Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Serangan Dua Arah


__ADS_3

“Ya, Tuhan. Apa itu kerangka manusia asli atau ….” Lilia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. “Cepat tutup kembali lemarinya, Heinz!” Lilia menarik kencang lengan sang suami keluar dari kamar itu. Dia juga mengajak pria tersebut agar segera meninggalkan pondok.


“Kau kenapa? Aku ingin tahu itu kerangka milik siapa.” Ludwig menepiskan tangan Lilia. Dia menggerutu pelan, karena harus mengurungkan niatnya untuk mencari informasi yang mungkin saja bisa dirinya dapatkan.


“Aku takut, Heinz. Sepertinya, itu adalah kerangka manusia asli.” Lilia tampak resah. Paras cantik wanita itu sangat tegang, mengetahui bahwa sang ayah menyembunyikan kerangka manusia di dalam pondok kayu tadi.


Lilia tiba-tiba diam. Dia seperti orang yang kebingungan. Perlahan, tubuh rampingnya merosot, lalu ambruk terduduk di lantai. “Apa yang sudah ayahku lakukan, Heinz? Apakah itu yang membuatnya melarang semua orang mendekati pondok? Dia … dia menyimpan mayat seseorang di sana. Berapa lama jasad orang yang sudah meninggal, sampai hanya tersisa tulang-belulang seperti tadi?” Lilia mulai meracau. Dia berkali-kali menggelengkan kepala karena tak percaya.


“Pastinya bertahun-tahun,” jawab Ludwig. Dia memicingkan mata, seakan tengah memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, pria itu terbelalak. Ludwig bergerak cepat menarik tubuh Lilia yang masih terduduk di lantai. Pria itu setengah menyeretnya ke tempat yang lebih tersembunyi dan gelap. Ludwig langsung membekap mulut Lilia, ketika wanita cantik tersebut hendak melayangkan protes terhadapnya.


Lilia terbelalak. Sambil memegangi tangan Ludwig yang masih berada di mulutnya, wanita muda itu melihat ada pergerakan mendekat. Bayangan seseorang yang makin lama semakin jelas, menampakkan sosok seorang pria. Dari perawakannya, Lilia yakin bahwa itu merupakan sang ayah.


Lilia memejamkan mata, ketika sosok tadi memasuki kamar. Terlebih, saat si pemilik bayangan berteriak nyaring. “Siapa yang telah berani masuk kemari?” sentaknya. Dari suara yang terdengar, jelas sudah bahwa orang itu memang Gunther adanya.


Pelan-pelan, Ludwig menyingkirkan tangannya dari mulut Lilia. Dia bergerak perlahan sambil menempelkan telunjuk di bibir, sebagai isyarat agar sang istri tidak bergerak atau bersuara. Ludwig memberi kode, supaya Lilia tetap berada di tempatnya.


Ludwig maju dari celah dinding yang menjadi tempat persembunyiannya bersama Lilia. Sementara wanita muda itu tetap bergeming. Beruntung, sebuah pilar berukuran cukup besar, dapat menghalangi tubuh ramping Lilia, sehingga sosoknya tak terlihat dari arah pintu masuk.


“Aku yang membobol pondokmu, Tuan Gunther,” sahut Ludwig dengan sikap waspada.


“Kau!" sentak Gunther sambil menunjuk tak suka kepada Ludwig.


Dalam keremangan, Ludwig melihat perubahan air muka Gunther. Pria paruh baya tersebut tampak gelisah, marah, bercampur rasa takut yang disembunyikan.


“Kerangka milik siapa itu, Tuan?” desis Ludwig, yang membuat Gunther semakin bersikap aneh.

__ADS_1


“Kau memang kurang ajar! Tak tahu sopan santun!” Tangan Gunther yang sedari tadi sudah terkepal, segera dia layangkan sekuat tenaga ke wajah sang menantu.


Namun, tentu saja Gunther bukanlah lawan seimbang bagi Ludwig. Dengan mudah, pria rupawan itu menghindar sekaligus menahan serangan yang dilancarkan ayah mertuanya. Dia mencengkram erat tangan Gunther hingga tak bisa bergerak.


“Aku hanya bertanya, Tuan. Jika kau tak merasa bersalah atau menyembunyikan sesuatu, seharusnya kau tinggal menjawab pertanyaanku tadi dengan mudah." Ludwig menyeringai kecil. Dia merasa puas, saat melihat Gunther yang tampak merasa terpojok.


“Kau!” Kalimat Gunther terjeda, ketika dirinya mendengar suara berisik di luar pondok.


“Ludwig Stegen! Keluarlah! Tempat ini sudah dikepung oleh pasukan khusus! Mari kita buat segalanya menjadi mudah! Menyerahlah sekarang juga!” seru seseorang yang tak lain adalah Oliver Harald. Dia berbicara dengan horn speaker (alat pengeras suara berbentuk corong).


“Ah, sialan! Dasar menantu tak berguna! Kau sudah membawa tentara kemari!” sentak Gunther yang tak dapat menahan emosi.


Begitu pula dengan Lilia yang bersembunyi di balik pilar. Dia terkejut sekaligus penasaran. Siapakah pemilik nama Ludwig Stegen, yang tadi disebut oleh seseorang dengan pengeras suara di luar sana. Lilia memberanikan diri keluar dari persembunyian. Dia melangkah ke dekat sang suami. “Siapa yang mereka cari, Heinz? Siapa Ludwig Stegen?” tanyanya.


“Lilia! Kenapa kau juga berada di sini! Sejak kapan kau berani membantah ucapanku?" Gunther semakin tak dapat mengendalikan diri.


“Akan kuhitung mundur dari angka lima, Tuan Stegen! Lima ….”


Oliver belum sempat melanjutkan hitungannya, tetapi Gunther sudah lebih dulu berlari keluar. Dari tempatnya berdiri, dia dapat melihat pagar pembatas area peternakan yang tidak jauh dari pondok. Di sekeliling pagar itu, berjajar pria-pria tegap berseragam taktis khas pasukan militer dan bersenjata lengkap.


“Apakah kau Gunther Lienhart?” Oliver mengalihkan pandangannya kepada ayahanda Lilia tersebut.


Gunther tak segera menjawab. Dia masih kebingungan dengan keadaan di sekitarnya. Terlebih, karena sorotan cahaya begitu terang yang berasal dari atas dan langsung tertuju padanya. Pria paruh baya itu memicingkan mata seraya mendongak. Tampaklah sebuah helikopter, terbang tepat di atas langit peternakannya.


“Kami telah mengawasi peternakan ini selama beberapa hari. Anak buahku sudah dapat menghafal di luar kepala seluk-beluk peternakan milikmu. Termasuk tempat-tempat rahasia juga,” ucap Oliver. Dia tetap berbicara menggunakan horn speaker.

__ADS_1


“Jangan pernah berpikiran macam-macam. Asal kau tahu, timku sudah dilengkapi dengan teropong pendeteksi panas. Sekalipun di sekitar begitu gelap, mereka dapat dengan mudah melihat pergerakan dua orang dari dalam pondok kayu itu. Bisa kutebak, Ludwig dan putrimu berada di dalam sana,” ucap Oliver lagi jumawa.


“Ah! Hari apa ini? Kenapa semuanya mendadak kacau!” Gunther mengacak-acak rambutnya yang mulai bercampur uban.


“Kujamin tidak akan ada kekacauan, selama kau bisa membujuk Tuan Stegen agar keluar dari persembunyiannya. Tanyakan juga padanya, di mana dia menyembunyikan putriku?”


Suara Oliver yang nyaring, dapat terdengar jelas dari dalam pondok dan sampai pula ke indera pendengaran Lilia. Wanita muda itu menoleh pada Ludwig dengan sorot kecewa. “Apakah dia sedang membicarakan tentang dirimu? Jadi, namamu bukanlah Heinz Lainer? Lalu, siapa putri yang dimaksud?” tanya Lilia tanpa jeda.


“Aku tak mempunyai banyak waktu untuk menjelaskan semuanya padamu. Kau ….” Ludwig tak melanjutkan kata-katanya, ketika terdengar ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Spontan Ludwig segera memeluk Lilia untuk melindunginya.


Sesaat kemudian, suasana berubah menjadi gelap gulita. Merasa bahwa Lilia sudah aman, Ludwig mengurai pelukannya. Dia berjalan mengendap keluar dari kamar rahasia, menuju jendela pondok yang terletak di samping pintu keluar. Tanpa dia sadari, Lilia mengikuti langkahnya dan berdiri di samping Ludwig.


“Astaga, mereka meledakkan tempat penyimpanan alat-alat berat,” ucap Lilia tak percaya, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Petra!” Tanpa sadar, Ludwig menyebut nama itu. Nama wanita yang dapat menjadi kunci kebebasannya dari status buron yang selama ini dia sandang. “Tetaplah bersembunyi di sini sampai keadaan aman, Lilia!” titahnya seraya berlari keluar pondok. Ludwig meninggalkan Lilia di dalam sana. Fokus utamanya adalah lumbung yang berada tepat di sisi gudang peralatan berat.


Tampak pula anak buah Oliver yang mengubah sasarannya ke arah beberapa sosok pria bertopeng yang berbaris rapi. Pria-pria bertopeng itu seolah membuat barikade di depan lumbung. Mereka memakai rompi anti peluru, dan bersenjatakan senapan laras panjang. Sebagian dari mereka juga membawa beberapa butir granat.


Ludwig sempat mengamati sekitar sebelum melakuan sesuatu. Dilihatnya Gunther yang mengangkat tangan, di sebelah mobil berjenis humvee dengan kap terbuka yang Oliver tumpangi. Di sisi pintu lumbung yang sedikit terbuka, Ludwig juga melihat anak buah Gunther sudah tergeletak bersimbah darah.


“Majulah, Oliver Harald. Kemarilah atau kau tak dapat melihat lagi wajah putrimu yang cantik itu!” ancam salah seorang dari pria bertopeng.


Ludwig terkesiap. Dia tak berpikir hal yang lain lagi, ketika pria bertopeng dan pasukan Oliver saling baku tembak. Di antara desingan peluru, Ludwig menerjang masuk ke lumbung. Dia berlari ke arah Petra yang duduk memeluk lutut, di sudut ruangan penuh jerami dengan raut ketakutan.


“Ayo. Ikut aku!” Ludwig menarik tangan Petra. Dia mengajaknya berlari menuju pintu samping lumbung yang langsung mengarah ke pagar kayu pembatas peternakan. Ludwig membantu Petra melompati pagar kayu tersebut. Tepat pada saat gilirannya melompat, Ludwig mendengar suara lembut Lilia memanggil namanya. Ludwig menoleh. Dia mendapati sang istri sudah berdiri tepat di belakangnya.

__ADS_1


Tanpa Ludwig sadari, wanita muda itu ternyata terus mengikuti pergerakannya. Lilia bersembunyi di belakang lumbung, ketika Ludwig merangsek masuk ke dalam.


“Apakah kau akan meninggalkanku, Heinz?” tanya Lilia. Sorot matanya terlihat menyedihkan.


__ADS_2