
Ludwig sempat terdiam sejenak, dengan tatapan yang terus tertuju kepada Lech yang sesekali memejamkan mata. “Terima kasih atas informasi yang telah kau berikan. Namun, aku tetap harus menghabisimu, karena kau telah berani mengusik milik Ludwig Stegen.”
Ludwig memindahkan lututnya ke dada Lech. Dia menekan pria itu dengan kuat. Setelah itu, Ludwig kemudian sedikit mengangkat kepala Lech menggunakan tangan kiri. Sedangkan, tangan kanannya memegang pistol, dengan moncong yang telah berada di dalam mulut Lech. “Seluruh anak buahmu telah menunggu pemimpin mereka di neraka,” ucap Ludwig diiringi seringai menakutkan.
Pria tampan asal Jerman itu terus menatap Lech. Dia menarik pelatuk pistol secara perlahan. Ludwig melesatkan beberapa butir peluru ke dalam mulut sang lawan, yang sudah kalah telak darinya. Rasa puas terpancar jelas dari paras iblis rupawan tersebut, saat darah segar menciprati wajahnya.
Setelah Lech dipastikan tewas, Ludwig bergegas membuka pintu bunker. “Lilia!” panggilnya nyaring. “Lilia!” seru Ludwig sekali lagi, hingga wanita berambut merah yang dipanggilnya tadi muncul dengan wajah dipenuhi keresahan.
Lilia mendongak. “Apa yang terjadi di atas sana?” tanyanya. Lilia masih terlihat gelisah.
“Naiklah. Semua sudah selesai,” jawab Ludwig. Dia mengambil dress panjang milik Lilia untuk membantu wanita itu naik. Meski terlihat susah payah, tapi Lilia akhirnya bisa keluar dari bunker lembap dan pengap tadi.
“Aku seperti dikubur hidup-hidup,” ucap Lilia. Dia berusaha bernapas normal. Lilia mengambil udara sebanyak-banyaknya. Namun, wanita cantik berambut merah tersebut kembali tak bisa bernapas lega, setelah melihat pemandangan mengerikan di dalam pondok. Lilia terbelalak tak percaya, melihat mayat-mayat bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan. “Astaga!” Lilia menutupi mulut dengan kedua telapak tangan.
Namun, Ludwig tak memedulikan keterkejutan yang ditunjukkan wanita itu. Dia langsung menggeledah pakaian yang Lilia kenakan tanpa terlewat satu bagian pun, hingga dirinya menemukan benda yang sangat kecil di kerah bagian dalam. Itu merupakan alat pelacak, yang sepertinya sudah lama terpasang di mantel milik Lilia. “Apa kau tidak menyadari keberadaan alat ini di mantelmu?” tanya Ludwig heran.
“Apa itu?” Lilia balik bertanya.
“Ini adalah alat pelacak. Aku tidak tahu jika dia bisa membuat dengan ukuran sekecil ini.” Ludwig menjatuhkan benda itu, lalu menginjaknya hingga hancur.
Sementara, Lilia terpaku memperhatikan jasad Dominik yang berdampingan dengan Lech. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian pada mayat lain. Kondisi mereka sama mengenaskannya. “Akan kita apakan mayat-mayat ini?” Lilia seperti bertanya pada dirinya.
Ludwig berpikir beberapa saat. Setelah menemukan cara, dia membuka kembali pintu menuju bunker. Sambil menahan sakit, pria itu menggusur satu per satu mayat yang ada di sana. Ludwig memasukkan mereka ke tempat persembunyian Lilia tadi.
__ADS_1
Namun, tepat saat Ludwig akan menggusur mayat Dominik, Lilia segera mencegahnya. Wanita cantik tersebut menurunkan tubuh di dekat jasad Dominik. Bagaimanapun juga, pria yang sudah terbujur kaku itu telah mengabdikan hidupnya untuk merawat serta membangun peternakan.
Entah untuk menebus rasa bersalah atau apapun itu, tapi Lilia dapat merasakan kasih sayang tulus yang Dominik curahkan kepadanya. “Aku memaafkanmu, Paman. Walaupun kau adalah penyebab utama kematian kedua orang tuaku, tapi kau telah melakukan tugasmu dengan baik. Aku akan selalu menganggap dirimu sebagai ayah kandung.” Lilia tertunduk. Deraian air mata mengalir deras membasahi pipinya.
“Sudahlah.” Bukannya tak ingin memahami apa yang Lilia rasakan, tapi Ludwig harus bergerak cepat. Dia menggusur mayat Dominik, lalu memasukkannya ke bunker tadi.
Kini, tinggal mayat Lech yang tersisa. Sebelum menyatukan jasad pria itu dengan yang lain, Ludwig membiarkannya terlebih dulu. Dia mengambil telepon genggam yang disimpan dalam tas jinjing. Tanpa ada beban sama sekali, Ludwig mengambil foto Lech yang terlihat sangat mengenaskan. Dikirimkannya foto tersebut kepada Oliver.
Beberapa saat kemudian, Oliver langsung menghubunginya. “Siapa pria itu?” tanya Oliver.
“Dia adalah Lech Czeslaw. Pemimpin Organisasi Schaefer. Tanyakan pada tawananmu yang bernama Ulger, siapa sebenarnya pria itu,” suruh Ludwig dingin.
“Baiklah. Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Oliver.
“Ludwig!” teriak Lilia histeris seraya langsung menghambur ke dekat Ludwig, yang tergeletak tak sadarkan diri. Ludwig telah kehilangan banyak darah akibat luka tembak yang dialaminya. “Astaga. Apa yang harus kulakukan?” Lilia tampak kebingungan. Saat itu, yang terlintas dalam benak wanita cantik tersebut hanyalah nama Manfred. Pria yang merupakan sahabat dekat sang ayah.
Tanpa berpikir panjang, Lilia meraih telepon genggam milik Ludwig. Dia lalu menghubungi pria itu. Lilia memaksanya agar segera datang ke peternakan, dengan membawa peralatan medis. Wanita itu tak memedulikan pertanyaan-pertanyaan yang Manfred ajukan tentang dirinya.
Selang sepuluh menit kemudian, Manfred telah tiba di peternakan. Lilia yang menunggunya di luar, bergegas membawa pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut menuju pondok. “Ada apa ini, Lilia? Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi tentang ….”
“Nanti saja berceritanya, Paman. Saat ini, aku sangat membutuhkan bantuanmu,” sela Lilia. Dia terus menuntun pria paruh baya itu hingga masuk ke pondok.
Setelah tiba di sana, Manfred langsung terbelalak melihat Ludwig yang terkapar tak sadarkan diri di lantai, dengan tubuh bersimbah darah. Pria itu bergegas mendekat, lalu memeriksa denyut nadi Ludwig.
__ADS_1
“Bagaimana kondisinya, Paman?” tanya Lilia cemas.
“Aku masih bisa merasakan denyut nadinya meskipun sangat lemah. Kita harus segera membawa suamimu ke rumah sakit. Dia sudah kehilangan banyak darah. Ini sangat berbahaya.” Manfred tampak berpikir.
“Tidak bisakah kau mengeluarkan pelurunya sekarang juga, Paman? Kau seorang dokter,” ujar Lilia setengah memaksa.
“Suamimu bukan sapi, kambing, atau sejenisnya. Kau tahu sendiri bahwa aku ini adalah dokter hewan,” tolak Manfred. Dia tak ingin mengambil risiko. “Kita harus tetap membawanya ke rumah sakit. Kau tenang saja. Aku akan segera menghubungi ambulans.” Manfred bergerak cepat menelepon layanan darurat.
Sekitar beberapa menit kemudian, ambulans tiba di sana. Dua orang petugas memindahkan tubuh Ludwig ke brankar, setelah memasang alat bantu pernapasan untuk pria itu. Mereka begitu gesit dan telaten, saat memasukkan brankar tadi ke dalam mobil.
“Kau ikutlah dengan mereka. Aku akan menyusul,” ucap Manfred. Hubungan baiknya dengan Dominik yang dia kenal sebagai Gunther, telah membuat sang dokter hewan tersebut begitu menyayangi Lilia seperti putrinya.
Lilia mengangguk. Dia bergegas naik ke ambulans untuk menemani Ludwig. Mobil berwarna putih itu melaju kencang, meninggalkan bekas area Peternakan Lienhart.
Tak berselang lama, mobil ambulans tadi telah tiba di rumah sakit terdekat. Beberapa petugas medis sigap membantu membawa Ludwig ke ruang tindakan. Sementara, Lilia dipersilakan menunggu di luar, selagi tim medis melakukan penyelamatan terhadap Ludwig.
Hingga beberapa saat, Lilia sabar menunggu. Untungnya, Manfred datang dan menemani. Lilia tidak merasa kesepian. Dia berbincang dengan pria itu. Lilia memberikan jawaban untuk beberapa pertanyaan seputar dirinya, yang menghilang setelah huru-hara di peternakan. Namun, tentu saja Lilia tidak mengatakan secara gamblang, tentang segala hal yang telah terjadi. Termasuk, dengan luka yang Ludwig alami saat ini.
“Dia hanya ingin mengusir orang-orang asing itu. Namun, hasilnya seperti yang kau lihat, Paman,” terang Lilia kembali berbohong. Helaan napas penuh sesal meluncur dari bibir wanita cantik tersebut. Lilia sungguh menyesalkan keputusannya, yang harus menutupi segala kenyataan dari Manfred. Akan tetapi, dia tidak memiliki pilihan.
"Aku senang mengetahui kau dan Heinz selamat. Andai saja Gunther juga ...." Manfred tertunduk. Dia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. "Aku sangat terpukul, saat mendengar berita mengenai kebakaran yang melanda Peternakan Lienhart. Terlebih, karena ayahmu juga menjadi salah satu korbannya."
Lilia tersenyum kelu. Namun, dia tak ingin menanggapi ucapan Manfred. Terlebih, karena dokter yang menangani Ludwig telah keluar dari ruang tindakan. Lilia dan Manfred langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan suamiku, Dokter?"
__ADS_1
"Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya, Nyonya," jawab sang dokter.