Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Keinginan Sang Tuan


__ADS_3

Ludwig terus menatap ke arah panggung dengan raut tak percaya. Bagaimana tidak? Wanita yang tengah meliukkan tubuh indahnya dengan penampilan hampir telanjang dan menjadi tontonan itu, merupakan seseorang yang pernah dirinya nikahi beberapa waktu silam, meski bukan pernikahan sah karena Ludwig memakai identitas palsu.


Tiba-tiba, Ludwig menjadi gusar. Dia mengisi gelasnya, lalu menghabiskan minuman itu dalam satu teguk. Ludwig melakukanya hingga beberapa kali.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Jedrick heran, saat melihat perubahan sikap yang ditunjukan oleh sang majikan.


"Siapa wanita itu?" tanya Ludwig seraya mencengkram gelas yang telah kosong.


"Red Lily, Tuan. Lihatlah. Dia benar-benar luar biasa. Cantik sekali," sanjung Jedrick dengan tatapan nakal khas lelaki hidung belang.


Hal itu membuat gemuruh dalam dada Ludwig kian menjadi. "Pertemukan aku dengannya," pinta Ludwig, yang lebih terdengar seperti perintah.


Jedrick mengalihkan tatapan kepada sang majikan. Dia tersenyum simpul. "Kudengar, sangat sulit untuk mendekati Red Lily. Dia adalah wanita kesayangan seseorang yang ditakuti. Red Lily hanya menari, tapi dia tak melayani lebih dari itu. Kalaupun ada yang berani menawar, maka harganya pasti sangat mahal."


“Aku tidak peduli.” Ludwig terlihat begitu serius dengan apa yang dia ucapkan. Pria itu kembali mengarahkan pandangan ke panggung. Ludwig menggeleng pelan. Setidaknya, dia tahu bahwa Lilia masih hidup, meski tak menyangka bahwa wanita muda yang selalu terlihat lugu dan pemalu tersebut tiba-tiba berubah drastis.


“Pertemukan aku dengan penari itu sekarang juga! Bagaimanapun caranya!” tegas Ludwig dengan sorot tajam yang terlihat sangat buas.


Sejak dulu, Jedrick sudah sering mempersembahkan wanita cantik untuk Ludwik, jika pria itu datang berkunjung ke Warsawa. Namun, dia tak pernah melihat sang majikan yang begitu bernafsu saat menginginkan seorang wanita. Apakah dalam pelarian selama dua tahun, Ludwig tak pernah mendapat pelayanan untuk kebutuhan biologisnya? Jedrick menggeleng kencang menolak pikiran bodoh tadi.

__ADS_1


“Um … akan kucoba, Tuan. Akan tetapi, aku … aku ….” Jedrick tak berani melanjutkan kata-katanya, saat melihat sorot tajam Ludwig yang kian menakutkan. Pria yang berusia hampir sama dengan Niklas tersebut segera berdiri, lalu melangkah ke bagian lain bar itu.


Sementara, Ludwig kembali mengarahkan perhatiannya ke panggung. Wanita muda dengan lingerie two piece merah tadi, tersenyum menggoda kepada para pria yang tengah menikmati tubuh indahnya meski tanpa menyentuh.


Beberapa saat kemudian, Jedrick kembali ke meja di mana Ludwig berada. Dia kembali duduk. Raut wajahnya menyiratkan rasa was-was. Dia sangat mengenal karakter Ludwig yang keras dan bengis. Namun, pria muda tersebut tak dapat berbuat apa-apa. “Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Mereka menolak permintaan Anda. Tak ada akses yang diberikan untuk berdekatan dengan Red Lily,” lapornya.


Mendengar hal itu, Ludwig langsung berdiri. Begitu juga dengan Jedrick yang segera mengikuti. “Tidak, Tuan. Jangan membuat keonaran di sini,” pinta Jedrick was-was. Dia takut jika Ludwig akan melakukan sesuatu yang di luar kendali, karena keinginannya tidak terpenuhi.


“Memangnya, kau pikir apa yang akan kulakukan?” Sinis dan begitu dingin nada pertanyaan yang dilontarkan Ludwig. Dia berlalu dari hadapan Jedrick. Ludwig berjalan gagah ke luar bar tadi diikuti sang anak buah. “Pulanglah, Jed. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa,” suruh Ludwig yang sudah terlihat cukup tenang dibanding sebelumnya.


“Tuan ….” Jedrick terdengar ragu untuk meninggalkan Ludwig di sana. “Mari kuantar pulang,” ajaknya.


“Kenapa?” Sorot tajam dan sinis kembali terlihat dari sepasang mata cokelat madu Ludwig. “Besok kita bertemu lagi. Aku ingin kau menemaniku menemui kuli bangunan itu,” ujarnya seraya memalingkan wajah. Ludwig tak ingin jika Jedrick sampai melihat kegelisahan di raut tampannya.


Sementara itu, Ludwig terus berdiri di luar bar tadi. Dia bahkan sempat meminta rokok kepada salah seorang penjaga pintu, demi mengurangi rasa bosan. Namun, hingga rokok yang diisapnya habis, Ludwig belum juga beranjak dari sana.


Pria tampan berambut cokelat tembaga itu melihat arloji di pergelangan kiri. Saat itu, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ludwig mengembuskan napas kasar. Kehadiran Red Lily, telah membuat konsentrasinya menjadi buyar. “Sialan!” gerutu Ludwig kesal.


Akan tetapi, segala perasaan kesal dan gelisah yang tadi sempat menggelayuti hatinya tiba-tiba sirna, ketika dia melihat seorang wanita berambut panjang keluar dari bar dengan pengawalan dua pria berpostur tinggi besar. Wanita cantik yang menutupi tubuh indahnya menggunakan mantel cokelat itu, melangkah anggun menuju sebuah mobil sedan hitam yang telah menunggunya di halaman parkir bar.

__ADS_1


Tanpa memikirkan apa-apa, Ludwig langsung berjalan ke arah wanita itu. “Lilia!” panggilnya tidak terlalu nyaring, karena jarak mereka cukup dekat.


Wanita yang sudah hampir masuk ke mobil itu langsung tertegun. Dia menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Seketika, semua sikap liar yang diperlihatkan saat di panggung tadi tak terlihat lagi. Di sana, hanya ada paras cantik yang begitu polos dengan tatapan sendu.


“Siapa kau? Berani-beraninya memanggil Red Lily dengan cara seperti itu! Tuan kami tak akan menyukai hal ini! Pergilah sebelum kau kuhabisi!” sentak salah seorang pengawal berpostur tinggi besar tadi. Dia menghalangi pandangan Ludwig dari wanita yang memang adalah Lilia Lienhart.


“Minggir atau kupatahkan leher kalian!” gertak Ludwig tak mau kalah.


“Oh, berani sekali kau!” Tanpa banyak bicara, pria yang tadi berbicara kepada Ludwig langsung melayangkan pukulan cepat ke arah wajah.


Ludwig yang tak mengira akan mendapat serangan secepat itu, sempat tersentak saat menerima pukulan keras di wajahnya. Tubuh tegap pria tampan itu terhuyung menabrak mobil hitam yang akan ditumpangi Lilia. “Aku tidak menyukai ini,” desis Ludwig pelan seraya mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.


“Apa?” sentak pria yang tadi memukul Ludwig.


“Aku tidak suka jika ada yang menyentuh wajahku dengan cara tak sopan seperti tadi.” Ludwig menyeringai. Membuat dua pengawal pribadi Lilia menjadi keheranan. Sebelum kedua pria tadi tersadar, Ludwig lebih dulu melayangkan serangan balasan. Dengan gerakan cepat dan kekuatan penuh, dia menghantam rahang pria yang memukulnya tadi menggunakan tangan kiri. Ludwig juga melesakkan tendangan ke perut pengawal yang satu lagi, hingga mereka roboh secara bersamaan.


Mengetahui ada perkelahian di halaman parkir, tiba-tiba datang lagi sekitar empat pria berpostur tak jauh berbeda dari dua penjaga tadi. Namun, Ludwig tak gentar. Dia menghadapi semuanya tanpa ada kesulitan yang berarti, hingga keempat pria yang baru datang itu terkapar di paving block dengan wajah babak belur.


“Cuih!” Ludwig mengusap darah dari hidung dan bibirnya menggunakan punggung tangan. Dia menetralkan deru napas yang memburu.

__ADS_1


Melihat adegan perkelahian tadi, Lilia tampak ketakutan. Dia bermaksud masuk ke mobil. Namun, dengan segera Ludwig meraih lengan wanita berambut merah tersebut. “Tunggu! Kita harus bicara!”


“Singkirkan tanganmu dari kekasihku, Brengsek!” sergah seorang pria. Membuat Ludwig tertegun, merasakan moncong senjata api di tengkuknya.


__ADS_2