Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Manusia Seribu Wajah


__ADS_3

“Apa maksudmu?” Ludwig menyeringai sambil menarik kerah baju Niklas. Sorot tajam dan terlihat sangat buas, mengarah langsung kepada pria muda di hadapannya. Entah mengapa, Ludwig menjadi begitu marah, saat mendengar apa yang pria itu sampaikan.


“Tenanglah, Tuan.” Dietmar berusaha menarik lengan Ludwig, agar sang majikan melepaskan cengkramannya dari kerah baju Niklas.


“Lepaskan aku!” sergah Ludwig meski tidak terlalu nyaring. Dia harus menjaga intonasinya, agar tak mengundang perhatian orang yang mungkin saja tiba-tiba melintas di sana. Ludwig mengempaskan cengkramannya. “Katakan dengan detail!” suruh pria itu setelah beberapa saat kemudian.


Niklas merapikan bajunya sambil menenangkan diri dari rasa terkejut, karena Ludwig yang tiba-tiba bersikap seperti tadi. “Ya, Tuan. Seperti itulah yang kulihat di lapangan. Berita tentang kebakaran hebat yang melanda Peternakan Lienhart, menyebar dengan begitu cepat pada keesokan harinya. Aku langsung ke sana untuk memastikan, meski aku yakin bahwa Anda pasti bisa menyelamatkan diri. Namun, keadaan yang kulihat di sana sungguh mengerikan. Tak ada lagi yang tersisa. Polisi bahkan mengevakuasi banyak mayat yang terpanggang dan tak bisa dikenali lagi,” jelas pria berusia dua puluh lima tahun tersebut.


“Apa kau yakin bahwa semua yang ada di sana tewas?” Ludwig seakan belum percaya dengan apa yang dirinya dengar.


“Sesuai dengan berita yang kubaca di salah satu situs online lokal, kepolisian memastikan bahwa mereka tidak menemukan siapa pun yang masih hidup di sana,” jelas Niklas lagi.


Tiba-tiba, pikiran Ludwig menjadi kosong. Dia teringat akan mimpi yang terasa begitu aneh tentang Lilia. Pria itu menggeleng tak percaya, lalu menyugar kasar rambutnya.


Dilema muncul dalam hati Ludwig, antara meyakini bahwa Lilia ikut tewas dalam peristiwa penyerangan tersebut, atau tetap fokus pada misinya untuk mencari Radko Trava. “Sial!” Ludwig membalikkan badan sambil mendengkus kesal. Sikapnya membuat Niklas dan Dietmar hanya saling pandang tak mengerti.


Entah mengapa, Ludwig harus mencemaskan kondisi Lilia. Padahal, dia sengaja meninggalkan wanita muda itu dalam huru-hara yang tengah berlangsung di Peternakan Lienhart. “Oliver!” geram Ludwig seraya mengepalkan kedua tangan.


“Apa ada masalah, Tuan?” Dietmar memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


Ludwig tidak segera menjawab. Pria itu berusaha mengendalikan diri agar tidak membuat kedua anak buahnya kembali bertanya. Ludwig tak ingin mereka mengetahui bahwa dirinya telah menikahi putri sang pemilik peternakan, meski dengan identitas palsu.


“Tidak apa-apa,” jawab Ludwig beberapa saat kemudian. “Aku meninggalkan beberapa barang berhargaku di peternakan itu. Namun, saat ini aku tidak bisa ke mana-mana secara leluasa, karena diriku terikat perjanjian dengan Oliver Harald,” jelasnya. Dia kembali membalikkan badan sehingga menghadap kepada Dietmar dan Niklas. “Aku memiliki tugas penting untuk kalian,” ucap Ludwig lagi setelah berhasil menguasai perasaan aneh yang sempat membuatnya hilang kontrol.


“Tugas penting apa, Tuan?” tanya Dietmar penasaran.


Ludwig mengedarkan pandangan ke sekeliling. Setelah dirasa aman, dia maju beberapa langkah hingga dirinya semakin mendekat kepada Dietmar. Raut wajah pria tampan dengan warna rambut ash grey tersebut tampak sangat serius, sehingga Dietmar dan Niklas pun ikut memasang ekspresi yang sama.


“Kalian harus tahu bahwa kepulanganku ke Jerman tidak didapat dengan cuma-cuma. Aku melakukan perjanjian dengan Oliver Harald,” terang Ludwig dengan gaya bicaranya yang sangat khas, dingin dan tanpa basa-basi.


“Aku berjanji untuk membantunya menemukan atau bahkan menghabisi seseorang, yang selama ini menjadi ganjalan besar dalam hidup Oliver. Sebagai imbalan yang akan dia berikan adalah kebebasan mutlak untukku. Tak ada lagi predikat buron pada nama Ludwig Stegen,” seringai pria tampan itu kemudian.


“Radko Trava,” jawab Ludwig menyebutkan nama dengan lugas.


Dietmar dan Niklas saling pandang untuk beberapa saat. Setelah itu, mereka kembali mengalihkan perhatian kepada Ludwig. “Radko Trava?” ulang Dietmar seraya mengernyitkan kening. Namun, Ludwig tidak menanggapi. Dia hanya berdiri gagah dengan kedua tangan di dalam saku celana jeans yang dikenakannya.


“Kau tahu siapa dia, Nik?” tanya Dietmar seraya menoleh kepada rekannya yang berusia lebih muda.


Niklas terdiam beberapa saat, seakan tengah memikirkan sesuatu. Pria tampan berdarah Kroasia-Jerman tersebut kemudian mengangguk. “Aku pernah mendengar namanya. Dia merupakan ketua dari Night Crawler. Namun, hingga saat ini belum ada yang bisa memastikan apakah Radko Trava itu memang sosok nyata atau bukan,” terang Niklas menjelaskan.

__ADS_1


“Maksudmu?” tanya Ludwig dengan sorot tak mengerti.


Niklas mengangguk samar, sebelum menjelaskan lebih lanjut. “Sesuai yang kudengar, dia selalu menjadi sosok berbeda setiap kali melakukan pertemuan dengan orang-orang yang ingin bekerja sama dan memakai jasanya. Itulah yang membuat Radko Trava sulit dilacak. Ada pula yang menyebut pria itu sebagai Manusia Seribu Wajah, karena memang tidak ada yang mengetahui seperti apa rupa aslinya” jelas pria berusia dua puluh lima tahun tersebut.


Dietmar tampak berpikir keras sambil mendongak ke langit. Dia juga berkali-kali mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. “Ini pasti sangat sulit,” pikirnya.


“Aku tidak peduli dan tak ingin tahu bagaimanapun caranya. Kalian harus membantuku mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Radko Trava. Sekecil apapun itu, jangan sampai ada yang terlewat,” tegas Ludwig penuh penekanan. Dia kembali memperlihatkan seringai jahatnya.


“Ingatlah satu hal. Jika kebebasanku sudah dikembalikan secara mutlak, maka aku tak akan menunggu berlama-lama untuk membangun kembali organisasi yang telah lama dibekukan pemerintah. Kita akan menggenggam Jerman dan tentu saja seluruh Eropa untuk permulaan. Setelah itu ….” Ludwig menyunggingkan senyuman sinis. “Dunia.” Pria tampan bermata cokelat madu tersebut sangat percaya diri.


Dietmar dan Niklas tersenyum lebar. Mereka saling pandang dengan sorot penuh kebahagiaan. Tentu saja, mereka begitu loyal terhadap Ludwig. Semuanya menunggu kebangkitan organisasi, yang dipimpin oleh pria tiga puluh dua tahun tersebut.


“Kami sudah menunggu saat itu tiba, Tuan,” ucap Dietmar. “Jangan khawatir. Anda akan mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan tentang Radko Trava.” Dietmar mengangguk penuh keyakinan.


“Bagus. Untuk ke depannya, kita bisa berkomunikasi lewat telepon. Kau bisa mengirimkan segala informasi via pesan. Ah! Menyebalkan! Sialan!” Ludwig mengakhiri kata-katanya dengan umpatan kasar. Dia sudah tak nyaman karena merasa terbatasi.


“Jangan khawatir, Tuan. Kebebasan sudah di depan mata,” ujar Niklas, mencoba membuat Ludwig kembali tenang.


Setelah pertemuan tadi dirasa cukup, Ludwig memutuskan kembali ke tempat persembunyian. Masih dengan topi baseball yang sedikit menyamarkan paras tampannya, dia tiba di depan pintu masuk utama. Namun, Ludwig langsung tertegun, saat melihat Petra yang sudah menunggunya di sana.

__ADS_1


__ADS_2