
“Apa?” Lilia terbelalak tak percaya. Wanita muda berambut merah itu mundur beberapa langkah, memberi jarak antara dirinya dengan pria yang selama ini dia anggap sebagai ayah kandung.
“Ampuni aku, Nak. Ampuni aku.” Pria yang sudah mengaku dirinya sebagai Dominik tadi masih dalam posisi berlutut. Dia juga menunduk dalam-dalam.
“Apa yang telah kau lakukan pada ayah dan ibuku?” Bibir Lilia bergetar menahan tangis. Sementara, Ludwig hanya menyimak.
Gunther alias Dominik mengangkat wajah. Dia lalu bangkit. Akan tetapi, dirinya tidak berani mendekat kepada Lilia. Dominik menatap lekat putri yang selama ini dirawat hingga sebesar itu, sehingga kasih sayang yang dirasakan pun teramat tulus.
“Aku ….” Dominik terdengar ragu saat akan memberikan penjelasan. Namun, dia harus melakukannya. “Gunther adalah anak kesayangan ayah. Walaupun kami terlahir kembar identik, tapi tetap ada perbedaan mencolok antara aku dan dia,” tutur Dominik memulai ceritanya.
“Hingga kami sama-sama beranjak remaja, perlakuan berbeda itu masih terasa jelas. Aku sadar bahwa Gunther merupakan anak yang penurut. Dia menyukai ketika ayah mengajaknya ke peternakan. Lain sekali denganku yang memang tidak pernah tertarik.” Dominik mengembuskan napas berat, sebelum melanjutkan ceritanya. Sedangkan, Lilia dan Ludwig terlihat penasaran dengan kelanjutan kisah yang dituturkan pria itu .
“Aku memutuskan pergi dari sini. Aku berangkat ke Polandia bersama seorang teman. Di sana, diriku bergabung dengan organisasi bernama Schaefer.”
Seketika, Ludwig membelalakan mata saat mendengar Dominik menyebut nama Schaefer. Dia masih ingat betul dengan cerita Belinda alias Valiska Vandro, yang ditemuinya di tempat karaoke beberapa waktu lalu. Ludwig menjadi semakin penasaran, akan kelanjutan kisah yang tengah didengarkannya.
“Aku menjadi bagian dari organisasi hitam itu. Membunuh dan melakukan berbagai kejahatan kulakukan tanpa ada beban sedikit pun. Aku merasa jika segala rantai yang mengikat jiwaku terlepas. Kedengarannya memang sangat gila, ketika aku mendapat kepuasan dengan mencium aroma darah. Namun, makin lama diriku semakin berpikir. Tiba-tiba, aku teringat akan kematian yang bisa saja menimpaku sewaktu-waktu.” Dominik kembali tertunduk lesu.
“Setelah melakukan transaksi narkoba bernilai ratusan ribu euro di Jerman, aku melarikan diri dengan membawa uang itu. Aku tahu bahwa kondisi Schaefer tengah mengalami keterpurukan. Kepemimpinan yang kurang profesional, membuat organisasi jadi oleng. Mereka memburuku. Aku tak memiliki pilihan selain melarikan diri dan bersembunyi di sini.”
“Mereka mengikutimu kemari?” tanya Ludwig datar.
__ADS_1
Dominik tidak menjawab. Pria paruh baya itu hanya mengangguk saat menanggapi pertanyaan Ludwig. “Gunther tidak tahu bahwa aku adalah buronan yang melarikan diri dari organisasi tempatku bernaung. Dia juga tak mengetahui, bahwa diriku membawa sejumlah uang yang sangat fantastis."
"Gunther mengizinkan aku tinggal di pondok ini. Kakakku itu terlalu bahagia, karena adiknya kembali setelah bertahun-tahun tak pulang. Aku bahkan tidak di sini, saat ayah kami meninggal,” tutur Dominik lagi.
“Apa yang terjadi malam itu?” tanya Lilia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Nak ….”
“Katakan!” Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Lilia berbicara dengan nada tinggi kepada pria paruh baya yang dia anggap sebagai ayah kandung. “Katakan semuanya!”
Dominik mengembuskan napas berat. Raut penuh sesal tergambar jelas dari parasnya, yang sudah dipenuhi kerutan. Tiada guna pria itu terus menyimpan rahasia. Lilia berhak mengetahui yang sebenarnya.
“Kau membiarkan mereka menghabisi ayahku?” Lilia menatap tak percaya kepada pria yang merupakan pamannya.
Dominik tak kuasa memberikan jawaban. Pria paruh baya dengan penampilan lusuh tersebut hanya bisa mengangguk lemah. Sejuta sesal tak akan pernah bisa mengembalikan keadaan. “Aku masih bersyukur karena mereka tak membawa jasad ayahmu. Karena itulah, aku menyembunyikannya di sini. Di dalam lemari. Hingga bertahun-tahun lamanya. Aku tak membiarkan siapa pun masuk kemari. Tidak juga kau, Lilia. Rahasia kelam itu kukubur dalam-dalam.”
Ludwig yang sejak tadi menyimak, tampak memicingkan mata. Dia berjalan ke dekat Lilia berdiri. “Bagaimana dengan para pekerja di peternakan ini? Tidak mungkin jika mereka tak mengetahui apa yang terjadi,” ucap Ludwig tak mengerti.
Dominik mengangguk, membenarkan ucapan Ludwig. “Ada beberapa yang mengetahui kejadian berdarah tersebut. Seingatku, waktu pembantaian terjadi …. Ya. Saat itu menghadapi Hari Natal. Sebagian besar pekerja pulang untuk merayakannya bersama keluarga mereka. Sedangkan, yang tersisa di sini hanya beberapa orang. Mereka adalah yang menjadi anak buah pribadiku, hingga huru-hara pada malam itu kembali terulang dan menghancurkan semuanya,” jelas Dominik lesu.
“Lalu, di mana uang yang kau curi dari Schaefer?” tanya Ludwig lagi penuh selidik.
__ADS_1
“Aku menggunakannya untuk membangun peternakan ini. Tak terkira betapa besar rasa bersalah yang kurasakan. Aku hanya ingin agar Lilia tidak mengalami kesulitan di kemudian hari,” jawab Dominik. Pancaran kasih dari sorot matanya terlihat jelas, untuk Lilia yang sudah dianggap sebagai putri kandung.
Lilia menggeleng. Dia bergerak mundur, hingga punggungnya menyentuh dinding. Napas wanita muda tersebut terdengar tak beraturan. Lilia terlihat gelisah.
Melihat hal itu, Ludwig seakan sudah tahu dengan kondisi wanita yang sangat dicintainya. Pria tampan tersebut segera mengambil tas jinjing. Namun, dia tak bisa menemukan obat yang biasa Lilia konsumsi. “Apa kau tak membawa obatmu?” tanya Ludwig seraya menoleh kepada Lilia.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku ….”
Belum sempat Lilia menyelesaikan kata-katanya, di luar pondok terdengar suara gaduh. Ludwig langsung menatap penuh tanda tanya kepada Dominik, yang juga memperlihatkan ekspresi sama.
Tanpa banyak bicara, Dominik berjalan mendekat ke pintu. Dia mengintip dari lubang kunci. Pria itu seketika mundur. “Masuklah ke bunker, Lilia,” suruhnya pelan.
“Ada apa?” Ludwig yang baru memeriksa tas, segera berdiri. Dia mendekat kepada Dominik. Dengan melihat ekspresi tegang pria itu saja, Ludwig sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tak beres di luar sana. Tanpa banyak bertanya lagi, pria tampan berambut cokelat tembaga itu langsung meraih lengan Lilia, lalu memaksanya masuk ke bunker.
Lilia sempat menolak. Wanita cantik tersebut menggeleng kencang. Namun, Ludwig tak peduli. Dia tetap memaksanya agar turun ke ruang bawah tanah, yang selama ini menjadi tempat persembunyian Dominik. Setelah Lilia berada di dalam, barulah Ludwig menutup kembali lantai kayu itu.
Ludwig bersiap dengan pistol yang dirinya ambil dari balik pinggang. Begitu juga dengan Dominik. Pria paruh baya tersebut rupanya membawa senjata juga.
Namun, baru saja Dominik bersiap mengokang senjata, sebutir peluru melesat menembus pintu kayu. Timah panas tadi mendarat sempurna di dada adik kembar Gunther tersebut, hingga tubuhnya ambruk di lantai dengan bersimbah darah. Dominik mendelik tajam, sebelum akhirnya mengejang dan diam. Sepertinya, pria yang mengaku sebagai Gunther tersebut telah meregang nyawa
Melihat hal itu, Ludwig semakin waspada. Dia bergerak ke sisi ruangan. Ludwig menyembunyikan tubuhnya di balik salah satu tiang penyangga. Pria tampan bermata cokelat madu tersebut, bersiap menarik pelatuk pistol yang digenggamnya. Hal itu dirinya lakukan, bertepatan dengan seseorang yang mendobrak pintu secara paksa. Tampaklah dua orang pria masuk ke pondok sambil mengokang senjata.
__ADS_1