Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Manfred langsung menoleh kepada sahabatnya tadi. Dia menatap heran, pada pria dengan perawakan tinggi besar itu. “Apa maksudmu, Ehren?” tanyanya tak mengerti. “Dia adalah Heinz Lainer. Menantu dari sahabatku, mendiang Gunther Lienhart.”


Pria bernama Ehren tadi tidak segera menjawab. Dia terus memperhatikan Ludwig, yang berani membalas tatapan penuh selidik sahabat Manfred tersebut. “Tidak. Kau salah, Manfred. Pria ini bernama Ludwig Stegen. Dia adalah buronan paling dicari oleh Agen Federal Jerman. Mereka telah menyebar foto pria ini ke negara sekitar Jerman, juga seluruh kantor polisi Austria. Hal itu sudah dilakukan sejak dua tahun lalu. Bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini?” Ehren menggeleng tak mengerti, atas kelalaiannya.


“Mungkin Anda salah orang, Tuan,” bantah Lilia. Dia tetap menutupi identitas Ludwig, meski telah mengetahui siapa pria yang telah dirinya nikahi beberapa waktu silam. “Lagi pula, memangnya Anda siapa sehingga berani menyebut suamiku sebagai seorang buronan.” Lilia yang biasa terlihat lugu dan pemalu, kali ini terlihat berbeda di mata Manfred.


“Lilia?” Manfred menaikkan alisnya, sebagai pertanda teguran halus bagi wanita itu. “Dia adalah Ehren Jarvas, kepala polisi di wilayah ini,” terang sang dokter hewan tersebut.


Setelah mendengar jawaban dari Manfred, seketika Lilia terdiam. Putri tunggal Gunther Lienhart tersebut mengalihkan pandangan kepada Ludwig. Ada raut tak nyaman dalam sorot matanya yang teduh. Lagi-lagi, Lilia terlihat resah.


Melihat gelagat yang dirasa tak biasa dari Lilia, membuat Ludwig yang sejak tadi hanya diam harus melakukan sesuatu. Pria tampan berambut cokelat tembaga itu menggerakkan tangannya ke arah Lilia. “Kemarilah,” ucapnya pelan.


“Aku tidak suka dengan apa yang dia katakan.” Lilia mendekat kepada Ludwig. “Bisakah tinggalkan kami berdua, Paman?” Lilia menoleh sekilas kepada Manfred, sebelum kembali mengarahkan perhatian pada Ludwig.


Manfred mengangguk setuju. Lagi pula, dia memang akan keluar bersama Ehren, sahabatnya yang merupakan seorang kepala polisi. Manfred juga ingin menuntaskan rasa penasaran, atas kebenaran dari apa yang Ehren katakan tadi.


Setelah menutup pintu ruang perawatan Ludwig, Manfred langsung mengajak Ehren menjauh dari sana. Belum juga mereka beranjak dari area rumah sakit, pria paruh baya tersebut sudah langsung memberondong sahabatnya dengan sejuta rasa penasaran yang ingin segera dituntaskan. “Cepat berikan aku penjelasan tentang yang kau katakan tadi. Bagaimana bisa kau menyebut Heinz sebagai buronan Agen Federal Jerman?”


“Astaga, haruskah kita membahasnya di tempat ini?” Ehren menggeleng sambil berdecak pelan. “Jika kau tidak percaya, aku bisa mengajakmu ke kantorku. Namun, tidak hari ini.”


Manfred mengembuskan napas dalam-dalam. Pria paruh baya tersebut berdiri sambil berkacak pinggang. “Kalau begitu, sebaiknya katakan sekarang juga di sini,” pinta Manfred setengah mendesak.


Ehren tidak segera menanggapi. Sang kepala polisi tersebut malah mengeluarkan ponsel. Dia menghubungi ajudan kepercayaannya, lalu memerintahkan beberapa petugas polisi agar datang ke sana.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Manfred tak mengerti. Dia menatap lekat sahabatnya


Ehren membalas tatapan yang dilayangkan Manfred padanya. “Aku harus berjaga-jaga agar pria itu tidak melarikan diri,” jawabnya tenang.


“Ya, Tuhan. Heinz baru sadar setelah mendapatkan tindakan medis yang ….”


“Namanya adalah Ludwig Stegen!” tegas Ehren. “Ludwig Stegen merupakan pria yang sangat berbahaya. Apa kau tahu berapa banyak bisnis ilegal yang dijalankannya di Jerman? Bisnis yang sangat mengerikan.” Nada bicara kepala polisi itu penuh penekanan, meskipun sambil berbisik.

__ADS_1


“Contohnya apa?” tanya Manfred semakin penasaran.


Sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, Ehren lebih dulu mengajak pria dengan kemeja kotak-kotak itu ke tempat yang lebih sepi. Mereka melanjutkan perbincangan di area parkir, dekat mobil milik Manfred.


“Ludwig Stegen memiliki banyak bidang usaha saat dirinya berada di Jerman. Bisnis yang tercatat legal ada beberapa macam dan tersebar di negara-negara sekitar Jerman. Property, kasino, tempat hiburan malam. Luar biasa.” Ehren berdecak kagum. Sementara, Manfred mendengarkan sambil sesekali menautkan alis.


“Namun, nyatanya semua itu tidak membuat Tuan Stegen merasa puas. Dia juga menjalankan bisnis haram. Narkoba, penjualan senjata ilegal, perdagangan wanita, dan satu lagi yang membuatku merinding.” Ehren meringis kecil.


“Apa?” tanya Manfred terlihat semakin serius menyimak perbincangan itu.


Ehren melihat ke sekeliling terlebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. Dia semakin mendekat kepada Manfred, lalu berbicara dengan setengah berbisik. “Dia menjalankan bisnis perdagangan organ dalam manusia.”


Seketika, Manfred membelalakan kedua matanya. Dia menatap tajam kepada Ehren. Raut terkejut itu perlahan berubah menjadi ekspresi cemas luar biasa, saat dirinya teringat pada Lilia. “Keponakanku,” desisnya pelan.


“Jangan khawatir. Beberapa anggota polisi berpakaian preman, sudah berjaga di depan kamar perawatan Ludwig Stegen. Aku harus memastikan agar pria itu tidak melarikan diri ke manapun,” ucap Ehren menenangkan sahabatnya. “Aku rasa, dia tidak akan berani menyakiti keponakanmu,” ujarnya lagi.


Manfred tidak menanggapi. Dia teringat akan ucapan Gunther alias Dominik, yang mencurigai bahwa menantunya bukanlah pria biasa. Dugaan pemilik Peternakan Lienhart itu ternyata tidak keliru.


Jika memang pria yang menikahi Lilia bernama Ludwig Stegen, itu berarti pernikahan yang telah dilangsungkan tidak sah. “Aku harus membawa serta menjauhkan Lilia dari pria berbahaya seperti dia,” pikir Manfred setengah bergumam.


Sementara itu, di dalam kamar perawatan. Lilia masih terlihat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir sambil sesekali menggigit kuku. Helaan napas berat penuh keluhan pun berkali-kali meluncur dari bibirnya. Lilia begitu cemas dengan situasi yang mungkin akan kembali memburuk, setelah identitas Ludwig terbongkar. Entah apa yang akan terjadi pada pria itu. Terlebih, saat ini Ludwig masih dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan banyak gerak.


“Kita harus bagaimana, Ludwig?” tanya Lilia cemas. Dia kembali mendekat ke ranjang, lalu duduk setengah menyamping. Wanita cantik berambut merah tersebut meraih serta menggenggam erat tangan Ludwig. Menunjukkan seberapa besar perhatian, serta kekhawatirannya kepada pria tampan tersebut.


“Tenanglah, Lilia,” ucap Ludwig pelan. “Oliver akan membantuku dalam hal ini.”


“Bagaimana pria itu akan membantumu? Sementara, dia sendiri tidak tahu bahwa kau sedang dirawat di sini,” bantah Lilia yang tak jua melepaskan raut cemas dari paras cantiknya.


“Dia akan segera mengetahuinya,” balas Ludwig dengan tatapan menerawang ke langit-langit ruangan. “Oliver pasti akan melakukan sesuatu, sesuai dengan yang telah dijanjikannya.”


“Kau belum berhasil menemukan Radko Trava,” bantah Lilia.

__ADS_1


Ludwig tidak sempat menjawab, karena saat itu pintu ruang perawatannya lebih dulu diketuk seseorang dari luar. Dia menoleh kepada Lilia, sebagai isyarat agar wanita berambut merah tersebut segera memeriksanya. Namun, Lilia segera menggeleng. Dia menolak untuk membuka pintu.


“Tidak apa-apa,” ucap Ludwig pelan.


“Aku tidak mau. Aku tak akan membiarkan siapa pun masuk kemari, selain perawat,” tegas Lilia.


“Buka saja,” suruh Ludwig. Tak terlihat sama sekali ekspresi cemas di paras tampan pria tersebut. Dia kembali memberi isyarat kepada Lilia, agar wanita itu segera membuka pintu.


Mau tak mau, akhirnya Lilia menurut. Dia beranjak ke dekat pintu, lalu membukanya perlahan. Tampaklah sosok Ehren di sana. Sang kepala polisi tersebut mengangguk sopan kepada Lilia. “Untuk apa lagi Anda kemari?” tanya Lilia ketus.


“Aku ingin bicara sebentar dengan Ludwig Stegen,” jawab Ehren. “Tolong, Nyonya. Bekerjasamalah.”


“Aku tidak suka jika ada yang menyebut suamiku sebagai seorang buronan!” Nada bicara Lilia terdengar semakin ketus.


“Nak ….” Manfred menggeleng pelan. “Biarkan Tuan Jarvas melakukan tugasnya.”


Lilia tetap tak menerima kehadiran Ehren di sana. Sorot mata wanita cantik tersebut, menyiratkan rasa keberatan yang teramat besar. Namun, Lilia tak ingin membuat keributan di sana. Dengan sangat terpaksa, wanita itu mengizinkan Ehren dan Manfred masuk.


“Ludwig Stegen. Apakah kau sudah bisa berkomunikasi dengan baik?” tanya Ehren. “Minimal kau bisa mendengar semua yang akan kusampaikan,” ucapnya lagi.


“Bicaralah,” balas Ludwig datar.


Ehren mendehem pelan, sebelum memulai apa yang hendak dia sampaikan. “Aku sudah menghubungi pihak pemerintah Jerman, untuk mengabarkan keberadaanmu di sini. Mereka akan segera menjemput kemari, lalu memindahkan perawatanmu ke sana. Sebagai tindakan antisipasi sebelum kau dipindahkan, aku sudah menempatkan beberapa penjaga di luar kamar ini,” jelas pria berpostur tinggi besar tersebut penuh wibawa.


“Anda tidak bisa berbuat seenaknya, Tuan Jarvas!” protes Lilia keras. Dia terus saja memperlihatkan sikap tak setuju, dengan apa yang Ehren lakukan terhadap Ludwig.


“Maafkan aku, Nyonya. Pihak kami sudah mendapat red notice dari interpol Jerman. Jadi, kami harus melakukan mandat yang sudah diberikan. Suami Anda adalah buronan paling dicari. Ternyata, dia ada di wilayah ini,” jelas Ehren.


“Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawa suamiku!” tolak Lilia tegas.


“Tolonglah, Nyonya. Suami Anda sudah menjadi buronan selama bertahun-tahun. Dia harus menjalani konsekuensi atas segala kejahatan yang telah dilakukannya. Namun, tentu saja aku tidak memiliki wewenang untuk memberikan penghakiman padanya. Karena itu, menyerahkan Tuan Stegen kepada pihak Jerman secepatnya, merupakan jalan yang paling tepat. Aku tidak ingin mengambil risiko.” Sebagai petugas keamanan, Ehren tetap harus melakukan tanggung jawabnya. Dia tak akan pernah berkompromi untuk masalah keamanan.

__ADS_1


Lilia menoleh kepada Ludwig dengan sorot tak dapat diartikan. “Jika mereka membawamu ke Jerman, maka aku akan ikut,” tegasnya.


“Tidak boleh! Lagi pula, pernikahanmu dengan pria ini tidak sah!” tolak Manfred tak kalah tegas.


__ADS_2