Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Menjemput Kerinduan


__ADS_3

“Kau tidak berhak mengaturku, Paman!” tolak Lilia tak terima.


“Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Lilia. Ayahmu adalah sahabat baik yang sudah seperti saudara bagiku. Kurasa, kita tidak harus terus mengulanginya. Kau sudah tahu itu dengan baik,” tegas Manfred.


“Kuharap, Anda tidak menghalangi pihak berwenang untuk melakukan tugasnya, Nyonya,” ujar Ehren kembali bersuara. “Tidak perlu berdebat. Ini sudah menjadi keputusan final. Tuan Stegen akan segera dijemput dan dipindahkan ke Jerman. Bersedia atau tidak, kita tak boleh melakukan intervensi dalam kasus ini. Biarkan hukum berjalan dengan semestinya.” Ehren lalu mengalihkan pandangan kepada Ludwig yang masih terlihat lemah, berhubung dia baru sadar dari serangkaian tindakan medis.


Lilia duduk terpekur. Keheningan merajai ruang perawatan Ludwig untuk beberapa saat, hingga dua orang perawat masuk. Mereka datang ke sana dengan diikuti tiga pria bersetelan rapi. Ketiga pria tadi, merupakan orang-orang yang akan mengurus pemindahan Ludwig dari Austria ke Jerman.


Melihat kedatangan para pria bersetelan rapi tersebut, keresahan dalam diri Lilia kian memuncak. Dia memegang erat tangan Ludwig, seakan tak ingin berpisah dengan pria tampan berambut cokelat tembaga itu.


“Kami telah mengurus semua hal yang berkaitan dengan proses pemindahanmu, Ludwig Stegen,” ucap salah seorang dari ketiga pria tadi diiringi senyum sinis. “Cukup sudah kau merepotkan pihak interpol serta agen federal. Saatnya kembali ke Jerman untuk menikmati rumah baru.”


“Yang benar saja,” timpal rekan dari pria tadi. “Bagaimana bisa kau mengecoh semua orang? Kami bahkan sudah melebarkan pencarian hingga ke Norwegia, Swedia, dan Spanyol. Ternyata, kau berada di Austria.” Pria berambut pirang yang tersisir rapi ke belakang itu, berdecak tak percaya.


Ludwig tak menanggapi ucapan kedua pria tadi. Terlebih, karena para perawat telah selesai memindahkan dirinya ke brankar. Mereka akan segera membawa Ludwig terbang ke Jerman.


“Tidak!” cegah Lilia, saat kedua perawat itu hendak mendorong tempat tidur Ludwig keluar kamar perawatan. Lilia menggenggam erat tangan Ludwig yang tak banyak bicara.


“Kumohon. Jangan lakukan itu,” pinta Lilia mengiba. Air mata mengalir deras, membasahi pipi mulusnya. “Bagaimana denganku? Aku ingin ikut bersamamu. Aku tidak memiliki siapa pun lagi.” Lilia memeluk Ludwig yang terbaring tak berdaya. Dia terus menangis, karena tak rela belahan jiwanya dibawa dengan cara seperti itu.


“Sudahlah, Lilia. Jangan khawatir,” ucap Ludwig lemah dan teramat pelan.


“Tidak! Bagaimana aku tidak khawatir? Kau akan menjauh lagi dariku. Bukankah kau mencintai dan tak akan pernah meninggalkanku?” Lilia tak dapat mengendalikan diri.


Lilia melepaskan pelukannya dari Ludwig, lalu memandang semua pria yang ada di ruangan itu. “Kalian semua benar-benar keterlaluan! Di mana hati nurani kalian?” Wanita berambut merah itu mulai histeris.


“Ini tidak sebanding dengan segala kejahatan yang telah dilakukannya, Nyonya. Tolong bersikaplah yang baik. Kami sedang melakukan tugas,” jawab salah seorang dari ketiga pria bersetelan rapi tadi.


“Apa kau tidak melihat kondisi suamiku yang masih terbaring lemah? Dia baru siuman! Astaga! Kalian tak ubahnya dengan penjahat yang dianggap berbahaya ini!” Lilia tak segan mengarahkan telunjuknya, pada pria yang tadi berbicara.

__ADS_1


“Hentikan, Nak,” cegah Manfred. Dia tidak ingin jika Lilia semakin tak terkendali. Manfred langsung memegangi wanita muda itu, agar tidak bertindak macam-macam.


Melihat sikap Lilia yang demikian, Ludwig menggerakkan tangan agar wanita itu mendekat. “Kemarilah,” ucapnya pelan.


Lilia yang sudah melepaskan diri dari Manfred, langsung mendekat kepada Ludwig. Dia kembali menggenggam erat tangan pria tampan tersebut. Lilia mendekatkan telinganya ke bibir Ludwig.


“Aku pasti akan kembali untuk menemuimu. Pegang kata-kataku,” bisik Ludwig.


Lilia menjauhkan wajahnya. Dia berdiri tegak di sebelah brankar. “Kau janji?” tanyanya masih berurai air mata.


Ludwig mengangguk samar tanpa mengatakan apapun. Terlebih, karena para perawat langsung mendorong tempat tidur beroda itu keluar kamar. Mereka membawa Ludwig ke landasan helikopter yang berada di atas gedung rumah sakit tersebut.


Lilia berdiri terpaku. Dia tak kuasa melawan. Sama seperti saat dirinya harus menghadapi keganasan Lech Czeslaw. Kali ini pun, wanita cantik tersebut hanya bisa menerima saat takdir kembali mempermainkan jalan hidupnya.


Sejak saat itu, Lilia tinggal bersama Manfred. Kebiasaannya yang dulu sering berinteraksi dengan binatang di peternakan, membuat Lilia tak merasa risi saat menjadi asisten pribadi sahabat sang ayah.


Manfred tak pernah mengetahui bahwa ada kerangka Gunther di pondok kayu peternakan. Dia juga tak menyangka bahwa Dominik yang selama ini menjadi sahabat dekatnya, terkubur dalam bunker di bangunan itu.


Sementara, Ludwig menjalani perawatan hingga benar-benar pulih. Namun, tentu saja kali ini dia tak dapat ke manapun. Ludwig hidup terkurung dalam sel khusus, untuk menunggu proses peradilan yang akan diterimanya. Pria tampan tersebut menanti selama berbulan-bulan. Dia tak pernah lupa, bahwa dirinya telah berjanji untuk menemui Lilia di Austria.


Namun, kenyataannya hingga kini raga Ludwig masih berada dalam genggaman hukum. Hingga sekitar dua minggu kemudian, Oliver mengirimkan seseorang untuk menemui pria tampan tersebut, dengan mengaku sebagai kerabat dekat Ludwig.


“Kenapa dia menyuruh orang lain untuk menemuiku?” tanya Ludwig dingin.


“Jangan gegabah, Tuan Stegen,” tegur pria yang merupakan orang suruhan Oliver tersebut. “Pak menteri tak mungkin menemuimu secara langsung. Dia harus selalu menjaga nama baiknya,” jelas si pria.


“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin agar dia segera membebaskanku dari tempat terkutuk ini!” gerutu Ludwig. “Kandang sapi jauh lebih menyenangkan bagiku!” Pria bermata cokelat madu tersebut mendengkus kesal karena harus terkurung lama di sana.


“Jangan khawatir, Tuan Stegen,” ucap pria suruhan Oliver tadi menenangkan Ludwig.

__ADS_1


“Aku tidak merasa khawatir. Aku hanya sudah muak berada di sini!” balas Ludwig penuh penekanan. “Katakan pada Oliver Harald. Aku tak akan segan mengatakan kepada semua orang, bahwa dia telah melakukan kejahatan besar dengan membakar habis Peternakan Lienhart. Berapa banyak korban jiwa dalam tragedi mengerikan itu?” seringai Ludwig.


Pria suruhan Oliver mengembuskan napas dalam-dalam. “Baiklah. Akan kusampaikan. Permisi.” Dia mengangguk sopan, lalu berbalik meninggalkan Ludwig yang kembali sendirian.


Ludwig duduk di tepian tempat tidur dengan posisi setengah membungkuk. Pria itu meraup kasar wajahnya. Helaan napas berat, berkali-kali meluncur dari bibir berkumis tipis, yang tak lama kemudian menyebut satu nama ‘Lilia’. Kerinduan yang Ludwig rasakan terhadap Lilia begitu besar. Dia ingin segera bertemu kembali dengan wanita pujaannya tersebut. Entah harus berapa lama lagi dirinya menunggu.


Namun, harapan Ludwig ternyata tak hanya sekadar angan-angan yang jauh dari jangkauan. Dua hari kemudian, Oliver sebagai menteri pertahanan melakukan pidato resmi di hadapan awak media yang kemudian disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri.


Oliver mengumumkan bahwa Ludwig telah berjasa membantu pemerintah dalam menumpas Schaefer. Walaupun organisasi itu berasal dari Polandia, tapi mereka sangat terkenal di Jerman dan begitu ditakuti karena kebrutalannya. Oliver menjabarkan secara detail, tentang semua yang Ludwig lakukan dalam menumpas gembong mafia tersebut. Dia juga meminta maaf, karena dirinya telah melakukan kerja sama rahasia dengan seorang buronan paling dicari.


Namun, dengan kekuasan yang dimilikinya selagi masih menjabat sebagai menteri pertahanan, Oliver secara resmi mencabut predikat buron yang diberikan kepada Ludwig Stegen. Dia juga mengembalikan semua aset serta bidang usaha legal yang telah dibekukan pemerintah. Secara hormat, Oliver menerima kembali Ludwig Stegen sebagai warga Jerman tanpa ada embel-embel kata buronan.


......................


Beberapa hari kemudian


Cahaya mentari tersembunyi di balik rindangnya pepohonan, yang menghiasi taman kota. Ludwig duduk berdua bersama Oliver, sambil menikmati kopi dalam kemasan khusus.


“Sesuai dengan pengakuan yang Ulger berikan padaku, Radko Trava merupakan nama salah satu petinggi Schaefer. Namun, dia tak menjabat lama. Hanya dua hari,” terang Oliver sebelum meneguk kopi kemasan yang berada dalam genggamannya.


“Dua hari?” ulang Ludwig seraya memicingkan mata. “Secepat itu?”


“Ya. Dia mati terbunuh secara mengenaskan. Seperti itulah yang terjadi dalam Organisasi Schaefer, hingga Lech Czeslaw mengambil alih perkumpulan tersebut. Di tangan Lech, Schaefer kembali menemukan ritme serta kejayaannya. Mereka menjadi semakin arogan dan melakukan banyak tindak kejahatan tak hanya di Polandia.” Oliver kembali meneguk minumannya.


“Sejujurnya, aku baru melihat wajah Lech Czeslaw secara langsung, dari foto yang kau kirimkan tempo hari. Aku merasa begitu bodoh karena terlalu berhasrat untuk memiliki jabatan, sehingga mengabaikan banyak hal,” sesal Oliver.


Ludwig tidak menanggapi. Dia menatap lurus ke depan. pada suasana sore di Kota Berlin yang sudah sekian lama tidak dirinya nikmati. Namun, kerinduan akan ibukota Jerman tersebut, tak jauh lebih besar dari apa yang dirasakannya terhadap Lilia. Sehingga, saat Nilkas datang menjemput ke sana, dia langsung berpamitan kepada Oliver.


“Terima kasih untuk kebebasan ini. Aku harus pergi.” Ludwig mengangguk, kemudian berlalu. Dari sana, dia langsung menuju ke hanggar tempat jet pribadinya berada. Ludwig akan segera terbang ke Austria, untuk melepaskan kerinduan yang telah sekian lama mengurung dirinya.

__ADS_1


__ADS_2