Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Night Crawler


__ADS_3

“Night Crawler adalah organisasi tanpa wadah yang bergerak dalam penyelundupan senjata militer dan peralatan perang ke wilayah-wilayah konflik di Timur Tengah serta Afrika. Profit mereka begitu besar, sehingga pemimpinnya mempunyai ide untuk merambah ke bidang lain,” jelas Oliver.


“Radko Trava, pimpinan Night Crawler, ingin merambah ke dunia hiburan dan judi. Dia ingin membangun pusat hiburan di Berlin. Saat itu, aku tengah mencoba peruntungan di dunia politik. Radko menawarkan bantuan untuk memuluskan jalanku. Dia memberikan kucuran dana yang tak terbatas. Dengan dana itu, aku bisa melobi anggota parlemen supaya aku bisa masuk ke lingkaran pemerintahan,” lanjut Oliver.


“Biar kutebak. Apakah akhirnya Anda mengkhianati mereka?” Ludwig mengangkat satu alisnya.


“Mereka membantuku mencapai kursi pemerintahan, dengan syarat agar aku menjadi beking dan mempermudah perizinan usaha mereka di Jerman. Aku juga ditekan agar dapat terus melindungi sepak terjang mereka, tanpa takut diawasi dan ditangkap oleh pihak yang berwajib,” ungkap Oliver.


“Setelah aku berhasil mendapatkan jabatan menteri, aku justru memberantas mereka sampai habis tak tersisa di negara ini. Radko Trava melarikan diri ke luar negeri. Entah ke mana. Aku tak pernah menyangka bahwa mereka akan kembali dan membalas dendam.” Oliver mengembuskan napas pelan.


“Ah, ternyata Anda tak sebaik Jenderal Inre. Setidaknya, ayah Anda memiliki sikap yang jauh lebih baik dan tulus,” cibir Ludwig.


Oliver langsung menatap tajam ke arah pria tampan yang berpostur lebih tinggi darinya itu. “Kau tak berhak mengomentari apapun. Cukup diam dan dengarkan!” sentak Oliver.


“Anda juga harus tahu satu hal, bahwa aku tidak menerima perintah dari siapa pun. Namun, kali ini kubuat pengecualian,” balas Ludwig dingin. “Silakan dilanjut, Tuan Harald.”


“Aku kesulitan mendeteksi pria itu. Padahal, kemarin diriku sudah berhadapan langsung dengan anggota kelompok mafia tersebut. Akan tetapi, aku tetap kesulitan menangkap mereka. Apalagi menghukum ketuanya.” Oliver memijat pelipis. Dia sama sekali tak menyangka, bahwa persoalan politik ternyata begitu memusingkan dan penuh jebakan berbisa.


“Bagaimana jika aku berhasil menemukan dan menghabisinya?” tanya Ludwig penuh percaya diri. Seulas senyuman tersungging dari bibir pria tampan bermata cokelat madu tersebut.


“Aku tak yakin kau bisa melakukannya. Kurasa, kau bahkan akan tewas di tengah jalan sebelum tujuanmu tercapai,” ledek Oliver, dengan bahasa tubuh yang teramat meremehkan seorang Ludwig.


“Ayah tidak tahu bahwa Ludwig berhasil melumpuhkan empat orang sekaligus kurang dari satu jam. Mereka semua mati dan ….” Petra langsung diam, ketika Ludwig menoleh ke arahnya dengan tatapan teramat tajam.


“Jika kau masih ingin di sini, sebaiknya tutup mulutmu!” sergah Ludwig dingin, tapi penuh penekanan.

__ADS_1


“Ah, baiklah.” Petra memalingkan wajah. Dia tak suka dengan sikap Ludwig yang dirasa kasar terhadap dirinya.


Ludwig mendelik tajam kepada gadis itu. “Bisakah Anda singkirkan gadis ini dari perbincangan kita. Wanita tidak dibutuhkan di sini,” ujar Ludwig tak suka.


“Ya, kau benar.” Oliver memberi isyarat kepada salah satu tentara yang berjaga di dekat pintu. Dia memerintahkan agar mengantar Petra ke kediamannya, yang berjarak tidak terlalu jauh dari bangunan tadi. Petra sempat menolak, karena dia ingin bersama Ludwig. Namun, kali ini Oliver bersikap tegas. Gadis itu tak berani membantah perintah sang ayah.


“Putrimu membuatku risi,” keluh Ludwig setelah Petra tak ada di sana.


“Dia selalu membuat masalah,” timpal Oliver.


Ludwig terdiam beberapa saat, sebelum kembali berbicara. “Bagaimana jika aku berhasil menemukan keberadaan Radko Trava?” tanya Ludwig seakan penuh tantangan.


Oliver yang awalnya berdiri sambil setengah bersandar pada tepian meja, langsung menegakkan tubuh. Dia berjalan mendekat ke hadapan Ludwig yang berdiri gagah, seakan tak peduli bahwa dirinya tengah berbicara dengan seorang menteri pertahanan.


Ludwig tak merasa gentar dengan tantangan dari Oliver. Dia tahu atas apa yang dirinya ucapkan. Pria tampan itu hanya menyunggingkan senyuman samar. “Berikan aku akses untuk menghubungi beberapa orang kepercayaanku. Aku juga butuh fasilitas yang memadai dalam melakukan pergerakan. Selain itu, Anda pasti memiliki sedikit informasi yang bisa kutelusuri tentang Night Crawler dan Radko Trava. Setelah semuanya terpenuhi, Anda hanya perlu duduk tenang untuk menerima berita baik dariku.”


Oliver menatap lekat pria muda di hadapannya. Dia memang tak terlalu mengenal Ludwig, tak seperti sang ayah yang telah menjadi rekan sekaligus pelindung bagi jaringan bisnis pria itu. Namun, jika Ludwig menjadi buronan paling dicari, maka sudah pasti bahwa dirinya merupakan orang yang berbahaya. Tak ada salahnya menggunakan harimau untuk melawan seekor singa.


“Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu di lantai terbawah tempat ini. Itu adalah ruangan paling rahasia, sehingga kau akan tetap aman di sana. Jika kau ingin melakukan pergerakan, kusarankan lakukan di malam hari, untuk meminimalisir risiko ketahuan pihak berwajib."


"Kau tahu bahwa aku juga harus sangat berhati-hati dalam hal ini, karena karier politikku akan dipertaruhkan. Selain itu, aku juga tidak mau bernasib sama seperti Jenderal Inre Harald, yang tewas demi melindungi seorang Ludwig Stegen.” Tegas dan penuh penekanan, kata-kata yang dilontarkan Oliver. Semuanya terdengar seperti ultimatum keras bagi Ludwig.


Lagi-lagi, Ludwig hanya menyunggingkan senyuman sinis. Dia tak harus banyak bicara untuk membuktikan kata-katanya. “Baiklah. Aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Bisakah antarkan aku ke tempat yang sudah Anda siapkan?”


Oliver menoleh pada salah satu penjaga berpakaian militer, yang sejak tadi berdiri bagai patung di dekat pintu. Dia memberi isyarat kepada pria bertubuh tegap, dengan senjata laras panjang yang tersampir di pundak sebelah kanan.

__ADS_1


Pria berseragam tadi mengangguk tegas khas seorang militer. Dia mengalihkan perhatian kepada Ludwig. Namun, pria tadi tak mengatakan apapun, seakan menunggu perintah secara lisan dari Oliver.


“Kuharap, aku tidak dikawal menuju penjara,” ujar Ludwig dingin.


“Tenang saja. Kau akan menyukai tempat tinggalmu yang baru,” balas Oliver. “Antarkan dia,” titahnya tegas.


Ludwig melangkah gagah mengikuti pria berseragam tadi keluar dari ruang pertemuan itu. Mereka menyusuri lorong cukup panjang, hingga tiba di depan pintu yang lebih mirip seperti dinding. Setelah melewati pintu rahasia tersebut, mereka kembali melewati lorong panjang dengan pencahayaan jauh lebih gelap. Di sana, hanya ada beberapa lampu tempel berwarna kuning yang jaraknya cukup berjauhan.


Setelah melewati lorong gelap tadi, pria berseragam itu membawa Ludwig menuruni deretan anak tangga berbentuk meliuk yang terbuat dari beton. Tangga tadi membawa keduanya ke lantai bawah tanah yang jauh lebih gelap dan lembap.


Perjalanan mereka ternyata masih belum berakhir. Ludwig masih terus dibawa berjalan menyusuri lorong berukuran lebih sempit. Untunglah, karena lorong tadi tidak terlalu panjang. Setelah tiba di depan pintu geser dari besi, barulah pria berseragam itu berhenti. Dia memberitahukan kode rahasia untuk membuka kunci.


“Kau bisa memasukkan kode baru jika mau,” ucap pria bersenjata laras panjang itu tanpa ekspresi. Dia tak banyak bicara lagi. Pria itu langsung pergi meninggalkan Ludwig sendiri.


“Astaga, benar-benar ruang rahasia,” gumam Ludwig sambil menekan beberapa tombol yang disebutkan tadi.


Seketika, pintu besi terbuka dan memperlihatkan ruangan di dalamnya. Tanpa berikir panjang, Ludwig langsung masuk. “Ini tidak seperti penjara,” ujarnya seraya mengedarkan pandangan, ke setiap sudut ruangan berdinding batu yang akan dirinya tempati.


Di dalam ruangan tadi, terdapat satu buah tempat tidur berukuran tidak terlalu besar. Di dekat tempat tidur, ada meja kecil. Di sana, telah disediakan perangkat komputer dan telepon genggam siap pakai. Namun, Ludwig yakin bahwa dia tak akan leluasa menggunakan semua alat elektronik tersebut.


Ludwig, mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Dia mengetikkan deretan angka di layar. Beberapa saat dirinya menunggu, hingga panggilan itu dijawab.


“Siapa ini?” tanya suara seorang pria.


“Ini aku, Dietmar,” jawab Ludwig.

__ADS_1


__ADS_2