
“Benarkah?” Nada pertanyaan Ludwig terdengar ragu. Pria tampan tersebut menaikkan sebelah alisnya.
Oliver tertawa renyah saat menangkap kesan tidak percaya yang tersirat dari nada bicara Ludwig. Pria paruh baya tersebut menoleh kepada Albertina yang sudah terlelap tanpa sehelai benang pun. Oliver melangkah ke dekat tempat tidur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh sintal sang istri.
“Kau tidak percaya pada apa yang kukatakan? Tak masalah bagiku. Lagi pula, aku tidak memiliki urusan apa-apa dengan Peternakan Lienhart. Jika mau, aku sudah menyuruh seluruh anak buahku yang turut dalam misi penyergapan malam itu, untuk mengobrak-abrik peternakan. Terlebih, kami tahu bahwa kau ada di sana,” jelasnya meyakinkan.
Ludwig mengembuskan napas kasar. Apa yang Oliver katakan memang masuk akal. Lagi pula, mereka adalah pihak pemerintahan, yang tentunya sudah memiliki izin resmi untuk memasuki wilayah Austria. Tak mungkin jika Oliver dan anak buahnya melakukan pengrusakan yang akan menimbulkan kekacauan.
“Aku tidak yakin jika Gunther Lienhart mengetahui bahwa kau akan menyergapku di peternakan miliknya. Kulihat sendiri pria itu sangat terkejut.” Ludwig kembali mengungkapkan ketidak percayaannya, atas penjelasan yang diberikan Oliver.
Oliver kembali tertawa. Dia duduk di kursi dekat jendela sambil kembali melayangkan tatapan kepada sang istri. Albertina tidak merasa terganggu, dengan perbincangan yang tengah berlangsung di sana.
Namun, justru Oliver yang merasa terusik, saat mendengar suara deru mesin mobil berhenti di halaman depan kediaman mewahnya. Pria paruh baya tadi beranjak dari kursi, lalu melangkah ke dekat jendela. Oliver menyibakkan tirai. Pria itu melihat sang putri yang baru pulang entah dari mana.
“Gunther Lienhart hanya berpura-pura terkejut. Dia berakting sangat bagus malam itu. Sayang sekali, anggota Night Crawler mengacaukan segalanya.” Oliver menggumam pelan, dengan tatapan menerawang ke luar jendela. Entah apa yang tengah sang menteri pikirkan. Sorot mata ayahanda Petra tersebut tampak sangat aneh, seperti menyimpan sesuatu yang membuat dirinya merasa terbebani.
“Bagaimana hasil pertemuanmu?” tanya Oliver sesaat kemudian.
“Kau tidak mengatakan bahwa Radko Trava adalah orang yang selalu melakukan penyamaran,” sahut Ludwig.
Oliver tersenyum simpul. “Aku sudah bisa menangkapnya dari dulu, andai diriku mengetahui sosok asli pria itu seperti apa. Foto yang kulampirkan dalam file di komputermu, merupakan orang yang mengaku sebagai Radko Trava saat bertemu denganku.”
“Ya, dan aku menerima beberapa foto lain yang juga mengaku sebagai pria itu,” timpal Ludwig diiringi helaan napas berat.
__ADS_1
“Kurasa itu tak akan sulit bagimu, mengingat kau juga merupakan seorang penyamar,” ucap Oliver begitu enteng. “Ingatlah seberapa besar imbalan yang akan kau terima, jika berhasil dalam misi ini. Kebebasan. Kau bisa terbang ke manapun tanpa takut dibidik moncong senjata para pemburu.”
Sejak saat itu, dengan dibantu Dietmar dan Niklas, Ludwig terus mengumpulkan berbagai informasi. Tanpa terasa, enam bulan lebih telah berlalu dengan begitu cepat. Namun, belum ada hasil yang terlalu signifikan. Ludwig belum menemukan petunjuk yang benar-benar bisa membuatnya merasa yakin untuk melacak keberadaan Radko Trava, hingga Niklas memberi kabar yang sangat mengejutkan.
“Orang-orang kita yang berada di Polandia, telah melihat salah satu dari beberapa foto yang dikirimkan oleh Dietmar kepada Anda beberapa bulan silam,” lapor Niklas saat bertemu langsung dengan Ludwig. Niklas memang terus berada di Munchen, karena dia terbiasa mengikuti pergerakan Ludwig ke manapun pria itu pergi.
“Di mana?” tanya Ludwig. Jika orang itu bukan Ludwig, maka dia pasti sudah melonjak kegirangan karena mendapat titik terang. Namun, lain halnya dengan pria tampan berambut ash grey tersebut. Ekspresinya tetap datar dan biasa saja.
“Di Warsawa, Tuan,” jawab Niklas.
“Warsawa?” ulang Ludwig. “Bagaimana orang-orang kita di sana?”
“Jedrick akan mempersiapkan segala hal yang Anda butuhkan jika ingin pergi ke sana. Aku akan menghubungi dia secepatnya untuk memastikan. Jedrick juga terus mengawasi pria itu, agar tidak kehilangan jejak,” jelas Niklas.
Setelah bertemu Niklas, Ludwig kembali ke tempat persembunyian. Dia langsung menghubungi Oliver. Seperti biasa, pria itu merasa kesal karena Ludwig menghubunginya lewat tengah malam. Namun, setelah mendapat kabar yang Ludwig sampaikan, kekesalan Oliver sedikit mereda.
“Aku ingin kau memfasilitasi keberangkatanku menuju Warsawa,” pinta Ludwig tanpa beban.
......................
Dua hari kemudian
Iring-iringan tiga mobil SUV mewah telah memasuki wilayah perbatasan Polandia. Mobil yang berada paling depan berhenti di dekat pos penjagaan. Di sana, tampak beberapa petugas berseragam militer, lengkap dengan segala persenjataan yang menempel di tubuh mereka.
__ADS_1
Seorang pria bersetelan rapi, turun dari mobil SUV tadi. Dia melepas kacamata hitamnya, saat dua orang penjaga berseragam militer keluar dari pos untuk melakukan pemeriksaan. “Selamat sore,” sapa pria bersetelan rapi yang tak lain adalah Daniel Ehrlich, ajudan pribadi Oliver Harald.
Daniel tampak berbincang dengan kedua penjaga pos perbatasan tadi. Pria yang sepertinya berusia sama dengan Ludwig tersebut tampak sangat luwes dan akrab. Dia menunjukkan paspor pada kedua penjaga itu, sambil terus berbicara. Senyuman hangat penuh keakraban pun tak lepas dari paras tampan khas pria Jerman.
“Di mobil itu ada Pak Menteri Pertahanan Oliver Harald. Dia membawa serta keluarganya untuk melakukan kunjungan kerja sekaligus ingin menikmati liburan di Warsawa,” tunjuk Daniel pada mobil SUV hitam yang berada di belakang mobilnya. “Mobil ketiga berisi para pengawal pribadi pak menteri,” terang pria itu lagi.
Kedua pria berseragam militer tadi mengangguk tegas. Mereka lalu berjalan gagah ke arah mobil yang ditumpangi Oliver. Sang sopir langsung menurunkan kaca mobil.
“Apa ada masalah?” tanya Oliver dalam Bahasa Inggris.
“Selamat sore, Pak menteri,” sapa salah seorang dari dua penjaga.
“Selamat sore,” balas Oliver. “Kuharap, kami tidak dipersulit di sini,” ujarnya yang duduk di jok tengah bersama Albertina. “Ini istriku. Dia putriku bersama calon suaminya,” tunjuk Oliver ke jok paling belakang. Di sana, tampak Petra yang tengah bergelayut manja di pundak seorang pria bertopi, dengan kacamata hitam yang tak lain adalah Ludwig.
“Baiklah, Pak menteri. Selamat datang di Polandia. Perjalanan yang sangat panjang, ya?” Sang penjaga berbasa-basi, sambil menunggu rekannya tadi yang tengah memeriksa mobil ketiga. Dalam kendaraan itu, berisi empat pria berkacamata hitam yang merupakan pengawal pribadi Oliver.
“Aman!” seru penjaga yang memeriksa mobil ketiga sambil mengacungkan ibu jari.
Tanpa ada proses pemeriksaan yang rumit, akhirnya iring-iringan mobil Oliver melewati wilayah perbatasan dengan leluasa. Ludwig yang duduk satu mobil dengan sang menteri, dapat bernapas lega. Dia hanya harus lebih bersabar dan menahan diri, karena terus berdekatan dengan Petra selama kurang lebih sebelas jam perjalanan darat.
Menjelang malam, iring-iringan tiba di Kota Warsawa. Oliver menyewa sebuah rumah yang nantinya akan ditempati oleh Ludwig, selama pria itu berada di sana.
“Apa kau akan menempatkan kami di kamar yang sama, Ayah?” tanya Petra tanpa beban sama sekali. Dia mengerling nakal kepada Ludwig yang tak peduli terhadapnya.
__ADS_1
“Tidak! Kamarmu ada di lantai paling atas. Ludwig Stegen kutempatkan di lantai bawah. Dia akan tetap berada di tempat ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sementara, kita akan kembali ke Jerman besok pagi-pagi sekali!” tegas Oliver penuh penekanan.