
Lilia menyandarkan kepala dengan wajah mendongak ke langit-langit. “Itulah hidupku saat ini. Lech mengatakan bahwa dia menyukaiku. Sedangkan, Berta terus mengingatkan agar aku mencari jalan aman." Lilia tersenyum getir.
"Beruntung, aku memiliki bakat dalam menari, sehingga Lech tidak menjadikanku sebagai wanita penghibur yang harus melayani banyak pria secara langsung. Ya, meskipun sebenarnya sama saja. Pria-pria itu menikmati tubuhku dari kejauhan."
"Tidak ada yang menyentuhku selain Lech. Aku hanya bercinta dengannya. Namun, dia tetap sangat menakutkan bagiku. Seperti seekor singa, yang mungkin saja akan menerkamku hidup-hidup suatu saat nanti. Aku ingin pergi. Aku tidak menyukai semua ini. Akan tetapi, aku tidak memiliki pilihan, karena Tuhan pun seakan tak mengizinkanku mati. Setiap percobaan bunuh diri yang kulakukan selalu saja gagal. Akhirnya, aku harus menjalani kehidupan sialan seperti ini!" Lilia meraup kasar rambutnya.
Ludwig yang sedari tadi duduk di tempat tidur, menyibakkan selimut. Dia turun dari sana, lalu berjalan ke dekat Lilia. Ludwig menurunkan tubuh di hadapan wanita cantik, yang masih duduk bersandar dengan wajah menghadap langit-langit. Pria berambut cokelat tembaga itu menggenggam erat jemari Lilia, kemudian menciumnya. “Aku akan membawamu pergi.”
Lilia tersentak. Dia langsung menegakkan tubuh. Lilia memandang lekat pria yang pernah menikahi lalu mencampakkannya. “Membawaku pergi? Ke mana?” tanyanya.
“Ke manapun yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman,” jawab Ludwig. “Namun, sebelumnya aku harus menyelesaikan satu misi terlebih dulu.”
“Misi apa?” tanya Lilia tanpa mengalihkan tatapannya dari Ludwig.
“Misi untuk mengembalikan kebebasanku. Aku sudah bosan melarikan diri dan bersembunyi. Aku ingin menjalani hidup normal sebagai Ludwig Stegen. Bukan yang lain. Namun, kebebasan itu harus kutebus dengan sesuatu yang ….” Ludwig terlihat bimbang. Dia menegakkan tubuh, lalu berjalan ke dekat jendela kaca. Tatapannya menerawang jauh, menembus pekat malam.
“Kau tidak ingin bercerita?” Tangan lembut Lilia melingkar erat di perut Ludwig. “Kenapa aku tidak bisa benar-benar membencimu?”
Ludwig menggumam pelan. Dia menyentuh punggung tangan Lilia, mengusap-usapnya lembut. “Aku datang ke Polandia untuk menyelesaikan satu tugas, yaitu menemukan keberadaan seseorang,” jawab Ludwig datar.
“Siapa?” tanya Lilia sambil terus memeluk Ludwig dari belakang.
Ludwig tidak segera menjawab. Pria tampan itu memicingkan mata. “Radko Trava.” Dia membalikkan badan, memandang paras cantik Lilia yang kerap mengusik pikirannya.
Sementara, malam kian larut. Jarum sudah menunjukkan pukul dua dini hari, ketika Ludwig telah bersiap untuk pergi. Sebelum beranjak dari apartemen Lilia, Ludwig sempat duduk sebentar sambil mengamati sketsa wajah pria, yang menurut Valeska bernama Ulger. Ludwig mengamati gambar itu dengan saksama, sampai-sampai dia tak menyadari bahwa Lilia menghampiri lalu duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Siapa pria itu? Apakah dia yang sedang kau cari?” tanya Lilia, yang ikut mengamati sketsa wajah tadi.
“Aku tidak tahu. Menurut seorang teman, namanya adalah Ulger. Namun, aku ….” Ludwig tak melanjutkan kata-katanya, karena Lilia langsung merebut kertas yang tengah dia pegang. “Hey!” protes Ludwig. Dia menatap heran Lilia, yang terus memperhatikan gambar itu. “Kenapa?” tanyanya.
Lilia tidak segera menjawab. Tatapan wanita cantik berambut merah tersebut begitu serius, mengamati sesuatu yang ada dalam gambar.
“Apa yang kau lihat?” tanya Ludwig penasaran. Dia menghadapkan tubuhnya kepada Lilia yang tidak juga menjawab. Akhirnya, Ludwig ikut diam. Menunggu wanita cantik itu bicara.
“Aku merasa pernah melihat gambar seperti ini,” ucap Lilia beberapa saat kemudian. Dia menunjuk pada tato ular yang tertera di sana.
“Di mana kau melihatnya?” tanya Ludwig semakin penasaran.
Lilia kembali terdiam. Wanita cantik itu tampak berpikir dalam-dalam. Sepertinya, dia tengah mengingat-ingat sesuatu. Namun, sesaat kemudian Lilia menggeleng pelan. “Entahlah. Aku lupa. Akan tetapi, aku yakin pernah melihatnya beberapa kali.” Lilia masih terus mengingat-ingat. Dia lalu mengembalikan kertas itu kepada Ludwig.
Lilia ikut berdiri. Dia menarik rambut panjangnya, meletakkan mereka di pundak sebelah kanan. “Hati-hati,” ucap wanita itu pelan.
Ludwig mengangguk. Namun, dia masih belum beranjak dari hadapan Lilia. Seperti ada sesuatu yang membuat kakinya seakan terpaku sangat kuat, sehingga dia tak bisa bergerak. “Aku ingin melihatmu menari lagi,” ujarnya diiringi seulas senyuman.
“Kau sudah sering melihatku telanjang dan ….”
“Aku menyukainya,” sela Ludwig seraya menyentuh lembut pipi Lilia. “Kau semakin cantik.”
Lilia tersenyum manis. “Cium aku, Tuan Stegen,” pintanya.
Tanpa diminta dua kali, Ludwig langsung memberikan apa yang Lilia inginkan. Beberapa saat kemudian, barulah pria itu benar-benar pergi dari sana. “Aku akan membayarmu dengan sesuatu yang tak ternilai, saat kebebasanku telah kembali. Pegang kata-kataku, Lilia.”
__ADS_1
Lilia kembali memperlihatkan senyuman manisnya. “Aku tunggu,” balasnya.
Dengan langkah gagah, Ludwig meninggalkan gedung apartemen tempat tinggal Lilia. Suasana malam yang teramat sepi, tidak membuatnya merasa takut sama sekali. Ludwig terus berjalan menyusuri trotoar jalan seorang diri menuju rumah yang dia tinggali.
Akan tetapi, sebelum Ludwig tiba di tempat tujuan, dia terpaksa harus harus menghentikan langkah. Insting tajam pria itu mengatakan bahwa ada seseorang yang mengikuti, sejak dirinya keluar dari gedung apartemen tempat tinggal Lilia.
Ludwig berdiri beberapa saat, untuk menunggu pergerakan di belakangnya. Namun, dia tak merasakan apa-apa lagi setelah itu. Ludwig menoleh perlahan. Jauh ke belakang, hanya ada jalanan lengang. Malam itu, suasana di sana selayaknya kota mati.
Akhirnya, Ludwig melanjutkan perjalanan pulang. Dia mengambil jalur lain yang bukan menuju tempat tinggalnya. Hal tersebut dilakukan untuk berjaga-jaga. Ludwig bahkan masuk ke sebuah bar, dan diam di sana hingga beberapa saat. Setelah dirasa aman, barulah dia pulang dengan diam-diam.
“Sial!” gerutu pria itu. Keberadaannya di sana mulai terusik. “Ini pasti gara-gara perkelahian kemarin,” pikirnya seraya melepas jaket dan topi.
Ludwig mengembuskan napas kasar sambil berbaring. Dia sudah hampir memejamkan mata, ketika ponsel yang diletakkan di meja sebelah tempat tidur bergetar cukup lama. Sepertinya, ada panggilan yang masuk.
Pria tampan berambut cokelat tembaga itu memaksakan diri untuk bangkit. Dia berjalan ke dekat meja, lalu meraih ponsel. Di layar, ada nama Lilia sebagai pemanggil. “Lilia?” sapanya sambil memicingkan mata. “Kau belum tidur?”
“Aku tidak bisa tidur, karena memikirkan gambar tadi,” jawab Lilia.
“Astaga.” Ludwig menggeleng pelan.
“Aku sudah ingat di mana melihatnya.”
“Di mana?” tanya Ludwig.
“Di tangan ayahku.”
__ADS_1