Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Penjahat Tampan


__ADS_3

Lilia hanya bisa merintih pelan menahan sakit, saat pria bernama Lech tadi menggagahinya tanpa ampun. Rasa hati ingin berteriak, tapi dia tahu bahwa itu hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia. Tak akan ada siapa pun yang dapat menolong. Tidak juga Ludwig yang telah pergi mencampakkan dan tak peduli akan nasibnya.


Deraian air mata, mengiringi deru napas penuh kepuasan yang meluncur dari bibir Lech. Pria yang bahkan belum Lilia ketahui seperti apa wajahnya. Lilia hanya bisa pasrah. Lagi pula, dia tak tahu harus ke mana dan melakukan apa. Terlebih, setelah mengetahui bahwa peternakan yang selama ini menjadi tempatnya menghabiskan masa-masa indah dari lahir hingga dirinya dewasa, telah porak-poranda.


“Oh, luar biasa.” Lech mengerang tertahan, saat dirinya menyudahi kejahatan yang telah dilakukan terhadap wanita tidak berdosa dan tak berdaya seperti Lilia. Pria itu menurunkan tubuh, hingga dadanya menyentuh punggung Lilia.


Tanpa diduga, Lech mencium pipi wanita malang tersebut. Namun, dia tak melepas tali yang mengikat di tangan Lilia. Tidak juga membuka penutup mata, yang masih terpasang di wajah putri tunggal Gunther tersebut.


Beberapa saat kemudian, Lilia berusaha bangkit. Susah payah dia melakukan hal itu, berhubung tangannya masih terikat. Lilia bahkan sampai terjatuh dari sofa, tempat dirinya kehilangan harga diri karena dirudapaksa. Dia semakin kesulitan untuk bangkit, hingga seseorang masuk dan membantunya.


“Tidak! Jangan menyentuhku!” tolak Lilia ketakutan. Wanita muda itu duduk sambil beringsut mundur, hingga punggungnya menyentuh sofa.


“Hey, jangan takut.” Suara Marik terdengar lembut, mencoba menenangkan Lilia yang ketakutan. Dia menurunkan tubuh, lalu membantu wanita dengan pakaian lusuh itu agar bangkit. “Tuan Lech ingin membawamu ke Polandia,” ucapnya.


“Apa? Polandia? Tidak! Aku tidak mau!” tolak Lilia dengan segera. Dia berusaha berlari, meski dalam kondisi tangan terikat dan mata tertutup.


Namun, apa yang Lilia lakukan hanya sia-sia. Dengan mudah, Marik menangkap tubuhnya yang sudah lemah. “Kau tidak bisa ke mana-mana, Sayang,” ujar pria itu. “Jika Tuan Lech sudah memutuskan, maka tak ada seorang pun yang bisa menentangnya.”


“Aku tidak mau!” tolak Lilia. “Lepaskan aku!” Wanita itu berteriak histeris, saat Marik membawanya keluar dari ruangan tadi secara paksa. Lilia terus berontak, saat dirinya akan dimasukkan ke mobil. Dia terus menolak dan berteriak histeris.


“Buat wanita ini diam!” titah suara yang Lilia ketahui milik pria bernama Lech.

__ADS_1


“Baik, Tuan.” Marik membekap mulut Lilia beberapa saat, hingga akhirnya wanita itu terkulai lemas tak sadarkan diri. Setelah Lilia pingsan, barulah Marik membopongnya masuk ke mobil.


Entah berapa lama Lilia tak sadarkan diri. Saat dirinya bangun, wanita muda itu sudah berada di tempat yang teramat asing. Lilia mengerjapkan mata, sambil mencoba mengumpulkan kekuatan. Namun, tubuh wanita malang tersebut rasanya begitu lemas. Terlebih, karena kini kakinya juga dalam kondisi terikat.


Lilia tidur menyamping sambil meringkuk. Kedua tangannya kali ini terikat ke depan. Namun, tetap saja tak membuat dia bisa melakukan sesuatu. “Ayah,” desah wanita muda itu lirih.


“Kau sudah bangun?” tanya seorang wanita, yang tiba-tiba ada di dalam kamar tempat Lilia berada.


Namun, Lilia tak mengerti apa yang wanita tadi katakan, karena bahasa mereka jelas berbeda. Lilia memilih diam, tak menanggapi ucapan si wanita yang mendekat ke tempat tidur. Dia berdiri sambil melayangkan tatapan iba kepada Lilia.


Tanpa mengatakan apapun, wanita itu membantu melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Lilia. Dia mengulurkan tangan, bermaksud membantu wanita muda itu bangun. “Tuan menyuruhku agar membersihkan tubuhmu,” ucap wanita dengan midi dress floral tersebut.


“Maaf. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Lilia menggeleng pelan. Dia duduk sambil melipat lutut, menempelkannya di perut. “Aku tidak tahu ini di mana.”


Lilia menggeleng. “Tidak. Bukan. Aku berasal dari Austria,” jawabnya.


Si wanita paruh baya tadi mengangguk, lalu tersenyum lembut. “Kemarilah. Aku harus membantumu membersihkan tubuh, lalu berganti pakaian. Tuan Lech menunggu di ruangannya lima belas menit lagi. Kita harus cepat. Jika tidak ….” Wanita paruh baya itu menjeda kata-katanya.


“Kenapa?” tanya Lilia penasaran.


Wanita itu menggeleng. “Kau akan tahu sendiri seperti apa karakter Tuan Lech setelah bertemu dengannya. Jangan mencari masalah. Buatlah hidupmu seaman mungkin, karena apapun yang kau lakukan untuk melarikan diri darinya ….” Wanita tadi kembali menjeda kata-katanya. “Sudahlah. Ayo.” Dia meraih tangan Lilia agar turun dari ranjang, lalu menuntun wanita muda itu ke kamar mandi.

__ADS_1


“Siapa namamu” tanya wanita paruh baya itu, setelah membantu Lilia berendam di bathtub. Dia memijat perlahan lengan Lilia yang sudah dululuri sebelumnya.


“Lilia. Lilia Lienhart.”


“Nama yang sangat cantik. Sesuai dengan orangnya,” sanjung si wanita lembut. “Namaku Berta. Ayo. Bilaslah tubuhmu. Aku akan menunggu sambil menyiapkan pakaian.” Wanita bernama Berta itu keluar dari kamar mandi. Dia membiarkan Lilia membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian, Lilia sudah selesai mandi dan berpakaian. Untuk pertama kali bagi wanita muda itu, mengenakan baju yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya. “Apakah pakaian ini tidak terlalu terbuka?” Lilia menyentuh dada yang menyembul dari bagian atas dress ketat tadi.


“Tuan akan menyukaimu. Kau terlihat sangat cantik, Lilia,” ucap Berta, sambil merapikan rambut panjang wanita muda yang masih berdiri tak percaya di depan cermin. Pasalnya, Lilia juga memakai riasan lengkap saat itu. Bibir merah dan eyeshadow, yang semakin memperindah sepasang mata abu-abunya.


“Mari, Lilia. Tuan Lech tidak suka jika menunggu terlalu lama.” Berta menggandeng lengan Lilia, membawanya berjalan menyusuri koridor rumah dengan arsitektur kuno itu.


Dalam hati, Lilia merasa bingung. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya.


“Ingat. Jangan membantah apapun yang Tuan Lech katakan. Ini semua demi kebaikanmu,” pesan Berta, setelah mereka tiba di depan pintu kayu berwarna cokelat doff. Berta menggenggam jemari lentik Lilia, lalu menciumnya penuh kasih. “Tuhan akan selalu menyertaimu, Nak.” Setelah berkata demikian, wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan Lilia.


Kini, Lilia hanya sendiri. Wanita itu berdiri dalam kebimbangan di depan pintu, sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuknya.


“Masuk!” Terdengar suara yang sudah tak asing lagi bagi Lilia.


Perlahan, Lilia memutar pegangan pintu lalu membukanya. Dia tampak ragu, saat memasuki ruangan di mana Lech sudah menunggu.

__ADS_1


Beberapa langkah di depan Lilia, telah berdiri seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan rambut cepak berwarna cokelat. Satu yang pasti, pria itu terlihat sangat gagah juga tampan. Ciri-ciri yang mengingatkan Lilia pada sosok Ludwig Stegen.


__ADS_2