
Setelah merapikan semua seperti semula, Lilia bergegas keluar dari ruang kerja. Kebetulan sekali karena Gunther langsung pergi. Padahal, biasanya dia tak pernah meninggalkan ruangan tanpa menguncinya.
“Semoga ini kunci yang benar,” ucap Lilia sambil mengantongi benda itu ke dalam saku dress yang dikenakannya. Dia berjalan cepat menuju dapur. Sesuai yang sudah dijanjikan tadi, Lilia harus membuat kue untuk sang ayah dan tamunya, jika mereka pulang dari peternakan.
Siang berlalu tanpa terasa. Ludwig kembali ke rumah sedikit lebih lambat dari Gunther. Ada beberapa pekerjaan yang dirinya lakukan di peternakan, termasuk mengawasi lumbung dari kejauhan. Namun, tempat itu masih dijaga oleh dua pria suruhan Gunther. Alhasil, Ludwig tak bisa keluar masuk dengan leluasa lagi.
“Apakah ini kunci yang tepat?” Lilia menyodorkan benda temuannya tadi, kepada Ludwig yang sudah selesai berpakaian.
“Kau berhasil mendapatkannya?” Ludwig menoleh, lalu menaikkan sebelah alis. Dia tersenyum kecil seraya menyentuh pipi sang istri. “Akan kita coba malam ini,” ucapnya kemudian sembari menerima kunci yang Lilia sodorkan.
“Aku mencari benda itu dengan susah payah dan hampir putus asa. Ayah menyimpannya di dalam kotak khusus yang tertanam dalam lantai,” terang Lilia. Wanita muda itu berpikir sejenak. “Jika ini benar-benar kunci pondok, kenapa ayah harus menyimpannya dengan begitu tersembunyi? Seakan-akan, tak boleh ada seorang pun yang menemukannya.”
“Kita akan mengetahui jawabannya malam ini. Bersiaplah.” Ludwig memegangi dagu Lilia, lalu sedikit mengangkatnya. Dia mencium mesra wanita cantik tersebut, meski bukan merupakan ciuman panas.
“Kalau begitu, mari kita makan malam terlebih dulu,” ajak Lilia. Dia meraih pergelangan tangan sang suami, lalu menuntunnya keluar kamar. Sebelum masuk ke ruang makan, sepasang suami istri tadi berpapasan dengan Gunther yang juga akan menuju ke sana.
“Selamat malam, Ayah,” sapa Lilia lembut.
“Selamat malam, Nak,” balas Gunther. “Apa kau menyuruh pelayan untuk membersihkan ruang kerjaku?” tanyanya seraya duduk di salah satu kursi, yang selalu menjadi tempatnya selaku kepala keluarga.
“Memangnya kenapa, Ayah?” tanya Lilia. Raut wajah wanita itu berubah tegang. Ekor mata wanita Lilia berkali-kali mengarah kepada Ludwig.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa ada sesuatu yang aneh. Mungkin, pelayan tidak meletakkan barang yang telah dibersihkan pada tempat semula,” pikir Gunther. “Ah, sudahlah.” Pria paruh baya itu menggeleng pelan. Terlebih, karena Ludwig segera mengalihkan perbincangan pada topik lain. Tak biasanya pria itu mendahului berbasa-basi.
__ADS_1
Seusai makan malam, Ludwig dan Lilia kembali ke kamar. Mereka menunggu hingga malam cukup larut, barulah keduanya keluar rumah menuju peternakan. Ludwig mengisyaratkan agar Lilia berjalan dengan hati-hati dan selalu waspada, karena ada beberapa petugas yang berkeliling peternakan untuk memastikan keamanan.
Ludwig menuntun Lilia melewati jalur dekat kandang sapi berukuran besar, sebelum mereka tiba di pondok kayu yang dituju. Suasana di sana jauh lebih gelap, jika dibandingkan dengan bagian peternakan. Di area pondok itu, hanya ada satu lampu yang digantung di bagian depan.
“Apa kau tahu kenapa ayah menempatkan dua penjaga di lumbung?” tanya Lilia setengah berbisik.
“Entahlah. Hanya ayahmu yang tahu,” jawab Ludwig. Dia berusaha menghindari pembahasan tentang lumbung. Pria itu mengarahkan Lilia agar segera naik ke teras pondok, yang dibuat beberapa senti lebih tinggi dari tanah.
“Cepat masukkan kuncinya, Heinz,” suruh Lilia tak sabar, saat Ludwig baru mengeluarkan kunci yang didapat dari ruang kerja Gunther ke dalam gembok.
“Tenanglah.” Ludwig memutar perlahan kunci tadi, hingga gembok itu terbuka. “Berhasil.” Pria itu menoleh kepada Lilia dengan tatapan penuh arti. Dia meraih tangan wanita muda tersebut. Ludwig menuntunnya masuk dengan waspada.
Setelah pintu ditutup rapat, suasana di dalam menjadi semakin gelap. Lilia merapatkan tubuhnya kepada Ludwig. Dia merasa takut.
“Seingatku tidak. Kami hanya ke sini saat siang. Ayah tidak pernah mengajakku kemari pada malam hari,” sahut Lilia sambil terus menempel di lengan Ludwig, ketika menyusuri ruangan luas dalam pondok itu.
Ludwig mengarahkan senter yang dipegangnya ke segala arah, hingga dirinya menangkap satu pintu yang juga dipasangi gembok. “Ruangan apa itu?” tanya Ludwig sambil berjalan ke sana.
“Seingatku, itu adalah kamar. Ayah memang sengaja membuatnya, karena dia biasa beristirahat saat siang di sini,” jawab Lilia. “Pintunya digembok. Aku hanya menemukan satu kunci dalam kotak di ruang kerja ayah.”
“Jangan khawatir. Sepertinya, aku memiliki kunci untuk membuka gembok ini,” ucap Ludwig. Dia mengeluarkan kunci yang didapatnya kemarin malam. Ludwig mulai membuka gembok itu. “Ini terlalu mudah,” gumamnya sambil membuka pintu ruangan tadi.
Di dalam kamar dengan ukuran tidak terlalu luas itu, suasana sama gelap dengan ruangan lain. Di sana, terdapat satu buah lemari kayu tanpa kaca. Entah untuk apa fungsi lemari tersebut.
__ADS_1
“Apa isi lemari kayu itu?” tanya Ludwig seperti pada dirinya.
“Aku tidak tahu jika di sini ada lemari. Kenapa tidak kau periksa?” Lilia beringsut ke belakang tubuh tegap Ludwig, ketika sang suami berjalan mendekat ke arah lemari kayu tadi.
“Semoga tidak dikunci,” ucap Ludwig pelan. Dia meraih gagang lemari, lalu menariknya hati-hati. Seketika, bau apek menguar dari dalam sana. Begitu juga dengan debu yang bertebangan. Ludwig dan Lilia sampai harus mengibaskan-ngibaskan tangan di depan wajah mereka.
Di dalam lemari itu tak ada pakaian sama sekali. Di sana, hanya ada tumpukan buku usang dan kertas rusak karena termakan usia. Semuanya dibiarkan berantakan, saling bertumpuk tidak beraturan.
Ludwig mengambil satu buku, lalu membukanya. Namun, dia tak tertarik untuk memeriksa buku tadi lebih lama lagi. Ludwig menyimpan lagi buku itu ke tempatnya. Dia lalu beralih ke buku lain, hingga akhirnya pria tersebut menemukan album foto berukuran kecil. Di sana, berisi foto-foto masa kecil Lilia.
“Astaga, itu aku.” Lilia tertawa pelan.
“Rupanya, kau sudah cantik sejak kecil,” sanjung Ludwig tanpa sadar. Sesaat kemudian, pria itu seakan ingin menarik kembali kata-katanya.
“Terima kasih,” balas Lilia. Andai saat itu mereka berada di tempat terang, maka Ludwig pasti bisa melihat wajah istrinya yang merona.
Ludwig terus membuka lembar demi lembar album foto tadi, hingga dirinya tiba di bagian paling akhir. Saat itu, pria tampan tersebut langsung memicingkan mata. Dalam selembar foto, dia melihat ada dua anak laki-laki kembar identik yang tengah berpose bersama. “Siapa ini?” tanyanya penasaran.
“Itu ayahku bersama saudara kembarnya yang bernama Dominik. Dia pernah bercerita bahwa dirinya memang terlahir kembar. Namun, kakek dan nenekku berpisah, sehingga mereka juga ikut terpisah. Aku tidak tahu cerita lengkapnya seperti apa. Hanya itu yang bisa kuingat,” terang Lilia. “Coba kau cari yang lain lagi. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik.’
“Sebentar.” Ludwig meletakkan kembali album foto yang dipegangnya ke tempat semula. Dia lalu mengarahkan senter pada undakan kedua lemari tadi. Di sana juga hanya ada tumpukan kertas tak beraturan, yang sebagian besar sudah rusak dimakan rayap.
Merasa tak ada yang menarik, Ludwig mengalihkan cahaya senter ke bagian paling bawah. Seketika, dia dan Lilia terkejut, mendapati kerangka manusia di sana.
__ADS_1