
Ludwig menatap Lilia beberapa saat. “Maaf. Aku harus pergi.” Pria itu membalikkan badan. Dia bergegas menuju pagar pembatas.
“Siapa wanita itu, Heinz?” tanya Lilia dengan mata berkaca-kaca.
“Bersembunyilah di tempat yang aman. Jangan keluar sampai semuanya reda,” ujar Ludwig tanpa mempedulikan pertanyaan Lilia. Diapun melompat keluar, menyusul Petra yang sudah menunggunya.
Seketika, tubuh ramping Lilia ambruk di tanah. Pukulan telak kembali dirinya terima kali ini, setelah tadi menemukan kerangka manusia yang disembunyikan oleh Gunther. Lilia duduk bersimpuh dengan wajah tertunduk. Derai air mata, mengiringi suara baku tembak yang tak lagi dirinya hiraukan. “Ludwig Stegen,” ucap wanita muda itu lirih.
“Hey! Kau!” Tiba-tiba, di belakang Lilia sudah berdiri seorang pria bertopeng yang telah bersiap dengan senjata laras panjangnya ke arah wanita itu.
Namun, Lilia seakan tak peduli. Wanita cantik bermata abu-abu itu hanya menatap nanar si pria. Dia seakan sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi padanya. Lagi pula, Lilia tak tahu bagaimana kondisi Gunther saat ini, mengingat kondisi peternakan telah porak-poranda.
Api menjalar ke mana-mana, berhubung di sana banyak sekali barang-barang yang mudah terbakar. Malam tak lagi gelap gulita di area peternakan itu. Kobaran si jago merah melahap apapun yang ada di dekatnya tanpa tersisa. Semua orang berlarian tak tentu arah. Sapi-sapi melenguh karena tak bisa menyelamatkan diri dari kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh area peternakan.
Sementara itu, Ludwig terus membawa Petra pergi menjauh dari sana. Dia tak tahu akan ke mana tujuannya kali ini.
“Siapa wanita tadi?” tanya Petra setelah mereka berada cukup jauh dari area peternakan. Keduanya duduk untuk beristirahat.
“Bukan urusanmu,” jawab Ludwig dingin. Dia mendongak, menatap langit yang sudah mulai terang. Pagi akan segera menjelang.
“Kau akan membawaku ke mana?” tanya Petra.
Ludwig tidak segera menjawab. Dia meraup kasar wajahnya. “Sialan!” gerutu pria itu. “Aku meninggalkan arloji di peternakan. Bagaimana ini?” Ludwig mendengkus kesal.
Petra menggeser tubuh hingga semakin mendekat kepada Ludwig. Dia memperlihatkan arloji mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. “Jangan khawatir,” ucap gadis berambut pirang itu.
__ADS_1
Ludwig menatap tajam padanya. Amarah yang tertahan, membuat raut wajah pria tampan tersebut tampak sangat menakutkan. Sepasang matanya berwarna merah, karena dia tak tidur semalam suntuk. Tanpa mengatakan apapun, Ludwig beranjak dari duduknya.
“Kau mau ke mana?” Petra ikut berdiri. Dia menyusul langkah tegap Ludwig yang terlalu cepat untuk dirinya. “Bagaimana jika kuhubungi ibuku lagi?” cetus gadis itu.
“Apa manfaatnya? Kau lihat sendiri, Nona Harald. Ayahmu justru datang ke peternakan membawa pasukan untuk menangkapku. Ibumu tidak bisa diandalkan,” cibir Ludwig kesal. Dia berbalik. Pria itu melanjutkan langkah.
Sementara, Petra terus mengikutinya. Sambil berjalan cepat, gadis cantik tersebut tampak berpikir. “Tunggu!” Petra setengah berseru, karena Ludwig berada beberapa langkah di depannya.
Ludwig tertegun. Dia kembali menoleh. Namun, pria tampan tersebut tak mengatakan apapun. Terlebih, karena Petra langsung menarik tangannya.
Petra membawa Ludwig ke sebuah toko kue yang baru buka. Mereka berhenti di depan toko tadi. “Tunggu di sini. Aku akan masuk,” ucap Petra. Tanpa menunggu jawaban dari Ludwig, gadis itu berlalu ke dalam. Dia menemui seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa Petra. Dia meletakkan arloji mahal yang baru dilepasnya di atas etalase kaca. “Ini asli. Ayahku membelinya langsung dari Swiss sebagai hadiah ulang tahunku beberapa minggu yang lalu. Namun, sekarang aku sedang butuh uang. Aku juga sangat lapar. Bisakah kutukar ini dengan beberapa roti dan uang? Aku harus menghubungi seseorang. Tolonglah.” Petra memasang wajah memelas. Aktingnya sungguh luar biasa.
“Dari mana asalmu, Nona?” tanya wanita pemilik toko kue itu.
“Aku berasal dari Jerman. Datang kemari untuk berlibur. Namun, aku justru dirampok saat dalam perjalanan menuju hotel. Aku ingin pulang. Karena itu, aku harus menghubungi kedua orang tuaku, agar mereka dapat menjemput kemari,” tutur Petra hampir menangis. “Aku sudah terlunta-lunta sejak kemarin, Nyonya.” Gadis itu menangis sesenggukan.
“Ya, Tuhan.” Petra terus menangis. “Jika orang tuaku datang kemari untuk menjemput, aku akan kembali ke tokomu, Nyonya. Terima kasih banyak. Kau wanita yang sangat baik. Tuhan selalu menyertai serta memberikan keberkatan yang melimpah untuk tokomu.” Petra terus menangis sambil berjalan keluar dari toko itu. Dia berbelok ke sebelah kanan. Beberapa meter dari sana, Ludwig telah menunggunya.
“Ayo, kita cari telepon umum,” ajak Petra tak acuh. Dia mengusap pipinya yang basah. Petra lalu memberikan roti yang didapatkannya secara Cuma-Cuma kepada Ludwig. “Makanlah. Kau harus mengisi tenaga. Aku tidak ingin memiliki pasangan yang loyo,” celoteh gadis itu.
“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Ludwig seraya menautkan alis karena tak mengerti.
“Mengemis,” jawab Petra tak acuh sambil mengunyah makanannya.
“Ck!" Ludwig berdecak kasar. Dia menoleh kepada gadis cantik yang berjalan di sebelahnya. "Aku harus benar-benar waspada dengan sikapmu yang terlalu licik seperti ini,” Ludwig menggeleng pelan sambil menggigit roti pemberian Petra. Kebetulan, dia memang sudah sangat lapar.
__ADS_1
Petra malah tertawa setelah mendengar ucapan Ludwig. Gadis itu memang sangat berbeda dengan Lilia yang sensitif dan begitu lembut. “Kita harus segera bergerak. Lebih cepat menghubungi ayah atau ibuku, maka itu akan lebih baik,” ujarnya. Tanpa sungkan, dia melingkarkan tangan di lengan Ludwig.
Sementara, Ludwig sama sekali tak merespon, karena dalam benaknya tiba-tiba saja dipenuhi oleh bayangan Lilia. Wajah cantik yang terlihat begitu sedih dan terluka itu telah mengganggu pikiran Ludwig. Entah mengapa, dia menjadi seperti ini. Namun, Ludwig berkali-kali menepiskan perasaannya.
“Lihat! Telepon umum!” tunjuk Petra. Wanita muda itu berlari cepat, menghampiri bilik berwarna merah yang tampak bersih dan terawat.
Lamunan Ludwig menjadi buyar seketika. Dia langsung mengikuti Petra masuk ke sana.
“Siapa yang ingin kau hubungi terlebih dulu? Ayah atau ibuku?” tanya Petra memastikan. Ujung jari telunjuknya sudah siap menekan tombol angka di telepon umum.
“Coba sambungkan aku dengan Oliver Harald,” pinta Ludwig datar.
“Baiklah." Jemari lentik Petra menekan angka-angka pada kotak telepon. Cukup lama dia menunggu, hingga sang ayah menerima panggilannya.
“Harald di sini,” sapa Oliver dari seberang sana.
Petra langsung memberikan gagang telepon kepada Ludwig.
“Putrimu aman bersamaku, Tuan Harald," balas Ludwig, tanpa basa-basi.
“Sialan kau, Ludwig Stegen!” umpat Oliver nyaring dan penuh amarah.
“Seharusnya kau berterima kasih, karena aku sudah berhasil menyelamatkan putrimu dari para pria bertopeng itu,” balas Ludwig seraya tersenyum sinis, saat menanggapi sikap Oliver yang masih angkuh. “Bayangkan saja jika Nona Petra Harald masih ada di sana. Kurasa, saat ini anda pasti sedang menangisi jasadnya.”
“Berhentilah membual! Katakan apa maumu!” sentak Oliver lagi.
__ADS_1
“Masih sama, Tuan. Aku ingin kembali ke Jerman tanpa menyandang status buron!” tegas Ludwig penuh penekanan.