihat mobil jeep mewah berwarna hitam berhenti di sana. Dari dalam mobil dengan tampilan garang tadi, muncul seorang pria yang keluar bersama Lilia. Sebelum masuk ke gedung puluhan tingkat itu, si pria sempat mencium Lilia hingga beberapa saat.
Seketika, gemuruh dalam dada Ludwig kembali hadir. Akal sehatnya mulai sulit dikendalikan. Pria tampan asal Jerman tersebut tak menyukai apa yang dirinya lihat tadi. Entah mengapa, ada perasaan tak rela saat menyaksikan Lilia diperlakukan seperti itu oleh pria lain. Ludwig ingin sekali menghampiri mereka, lalu menarik si pria agar menjauh dari wanita muda tersebut.
Namun, sepertinya dia tak perlu melakukan hal itu. Tak berselang lama, si pria masuk kembali ke mobil. Jeep hitam tadi melaju pergi meninggalkan area halaman depan gedung apartemen.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Ludwig. Dia langsung berlari menyusul Lilia, yang sudah berjalan masuk ke lobi. “Tunggu!” cegah Ludwig seraya meraih tangan wanita cantik berambut merah tersebut.
Lilia tersentak, lalu menoleh. “Kau?” Sorot matanya menunjukkan rasa tak suka atas kehadiran Ludwig di sana. “Untuk apa kau datang lagi kemari?” Nada pertanyaan Lilia terdengar sangat ketus, meski intonasinya cukup pelan. Pasalnya, tak jauh dari mereka ada seorang penjaga, yang sedang duduk tenang di meja informasi sambil menonton televisi.
“Aku ingin bicara,” ucap Ludwig. Niatnya untuk bersikap lebih manis kepada Lilia benar-benar tak terlihat, jika diperhatikan dari ekspresi wajah datar serta nada bicaranya yang terkesan dingin. Mungkin, memang sudah seperti itulah karakter seorang Ludwig Stegen.
Lilia tak ingin menanggapi. Dia bergegas menuju lift. Akan tetapi, ternyata Ludwig mengikutinya masuk ke sana. Mereka berdua berdiri berdampingan, meski Lilia tetap memberi jarak yang cukup jauh dari pria yang pernah menikahinya tersebut.
“Aku tidak mau. Kita bicara di dalam,” tolak Ludwig, seakan tak ingin menerima bantahan.
“Kenapa harus di dalam? Lagi pula, tak ada hal penting lagi yang perlu kita bahas. Aku sudah memahami semuanya. Jangan khawatir. Kau tak perlu menjelaskan hingga berkali-kali, karena aku tidak sebodoh yang kau kira.” Nada bicara Lilia tetap terkesan ketus.
“Buka saja pintunya,” suruh Ludwig tanpa banyak basa-basi.
Lilia tak mampu mengendalikan sisi hatinya Ada bisikan yang melarang wanita itu untuk menolak kehadiran Ludwig di sana. Bagai kerbau dicocok hidung, Lilia akhirnya menurut. Dia membuka pintu, lalu mempersilakan Ludwig masuk. Setelah berada di dalam, Lilia mengarahkan tangan ke sofa. “Apa kau ingin minum sesuatu?” tawarnya.
“Terserah kau,” jawab Ludwig yang sudah duduk. Dia juga melepas jaket, lalu meletakkannya di pinggiran sofa. Sambil menunggu, pria itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang tertata sangat apik.
__ADS_1
Namun, perhatian Ludwig akhirnya terkunci pada sosok bertubuh semampai, yang tengah menyiapkan minuman untuknya. Sekilas, bayangan saat Lilia menari ero•tis muncul di benak pria tiga puluh dua tahun tersebut.
“Kuharap, kau tidak berlama-lama di sini,” ujar Lilia sambil menghidangkan minuman di meja. Dia lalu duduk sedikit berjauhan dari Ludwig.
“Tenang saja. Aku hanya ingin duduk sebentar,” balas Ludwig, dengan tatapan yang terus terarah kepada Lilia.
“Jangan menatapku seperti itu!” sergah Lilia tak suka. Dia memalingkan wajah, agar Ludwig tak terus-menerus memperhatikannya. “Kau memang menyebalkan!” gerutu Lilia pelan. Namun, Ludwig masih dapat mendengarnya. Pria tampan bermata cokelat madu itu tersenyum simpul.
“Kenapa kau terus saja menggangguku?” Lilia masih memalingkan wajahnya dari Ludwig.
“Karena aku tidak tahu harus mengganggu siapa lagi,” jawab Ludwig.
“Cih!” cibir Lilia. “Ada banyak wanita penghibur di sini.”
“Aku tidak tertarik,” ujar Ludwig datar. Dia menyandarkan tubuh ke sofa, dengan posisi wajah menatap langit-langit ruangan. Ludwig tampak memejamkan mata beberapa saat, sambil menikmati pengharum ruangan beraroma buah yang tercium sangat menyegarkan.
Sementara, Lilia kini balik memperhatikan pria itu. Dia menatap lekat sosok Ludwig, dari ujung kaki hingga kepala. Harus diakuinya, bahwa Ludwig memang terlihat sangat menawan. Terlepas dari status dan karakternya, yang tidak sesuai harapan Lilia.
“Apa yang terjadi pada ayahmu?” tanya Ludwig, yang seketika membuyarkan lamunan Lilia.
Lilia tidak segera menjawab. Dia bahkan seperti tak ingin membahasnya.
“Apa benar jika semuanya tewas terpanggang?” tanya Ludwig lagi. Dia menegakkan tubuh, lalu kembali menatap lekat Lilia. Ludwig seakan ingin mendapat jawaban yang pasti.
__ADS_1
“Hingga Saat ini, terus terang saja bahwa aku tidak tahu seperti apa nasib ayahku. Malam itu, aku dibawa pergi secara paksa oleh Marik. Dia membawaku hingga kemari.”