Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Tak Kasat Mata


__ADS_3

“Tidak,” jawab Ludwig dingin, seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tak ingin berlama-lama, melihat paras cantik Valeska yang menawan dan seksi.


Valeska merapikan mini dress yang dikenakannya. Dia duduk sambil menyilangkan kaki, sehingga paha dan betis mulusnya terlihat jelas.


“Bagaimana kabarmu, Val?” tanya Jedrick seraya duduk di sebelah wanita cantik itu.


“Seperti yang kau lihat. Aku tetap seperti ini. Membosankan,” keluh Valeska. Sesekali, ekor matanya melirik kepada Ludwig yang tengah menyulut rokok. “Kau ke mana saja selama ini?” tanya Valeska.


“Tidak ke mana-mana. Aku hanya menyembunyikan diri dari tempat hiburan seperti ini,” jawab Jedrick. “Oh, iya. Dia bosku. Tuan Heinz Lainer.” Jedrick mengarahkan tangannya kepada Ludwig yang bersikap biasa saja, meski Valeska menatapnya penuh kekaguman.


“Apa kabar, Tuan Lainer. Kuharap, kita bisa bersenang-senang malam ini,” ujar Valeska sedikit merayu.


Ludwig mengisap rokoknya, lalu mengepulkan asap tipis ke udara. Setelah itu, dia menoleh kepada Valeska. “Sayangnya, aku kemari bukan untuk bersenang-senang,” ucap Ludwig, masih dengan sikap dan nada bicara yang terdengar begitu dingin.


Valeska tertawa renyah. Dia menggeser duduknya, sehingga lebih dekat kepada Ludwig. Wanita cantik bertubuh sintal tersebut menoleh kepada Jedrick, seakan ingin meminta penjelasan. “Kau tahu apa yang dia maksud?” tanya wanita itu. Ekor matanya kembali terarah kepada Ludwig.


Jedrick, langsung mengeluarkan secarik kertas dari saku jaket hoodie yang dikenakannya. Dia membuka lipatan kertas tadi, lalu menunjukkan kepada Valeska. Tanpa mengatakan apapun, Jedrick tahu bahwa wanita cantik tadi sudah memahami apa maksudnya.


Valeska mengambil kertas bergambar sketsa wajah yang Jedrick tunjukkan. Si pemilik rambut pirang tersebut, mengamatinya dengan cermat dan saksama untuk beberapa saat. Setelah hampir sepuluh menit berlalu, dia mengembalikan kertas itu kepada Jedrick. “Maaf, aku tidak tahu,” ucapnya tak acuh. “Boleh kuminta rokokmu, Tuan Lainer?” Valeska malah beralih kepada Ludwig, yang sejak tadi asyik merokok tanpa mengatakan apapun.


“Ambil saja,” jawab Ludwig, tetap dengan sikap dan nada bicara yang tidak berubah sejak tadi. Namun, Ludwig sempat membantu menyalakan korek api, untuk menyulut rokok yang sudah berada di mulut Valeska.


“Kau yakin tidak tahu, Val?” tanya Jedrick memastikan.

__ADS_1


Valeska tertawa renyah sambil mengepulkan asap tipis dari mulutnya. “Astaga, Jedi. Kau pikir aku mengingat wajah setiap pria yang menggunakan jasaku? Tentu tidak, Sayang. Aku hanya mengingat beberapa yang yang ….” Valeska mengisap dalam-dalam rokoknya, lalu kembali mengepulkan asap tipis. Ekor mata wanita cantik bertubuh seksi tersebut, kembali tertuju kepada Ludwig yang tak peduli terhadapnya.


“Biasanya, kau tidak seperti ini,” ujar Jedrick heran. Kata-kata pria dua puluh lima tahun itu terdengar ragu.


“Terserah kau,” balas Valeska. "Aku memang tidak tahu."


Sesaat kemudian, Ludwig beranjak dari duduknya. Dia menyentuh pangkal hidung sambil berlalu ke dekat pintu.


“Mau ke mana, Tuan?” tanya Jedrick.


“Aku ingin ke toilet,” jawab Ludwig seraya membuka pintu. Dia langsung keluar dari ruangan itu. Ludwig berjalan menyusuri koridor temaram.


Di dalam toilet, tak ada siapa pun selain dirinya. Pria tampan itu mengapit rokok dengan bibir, saat dirinya berdiri di depan urinoir (tempat buang air kecil berdiri untuk pria). Ludwig menurunkan resleting celana jeans, lalu berdiri beberapa saat hingga aktivitasnya selesai.


Penolakan Ludwig berbalas tawa renyah seorang wanita, yang tak lain adalah Valeska. “Aku sudah mengunci pintu toilet ini,” bisiknya seraya membalikkan tubuh tegap Ludwig. Dia menatap nakal kepada pria tampan di hadapannya. Tangan wanita itu juga terus bergerak, di tempat yang membuat Ludwig berkali-kali menelan ludah dalam-dalam. “Kau tidak merindukanku sama sekali?” tanya Valeska. “Aku bisa memberitahumu sesuatu,” bisiknya lagi.


Valeska menurunkan tubuh di hadapan Ludwig. Dia membuat pria itu mengembuskan napas berat berkali-kali. Tak jarang, Ludwig memejamkan mata demi meresapi perlakuan luar biasa, yang wanita cantik berambut pirang itu berikan. Deru napasnya pun mulai tak beraturan.


Beberapa saat kemudian. Ludwig sudah merapikan kembali celana jeansnya. Pria itu menatap Valeska yang tengah merapikan rambut, serta bagian atas mini dress yang dia kenakan. Ludwig lalu berjalan mendekat. “Jangan bertele-tele,” ucapnya penuh penekanan.


Valeska langsung menoleh. Wanita itu tersenyum nakal. “Kau tidak banyak berubah, Ludwig Stegen. Aku sangat menyukainya,” ujar Valeska dengan tatapan menggoda. “Jadi, di mana wanitamu sekarang?”


“Wanita yang mana?”

__ADS_1


“Wanita yang membuatmu membuangku dengan begitu mudah!” jawab Valeska tak suka. “Nyonya Delma mengatakan bahwa kau tergila-gila padanya. Gadis itu. Siapa namanya? Altea Miller?”


“Jangan sebut nama wanita itu di hadapanku! Gara-gara dia, aku harus berurusan dengan hukum dan menjadi buronan hingga bertahun-tahun!” Ludwig mendengkus kesal.


Sementara, Valeska yang ternyata bernama asli Belinda, hanya tersenyum mencibir. Dia semakin mendekat kepada Ludwig. “Apa hubunganmu dengan Ulger?” tanyanya.


“Ulger?” ulang Ludwig.


“Ya, Ulger. Pria yang ada dalam sketsa tadi. Dia adalah Ulger. Setahuku, dulu dia bernaung di organisasi bernama Schaefer. Namun, organisasi itu sudah beralih kepemimpinan sejak tujuh tahun yang lalu,” jelas Valeska.


“Dari mana kau mengetahui semua itu?” Ludwig memicingkan mata.


“Astaga, Ludwig.” Valeska menggeleng seraya berdecak pelan. “Schaefer telah berdiri lama. Mereka berpusat di Polandia. Namun, setahuku Ulger kerap melakukan transaksi narkoba di Jerman."


"Schaefer memiliki pemimpin secara turun-temurun. Sesuai yang kudengar, organisasi itu mulai kacau ketika ada salah seorang anggotanya yang berkhianat. Orang itu membawa lari uang puluhan jutaan euro hasil penjualan narkoba. Schaefer merugi dan mulai oleng. Hal tersebut berdampak buruk hingga saat ini,” papar Valeska. “Aku mengetahui ceritanya dari seseorang yang bisa dipertanggungjawabkan,” imbuh wanita itu lagi.


“Lucu sekali. Kejadian puluhan tahun lalu, berdampak sangat buruk. Bayangkan saja, Ludwig. Seandainya uang puluhan jutaan itu bisa kembali ke tangan Schaefer, kurasa organisasi tersebut tak akan berpindah kepemilikan ke tangan Radko Trava.” Valeska tertawa pelan.


“Radko Trava?” gumam Ludwig. “Kau mengetahui di mana pria itu?” tanyanya.


Valeska menatap lekat Ludwig yang memasang raut berbeda, saat mendengar nama Radko Trava disebut. Wanita cantik bertubuh sintal itu sepertinya dapat menangkap sesuatu yang lain. “Apa kau juga memiliki urusan pribadi dengannya?” tanya Valeska penuh selidik.


“Tidak secara langsung. Aku hanya harus menemukan keberadaannya,” jawab Ludwig.

__ADS_1


Valeska tertawa renyah. “Sulit. Radko Trava adalah makhluk tak kasat mata.”


__ADS_2