Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Ludwig Stegen


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Lilia. Dia berjalan mendekat kepada Ludwig yang berkali-kali mengembuskan napas berat. Sebelum menjawab pertanyaan Lilia, Ludwig lebih dulu melihat arloji kasual yang melingkar di pergelangan kiri. Saat itu, sudah lewat tengah hari. Masih ada beberapa jam untuk bersiap-siap.


“Kita akan pergi malam ini ke Austria,” jawab Ludwig. “Masih ada waktu untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.” Ludwig beranjak ke dekat lemari. Dia mengeluarkan tas jinjing berukuran tidak terlalu besar. Di dalam tas itu terdapat barang-barang pribadi miliknya, termasuk senjata api otomatis yang berisi peluru tinggal beberapa butir lagi.


“Aku membutuhkan pakaian. Bisakah kau mengantarku ke apartemen?” Lilia terlihat tak nyaman dengan baju yang dikenakannya. Terlebih, karena dia tak memakai celana.


Ludwig menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menoleh kepada Lilia. “Kita akan ke sana nanti,” ucapnya. Ludwig meletakkan tas yang sudah siap. Dia menghampiri Lilia. “Apa kau akan tetap di dekatku?” tanyanya.


“Kau terlalu berlebihan.” Lilia memilih menghindar. Dia keluar dari kamar dengan diikuti Ludwig. “Sebaiknya, kita pergi sekarang. Aku takut Lech dan anak buahnya mengintai kita. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka juga mendatangi apartemenku.”


“Baiklah.” Ludwig kembali ke kamar. Dia mengambil tas jinjing tadi. Pria itu mengeluarkan sebuah topi dari sana, lalu menyodorkannya kepada Lilia. “Rambutmu sangat mencolok, Sayang,” ucapnya.


Lilia tersenyum. Dia menggulung rambutnya, menyembunyikan mereka di dalam topi. Setelah itu, Lilia mengenakan mantel. Setidaknya, panjang mantel itu bisa menutupi paha mulusnya. Lilia terus merapikan diri, hingga dia merasa siap keluar rumah.


“Mari,” ajak Ludwig. Topi dan kacamata hitam membuat pria itu terlihat sangat tampan, meski parasnya sedikit tersamarkan. Dia menuntun tangan Lilia yang juga mengenakan kacamata hitam, saat mereka melangkah cepat menyusuri trotoar jalan yang lengang. Perumahan itu memang terbilang kawasan yang sepi.


“Aku belum pernah setakut ini saat keluar rumah,” ucap Lilia pelan.


“Bersikaplah yang wajar. Jangan sampai orang-orang yang melihatmu menjadi curiga,” balas Ludwig sambil terus menuntun Lilia. Tak lama lagi, mereka akan tiba di apartemen tempat tinggal wanita itu.


“Aku ingin segera berganti pakaian,” ucap Lilia sesaat setelah mereka berada di dalam ruang apartemen Lilia. Wanita cantik tersebut langsung berlari ke dalam kamar.


Sementara, Ludwig masih mengawasi ruangan itu. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut, seakan tengah memindai barangkali ada sesuatu yang mencurigakan. Bagi Ludwig, rasanya terlalu aneh jika Lech dan anak buahnya tidak mencari wanita itu ke sana. Ludwig kemudian mengikuti Lilia ke dalam kamar. “Apa kau mempunyai salinan kunci ruang apartemenmu?” tanyanya.


“Ada. Aku menyimpan keduanya di dalam tas,” jawab Lilia yang telah selesai berpakaian. Dia lalu memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas jinjing miliknya.


“Kau yakin memegang kuncinya?” tanya Ludwig ragu.

__ADS_1


“Iya. Ada di dalam tasku,” sahut Lilia yakin. Dia meraih tas tangan yang ada di kasur, lalu melihat ke dalam. Lilia mencari kunci yang dirinya maksud. Namun, seketika raut wajah wanita cantik tersebut menjadi tegang. Dia terus mencari kunci itu. “Tidak mungkin,” ucapnya tak percaya.


Tanpa Lilia jelaskan, Ludwig sudah dapat menangkap makna dari keresahan yang ditunjukkan Lilia. Ludwig langsung menarik tubuh Lilia, menempatkan wanita cantik tersebut di belakangnya. Sikap Ludwig membuat Lilia menjadi semakin tegang.


“Jangan menakutiku,” bisik Lilia.


Namun, Ludwig tak menanggapi. Dia bergerak maju, setelah sebelumnya memberi isyarat agar Lilia diam di tempatnya. Sementara, dirinya memeriksa ke dalam kamar mandi dan bagian-bagian lain yang dirasa mencurigakan. Tak lupa, Ludwig juga melongok ke bawah tempat tidur. Namun, dia tak menemukan apa atau siapa pun di sana.


Terdengar helaan napas Lilia yang cukup nyaring. Wanita cantik tersebut seperti merasa terkejut atau semacamnya. Hal itu membuat Ludwig langsung menoleh. Seketika, Ludwig menegakkan tubuh dengan rahang menegang. Kedua tangannya terkepal sempurna, saat melihat seorang pria sudah dalam posisi menodongkan pisau di dekat leher Lilia.


“Hallo, Pria asing,” sapa pria yang Ludwig yakini sebagai anak buah Lech.


Tak berselang lama, Marik muncul di sana sambil bertepuk tangan. “Sudah kuduga bahwa kau akan kembali, Lily-ku sayang,” ucapnya sembari menyentuh dagu Lilia.


“Singkirkan tanganmu darinya, Brengsek!” Ludwig sudah bersiap maju. Namun, langkah pria itu terhenti, ketika Marik tiba-tiba mengeluarkan pistol yang langsung diarahkan kepadanya.


Ludwig tidak segera menanggapi. Ekor matanya melirik Lilia yang terbelalak tak percaya setelah mendengar ucapan Marik.


“Bagaimana rasanya menjadi buronan agen federal, Tuan Stegen? Ah! Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan penjahat paling brutal, yang dulu pernah berjaya. Namun, lihatlah dirimu kini, Ludwig Stegen. Kau bukan siapa-siapa lagi selain buronan pemerintah. Aku heran, bagaimana kau bisa bebas berkeliaran ke sana kemari? Katakan! Siapa yang menjadi pelindungmu saat ini?” Marik terus mengarahkan moncong senjatanya kepada Ludwig. Anak buah Lech Czeslaw tersebut tak boleh lengah, atau dirinya akan babak belur seperti beberapa malam yang lalu.


“Kau tak punya urusan apapun dengan hidupku,” ujar Ludwig dingin. Sorot matanya terlihat aneh, seakan tengah menganalisa setiap gerakan yang dibuat Marik. Ludwig tengah mencari celah.


“Awalnya kita tidak memiliki urusan. Andai saja kau tidak mengganggu Lily-ku, maka ….”


“Wanita itu adalah istriku, Brengsek!” sela Ludwig penuh penekanan. “Kalian yang telah mengganggu Lilia-ku. Kau dan tuanmu akan segera menerima akibatnya, karena telah berani menyentuh wanita milik Ludwig Stegen!” Ekor mata Ludwig melirik ke kiri dan kanan, mencari benda yang bisa dirinya gunakan sebagai pengecoh konsentrasi lawan, agar tidak terlalu fokus padanya. Ludwig hanya melihat botol parfum dan vas bunga kecil di meja rias. Kedua benda tersebut adalah yang paling dekat dengannya.


“Ah!” Marik tertawa mengejek. Dia merasa berada di atas angin. “Sebelum kau menghukum kami, aku akan menghabisimu terlebih dulu,” gertaknya. Dia sudah bersiap menarik pelatuk.

__ADS_1


Sementara, napas Lilia seakan tercekat di tenggorokan, saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Ludwig. Dia begitu bahagia, karena Ludwig menyebut dirinya sebagai ‘istri’. Namun, Lilia sangat takut, ketika melihat raut wajah pria yang telah menikahinya tersebut. Apakah Ludwig memang seorang penjahat yang sangat ditakuti?


“Bawa Lily pergi dari sini. Aku tidak ingin dia melihatku menguliti suaminya,” titah Marik pada pria yang menodongkan pisau di leher Lilia.


Pria itu mengangguk. Dia memaksa Lilia agar keluar dari kamar.


Namun, sebelum mereka sempat melewati pintu, Ludwig bergerak cepat meraih vas bunga yang segera dia lemparkan kepada pria tadi. Vas bunga itu tepat mengenai telinga sebelah kanan si pria. Refleks, pria itu memegangi daun telinganya yang terasa sakit.


Setelah terlepas dari todongan senjata tajam, Lilia harus berusaha menyelamatkan diri tanpa bantuan Ludwig. Dia yang tak pernah melakukan tindak kekerasan kepada sapi sekalipun, menyikut perut si pria dengan sangat kencang. Lilia berbalik, lalu menendang pangkal paha anak buah Marik tersebut menggunakan lutut. Merasa tak puas, Lilia mengambil high heels yang ada di dekat pintu. Dia memukulkannya ke kepala pria tadi hingga pingsan.


"Astaga!" Lilia melongo. Dia menatap tak percaya, bahwa dirinya bisa melakukan hal seperti tadi.


“Kurang ajar!” Marik sudah kehilangan kesabarannya. Dia langsung menarik pelatuk pistol yang sudah terarah ke kepala Ludwig. Namun, pria rupawan itu jauh lebih gesit. Ludwig membuat gerakan menghindar, sehingga peluru itu hanya mengenai dinding kamar.


Tak putus asa, Marik kembali memuntahkan pelurunya secara membabi buta. Beruntung, Lilia sudah lebih dulu berlindung di dalam walk in closet. Sedangkan, Ludwig yang hanya berbekal bantal berisi bulu angsa sebagai tameng, mengambil risiko dengan menerjang anak buah Lech tersebut.


Usaha Ludwig berhasil. Marik jatuh terjengkang. Sedangkan, pistol yang dipegangnya terlempar beberapa meter dari tempat pria itu berada.


Tak ingin melepaskan kesempatan emas, Ludwig langsung mengunci tubuh Marik dengan duduk di atasnya. Seperti kesetanan, dia menghujani perut dan kepala anak buah Lech tersebut dengan pukulan bertubi-tubi. Ludwig terus melakukannya, sampai pria yang menaruh hati kepada Lilia itu hampir tak sadarkan diri.


Darah keluar dari hidung dan mulut Marik. Anak buah kepercayaan Lech tersebut bahkan kesulitan bernapas. Akan tetapi, Ludwig tak ingin berhenti. Dia terus memukuli Marik hingga puas, lalu mengangkat tubuh tak berdaya itu.


Tanpa ragu, Ludwig melempar Marik sedemikian kencang ke arah jendela apartemen, sampai-sampai kacanya pecah berhamburan. Tubuh Marik terlempar ke luar jendela, lalu terjatuh di trotoar dalam kondisi yang teramat mengenaskan.


Ketika Ludwig berbalik hendak memeriksa keadaan Lilia, anak buah Marik rupanya sudah sadar dari pingsan. Dia hendak meraih kembali pisau yang tadi terlempar dan berusaha melawan Ludwig. Namun, sebelum niat pria itu terlaksana, Ludwig sudah lebih dulu mengambil pistol milik Marik yang berada di dekat kakinya. Ludwig menyarangkan tembakan di dada dan perut pria tersebut.


Dari balik pintu walk in closet, Lilia memperhatikan semua yang Ludwig lakukan dengan tatapan penuh kengerian.

__ADS_1


__ADS_2