Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Ludwig berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Lilia yang sudah kembali ke dekat tempat tidur. “Apa kau baik-baik saja?” tanya pria tampan dengan rambut berwarna ash grey tersebut.


Lilia tersenyum lembut. “Beristirahatlah, Heinz. Aku juga akan melanjutkan tidur, kecuali jika kau ingin bercerita tentang apa yang terjadi malam ini. Aku akan mendengarkan.” Lilia tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang dilayangkan Ludwig.


Ludwig menatap wanita cantik bermata abu-abu itu dengan sorot yang sulit diartikan. Sesaat kemudian, pria itu naik ke tempat tidur. “Aku juga ingin beristirahat. Selamat malam.” Dia mematikan lampu tidur yang berada di meja, sehingga suasana menjadi temaram.


Tak ada alasan bagi Lilia untuk tetap terjaga. Lagi pula, dia juga sangat lelah. Wanita cantik berambut cokelat itu ikut berbaring di sebelah Ludwig. “Kau tidak ingin tidur sambil memelukku?” tanyanya seraya menatap sang suami, dalam keremangan suasana kamar.


Ludwig terdiam, lalu menoleh. Dia menatap Lilia beberapa saat. ‘Kemarilah,” ucapnya.


Lilia menggeser tubuhnya hingga merapat kepada Ludwig. Tak seperti malam-malam ke belakang, kali ini dia merasakan kehangatan yang berbeda. Lilia begitu nyaman berada dalam dekapan pria tampan asal Jerman tersebut. “Kuharap, besok kau bersedia untuk mengatakan sesuatu padaku,” ucap si pemilik mata abu-abu itu, sambil mengusap-usap permukaan dada suaminya.


“Tentang apa?” tanya Ludwig. Dia sudah memejamkan mata. Ludwig merasa begitu lelah.


“Tentang apa yang terjadi malam ini,” jawab Lilia. “Aku sudah menjadi istrimu. Itu berarti, diriku berhak tahu tentang segala hal yang terjadi padamu.” Lilia terdengar penuh harap.


Dia tak pernah mengetahui, bahwa Ludwig menikahinya demi rasa aman yang dibutuhkan dalam pelarian kali ini.


Ludwig tidak menjawab. Pria tampan tersebut hanya menggumam pelan, lalu mengembuskan napas dalam-dalam. Keheningan bertahta dalam ruang kamar temaram tadi. Tak terdengar lagi percakapan ringan antara mereka berdua, karena Ludwig ternyata sudah tertidur.


Lilia sempat mendongak untuk memastikan. Wanita muda itu mengembuskan napas pelan, setelah melihat sepasang mata Ludwig sudah terpejam rapat. Wanita itu pun memilih melakukan hal sama seperti suaminya.


Dua sejoli tadi terlelap dalam tidur mereka. Lilia yang masih berada dalam dekapan Ludwig, membuka mata saat mendengar suara aktivitas para pelayan. “Selamat pagi,” sapanya dengan suara parau.


“Selamat pagi,” balas Ludwig seraya memicingkan mata. “Jam berapa sekarang?” tanyanya.

__ADS_1


“Sekarang baru jam tujuh,” jawab Lilia. Dia melepaskan diri dari dekapan Ludwig. Mereka tidur dalam posisi seperti itu, selama kurang lebih tiga jam.


Ludwig tersentak setelah mendengar jawaban dari Lilia. Dia langsung bangkit, lalu turun dari tempat tidur.


“Kau kenapa?” tanya Lilia heran.


“Aku harus segera ke peternakan,” jawab Ludwig. Dia bergegas masuk ke kamar mandi.


Lilia hanya menautkan alisnya. Wanita cantik tersebut mengikuti langkah sang suami. Wanita itu langsung memposisikan diri di bawah shower. Dia sudah bersiap untuk mandi.


Sementara, Ludwig tengah menggosok gigi di depan wastafel. Konsenstrasi pria tiga puluh dua tahun tersebut menjadi teralihkan, ketika mendengar suara gemericik air yang mengucur deras dari shower. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi perhatian si pemilik rambut ash grey tersebut. Tatapan Ludwig, terkunci pada tubuh indah yang sudah basah di bawah guyuran air.


Ludwig segera berkumur, lalu meletakkan sikat gigi pada tempat yang sudah disediakan. Dia yang tadinya tidak berniat mandi, mengurungkan hal itu setelah melihat pemandangan luar biasa yang sayang untuk dirinya lewatkan. Ludwig memilih bergabung, menikmati deraian air menyegarkan yang membasahi bibirnya dan bibir Lilia, saat mereka berciuman mesra.


Interaksi antara Ludwig dan Lilia pun terjalin biasa saja. Terkadang, mereka terlihat selayaknya suami istri yang hangat dan terlihat normal. Namun, tak jarang Ludwig bersikap seperlunya. Termasuk kepada Gunther, sang ayah mertua. Ludwig tetap bersikap biasa. Dia masih terlihat misterius bagi pria paruh baya tersebut.


Hal seperti itu terus berlangsung hingga kurang lebih satu bulan. Pada suatu hari Ludwig tersadar, ketika arloji yang dia simpan di dalam laci berbunyi. “Sudah waktunya,” gumam pria itu seraya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 22.30. Ludwig bergegas turun dari tempat tidur. Dia mengenakan jaket serta celana jeans. Sebelum memutuskan keluar kamar, pria itu sempat melihat Lilia yang terlelap di bawah selimut.


“Tidurlah yang nyenyak,” ucap Ludwig pelan, sebelum dirinya membuka pintu lalu melangkah keluar. Ludwig memastikan bahwa tak ada siapa pun yang mengikutinya kali ini, saat dia berjalan menjauh dari area peternakan.


Beberapa saat kemudian, Ludwig menghentikan langkah di dekat bangunan tinggi berbentuk menara dengan ujung lancip. Di sana, sudah ada seseorang yang menunggu kedatangannya. Seorang pria yang langsung terlihat semringah, saat melihat kehadiran dirinya di sana.


“Bagaimana kabar Anda, Tuan?” sapa pria tadi.


“Aku baik-baik saja, Niklas,” jawab Ludwig dengan raut biasa saja. “Berita penting apa yang akan kau sampaikan padaku?” tanyanya.

__ADS_1


“Pertama, organisasi kita masih terus diawasi pemerintah. Mereka tak membiarkan ada pergerakan sedikit pun. Hal itu sangat mempersulit kami yang harus bertahan hidup,” terang Niklas.


“Kedua, tentang adanya reshuffle kabinet di pemerintahan. Putra dari Jenderal Inre Harald yang bernama Oliver, sudah menjabat sebagai menteri pertahanan yang baru. Andai saja Anda bisa melobi orang itu, kurasa kita bisa menghidupkan kembali organisasi yang telah lama dibekukan.” Niklas mengeluarkan sebungkus rokok, lalu dia sodorkan kepada Ludwig yang langsung mengambil sebatang. Niklas bahkan membantu menyulut rokok tadi, hingga mengeluarkan asap tipis.


“Kau benar. Aku juga sudah tidak tahan untuk kembali ke Jerman. Rasanya sangat membosankan menjalani hidup seperti ini,” ujar Ludwig seraya mengepulkan asap dari mulut. “Namun, sebelum itu aku harus bisa mencabut status buron yang mereka sematkan pada namaku,” ucapnya lagi.


“Ya, Anda benar. Sesungguhnya, Tuan Dietmar sudah berusaha dengan sangat baik. Namun, pengaruh yang dimilikinya tidak sebesar Anda, Tuan."


Ludwig mengembuskan napas kasar. “Aku juga belum menemukan titik terang,” keluhnya.


“Lalu, ke mana tujuan Anda setelah dari sini? Aku harus mengetahui dengan pasti, sebelum kembali ke Jerman dan mengabarkan kepada Tuan Dietmar.”


“Sepertinya, aku akan menetap sedikit lebih lama di sini,” ujar Ludwig diiringi senyum simpul.


Setelah berbincang sebentar, Ludwig memutuskan kembali ke peternakan. Dia harus segera pulang sebelum Lilia menyadari bahwa dirinya pergi. Ludwig melangkah gagah, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket.


Namun, langkah gagah Ludwig terhenti, saat dari kejauhan melihat seorang wanita berlari ke arahnya. Wanita itu tampak resah. Dia langsung menghambur kepada Ludwig. “Tolong aku, Tuan,” pintanya was-was, menyiratkan rasa takut luar biasa.


“Ada apa, Nona?” tanya Ludwig. Pertanyaan yang segera terjawab, dengan munculnya empat orang pria dari kegelapan. Sementara, wanita muda tadi langsung bersembunyi di balik tubuh tegap Ludwig.


“Jangan ikut campur, Bung,” ujar salah seorang dari keempat pria, yang kini telah berdiri di hadapan Ludwig. Sikap dan tatapan mereka penuh intimidasi.


“Siapa kalian?” tanya Ludwig dingin.


“Jangan banyak bertanya. Biarkan kami membawa gadis itu!”

__ADS_1


__ADS_2