Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Seorang Penipu


__ADS_3

Ludwig menoleh sesaat kepada Jedrick yang seakan sudah paham dengan makna tatapan sang tuan. Tak peduli meski dirinya masih lelah karena baru tiba di sana, Ludwig bergegas meninggalkan markas lama. Dia harus secepatnya tiba di rumah.


Sambil berlari kencang, Ludwig tak menghiraukan apapun lagi. Dia terus berlari, hingga dirinya tertegun di salah satu ruas jalan. Pria itu menoleh, memastikan bahwa tak ada siapa pun yang mengikuti. Pria tampan tersebut menggeleng pelan. Dia tak ingin banyak berpikir. Ludwig melanjutkan perjalanan, hingga tiba di rumah yang ditempatinya.


Ludwig langsung membuka kunci. Namun, betapa terkejut dirinya, karena ternyata pintu rumah tersebut sudah dalam kondisi tidak terkunci. Ludwig bergegas masuk. Dia berlari ke kamar untuk memeriksa keberadaan Lilia. Akan tetapi, wanita cantik itu ternyata tidak ada di dalam kamar.


“Lilia!” panggil Ludwig nyaring sambil berlari keluar kamar. “Lilia!” Dia kembali berseru, sambil memeriksa beberapa ruangan di sana. Akan tetapi, Lilia tak ada di manapun.


“Astaga!” Ludwig menyugar kasar rambut cokelat tembaganya. Baru saja dia akan beranjak ke dekat pintu utama, dari pintu samping terdengar suara lembut Lilia menyapa dirinya.


“Tuan Stegen?” Lilia berdiri di dekat pintu, sambil memandang ke arah Ludwig. “Apa kau akan pergi lagi?” tanyanya.


Ludwig seketika menoleh. Dia langsung berlari menghampiri Lilia, lalu memeluk erat wanita itu. “Syukurlah. Kupikir kau ….”


“Ada yang menunggumu sejak tadi,” potong Lilia. Dia merenggangkan pelukan Ludwig darinya. Wanita cantik berambut merah tersebut menunjuk ke beranda samping rumah, di mana duduk seorang pria yang tak lain adalah Oliver Harald. Pria itu tengah asyik merokok di sana.


“Masuklah ke kamar,” bisik Ludwig, sebelum dirinya berjalan ke beranda samping untuk menjumpai sang menteri. Ludwig melangkah hati-hati, saat mendekat kepada ayahanda Petra tersebut. “Tuan Harald,” sapanya datar.


Oliver mengepulkan asap tipis ke udara. Dia menoleh, tapi tak mengatakan apapun kepada Ludwig. Menteri pertahanan Jerman tersebut kembali mengarahkan pandangan ke depan, pada beberapa pohon yang tumbuh di sana. Oliver duduk penuh wibawa sambil terus merokok.


“Wanita itu ada di sini,” ucapnya, setelah Ludwig duduk tidak jauh dari tempat dia berada. “Putri Gunther Lienhart yang sangat cantik.” Oliver tersenyum sinis.


“Itu bukan urusanmu,” balas Ludwig. “Kau urusi saja pria dalam sketsa yang sudah berhasil kuamankan. Dia akan membawamu kepada Radko Trava.” Ludwig menatap dengan sorot aneh kepada Oliver.

__ADS_1


Oliver mematikan sisa rokoknya di dalam asbak. Dia membalas tatapan Ludwig dengan sorot tak kalah aneh. Pria paruh baya tersebut kembali menyunggingkan senyuman sinis. “Kau tahu bahwa aku ingin kepala Radko Trava.”


“Kau bisa memenggalnya sendiri jika sudah menemukan pria itu,” balas Ludwig. “Jangan katakan bahwa keberanianmu tak lebih lebar dari langkah seorang bayi,” ledek Ludwig diiringi senyum sinis.


Oliver tidak menanggapi. “Kau tidak melakukan sesuai perjanjian yang kita buat. Sudah kuduga bahwa dirimu tak akan sanggup menghadapi Radko Trava.” Oliver balas meledek Ludwig.


“Aku belum menemukan pria itu hingga saat ini. Jika kami sudah bertemu, aku tak akan melepaskannya dengan mudah,” ujar Ludwig yakin.


“Begitukah?” Oliver menaikkan sebelah alisnya, menandakan bahwa dia meragukan ucapan Ludwig. “Kita batalkan saja perjanjian ini, karena aku tak yakin dengan kemampuanmu. Kau tak memiliki anak buah atau kekuasaan yang dapat mendukungmu dalam menghadapi Radko Trava. Seharusnya, aku tak pernah membuat kekonyolan seperti ini.”


“Masa bodoh! Aku tidak peduli apapun ucapanmu. Aku ingin menukar Ulger dengan perjalanan ke Austria. Kau harus memfasilitasi perjalananku dan Lilia ke sana,” desak Ludwig penuh penekanan.


Oliver bangkit dari duduknya. Dia berdiri di ujung teras, dengan tatapan tertuju ke langit Kota Warsawa yang cerah. “Untuk apa kau ke sana? Pekerjaanmu ada di sini.” Oliver menoleh sesaat, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan.


“Kukatakan sekali lagi, Tuan Oliver Harald. Aku ingin agar kau memfasilitasi perjalananku menuju Austria. Bagaimanapun caranya, aku tidak mau tahu. Jika tidak, maka akan kulepaskan lagi pria bernama Ulger itu. Masa bodoh dengan status buronku!” Ludwig membalikkan badan. Dia bermaksud meninggalkan Oliver sendiri di beranda tadi.


Oliver berpikir sejenak. Dia harus mempertimbangkan banyak hal, sebelum memutuskan mengakhiri perjanjian dengan Ludwig. Bagaimanapun juga, Oliver membutuhkan tenaga serta kemampuan pria tampan asal Jerman tersebut. “Tunggu!” cegahnya. Dia menoleh kepada Ludwig yang tertegun dan dalam posisi membelakangi.


“Kau boleh pergi ke Austria, dengan catatan tetap menjalankan perjanjian untuk menghabisi Radko Trava. Hidupku tak akan tenang jika orang itu masih berkeliaran.”


Ludwig tersenyum sinis. Dia lalu menoleh. “Ingat satu hal, Tuan Harald. Aku bukan pesuruh. Jadi, jangan pernah memerintahku dengan seenaknya, karena aku tidak bekerja untuk siapa pun,” tegas Ludwig. “Jika kau masih membutuhkan bantuanku, maka akan kuhargai itu.”


Oliver kembali terdiam. Ayahanda Petra tersebut tak ingin berdebat dengan Ludwig. “Akan kuhubungi kau nanti malam. Bersiaplah.” Setelah berkata demikian, Oliver bergegas pergi tanpa ada kata-kata pamit atau sejenisnya.

__ADS_1


Sepeninggal Oliver, Ludwig segera menuju ke kamar. Dia sudah tak sabar untuk melihat kondisi Lilia. Wanita itu tengah duduk di tepian tempat tidur saat Ludwig masuk. “Kau tidak apa-apa?” tanya Ludwig perhatian. Dia duduk tepat di sebelah wanita berambut merah tersebut.


“Siapa pria tadi?” tanya Lilia. “Apakah dia pria yang sama, dengan yang mencarimu malam itu?” Lilia menatap sayu kepada Ludwig yang juga tengah memandang ke arahnya.


“Ya. Dia adalah Oliver Harald. Pria itu berjanji akan membantu membersihkan namaku dari predikat buron.” Ludwig menatap penuh cinta kepada Lilia. “Bersiaplah. Kita akan pergi ke Austria,” ucap pria itu lagi.


“Sungguh?” Sepasang mata abu-abu Lilia tampak berbinar.


Ludwig mengangguk. Dia menurunkan tubuh di hadapan Lilia. Pria tampan tersebut berlutut sambil menggenggam erat tangan wanita yang pernah dirinya nikahi. “Apa kau tidak percaya, saat diriku menyatakan cinta padamu?”


“Kau seorang penipu, Ludwig Stegen. Kau bahkan menikahiku menggunakan identitas palsu. Haruskah aku memercayai pria sepertimu?”


Ludwig tersenyum simpul. Pria tampan tersebut menggumam pelan. “Kau tidak perlu memaksakan diri untuk percaya padaku. Namun, aku pasti akan membuktikannya padamu,” tegas Ludwig. Dia menghentikan perbincangan, ketika ada panggilan masuk dari Oliver. “Aku harus menjawab telepon sebentar.” Ludwig berdiri, lalu berpindah ke dekat jendela.


Sementara, Lilia terus memperhatikannya sambil duduk di tepian tempat tidur. Dia mengamati postur Ludwig dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lilia tersenyum kecil, sebelum menundukkan wajah.


“Bagaimana?” tanya Ludwig tanpa basa-basi, saat menjawab panggilan masuk tadi.


“Aku sudah berkoordinasi dengan seseorang di stasiun bawah tanah pusat kota. Bersiaplah malam ini. Pukul sembilan tepat, kalian sudah harus ada di sana.”


“Kenapa?” Ludwig menaikkan sebelah alisnya.


“Nanti malam ada jadwal perjalanan kereta menuju Polandia. Kalian akan aman dari pemeriksaan petugas, berhubung itu merupakan kereta barang," jelas Oliver.

__ADS_1


__ADS_2