
Lilia menatap Ludwig beberapa saat. Dia lalu tersenyum lembut. “Kenapa tiba-tiba kau tertarik dengan ayahku?” tanyanya heran.
“Karena aku belum terlalu mengenalnya,” jawab Ludwig lugas, tanpa basa-basi.
Lilia meraih tangan Ludwig. Dia menuntun pria tampan dengan warna rambut ash grey tersebut kembali ke ruang makan. Anehnya, Ludwig bagaikan kerbau yang dicocok hidung. Kelembutan sikap Lilia, membuat karakter keras dan dingin yang selalu menjadi ciri khasnya seakan memudar. Dia bahkan tak menolak, ketika Lilia mendudukkan tubuh tegap pria itu di salah satu kursi kayu meja makan.
Ludwig terus memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan Lilia. Wanita dua puluh tiga tahun itu teramat polos, sehingga dia seakan tak menyadari keanehan yang ada pada diri Gunther
“Aku senang kita bisa sarapan bersama,” ucap Lilia, setelah mengisi piring di hadapan Ludwig, dengan beberapa menu makanan yang sudah tersaji di meja. “Hari ini, aku bangun pagi sekali untuk menyiapkan semua makanan yang ….”
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” sela Ludwig. Dia tak ingin terlalu banyak berbasa-basi.
Lilia tertegun sejenak, lalu menoleh pada sang suami. Senyum indah nan manis terkembang di bibirnya yang ranum. “Apa yang kau pikirkan tentang ayahku?” tanyanya. Lilia duduk di salah satu kursi dekat Ludwig berada. “Dia adalah pria yang sangat baik. Ayah merawatku seorang diri, dari semenjak ibu tiada,” terangnya sambil mengisi piring dengan makanan.
“Kapan ibumu meninggal?” tanya Ludwig penuh selidik. Dia seperti seorang detektif yang tengah menginterogasi narasumbernya.
Lilia tidak segera menjawab. Wanita muda itu berpikir. Bahasa tubuhnya seperti orang yang tengah mengingat-ingat sesuatu. “Aku belum dapat mengingat dengan jelas saat itu. Namun, ayah mengatakan bahwa usiaku baru lima tahun ketika ibu meninggal,” tuturnya.
Ludwig tak mengalihkan perhatian sedikit pun dari Lilia. Rasa penasarannya akan jati diri Ghunter terus menggelitik, membuat dia merasa tertarik untuk mengulik jauh lebih banyak informasi dari sang istri. “Kau tahu kenapa ibumu sampai meninggal?” tanyanya lagi.
Lilia yang sudah mengambil satu suapan, kembali meletakkan sendok ke piring. Lagi-lagi, wanita muda berambut cokelat tembaga itu tampak mengingat-ingat sesuatu yang mungkin sudah dirinya lupakan.
“Aku tidak tahu bagaimana pastinya. Namun, malam itu aku terbangun karena mendengar suara gaduh. Saat aku keluar dari kamar, kulihat banyak orang berpakaian putih. Lalu terdengar suara sirine ambulans. Ayah mengatakan bahwa ibu akan diperiksa di rumah sakit.” Lilia tertunduk sambil memainkan makanan di dalam piring.
__ADS_1
“Beberapa hari berlalu, aku tidak melihat keberadaan ibu di sini. Aku masih ingat, hari itu semua orang terlihat sibuk. Begitu juga dengan ayah. Aku terkejut, karena ibu diturunkan dari dalam mobil. Dia tertidur di dalam peti mati.” Lilia terus menunduk hingga beberapa saat lamanya. Wanita muda itu tak mengatakan apapun lagi. Keheningan menggelayuti sepasang suami istri tersebut.
“Setelah itu, kau hanya tinggal bersama ayahmu?” tanya Ludwig lagi setelah beberapa saat.
Lilia mengangkat wajah, lalu tersenyum. Dia mengangguk pelan. “Ayah merawatku dengan sangat baik,” ucapnya.
Ludwig menatap wanita cantik itu beberapa saat, hingga akhirnya mengalihkan perhatian pada makanan di hadapannya. “Ya sudah. Makanlah.” Ludwig menyendok makanannya dan mulai bersantap pagi.
Setelah perbincangan dengan Lilia di ruang makan tadi, Ludwig bergegas ke peternakan. Dia harus mengantarkan makanan untuk Petra. Namun, tempat itu rupanya dijaga oleh dua anak buah Gunther, yang tadi Ludwig temui di ruang kerja sang ayah mertua.
“Tuan Gunther melarangmu masuk,” cegah salah seorang dari dua pria itu.
“Aku hanya ingin mengantarkan makanan ini,” ucap Ludwig seraya menunjukkan wadah stainless berisi menu sarapan untuk Petra.
Ludwig tak ingin banyak bicara. Namun, dia juga tak langsung beranjak dari depan lumbung itu. Tak tahu mengapa, instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh di peternakan tersebut. Entah rahasia apa yang Gunther sembunyikan dari semua orang.
Ludwig membalikkan badan. Dari jarak beberapa meter, dia melihat Lilia tengah berjalan ke arahnya. Wanita muda itu terlihat sangat cantik dengan rambut yang diikat ala ekor kuda. “Kau mau ke mana?” tanya Ludwig tanpa ekspresi yang berlebihan.
“Temani aku berkeliling. Ini adalah jadwal pemeriksaan berkala untuk sapi-sapi.” Lilia tersenyum manis. Tanpa menunggu jawaban dari Ludwig, dia langsung meraih tangan pria berpostur tinggi tegap tersebut.
Lagi-lagi, Ludwig tak bisa menolak ajakan Lilia. Dia menemani wanita itu berkeliling peternakan. Lilia harus melihat kondisi sapi-sapi yang berada di kandang, lalu menuliskannya dalam buku laporan. Wanita itu tidak terlihat sungkan atau jijik, saat harus memegang hewan penghasil susu tersebut.
Menjelang tengah hari, pekerjaan Lilia telah selesai. Namun, dia tak langsung mengajak Ludwig kembali ke bangunan utama. Lilia justru membawa Ludwig ke bagian lain peternakan. Di sana, ada sebuah pondok kayu cukup besar. Pondok itu berada di area padang rumput, dengan aliran sungai kecil di sebelahnya. Dari pondok kayu tadi, keindahan Pegunungan Alpen terlihat begitu jelas.
__ADS_1
“Sebelum ibu meninggal, ayah selalu mengajakku bermain di sini. Namun, setelah ibu tiada, dia justru melarangku kemari. Ayah bahkan mengunci pintu dan membuat peraturan kepada semua pekerja agar tidak membukanya,” terang Lilia. Dia berdiri di dekat jendela pondok kayu tadi.
“Memangnya kenapa dia membuat peraturan seperti itu?” tanya Ludwig. Rasa penasarannya kembali hadir.
“Entahlah. Kurasa, mungkin karena tempat ini menyimpan banyak kenangan,” jawab Lilia seraya meringis kecil. Dia duduk di undakan menuju teras pondok.
Sementara, Ludwig melihat-lihat sekitar pondok tadi. Bangunan itu hanya memiliki satu pintu masuk, yaitu di bagian depan. Namun, pada bagian samping dinding, Ludwig melihat ada garis memanjang dengan ukuran sebesar pintu. Ludwig bermaksud untuk memeriksa garis berbentuk pintu tadi. Sayang sekali, Lilia lebih dulu memanggilnya.
“Sudah waktunya makan siang. Bagaimana jika kita pulang?” ajak Lilia. Dia sudah berdiri tak jauh dari Ludwig berada. Akan tetapi, perhatian wanita itu teralihkan pada wadah stainles yang tadi Ludwig bawa.
“Ah! Kemarilah. Kita makan di sini saja.” Lilia menghampiri Ludwig yang terlihat masih menyimpan rasa penasaran. Wanita berambut cokelat tembaga itu mengajak Ludwig duduk di dekat undakan teras.
“Apa kau sudah lapar?” tanya Lilia seraya membuka penutup kotak tempat makanan tadi.
“Kau makan saja. Aku masih kenyang,” tolak Ludwig.
“Tidak boleh! Kau harus menemaniku makan, meski dengan menu sama seperti tadi pagi.” Lilia tertawa pelan. Dia menyendok makanan di dalam kotak stainles itu, lalu menyodorkannya ke dekat mulut Ludwig. “Buka mulutmu,” suruhnya.
“Tidak. Aku bukan anak kecil. Aku bisa makan sendiri,” tolak Ludwig lagi. Dia merasa risi, karena tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari wanita manapun.
Namun, di balik sikap lembutnya, Lilia ternyata merupakan seorang pemaksa. Putri tunggal Gunther tersebut, terus mengarahkan sendok tadi ke dekat mulut sang suami. Dia tak menyerah, meski Ludwig tetap menolak.
“Kau keras kepala, Heinz!” Lilia mulai tak suka dengan penolakan yang Ludwig lakukan. Dia meletakkan kotak stainles tadi, lalu meninggalkannya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Melihat hal itu, Ludwig segera menyusulnya. Dia menahan langkah Lilia dengan menarik lengan wanita muda tersebut. Saat Lilia membalikkan badan, Ludwig langsung memberikan satu ciuman untuknya.