Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Menemukan Cinta


__ADS_3

Pesawat jet pribadi yang membawa Ludwig terbang ke Austria, telah mendarat mulus di Bandara Innsbruck. Setelah dari sana, Ludwig yang saat itu ditemani Dietmar dan Niklas, menaiki mobil yang sudah disiapkan oleh Niklas sebelum mereka berangkat ke sana.


Niklas, pernah tinggal di Austria selama mengikuti Ludwig dalam pelariannya. Dia memiliki beberapa kenalan di sana. Hal itu, ternyata sangat membantu salah satu anak buah kepercayaan Ludwig tersebut. 


Sekitar empat puluh empat menit, waktu yang ditempuh dari Bandara Innsbruck agar bisa tiba di Tirol. Niklas juga sudah mencari tahu keberadaan Lilia, yang tinggal bersama Manfred. Sehingga, mereka langsung menuju ke sana. 


Selama dalam perjalanan, Ludwig tak banyak bicara. Dia hanya menopang dagu sambil melihat ke luar, pada jalanan yang mereka lalui. Sejujurnya, pria tampan berambut cokelat tembaga tersebut sedang merasakan kegelisahan yang luar biasa. Entah mengapa, dia menjadi gugup saat membayangkan akan kembali bertemu dengan Lilia, setelah beberapa bulan berlalu. 


Mobil SUV hitam yang ditumpangi Ludwig beserta kedua anak buahnya, memasuki jalanan aspal yang hanya bisa dilalui satu kendaraan. Mobil tadi terus melaju, hingga berhenti beberapa meter dari sebuah rumah bercat putih dengan latar pegunungan indah. Tak sabar menunggu dibukakan pintu terlebih dulu, Ludwig langsung keluar. Dia merapikan lengan kemeja yang dilipat rapi, sambil berdiri dan mengedarkan pandangan tanpa melepas kacamata hitam yang dikenakannya. 


Perhatian Ludwig langsung terkunci pada sosok berambut cokelat tembaga, yang tengah berusaha mengaitkan tali pot gantung. Pria dengan kemeja putih tersebut, melangkah gagah ke dekat si wanita. Posisi wanita yang membelakangi Ludwig, membuatnya tak menyadari kehadiran orang lain di sana. 


“Biar kubantu,” ucap Ludwig seraya meraih tali pot. Dengan sangat mudah, dia menggantungkannya di paku. Ludwig berdiri gagah, di belakang wanita yang diam mematung. “Apakah kau wanita yang sedang kucari, Nona?” tanya Ludwig. 


Seketika, wanita yang tak lain merupakan Lilia segera membalikkan badan. Tanpa menjawab pertanyaan yang Ludwig ajukan, Lilia langsung menghambur ke pelukan pria berkemeja putih tersebut. “Aku sangat merindukanmu,” ucap Lilia lirih. Kedua tangannya melingkar erat di leher Ludwig. Lilia tak peduli, meskipun dirinya harus berjinjit dalam waktu cukup lama. “Ya, Tuhan. Aku tidak percaya ini,” ucap wanita yang kini sudah berusia dua puluh empat tahun. 


“Aku juga sangat merindukanmu,” balas Ludwig. Dia memeluk erat tubuh ramping Lilia, seakan tak ingin melepaskan wanita itu untuk kesekian kalinya. 


“Kau wangi sekali, Ludwig.” Lilia tertawa pelan, meski sambil menitikkan air mata. 


“Kau selalu terlihat cantik, Sayang.” Ludwig mengurai pelukan. Dia memandang wajah polos Lilia. Pria itu membelai lembut pipi putih kemerahan, wanita yang selama ini teramat dirinya rindukan. Tanpa menghiraukan Dietmar dan Niklas yang sejak tadi menonton adegan tak biasa dari bos mereka, Ludwig mencium mesra Lilia hingga beberapa saat. 


“Oh ….” Niklas melipat kedua tangan, sambil bersandar pada body samping mobil. Begitu juga dengan Dietmar. 

__ADS_1


“Apa menurutmu Tuan Ludwig sudah banyak berubah?” tanya Dietmar seraya melirik sekilas kepada Niklas. 


“Monster buas yang sudah menemukan cinta. Dia berubah menjadi manusia normal lagi. Kau tahu dongeng itu, Kawan?” Niklas menyenggol lengan Dietmar. 


“Astaga. Apa-apaan itu?” Dietmar menggeleng tak percaya. 


Sementara, Ludwig dan Lilia sudah berhenti berciuman. Namun, mereka masih berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. 


“Aku akan membawamu ke Jerman. Ada sesuatu yang harus kita lakukan di sana,” ucap Ludwig. 


“Apa itu?” tanya Lilia penasaran. 


“Nanti juga kau akan tahu,” jawab Ludwig. Seulas senyuman hadir di paras tampannya. “Di mana Tuan Manfred?” tanya Ludwig kemudian. 


Belum sempat Lilia melanjutkan kata-katanya, terdengar suara seorang pria yang tak lain adalah Manfred. Dia baru kembali dari suatu tempat. Pria itu menjinjing tas berisi peralatan medis di tangan kanan. “Ada tamu rupanya,” ucap pria tersebut. Dia datang dari arah lain, sehingga tak melewati Dietmar dan Niklas. 


Ludwig dan Lilia serempak menoleh. Ludwig melepas kacamata hitam yang masih dirinya kenakan, saat berhadapan langsung dengan Manfred. “Apa kabar, Tuan?” sapa Ludwig berusaha terlihat ramah. Namun, Ludwig adalah Ludwig. Dia tak bisa terlihat manis, selain terhadap Lilia. 


“Ludwig Stegen?” Manfred memicingkan matanya. 


“Ya. Ini aku,” balas Ludwig penuh percaya diri. “Pemerintah telah mencabut status buron yang mereka sematkan pada namaku. Sekarang, aku adalah pria yang bebas. Aku sengaja datang kemari untuk menjemput Lilia,” terang pria itu yakin. 


Manfred tidak segera menanggapi. Dia mengarahkan perhatian kepada Lilia yang tampak semringah. Manfred tak pernah melihat wanita muda itu sebahagia seperti saat ini, dalam beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


Sebagai seseorang yang sangat menyayangi Lilia, dokter hewan tersebut tak bisa menolak keinginan Ludwig. Manfred melangkah ke hadapan putri sahabatnya tersebut. Dia menangkup wajah cantik Lilia. “Kau ingin ikut dengannya?” tanya pria paruh baya itu lembut. 


“Iya, Paman. Semoga saja kali ini kau mengizinkanku,” jawab Lilia penuh harap. 


Manfred tersenyum lembut. “Aku pasti akan sangat kesepian,” balas pria itu. Dia memeluk Lilia, seperti seorang ayah terhadap putrinya. “Aku hanya ingin kau bahagia, Nak. Dengan begitu, aku tidak akan merasa bersalah terhadap mendiang ayahmu.” Manfred mengecup lembut kening Lilia.


“Terima kasih, Paman.” Lilia memeluk erat pria yang telah menjadi ayah ketiga baginya. Selama ini, Manfred sudah bersikap sangat baik. Namun, kebahagiaan Lilia adalah di dekat Ludwig. 


Senyuman manis terus terkembang di paras cantik Lilia, saat dirinya sudah berada di dalam pesawat jet pribadi milik Ludwig. Dia begitu takjub, dengan interior dan segala hal yang ada pada alat transportasi udara tersebut. Ini merupakan pengalaman pertama baginya, pergi ke Jerman menggunakan jet pribadi. 


“Pemerintah mengembalikan semua aset milikku. Termasuk pesawat ini,” ucap Ludwig, saat melihat raut wajah Lilia. 


“Aku senang sekali mendengarnya,” ucap Lilia lembut. “Memiliki pesawat atau tidak, bagiku tak ada bedanya. Aku tetap mencintaimu.” Lilia tersenyum seraya menyentuh pipi Ludwig, lalu membelainya penuh perasaan. 


Ludwig mengembuskan napas dalam-dalam. Pria itu memejamkan mata, demi meresapi sentuhan penuh cinta yang Lilia berikan. Ludwig bukan pria melankolis, apalagi romantis. Namun, hatinya akan langsung jatuh dan tak berkutik, ketika dihadapkan pada kelembutan seorang wanita seperti Lilia. Hal itu menandakan bahwa masih ada rasa kasih, dalam diri pria tampan tersebut. 


“Kita akan melewati penerbangan cepat kali ini. Aku tidak sabar untuk segera tiba di Berlin,” bisik Ludwig. Dia menggenggam erat tangan Lilia, lalu menciumnya dalam-dalam. 


Tak berselang lama, pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat dengan mulus di salah satu bandara yang ada di Kota Berlin. Mereka lalu melanjutkan perjalanan, menggunakan kendaraan menuju apartemen mewah milik Ludwig. Apartemen yang baru beberapa hari ditempati lagi, setelah sekian lama ditinggalkan. 


Lilia kembali dibuat kagum dengan keindahan, serta betapa mewahnya tempat tinggal Ludwig. Wanita cantik tersebut berdiri di dekat jendela kaca, lalu memandang ke luar. Dari sana, dia seolah dapat melihat seluruh wilayah Kota Berlin. “Indah sekali,” gumam Lilia diiringi sorot penuh kekaguman. 


“Selamat datang di Berlin, Ratuku. Ini akan menjadi rumahmu,” bisik Ludwig sambil memeluk Lilia dari belakang. Hasratnya sudah tak terbendung lagi. Ludwig tak ingin menunggu lama. Dia langsung membopong tubuh Lilia menuju kamarnya. 

__ADS_1


__ADS_2