
Pagi-pagi sekali, Ludwig sudah terbangun dari tidurnya. Dia bergegas ke kamar mandi, lalu membasuh wajah. Setelah itu, dirinya pergi ke dapur. Beruntung, karena pelayan sudah menyiapkan makanan untuk sarapan. Tanpa banyak bicara, Ludwig langsung mengisi wadah stainless dengan makanan yang sudah tersedia. Dia lalu kembali ke kamar, memastikan apakah Lilia sudah bangun atau belum.
Ternyata, Lilia baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu tersenyum lembut, saat melihat Ludwig yang tengah mengenakan pakaian. “Kau mau ke mana?” tanyanya penuh cinta.
“Aku harus ke peternakan,” jawab Ludwig tanpa menoleh. Dia baru selesai melapisi kaus singlet, dengan kemeja lengan pendek yang kancingnya sengaja dibuka semua. Ludwig baru menghentikan aktivitasnya, ketika tiba-tiba Lilia memeluk dari belakang. Pria itu berdiri terpaku.
“Aku mencintaimu, Heinz,” ucap Lilia lirih. Dia membenamkan wajah di pundak Ludwig yang tak melakukan apapun, meski tangan Lilia melingkar erat di perutnya. “Terima kasih karena telah menjadi suamiku,” ucap Lilia lagi. "Kau pria yang sangat baik."
“Sudahlah. Jangan terlalu berlebihan,” balas Ludwig. Dia tak bisa berpura-pura, bahwa dirinya tidak merasakan hal yang sama terhadap Lilia. Terlebih, setelah kejadian semalam. Ludwig, sepertinya telah memiliki rencana lain yang lebih baik. “Bolehkah kupinjam ponselmu?” tanya pria itu tiba-tiba.
“Untuk apa?” Lilia balik bertanya. Dia melepaskan pelukannya, lalu berpindah posisi ke dekat tempat tidur. Dengan begitu, dirinya bisa menatap Ludwig dari depan.
“Aku harus menghubungi seorang kerabat di Jerman. Itu juga jika kau tidak keberatan,” ucap Ludwig. Dia menoleh sekilas kepada Lilia, lalu membalikkan badan. Pria tampan tersebut mengambil sebuah T-Shirt dari dalam ransel.
“Kenapa tidak? Ini, ambil saja,” ucap Lilia seraya menyodorkan telepon genggam yang baru dirinya ambil dari dalam laci. Ponsel itu sendiri memiliki model sudah ketinggalan zaman. Alis Ludwig bahkan sampai berkerut, saat memperhatikan ponsel yang baginya terlihat kuno tersebut.
“Ini ponselmu?” tanya Ludwig ragu.
“Ya,” jawab Lilia seraya mengangguk yakin. Dia bahkan memamerkan senyum manisnya. Wanita muda itu tampak sangat polos, dengan segala sikap yang ditunjukkan kepada Ludwig.
“Kau tidak bisa berfoto menggunakan ponsel seperti ini,” ujar Ludwig sambil membolak-balikkan telepon genggam yang berukuran cukup tebal itu.
“Ayah selalu menekankan padaku agar tidak menyebarluaskan foto pribadi. Aku juga tidak mempunyai akun sosial media seperti kebanyakan para gadis. Ayah seolah menyembunyikanku dari dunia luar. Ponsel ini hanya bisa digunakan untuk menelepon dan berkirim pesan,” jelas Lilia. Dia masih terlihat antusias, meski terdengar agak miris di telinga Ludwig.
Pria tampan itu mendengarkan penjelasan Lilia dengan sorot yang terlihat aneh. “Apakah ayahmu mempunyai masalah dengan seseorang?” tanyanya hati-hati.
Lilia terdiam sejenak. Pipinya yang putih mulus tampak merona, ketika Ludwig menatapnya lekat. “Tidak ada,” jawab wanita muda itu seraya menggeleng pelan. “Ayahku adalah orang yang baik,” ucapnya.
Sesaat kemudian, perhatian Lilia berpindah pada kotak makan berbahan stainless dan T-shirt yang berada di dalam genggaman tangan kanan Ludwig. “Kau hendak ke mana? Kenapa membawa kotak bekal dan baju ganti?” tanyanya keheranan.
“Aku akan sarapan di lumbung. Kupinjam teleponmu sebentar,” jawab Ludwig. Dia tak ingin bicara lebih banyak lagi. Pria itu bergegas meninggalkan kamar.
“Kau tidak ingin sarapan denganku?” seru Lilia dari ambang pintu, ketika jarak Ludwig semakin jauh darinya.
__ADS_1
“Besok saja!” sahut Ludwig sedikit nyaring tanpa menoleh sama sekali. Langkahnya semakin cepat melintasi koridor, lalu berbelok ke luar bangunan utama. Dia terus berjalan lurus melewati padang rumput sampai tiba di lumbung, yang letaknya cukup jauh di belakang kediaman sang pemilik perkebunan.
Setelah memastikan keadaan sekitar aman, barulah Ludwig membuka kunci lumbung. Dia langsung masuk, lalu mengunci kembali pintu itu dari dalam. Ludwig mengembuskan napas pelan, ketika melihat gadis yang dia selamatkan tadi malam masih tertidur dengan posisi meringkuk di atas jerami berlapis kain tipis.
“Hei, bangunlah! Ini sarapan untukmu." Ludwig mengguncang lengan Petra cukup kencang.
“Jam berapa ini?” Petra memicingkan mata, lalu duduk dengan susah payah. Belum juga kesadarannya pulih, Ludwig langsung melemparkan T-shirt ke arahnya.
“Ganti bajumu sebelum sarapan. Kau bau sekali." Ludwig segera membalikkan badan, memberikan kesempatan bagi Petra saat berganti pakaian.
“Aku masih mengantuk,” tolak Petra malas.
“Cepatlah! Aku tidak memiliki banyak waktu,” desak Ludwig tanpa menoleh.
“Baiklah." Terpaksa, Petra mengganti bajunya dengan T-shirt milik Ludwig. Dia lalu beralih pada kotak makan di sampingnya. Petra menyantap makanan itu dengan lahap. Pada suapan ketiga, Ludwig berbalik dan menatap tajam ke arahnya.
“Kemarin, kau mengatakan bahwa namamu adalah Petra Harald. Apakah itu memang nama aslimu?” tanya Ludwig datar dan tanpa basa-basi.
“Ya. Itu namaku." Petra mengangguk sambil mengunyah.
Tak berselang lama, terdengar suara dari seberang sana. “Apa kata sandimu?”
“Lumbung jerami,” jawab Ludwig.
“Bos? Nomor siapa ini? Apa boleh kusimpan?” tanya seseorang yang tak lain adalah Niklas.
“Ya. Ada baiknya kau simpan," sahut Ludwig biasa saja. "Dengar, aku ingin kau mencari informasi tentang Petra Harald. Kutunggu sekarang juga,” titah Ludwig tanpa mengalihkan perhatiannya dari Petra, yang baru selesai menghabiskan makanannya.
“Baik, Bos. Beri aku waktu setengah jam,” sahut Niklas. Dia segera mengakhiri panggilan itu.
“Siapa yang kau hubungi?” Petra melayangkan sorot mata penuh selidik.
“Kau tidak perlu tahu. Aku hanya mencari kebenaran tentang dirimu,” sahut Ludwig dingin.
__ADS_1
“Aku bukan pembohong. Aku adalah anak satu-satunya dari orang yang paling berpengaruh di Jerman. Jika kau bisa mengantarkanku pulang pada ayah, aku pasti akan sangat berterima kasih dan … tentu saja kau akan mendapatkan imbalan yang sesuai,” ujar Petra penuh percaya diri.
Seulas senyuman samar tersungging dari bibir tipis Ludwig. “Aku tidak ingin imbalan yang sesuai. Aku ingin … imbalan yang kuinginkan,” tegasnya penuh penekanan.
“Memangnya apa yang kau inginkan?” tanya Petra seraya menautkan alisnya.
Belum sempat Ludwig menjawab, terdengar ponsel milik Lilia berdering. “Bagaimana?” tanya Ludwig tak sabar.
“Aku sudah mendapatkan informasi tentang Petra Harald, Tuan. Dia adalah putri dari menteri pertahanan yang baru. Akan tetapi, ada banyak skandal yang mengiringi terpilihnya Oliver Harald sebagai menteri, sehingga membuat Oliver sebagai orang yang paling dimusuhi oleh rival-rival politiknya,” jelas Niklas.
“Apakah itu artinya bahwa Oliver Harald mendapatkan jabatan dengan cara yang tidak benar?” terka Ludwig sambil sesekali melirik pada Petra yang terdiam mendengarkan.
“Bisa dikatakan demikian. Saat ini, ada banyak pihak yang menginginkan agar Oliver jatuh,” lanjut Niklas.
“Jadi, itulah sebabnya mereka membidik putri Oliver,” pikir Ludwig sambil menggumam.
“Maaf, Tuan. Apakah anda mengatakan sesuatu? Aku tidak dapat mendengarnya." Niklas sedikit mengeraskan suara.
“Tidak apa-apa. Nanti kuhubungi lagi,” putus Ludwig sebelum mengakhiri panggilan. Perhatiannya kini tertuju pada Petra. “Kau adalah putri seorang menteri,” desis Ludwig.
“Ya. Seperti yang kukatakan padamu." Petra mendongak, lalu tersenyum angkuh.
“Ini adalah kabar yang sangat bagus." Ludwig tersenyum lebar, lalu menurunkan tubuh. Dia setengah berjongkok di hadapan Petra yang duduk bersila di atas jerami. “Apakah kau ingin pulang ke Jerman?” tawar Ludwig.
“Tentu saja! Aku ingin pulang dan bersantai di jacuzzi,” jawab Petra yakin.
“Aku akan membantumu.” Ludwig tersenyum samar. Sorot mata tajamnya tak lepas dari Petra.
“Benarkah?” Petra terbelalak dengan raut bahagia.
“Dengan satu syarat,” ucap Ludwig.
“Akan kukabulkan apapun itu. Aku berjanji!” ucap Petra berapi-api.
__ADS_1
“Aku akan membantumu keluar dari Austria agar bisa kembali ke Jerman. Syaratnya adalah ayahmu harus membuat pihak pemerintah dan kedutaan, mencabut status buron serta mengembalikan perusahaanku yang bergerak di sektor legal,” tegas Ludwig.