Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Terbebas Dari Maut


__ADS_3

“Syukurlah.” Lilia dan Manfred akhirnya dapat bernapas lega, setelah mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Ludwig.


“Kita tunggu hingga suami Anda sadar. Saat ini, dia masih berada di bawah pengaruh obat bius,” jelas sang dokter lagi.


“Bolehkan aku menemuinya, Dokter?” tanya Lilia penuh harap.


“Silakan. Namun, biarkan dulu pasien beristirahat agar kondisinya cepat stabil,” pesan dokter itu lagi.


Lilia mengangguk tanda mengerti. Wanita cantik berambut merah tersebut, kali ini dapat tersenyum tanpa beban.


“Semuanya akan segera membaik, Nak,” ucap Manfred seraya mengusap lembut lengan Lilia. “Kebetulan sekali, salah seorang kenalanku istrinya tengah dirawat di rumah sakit ini. Aku akan menemuinya dulu.”


“Iya, Paman. Aku akan melihat keadaan suamiku.” Lilia tersenyum lembut. Dia menatap kepergian Manfred, sebelum memastikan kondisi Ludwig.


Di dalam ruangan tempat Ludwig berada, tak ada siapa pun selain pria itu. Dia terbaring dengan mata terpejam rapat. Luka-luka di wajah serta noda darah sudah dibersihkan, sehingga paras tampan pria asal Jerman tersebut kembali terlihat jelas.


Lilia berjalan mendekat. Dia berdiri di samping ranjang tempat Ludwig terbaring. Wanita muda itu memandang pria yang telah membuatnya jatuh cinta, tanpa ada rasa bosan sama sekali. Lilia bahkan berkali-kali menyunggingkan senyuman manis, saat menikmati keindahan ragawi seorang Ludwig Stegen. Putri sang pemilik peternakan itu memberanikan diri menyentuh punggung tangan Ludwig, lalu mengusap-usapnya perlahan.


“Kau benar-benar pria yang tangguh, Tuan Stegen,” ucap Lilia pelan, tepat di dekat telinga Ludwig. Dia juga mencium lembut pipi pria tersebut.


“Nyonya,” tegur seorang perawat, yang membuat Lilia terkejut. Seketika, wanita berambut merah itu menegakkan tubuh. Lilia mengulum senyum. Ada rasa malu yang menyergap perasaannya.


“Kami akan memindahkan suami Anda ke ruang perawatan,” ucap perawat yang memergoki Lilia tadi.

__ADS_1


“Oh, iya. Silakan.” Lilia bergeser menjauh dari ranjang, ketika dua orang perawat mendekat. Mereka mendorong tempat tidur Ludwig, keluar dari ruangan itu menuju kamar perawatan.


Sementara, Lilia mengikuti dari belakang. Dia hanya memperhatikan, saat kedua perawat tadi memindahkan tubuh tegap Ludwig ke ranjang yang sudah tersedia di sana.


“Jika ada sesuatu dengan pasien, silakan tekan tombol ini,” tunjuk salah seorang dari kedua perawat tadi, pada deretan tombol di atas ranjang.


Lilia mengangguk sambil tersenyum lembut. Dia menunggu hingga para perawat keluar dari ruangan itu, sebelum mendekat kepada Ludwig. Wanita dua puluh tiga tahun tersebut, menarik kursi yang ada di dekat meja sebelah ranjang. Lilia duduk sambil terus memandangi pria tampan yang belum juga siuman.


Suara ketukan di pintu telah berhasil mengembalikan kesadaran Lilia. Wanita itu beranjak dari kursi, lalu melangkah ke dekat pintu. Lilia membukanya. Dia mendapati Manfred telah berdiri di luar ruang perawatan.


“Aku bertanya pada perawat di ruangan tadi. Mereka mengatakan bahwa suamimu sudah dipindahkan kemari,” ujar Manfred, sebelum Lilia sempat mengatakan sesuatu padanya.


“Masuklah, Paman.” Lilia mempersilakan Manfred masuk ke ruang perawatan itu. “Heinz belum siuman. Aku meninggalkan pakaian serta perlengkapan kami di pondok.”


Lilia berpikir sejenak. Dia tak ingin merepotkan Manfred. Namun, pria itu memiliki kendaraan sendiri. Tentunya, hal itu bisa mempersingkat waktu dalam perjalanan. “Aku tidak ingin merepotkanmu, Paman,” ucap Lilia ragu.


Manfred tersenyum saat mendengar ucapan putri sahabatnya tersebut. Dia menggeleng pelan. “Kau adalah putri dari Gunther Lienhart. Sahabatku. Kau sudah seperti putriku, Lilia. Berhubung ayahmu telah tiada, maka aku merasa berkewajiban untuk memberikan sedikit perhatian dan kebaikan padamu. Terlebih, dalam kondisi seperti saat ini.” Manfred tersenyum seraya menyentuh pipi mulus Lilia. “Lagi pula, aku menyukai warna rambut barumu,” guraunya diiringi tawa renyah.


Akan tetapi, tawa Manfred seketika berhenti, ketika terdengar dering ponsel dari saku kemejanya. Pria paruh baya tersebut segera memeriksa. Dia tak merasa canggung, menerima panggilan masuk itu meski di depan Lilia.


Namun, Lilia mengerti. Dia berlalu dari hadapan sang dokter hewan tersebut. Wanita itu kembali duduk di dekat ranjang perawatan Ludwig.


“Aku ada di kamar perawatan. Suami keponakanku sudah dipindah dari ruang tindakan,” ucap Manfred pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya di telepon. “Ya. Tempatnya hanya terhalang dua kamar dari ruangan istrimu,” ucap pria itu lagi.

__ADS_1


Sementara, Lilia tersenyum semringah, saat melihat Ludwig mulai membuka mata. Dia kembali mengucap syukur, karena pria asal Jerman itu dapat bertahan. “Apa kau ingin sesuatu?” tanya Lilia seraya mendekatkan telinga ke bibir Ludwig yang masih terlihat lemah.


“Kau,” jawab Ludwig pelan, tepat di dekat telinga Lilia.


Tak terkira betapa bahagianya hati Lilia, mendengar rayuan kecil dari seorang Ludwig. Dia kembali duduk di kursi, tanpa mengalihkan pandangan dari paras tampan dengan beberapa luka lebam yang menghiasinya. “Aku senang karena kau sudah siuman,” ucap Lilia. Dia tak bisa menyingkirkan senyum manis, yang sejak tadi diperlihatkannya kepada Ludwig.


“Aku senang karena bisa melihatmu lagi,” balas Ludwig. Seulas senyuman muncul di bibir berkumis tipisnya. Meski hanya sedikit, tapi terlihat begitu manis di mata Lilia. “Siapa yang membawaku kemari?” tanya Ludwig lagi.


Belum sempat Lilia menjawab, Manfred lebih dulu menghampiri mereka. Pria paruh baya tersebut berdiri di sisi kiri ranjang. “Bagaimana keadaanmu, Heinz?” tanyanya. “Aku senang karena kau bisa melalui masa kritis dengan cepat.”


“Terima kasih, Tuan,” balas Ludwig pelan. Sikapnya kembali datar, saat berbicara dengan Manfred. Sepertinya, Ludwig hanya bersikap manis terhadap Lilia.


“Aku akan membawakan barang-barang kalian dari pondok. Sekalian kubawakan makanan kemari. Aku sedang menunggu teman. Kami akan keluar bersama.” Manfred mengarahkan perhatian kepada Ludwig, lalu beralih ke Lilia.


“Terima kasih, Paman. Kau sangat baik. Aku jadi malu, karena terus merepotkanmu sejak tadi. Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Hanya kau yang terlintas dalam pikirkanku,” ucap Lilia tak enak.


“Astaga. Sudah kukatakan bahwa ini menjadi tanggung jawabku juga. Kau tidak perlu merasa sungkan. Kata-kata tadi berlaku juga untukmu, Heinz.” Manfred tersenyum, saat menoleh kepada Ludwig yang hanya membalas dengan anggukan samar. “Beristirahatlah. Sahabatku akan segera kemari. Akan kuperkenalkan kalian padanya.”


Bertepatan dengan ucapan Manfred barusan, terdengar ketukan di pintu. “Biar aku yang membukanya,” cegah Manfred, saat Lilia sudah akan beranjak dari kursi. Lilia kembali duduk, sementara Manfred berjalan ke dekat pintu.


Tak berselang lama, terdengarlah sapaan akrab penuh kehangatan, antara Manfred dengan sang teman. “Mari masuk. Akan kuperkenalkan kau pada keponakanku dan suaminya,” ajak Manfred. Dia merengkuh pundak pria yang merupakan sahabatnya, ke dekat ranjang.


Seketika, pria tadi tertegun. “Ludwig Stegen?” sebutnya tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2