
“Cuih! Aku tak akan pernah bersedia melakukan itu. Mana mungkin diriku bekerja sama dengan buronan berbahaya dan paling dicari agen federal Jerman seperti dirimu,” tolak Oliver mentah-mentah.
Ludwig tersenyum simpul, seraya menoleh kepada Petra yang tengah asyik menyantap roti dari hasil mengemis. Dia tahu bahwa akan sia-sia membujuk Oliver. Ludwig menggumam pelan. “Baiklah. Kalau begitu, bicara sendiri dengan putrimu.” Tanpa aba-aba, pria tampan dengan warna rambut ash grey tersebut memberikan gagang telepon kepada Petra, sehingga dia jadi gelagapan saat menelan makanan dalam mulut.
Petra terbelalak. Dia menelan makanan dengan terburu-buru. Dirinya juga tak membawa minuman. “A-ayah ….” Gadis itu hampir tersedak, karena makanan yang tersangkut di tenggorokan. Petra sempat mengusap-usap lehernya, baru kembali bicara. “A-ayah. Ma-maafkan aku.”
“Bagaimana keadaanmu saat ini?” tanya Oliver. Sebenarnya, dia sangat mencemaskan gadis itu.
Tiba-tiba, Petra menangis tersedu-sedu. Gadis itu kembali memperlihatkan kebolehannya dalam berakting. “Maafkan aku, Ayah,” ucap Petra di sela isakannya. “Aku terpaksa menukar arloji mahal hadiah ulang tahun darimu dengan sepotong roti. Aku sangat lapar. Kau tahu bahwa diriku tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Astaga. Hidupku terlunta-lunta.” Petra terus menangis.
“Namun, aku bisa memahami jika karier politik serta jabatanmu jauh lebih penting. Aku tak akan berharap apa-apa lagi. Mungkin, ini terakhir kalinya kau mendengar suaraku. Tolong sampaikan maaf serta kata-kata sayang dariku untuk ibu.” Petra menangis sesenggukan, seakan dia benar-benar tersakiti. Padahal, saat itu gadis cantik tersebut tengah menyantap sisa roti yang belum habis.
Ludwig hanya dapat mengembuskan napas berat, saat menyaksikan apa yang Petra lakukan. Gadis itu benar-benar licik.
“Kau telah membuatku bermasalah dengan ibumu,” keluh Oliver kesal. “Berikan teleponnya pada Ludwig,” suruh pria itu.
Petra segera mengembalikan gagang telepon kepada Ludwig. Sementara, dia kembali memakan sisa rotinya.
“Bagaimana, Tuan Harald?” Ludwig menyeringai kecil. Rasa percaya dirinya kembali tumbuh, saat Oliver tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Jika dilihat dari persenjataan dan anggota yang dimiliki, sepertinya mereka merupakan organisasi yang berbahaya. Hanya kelompok-kelompok tertentu dengan kekuatan besar yang berani mengancam seorang menteri pertahanan. Aku jadi curiga, jangan-jangan kelompok itu sebenarnya sudah saling mengenal dengan anda?” tukas Ludwig kembali menyeringai kecil. Sedangkan, Petra seakan tak peduli dengan perbincangan mereka.
“Jangan sok tahu kau!” sentak Oliver tak terima.
“Kalau begitu, kenapa mereka mengincar putrimu? Ada masalah apa sebenarnya antara kau dan kelompok berbahaya itu?” cecar Ludwig tanpa menghiraukan sikap Oliver. “Aku menunggu penjelasanmu, Tuan Harald. Koinnya hampir habis. Aku tak memiliki sisa uang lagi,” ujarnya ketika Oliver tak kunjung menjawab.
__ADS_1
“Baiklah! Sekitar dua ratus meter ke utara, kau akan menemukan lapangan berumput yang berbatasan dengan pemukiman kosong di pinggiran desa. Tunggulah di sana bersama Petra. Anak buahku akan menjemput kalian,” ucap Oliver setelah beberapa saat terdiam.
“Terima kasih, tuan,” balas Ludwig seraya tersenyum puas. Dia tak pernah merasa sebahagia itu. Setelah penantian panjang, akhirnya Ludwig dapat kembali ke Jerman.
“Apa kata ayahku?” tanya Petra penasaran. Dia sudah menghabiskan semua sisa roti dalam kantong kertas tadi.
“Nanti saja kuceritakan padamu. Ayo.” Ludwig langsung menarik tangan Petra. Dia membawa gadis itu pergi, menuju titik lokasi yang sudah disebutkan Oliver. Sesampainya di sana, sebuah helikopter pengintai berukuran kecil telah menunggu mereka.
“Silakan naik dan pasanglah peralatan aviasi kalian,” ujar seorang pilot memberikan arahan, ketika Ludwig dan Petra sudah berdiri di sisi helikopter. Tanpa membuang waktu, mereka berdua langsung naik. Helikopter itu terbang setelah sang pilot memastikan bahwa Ludwig dan Petra sudah dalam posisi aman sesuai prosedur penerbangan.
Lima belas menit kemudian, helikopter itu mendarat di atap sebuah bangunan setinggi lima lantai, yang berada di pinggiran Kota Munchen, Jerman. Seorang pria berseragam taktis, menyambut dan membantu Petra turun dari helikopter. Dia juga mengarahkan Ludwig untuk menuruni tangga menuju ruang kerja yang cukup luas.
Di ruangan itu, Oliver bersama beberapa orang lainnya sudah menunggu dengan raut tegang. Ayahanda Petra tersebut bangkit dari tempat duduknya, ketika orang yang ditunggu telah tiba di sana.
“Hans! Periksa dulu kondisi putriku berikut janinnya. Barulah kita beralih pada buronan itu,” titah Oliver, kepada seorang pria berkemeja putih yang berdiri tak jauh dari meja kerja. Pria bernama Hans tadi segera mengangguk penuh hormat, kemudian mendekati Petra.
“Aku berani memastikan bahwa putri Anda tidak sedang hamil, Tuan,” lapor Hans hati-hati, yang seketika membuat wajah cantik Petra menjadi pucat pasi.
“Tidak hamil?” ulang Oliver. “Bukankah Petra ….” Pria paruh baya itu menautkan alis, seraya mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang putri. “Lelucon macam apa lagi ini?” sentaknya.
“Ah, itu ….” Petra tidak dapat menyembunyikan rasa gugup. Berkali-kali, gadis cantik tersebut menggaruk kepala yang tak gatal. “Aku sengaja berbohong agar kau bersedia merestui kami,” dalih Petra pada akhirnya.
“Seperti yang kau tahu, Ayah. Aku sangat mencintai Ludwig. Begitu pula dengan dia. Aku bahkan tak peduli walau dia buronan sekalipun. Kami saling membutuhkan satu sama lain,” lanjut Petra penuh percaya diri.
“Astaga.” Ludwig berdecak pelan seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Lain halnya dengan Oliver. Dengan wajah merah padam dan tangan terkepal, dia menghampiri Petra. “Apa yang kau pikirkan? Dasar anak bodoh!” sentaknya. “Sudah berapa lama kau berkenalan dengan orang ini? Apa kau tak tahu jika dia adalah orang yang paling dicari oleh agen federal?”
“Pekerjaanku hanyalah berlibur dan berpesta. Mana aku tahu jika Ludwig adalah buronan? Lagi pula, siapa yang mengira bahwa pria setampan ini merupakan seorang penjahat?” Ekor mata Petra mengarah pada Ludwig. Dia memperlihatkan bahasa tubuh yang teramat nakal.
“Kau memang penjahat, Ludwig Stegen. Teman-temanku pasti akan iri, jika kuperkenalkan dirimu kepada mereka,” ujarnya tanpa berpikir, bahwa dirinya sedang berada di hadapan Oliver dan beberapa tentara rahasia kepercayaan sang ayah.
“Jaga sikapmu, Petra!” sentak Oliver lagi. Dia sudah tak kuasa menahan amarahnya.
“Ah, hampir lupa,” ujar Petra tiba-tiba. “Adeline masih berada dalam sekapan para penjahat itu. Bisakah kau memerintahkan pria-pria ini untuk menyelamatkannya, Ayah? Dia adalah teman baikku.” Setelah berhari-hari, Petra baru teringat kembali pada sahabatnya, yang menemani dia pergi berlibur ke Austria.
Oliver mendengkus kesal. “Kau benar-benar menyusahkan. Kuharap, kau bisa menutup mulut tentang apa yang menimpa kalian di Austria.” Nada bicara Oliver penuh penekanan.
“Bisakah kita kembali pada topik utama, Tuan Harald?” sela Ludwig yang mulai tak sabar, dengan drama yang diciptakan oleh Petra.
Oliver memejamkan mata demi meredam emosi yang hampir mencapai ubun-ubun. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Setelah itu, pria paruh baya tersebut kembali membuka mata lalu menoleh kepada Ludwig. Sorot tajam terarah langsung pada pria berambut ash grey tadi. “Katakan penawaranmu!” ucap Oliver.
“Aku bisa memberantas organisasi yang telah mengganggu hari-hari Anda yang damai. Sebagai imbalannya, coret namaku dari daftar penjahat federal. Selain itu, kembalikan juga perusahaan yang bersifat legal padaku."
Oliver berpikir sejenak sebelum menanggapi. Terlintas ide di benaknya. “Apa kau yakin?” tanya pria itu.
“Apapun akan kulakukan demi membersihkan namaku,” tegas Ludwig.
“Bagaimana jika kau gagal dalam misimu?” cibir Oliver. “Kuberitahukan satu hal. Organisasi yang akan kau hadapi ini bukanlah kelompok mafia biasa. Kekuatan mereka berada di atasmu.”
“Sekuat apa mereka?” desis Ludwig seraya memicingkan mata.
__ADS_1
Oliver tersenyum samar. Dia memperhatikan ekspresi Ludwig terlebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan pria tampan tersebut.