Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Tertangkap Basah


__ADS_3

Ludwig tersenyum sinis penuh cibiran. Dia mencengkram erat kedua lengan Petra. Sorot mata pria berpostur 187 cm tersebut tampak sangat buas, mencerminkan seberapa bengis dirinya. “Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!” Ludwig berkata dengan penuh penekanan. “Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini!”


“Buronan?” Satu kata yang terlontar dari bibir Petra, bagaikan seribu anak panah menghujam jantung Ludwig. Pria itu tak suka dengan sebutan tadi.


“Katakan sekali lagi, maka akan kubungkam mulutmu untuk selamanya!” ujar Ludwig penuh ancaman.


“Lakukan,” tantang Petra. “Apa kau lupa bahwa hanya aku yang bisa membawamu kembali ke Jerman?” cibir gadis itu penuh percaya diri.


Ludwig kembali tersenyum sinis dan terkesan meremehkan ucapan gadis cantik bermata hijau itu. Pria asal Jerman tersebut menggeleng tak yakin. “Aku melihat sendiri seperti apa penolakan Oliver Harald terhadapmu. Dia lebih peduli dengan karier politik serta jabatannya. Oliver tak peduli meski dirinya harus kehilangan seorang putri pembangkang sepertimu,” cibir Ludwig. Dia membalikkan badan, bermaksud pergi dari tempat itu. Namun, baru satu langkah dirinya menjauh, Ludwig kembali menoleh saat mendengar ucapan Petra.


“Ayah bisa saja bersikap demikian, tapi tidak dengan ibuku. Selain kakek, ibu yang selalu memanjakanku. Sedangkan, ayah sebenarnya takluk pada ibuku.” Petra tersenyum penuh kemenangan, saat melihat Ludwig menautkan alisnya. Gadis itu berjalan semakin mendekat, lalu menyentuh bagian depan T-Shirt round neck yang Ludwig kenakan.


“Aku akan menghubungi ibu, lalu memintanya agar membujuk ayah. Kita lihat, seberapa besar kekuatan seorang wanita di hadapan pria paling kuat sekalipun," ucap gadis itu lagi penuh godaan. Dari bahasa tubuhnya, terlihat jelas seberapa nakal seorang Petra di hadapan Ludwig. Gadis itu tak terlihat canggung sama sekali.


Ludwig memandang lekat gadis berambut pirang di hadapannya. Dia benar-benar harus berhati-hati, dengan karakter licik yang mulai ditunjukkan Petra. Namun, tak ada salahnya untuk tetap memanfaatkan putri Oliver Harald tersebut.


Lagi pula, Ludwig merasa bahwa dirinya memiliki benteng kokoh, yang tak akan mungkin dapat diruntuhkan oleh wanita manapun. Saat ini, dirinya tengah fokus pada satu hal. Kembali ke Jerman dan menghidupkan kembali jaringan bisnisnya, harus segera diwujudkan.


Tersungging senyuman sinis di sudut bibir pria dengan warna rambut ash grey tadi. “Baiklah. Kita lihat seberapa besar kau bisa diandalkan.” Pria tampan bermata cokelat madu itu mendekat ke hadapan Petra. Dia memegang dagu gadis cantik tersebut, lalu mengangkatnya. “Akan tetapi, kau harus tetap ingat satu hal, Nona Harald,” seringai Ludwig. “Aku adalah bosnya di sini. Jadi, jangan pernah berani memutuskan sesuatu sesuka hatimu.”


Petra tersenyum licik. Raut cantiknya terlihat sangat berbeda. “Aku harus mendapat imbalan yang setimpal,” ujarnya seakan menantang Ludwig.


“Kau akan mendapatkan imbalanmu nanti,” balas Ludwig. Dia menarik tangan Petra agar mengikutinya kembali ke peternakan. Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah tiba di tempat itu. Ludwig langsung menyembunyikan Petra di lumbung.

__ADS_1


Sementara, Lilia masih setia menunggu sang suami kembali. Wanita muda itu duduk terjaga di tempat tidur sambil membaca. Lilia baru menutup buku tebal yang sejak tadi menemani dirinya, saat Ludwig masuk ke kamar. “Akhirnya kau pulang juga,” ucap putri tunggal sang pemilik peternakan tersebut.


“Ini sudah terlalu larut. Kenapa kau belum tidur?” Ludwig melepas jaket serta T-Shirt yang dikenakannya. Dia lalu naik ke tempat tidur, mendekati Lilia yang menatapnya penuh cinta sambil bersandar pada kepala ranjang.


“Kenapa belum tidur?” Ludwig mengulangi pertanyaannya tadi. Walaupun tak ada cinta di mata pria itu, tapi sikap yang ditunjukkannya jauh berbeda. Ludwig tak sekasar seperti terhadap Petra.


“Aku tidak bisa tidur jika kau belum kembali. Rasanya tidak tenang memikirkan apa yang kau lakukan di luar sana,” ucap Lilia lembut.


Ludwig terdiam seraya menatap lekat wanita cantik bermata abu-abu itu. Dia semakin mendekat, lalu memberikan satu ciuman mesra untuk si pemilik rambut cokelat tembaga tersebut. Ciuman yang sepertinya akan berlanjut, pada aktivitas panas yang kerap mereka lakoni hampir setiap malam.


Beberapa saat berlalu, kedua sejoli tadi sudah berbaring bersama dalam satu selimut. Lilia selalu terlihat nyaman, saat berada dalam dekapan Ludwig yang tak pernah dia ketahui identitas aslinya. “Apa kau tidak ingin jika aku hamil dalam waktu dekat?” tanya Lilia polos, mengingat Ludwig selalu melakukan pelepasan di luar. Hal itu membuat Lilia merasa heran.


“Kita baru menikah. Nikmati saja dulu saat-saat seperti ini,” jawab Ludwig beralasan.


“Baiklah. Terserah kau saja. Aku akan menuruti apapun yang kau katakan,” balas Lilia seraya memejamkan mata, sambil terus memeluk tubuh tegap Ludwig yang juga mendekapnya.


Lilia yang sudah terpejam, kembali membuka mata. Dia sedikit mendongak, lalu tersenyum manis. Bahasa tubuh wanita dua puluh tiga tahun itu teramat lembut dan hangat. “Tentu saja tidak. Tak semua orang mengatakan hal sesungguhnya,” jawab putri semata wayang Gunther tersebut.


“Kau pikir apa yang kukatakan adalah kebenaran?”


“Kau adalah suamiku. Aku harus menumbuhkan rasa yakin dalam diri, bahwa semua yang kau katakan padaku merupakan kejujuranmu. Walaupun, sebenarnya aku bukan seseorang yang pintar menilai orang lain.” Lilia tersenyum samar. Sorot matanya menyiratkan rasa lelah. Dia mungkin sudah sangat mengantuk.


“Tidurlah,” ucap Ludwig. Dia tak menanggapi lagi ucapan Lilia.

__ADS_1


“Kau juga sebaiknya segera tidur, tapi tetaplah sambil memelukku,” pinta Lilia seraya memejamkan mata. Tak berselang lama, wanita muda itu akhirnya terlelap.


......................


Cahaya mentari pagi merambat masuk melalui celah tirai kamar yang sedikit terbuka. Tak biasanya Ludwig bangun kesiangan. Dia bahkan tak mendapati Lilia di sebelahnya.


Ludwig bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah menghabiskan beberapa saat di sana, pria tampan itu muncul dari dalam kamar mandi dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar. Ludwig lalu berpakaian lengkap. Dia keluar untuk menuju dapur. Di sana, dirinya melihat Lilia tengah menyiapkan makanan.


“Hai, selamat pagi,” sapa Lilia hangat.


“Kenapa kau tidak membangunkanku?” Ludwig tak membalas sapaan wanita muda itu. Dia langsung mengambil wadah stainless, bermaksud hendak mengisinya dengan makanan.


Namun, dengan segera Lilia mencegah. Wanita cantik bermata abu-abu tersebut mengambil kembali wadah yang sudah dipegang oleh Ludwig. “Sarapanlah denganku,” ucapnya sambil mengarahkan Ludwig ke meja makan kecil, tempat para pelayan bersantap ria.


“Aku … tidak bisa,” jawab Ludwig ragu. “Ada pekerjaan yang belum selesai. Aku harus cepat-cepat ….”


“Pekerjaanmu yang belum selesai sudah menunggu di ruang kerjaku,” sela Gunther yang tiba-tiba telah berdiri di belakang Ludwig.


“Ayah? Tumben sepagi ini kau sudah berada di dapur,” sapa Lilia dengan bahasa tubuhnya yang selalu terlihat lembut dan hangat. “Mari, kita sarapan bersama-sama,” ajaknya.


“Nanti saja, Nak. Aku ada urusan penting dengan suamimu. Kuharap dia tak keberatan meletakkan kotak makan itu dan ikut bersamaku ke ruang kerja." Gunther mengalihkan tatapannya pada sang menantu, yang seakan sudah mengendus hal janggal di balik sikap pemilik peternakan tersebut.


Ludwig tak segera menanggapi. Dia memperhatikan Gunther begitu lekat. Pria itu mencoba menerka, apa yang tengah sang ayah mertua rencanakan. Ludwig kemudian menoleh pada Lilia. Dia tersenyum samar. “Sisakan makanannya untukku,” pesan pria tampan itu.

__ADS_1


Ludwig memilih mengikuti langkah cepat Gunther menuju ruang kerja. "Pekerjaan apa yang Anda maksud?” tanyanya datar pada sang ayah mertua, yang tengah membuka pintu ruang kerja lebar-lebar.


Saat itulah, Ludwig dapat melihat dengan jelas pemandangan di dalam sana. Dia begitu terkejut, saat mendapati sosok wanita cantik yang tak lain adalah Petra. Wanita muda itu berdiri di tengah ruangan, dengan diapit oleh kedua anak buah Gunther. “Kenapa dia di sini?” desisnya.


__ADS_2