
“Tuan? Apakah ini benar-benar anda?” tanya pria bernama Dietmar, yang merupakan salah salah satu anak buah kepercayaan Ludwig dalam masa jayanya dulu. “Syukurlah. Anda baik-baik saja. Aku akan menyuruh Niklas untuk menjemput anda di suatu tempat. Bagaimana?” tawar Dietmar.
“Apakah Niklas masih di Austria?” tanya Ludwig.
“Ya, tuan. Dia masih di sana. Semalam, dia menghubungiku. Niklas mengabarkan tentang kebakaran hebat yang melanda Peternakan Lienhart. Hari ini, dia sedang meninjau ke sana,” terang Dietmar. “Katakan di mana posisi anda, tuan? Aku akan menyuruh Niklas agar ….”
“Aku ada di Munchen. Aku sudah kembali ke Jerman,” sela Ludwig.
Dietmar terdiam beberapa saat. Pria itu mungkin sedang mengatasi rasa terkejut dan tak percaya, atas jawaban yang Ludwig berikan. “Jerman? Sungguh? Anda sudah benar-benar kembali ke negara ini? Tapi … bagaimana bisa?” Dietmar terdengar ragu.
“Datanglah ke Munchen. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Nanti kuhubungi lagi jika kau sudah berada di sini. Jika bisa, suruh Niklas kembali dan ajak serta dia ikut bersamamu untuk menemuiku,” titah Ludwig. Kekuasaan dan wibawanya masih terasa jelas, meski dia belum dapat mengembalikan bisnis yang masih dibekukan oleh pemerintah.
“Baiklah, tuan. Aku akan segera bersiap-siap. Aku akan menghubungi anda setelah tiba di Munchen.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Ludwig menutup sambungan telepon tadi. Dia lalu menyalakan perangkat komputer. Ludwig mulai menelusuri nama Radko Trava. Sepertinya, komputer tadi terhubung ke jaringan milik Oliver. Ketika Ludwig mengetikkan nama itu, di layar langsung muncul serentetan data yang bisa dipelajari.
Ludwig mengarahkan kursor ke bawah sedikit demi sedikit. Dia bahkan membaca dengan saksama semua yang tertera di sana. Namun, data-data yang tercantum tidaklah lengkap. Ludwig masih harus bekerja keras menemukan keberadaan Radko Trava, yang ternyata tidak menetap di satu negara.
Helaan napas berat meluncur dari bibir berkumis tipis pria dengan warna rambut ash grey tersebut. Ludwig mematikan kembali komputer itu. Dia lalu beranjak ke tempat tidur untuk merebahkan tubuh di sana. Pria tampan tersebut merasa begitu lelah. Tanpa sadar, Ludwig tertidur selama beberapa jam.
“Heinz.” Suara lembut yang terbiasa Ludwig dengar dalam beberapa waktu terakhir, begitu jelas menyapa indera pendengarannya. “Bangunlah.”
Perlahan, Ludwig membuka mata saat merasakan sentuhan lembut di wajah dan rambut. Dia mendapati paras cantik Lilia yang berada tepat di sebelahnya. Wanita muda itu tersenyum lembut. “Kau di sini?” tanya Ludwig tak percaya.
__ADS_1
Lilia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil terus menatap penuh cinta kepada Ludwig. Namun, makin diperhatikan ada sesuatu yang terlihat semakin menyeramkan. Dalam bola mata putri semata wayang Gunther tersebut, Ludwig melihat kobaran api yang sangat besar.
“Heinz!” Tiba-tiba, Lilia memekik kencang. Sepasang matanya yang indah terbelalak sempurna. Lilia menjerit kian nyaring, seakan tengah menahan rasa sakit yang teramat parah. Entah dari mana datangnya, tubuh indah putri sang pemilik peternakan tersebut sudah diselubungi api yang sangat besar.
Seketika, Ludwig mengerjapkan mata. Napas pria itu terengah tak beraturan. “Lilia.” Ludwig bangkit dan terduduk sambil menekuk kedua lutut. Dia menyugar kasar rambutnya menggunakan kedua tangan. Mimpi tadi benar-benar menyeramkan.
“Astaga.” Ludwig mengeluh pelan. Dia lalu turun dari tempat tidur. Pria berpostur tinggi tegap itu melangkah ke dalam kamar mandi. Ludwig ingin membersihkan tubuh, agar pikirannya menjadi lebih segar.
Beberapa saat berlalu. Ludwig sudah kembali berpakaian. Dia terpaksa mengenakan kembali bajunya. Namun, kali ini pria itu hanya memakai singlet putih tanpa lapisan kemeja.
Di layar kecil yang terpasang dekat pintu masuk, Ludwig melihat ada seorang wanita berseragam pelayan yang berdiri depan pintu besi. Wanita itu sepertinya membawakan makan malam untuk dirinya. Ludwig segera memberikan akses masuk bagi wanita tersebut.
“Selamat malam, Tuan, Aku membawakan makanan untuk Anda,” ucap pelayan yang sepertinya berusia hampir sama dengan Lilia. Wanita itu juga memiliki rambut cokelat tembaga, sama seperti putri pemilik peternakan yang telah Ludwig tinggalkan.
“Simpan saja di meja,” suruh Ludwig dingin. Dia sempat memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu, yang lebih banyak menunduk. “Ada siapa di lantai atas?” tanya Ludwig.
Akan tetapi, Ludwig paham ke mana arah yang dimaksud si pelayan. Dia sedang tidak memikirkan apapun, selain ingin keluar untuk menemui Dietmar, yang telah mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah tiba di Munchen. “Pergilah. Katakan pada penjaga, bahwa aku akan keluar jam sepuluh malam ini. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan,” pesan Ludwig. “Minta agar Oliver Harald menghubungiku,” imbuh pria itu tanpa mengubah gaya serta intonasi bicaranya.
“Baik, Tuan. Permisi.” Pelayan tadi mengangguk sopan, kemudian berlalu dari hadapan Ludwig.
Setelah menyelesaikan makan malam, Ludwig mendapat telepon masuk yang berasal dari Oliver. “Aku harus keluar untuk menemui salah seorang anak buahku. Data yang kau berikan tidak cukup dijadikan petunjuk. Karena itulah, aku harus bergerak secepatnya,” ucap Ludwig tanpa banyak basa-basi.
“Pergilah. Namun, ingat dengan risiko yang akan kau terima, seandainya dirimu berani berbuat curang,” ancam Oliver.
__ADS_1
Ludwig menyunggingkan senyuman samar yang terkesan sinis. “Astaga. Kau merasa begitu berkuasa atas diriku, Tuan menteri.” Pria tampan itu berdecak pelan. “Tenang saja. Seberapapun jahatnya diriku, aku tak akan menyalahi perjanjian yang telah dibuat. Jika kau tak percaya, tanyakan sendiri pada arwah mendiang ayahmu,” ujar Ludwig setengah meledek.
“Kurang ajar kau, Ludwig Stegen. Jika bukan karena Radko Trava, maka saat ini kau sudah membusuk di balik jeruji besi.”
“Terserah apapun yang ingin kau katakan, Tuan Harald. Aku yakin kau akan diam, setelah kubawakan kepala Radko Trava ke hadapanmu.” Ludwig tersenyum sinis. Lengkungan samar yang langsung menghilang, saat dirinya menerima pesan masuk dari Dietmar. Pria itu mengatakan bahwa dia sudah tiba di lokasi, yang akan menjadi tempat pertemuan mereka.
“Aku harus pergi sekarang. Suruh anak buahmu agar tak mempersulitku. Lagi pula, aku akan membawa telepon genggam ini, sehingga kau bisa melacak keberadaanku.” Tanpa berpamitan terlebih dulu, Ludwig langsung menutup sambungan telepon. Dia menyambar kemeja kotak-kotak yang tergeletak di ujung tempat tidur. Pria tampan bermata cokelat madu itu bergegas keluar kamar.
Ludwig berjalan menyusuri lorong gelap dan anak tangga hingga bisa tiba di lantai atas. Sesuai dengan yang dipesankan, beberapa petugas yang berjaga di sana tidak menghalangi saat akan pergi. Salah seorang pria bahkan meminjamkan topinya kepada Ludwig.
Udara malam penuh kebebasan. Siapa sangka, Ludwig dapat kembali melangkahkan kaki di negaranya, meskipun itu bukan Kota Berlin. Ludwig menyusuri jalanan yang belum terlalu sepi. Akan tetapi, ternyata tidak ada siapa pun yang peduli padanya.
Beberapa saat kemudian, Ludwig telah tiba di tempat yang dimaksud. Mereka bertemu di dekat taman bermain yang cukup gelap dan terlihat lengang.
“Tuan,” sapa Dietmar. Sekian lama dia tidak bertemu dengan sang majikan. Namun, tetap saja dirinya tak berani jika harus memeluk pria itu. Dietmar tahu, bahwa Ludwig pasti akan langsung menghajarnya.
“Bagaimana kakimu?” tanya Ludwig berbasa-basi, meski tetap dengan nada bicara yang terkesan dingin.
“Aku sudah memasang kaki palsu canggih seperti ini.” Dietmar menaikkan bagian bawah celana panjangnya, memperlihatkan kaki palsu bionic yang memang terlihat sangat modern.
“Baguslah. Itu akan memudahkan pergerakanmu,” ujar Ludwig. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Niklas. “Apa kabar, Nik?” sapanya.
“Aku sangat cemas, Tuan. Aku datang langsung dari Austria ke Munchen. Syukurlah, karena Anda selamat.” Niklas terlihat khawatir.
__ADS_1
“Apa ada sesuatu yang penting?” tanya Ludwig.
“Aku memeriksa ke Peternakan Lienhart. Seluruh bangunan telah rata dengan tanah,” jelas Niklas.