Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Red Lily


__ADS_3

“Aku tidak ingin pulang bersama kalian!” tolak Petra tegas, saat Oliver mengajaknya dan Albertina kembali ke Jerman. “Aku ingin menemani Ludwig di sini.” Petra mengalihkan perhatiannya kepada pria tampan, yang tengah duduk tenang penuh wibawa di sofa bersama Oliver dan Albertina. Sedangkan, Petra berdiri saat melakukan protes tadi.


“Aku bisa menjaga diri. Sebaiknya kau ikut ayah dan ibumu kembali ke Jerman.” Ludwig terlihat tak acuh saat mengatakan itu, sehingga membuat Petra melotot tajam padanya. “Bawa dia pergi, Pak menteri. Putrimu hanya akan mengganggu konsentrasiku jika tetap berada di sini,” ujarnya lagi, tanpa memedulikan reaksi keras yang Petra layangkan terhadapnya.


“Lagi pula, kau harus lebih fokus pada kuliahmu yang terbengkalai. Memalukan sekali. Tak seharusnya anak gadis bersikap seperti itu,” tegur Albertina ikut bersuara.


“Bu ….” Petra menoleh kepada sang ibu dengan sorot penuh arti. Gerak mata serta senyumannya mengisyaratkan sesuatu, yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.


“Astaga.” Albertina mengeluh pelan seraya menggaruk kening. Dia tak ingin mengambil risiko, jika Oliver sampai mengetahui perselingkuhan yang dilakukannya dengan seorang politikus muda bernama Kurt Schneider.


“Baiklah. Terserah kau saja,” putus Albertina. Seperti biasa, wanita cantik bertubuh sintal itu tak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti saat dirinya mengizinkan Petra untuk pergi ke Austria.


Oliver menatap penuh selidik kepada sang istri. Dia dapat menangkap gelagat aneh yang ditunjukkan wanita berambut pirang itu. Namun, pria paruh baya tersebut tak ingin ambil pusing. Urusannya sudah terlalu banyak.


Oliver berdiri, lalu meraih blazer dari sandaran sofa. “Ini sudah keputusanku. Suka atau tidak, kau harus menurutinya,” ucap sang menteri sambil mengenakan blazer tadi. Sementara, Albertina segera mengikuti. Dia membantu sang suami merapikan pakaiannya.


“Dengarkan aku, Petra. Kau harus melanjutkan kuliahmu yang terbengkalai. Jika tidak kau selesaikan juga, maka jangan harap aku akan memberikanmu akses ke manapun. Terlebih berlibur ke luar negeri,” ancam Oliver tegas. “Ayo, cepat. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat. Pekerjaanku sangat banyak.” Tanpa berpamitan kepada Ludwig, yang masih duduk tenang di sofa sambil menonton drama keluarga sang menteri.


Petra tidak segera berdiri. Wajah cantik gadis itu tampak merengut. Jelas sudah bahwa dirinya tak menyukai keputusan sang ayah. “Katakan sesuatu, Ludwig,” pintanya setengah berbisik.


Ludwig tidak menanggapi. Dia hanya melirik sekilas kepada gadis itu. Namun, pria tersebut masih menunjukkan sikap tak acuhnya.

__ADS_1


“Aku ingin menemanimu di sini agar kau tidak kesepian,” bujuk Petra lagi. Sisi manja gadis itu terlihat jelas, saat dirinya merengek kepada Ludwig.


“Astaga.” Ludwig berdecak pelan. “Kau mulai membuatku merasa terganggu, Petra. Jangan sampai aku bertindak tegas padamu,” ucap Ludwig penuh penekanan. Setelah berkata demikian, pria tampan itu beranjak dari tempat duduknya. Dia tak memedulikan Petra yang terus memandang penuh harap.


Ludwig masuk ke kamar, lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja dekat tempat tidur. Dia mencari nomor kontak seseorang, lalu menghubunginya. “Jedrick, ini aku.”


“Apa kabar, tuan? Apakah anda sudah berada di Polandia?” balas Jedrick, yang merupakan salah satu anak buah kepercayaan Ludwig di negara itu.


Jedrick merupakan penanggung jawab dalam mengurus tempat hiburan malam milik Ludwig, yang kini telah ditutup atas permintaan pihak pemerintah Jerman. Namun, Jedrick dan beberapa rekannya yang memiliki loyalitas tinggi terhadap Ludwig, memutuskan untuk tetap menunggu pria itu kembali berkuasa.


“Aku sudah tiba di Warsawa. Aku ingin kita bertemu malam ini.” Ludwig berdiri di dekat jendela kamar. Tatapan pria tampan tersebut menerawang jauh.


“Terserah kau. Kirimkan saja alamatnya padaku.” Seusai berkata demikian, Ludwig mengakhiri panggilan tadi. Dia beralih pada aplikasi pesan untuk memeriksa alamat yang Jedrick kirimkan.


Sekitar pukul sembilan malam, Ludwig telah bersiap dengan jaket kulit hitam yang melapisi T-Shirt hitam polos di dalamnya. Setelah merapikan rambut yang sudah kembali ke warna asli yaitu cokelat tembaga, Ludwig bergegas keluar rumah. Dia berjalan kaki menuju alamat yang diberikan Jedrick.


Sekitar lima belas menit kemudian, Ludwig tiba di depan tempat hiburan malam. Dia melangkah gagah penuh percaya diri, saat melihat Jedrick yang setengah berlari ke arahnya.


Jedrick terlihat sangat bahagia, saat bertemu kembali dengan sang majikan yang hingga saat ini masih menyandang status buron. “Apa kabar, Tuan?” sapanya antusias.


“Seperti yang kau lihat,” jawab Ludwig biasa saja. Dia melihat sekeliling, sebelum kembali mengarahkan perhatian kepada anak buahnya.

__ADS_1


“Tenang saja, Tuan. Anda aman di sini,” ucap Jedrick, yang seakan mengerti dengan bahasa tubuh sang majikan. “Sebaiknya, kita bicara di dalam agar lebih nyaman. Aku yakin Anda pasti akan menyukainya.” Jedrick mempersilakan Ludwig agar berjalan masuk.


“Apa yang menarik di sini?” tanya Ludwig setelah berada di dalam. Dia duduk di meja yang sudah dipilih oleh Jedrick sebelumnya, karena pria itu datang ke sana lebih dulu. Beruntungnya, meja tadi tidak ada yang menempati, selagi dirinya keluar menyambut Ludwig.


“Malam ini adalah jadwal pertunjukan Red Lily,” ucap Jedrick seraya menuangkan minuman ke gelas milik Ludwig terlebih dulu. “Semua pria yang datang kemari, menantikan penampilan Red Lily,” jelasnya lagi.


Namun, Ludwig tak terlalu ingin menanggapi ucapan pria dengan warna rambut nyentrik tersebut. Dia meneguk minumannya, sebelum membahas tujuan pertemuan itu. “Bagaimana dengan pria yang sedang kalian awasi itu?” tanya Ludwig sambil sesekali menggoyangkan gelas minuman yang dirinya genggam.


“Kami mengikutinya selama dua puluh empat jam. Mengawasi pria itu, bahkan saat dia masuk ke toilet umum. Anda pasti akan tercengang, jika mendengar siapa sebenarnya pria yang mengaku sebagai Radko Trava tersebut,” terang Jedrick, yang membuat Ludwig langsung memicingkan mata.


“Pria itu hanya seorang kuli bangunan. Dia bahkan tinggal di tempat yang terbilang kumuh. Sangat tidak mungkin jika dia merupakan seorang ketua organisasi mafia yang disegani. Apalagi, sampai berani memberikan ancaman terhadap seorang menteri pertahanan,” tutur Jedrick lagi sebelum meneguk minumannya.


“Di mana tempat tinggal pria itu?” tanya Ludwig yang mulai tertarik pada penuturan anak buahnya tadi. Dia mendengarkan dengan saksama, semua yang Jedrick katakan hingga selesai. Baru saja Ludwig akan menanggapi penjelasan pria itu, dia langsung mengurungkan niatnya tersebut.


Panggung yang tadinya tertutup tirai berwarna merah, tiba-tiba terbuka. Hal itu seketika disambut oleh suara tepuk tangan para pengunjung bar. Mereka rela membayar mahal untuk kunjungan malam ini, demi melihat pertunjukkan Red Lily yang terkenal.


Lampu di atas panggung yang tadinya dimatikan, seketika menyala. Cahaya terangnya menampakkan sosok bertubuh semampai, dalam balutan lingerie two piece merah dengan rambut panjang yang juga berwarna merah. Wanita itu berdiri dengan wajah tertunduk, sehingga rambut panjangnya jatuh ke depan menutupi paras yang belum diperlihatkan kepada para penonton.


Red Lily, merupakan sebutan untuk seorang wanita yang berprofesi sebagai penari striptis di tempat itu. Dia menjadi sangat terkenal semenjak debut pertamanya, karena Red Lily memiliki kecantikan serta keindahan tubuh yang luar biasa. Semua itu diimbangi dengan bakat dalam meliukkan tubuh penuh godaan. Aksi Red Lily selalu dapat menyihir setiap pria yang menonton pertunjukannya.


Tak terkecuali Ludwig yang memandang lekat ke arah panggung. Dia seakan tak berkedip, saat menyaksikan keindahan yang disuguhkan. “Lilia?” gumam Ludwig tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2