
Lilia tidak segera menjawab. Dia menatap lekat kepada Ludwig yang juga tengah memandang ke arahnya. “Makanlah dulu.” Lilia mengambil makanan yang dibuatnya. Dia bermaksud menyuapi Ludwig, tanpa memberikan tanggapan atas ucapan pria itu.
“Seharusnya, aku tidak mengakui perasaanku padamu.” Ludwig menggaruk alisnya. Dia merasa begitu bodoh dan menjadi sedikit kikuk. Sebenarnya, Ludwig menghindari untuk melakukan hal itu. Akan tetapi, dorongan perasaan yang kuat telah memaksanya kembali takluk dalam cinta, yang telah membuat dirinya menjadi seperti saat ini.
“Habiskan makananmu. Setelah itu, beristirahatlah.” Lilia tak juga memberikan tanggapan, atas pernyataan cinta yang Ludwig ungkapkan padanya. Dia justru memilih berlalu dari hadapan Ludwig, yang hanya bisa mengembuskan napas pelan bernada keluhan sambil menatap kepergian Lilia.
Keesokan harinya, Ludwig seakan tak peduli dengan luka yang tengah dia derita. Pria itu sudah bersiap pergi. Seperti biasa, jaket kulit dan topi baseball menjadi teman setianya bila keluar rumah.
“Kau mau ke mana?” tanya Lilia, saat melihat Ludwig telah bersiap.
“Aku harus ke tempat Jedrick,” jawab Ludwig seraya berjalan mendekat ke meja makan, di mana Lilia telah menyiapkan sarapan untuk mereka. Ludwig mengambil satu buah roti kering, lalu memakannya bersama saus apel. “Kau yang membuat ini?” tanyanya basa-basi.
“Apa kau melihat ada orang lain di sini?” Nada bicara Lilia terdengar agak ketus. Wanita yang masih mengenakan T-Shirt longgar milik Ludwig tersebut, memalingkan wajah serta memasang ekspresi cemberut.
“Um, ya. Kau benar.” Ludwig tampak kikuk. “Kau sering membuatnya saat masih di Tirol ….” Ludwig tidak melanjutkan kata-katanya, karena melihat raut wajah Lilia yang menjadi muram.
Wanita itu menunduk, seakan menyembunyikan kepedihannya dari Ludwig. “Maafkan aku.” Ludwig kembali terlihat kebingungan. Dia meraih pundak Lilia menggunakan tangan kiri, membalikkan wanita itu agar menghadap padanya. “Suatu saat nanti, aku akan membawamu kembali ke Austria. Tidak dalam waktu dekat, tapi aku berjanji akan mengabulkannya.”
“Untuk apa kembali ke sana? Aku tidak punya rumah atau siapa pun lagi.” Lilia kembali membalikkan badan. Dia bahkan membelakangi Ludwig.
Mendengar ucapan Lilia barusan, perasaan bersalah dalam diri Ludwig kian menjadi. Dia maju selangkah, hingga dirinya berdiri tepat di belakang wanita cantik yang hanya mengenakan atasan T-Shirt tersebut. “Setelah ini, aku akan membantumu mencari keberadaan Tuan Gunther ….”
“Jika ayahku tidak tewas dalam huru-hara malam itu,” potong Lilia. Dia mulai terlihat gelisah. Lilia berkali-kali menyibakkan rambut panjangnya. Napas wanita cantik tersebut mulai tak beraturan.
Melihat perubahan sikap Lilia, Ludwig seketika teringat dengan perbincangannya kemarin malam. Dia langsung meletakkan roti yang sedang dirinya makan. Pria itu segera meraih tubuh Lilia yang tampak menggigil, tapi bukan karena kedinginan. “Lilia, Sayang.” Ludwig membopong tubuh Lilia, membawanya ke kamar. Dia membaringkan wanita itu hati-hati.
“Tolong ambilkan obatku,” pinta Lilia terdengar lirih.
“Obat apa?” tanya Ludwig tak mengerti. Namun, Lilia tidak menjawab. Dia hanya menunjuk pada tas miliknya.
Tanpa banyak bertanya lagi, Ludwig segera mengambil tas milik Lilia. Diserahkannya tas itu dengan raut penuh tanda tanya. Terlebih, saat melihat Lilia meminum obat dari dalam wadah khusus.
“Aku harus tidur,” ucap Lilia seraya mengubah posisi jadi menyamping. Wanita cantik tersebut tak mengatakan apapun lagi, karena dia sudah memejamkan mata.
__ADS_1
Sementara, Ludwig masih diliputi rasa heran. Dia menarik selimut yang belum sempat dirapikan. Ludwig menutupi tubuh Lilia hingga lengan. Pria tampan tersebut berdiri sambil memandang lekat wanita yang pernah dirinya nikahi.
Demi menjawab rasa penasarannya, Ludwig mengambil wadah obat tadi. Dari sana, dia tahu bahwa Lilia ternyata mengonsumsi pil penenang. “Astaga,” gumam pria berambut cokelat tembaga itu tak percaya seraya meletakkan kembali obat tadi ke tempatnya. “Lilia ….”
Ludwig duduk di tepian tempat tidur dengan posisi membelakangi. Dia setengah membungkukkan badan, lalu meraup kasar wajahnya yang penuh luka. Keinginan untuk segera mendapatkan kembali kebebasannya kian besar, demi mewujudkan janji yang telah diberikan kepada Lilia.
Namun, perenungan itu tak berlangsung lama, karena telepon genggam yang berada di meja tampak menyala dan bergetar. Tanpa membuang waktu, Ludwig segera meraih ponsel tadi lalu menjawab panggilan yang berasal dari Jedrick. “Hallo,” sapanya datar.
“Pria itu sudah sadar, Tuan. Apa Anda akan kemari atau ….”
“Tadinya aku akan ke sana, tapi Lilia ….” Ludwig menoleh kepada Lilia, yang tengah tidur dalam posisi menyamping membelakanginya.
“Kalau begitu, kubawa saja dia kembali ke tempat anda. Bagaimana?” tawar Jedrick.
“Astaga. Konyol sekali,” gumam Ludwig. Dia bergerak tanpa perencanaan yang matang, karena kehilangan konsentrasi akibat fokusnya terbagi ke mana-mana. Semuanya menjadi seakan tak beraturan lagi. “Tahan dulu pria itu di tempatmu. Jangan sampai dia melarikan diri. Aku akan menghubungi Oliver,” putus Ludwig.
“Baiklah kalau begitu. Hubungi saja jika anda memerlukan sesuatu.”
Setelah percakapan dengan Jedrick berakhir, Ludwig kemudian menghubungi Oliver. Ternyata, sangat sulit menghubungi pria itu di siang hari. Ludwig harus melakukan panggilan berulang, hingga akhirnya dapat tersambung dengan sang menteri.
“Aku sudah menemukan pria dalam sketsa itu. Datanglah. Kau bisa menginterogasinya sendiri,” jawab Ludwid dingin.
“Jangan gila!” sergah Oliver. “Kau lupa bahwa aku seorang menteri?”
Ludwig tersenyum sinis menanggapi ucapan Oliver. Sekilas, dia kembali menoleh kepada Lilia yang masih terlelap. “Kutunggu kau secepatnya.”
“Tidak bisa. Aku sangat sibuk,” tolak Oliver.
“Terserah kau.” Ludwig sudah akan mengakhiri perbincangan tadi, ketika tiba-tiba Oliver kembali bicara.
“Baiklah. Aku akan mencuri waktu,” putus ayahanda Petra tersebut.
Selesai dengan perbincangan tadi, Ludwig memasukkan ponselnya ke saku bagian dalam jaket. Dia beranjak dari duduk, lalu naik ke tempat tidur. Entah mengapa, perasaan pria itu menjadi sangat berbeda.
__ADS_1
“Tidurlah. Aku tidak akan lama,” bisik Ludwig. Dia membelai rambut Lilia, sebelum mengecupnya lembut. Setelah itu, Ludwig turun dari tempat tidur. Dia keluar dari sana. Ludwig meninggalkan rumah, setelah sebelumnya mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
Jarak antara rumah yang dia tempati dengan markas Jedrick berada tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki, Ludwig sudah tiba di sana. Pria itu langsung menuju ke ruangan yang biasa dijadikan tempat para tahanan.
Dengan langkah gagah penuh percaya diri, Ludwig menghampiri kursi yang berada tepat di tengah ruangan tanpa jendela tersebut. Di sana, Ulger duduk terikat dengan mulut tertutup lakban.
"Kau lihat siapa tuannya sekarang?" Ludwig menarik rambut Ulger ke belakang, sehingga pria itu seketika mendongak. “Berani sekali kau menembakku. Namun, aku masih hidup. Pelurumu tidak berguna saat kau tujukan padaku.” Ludwig mencengkram erat rambut pria itu, hingga Ulger meringis kesakitan.
“Aku belum menanyakan apapun padanya, Tuan,” ucap Jedrick yang berdiri di sebelah Ludwig.
"Tidak apa-apa. Aku yang akan menanyainya," balas Ludwig. Pria itu tetap terlihat gagah, meski wajahnya masih dihiasi beberapa luka lebam. Ludwig menatap tajam pria yang terikat kencang di kursi besi tadi, lalu melepas lakban dengan seenaknya. Dia tak peduli, meski Ulger kembali merasa kesakitan.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi denganmu. Langsung saja katakan, di mana keberadaan Radko Trava saat ini?" tanya Ludwig penuh penekanan.
Akan tetapi, Ulger tidak menjawab. Pria berpostur tinggi tegap tersebut malah tersenyum sinis penuh cibiran.
"Aku tidak membutuhkan senyumanmu! Aku hanya menginginkan jawaban tentang Radko Trava!" Satu tamparan keras mendarat di wajah Ulger, hingga darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Namun, setelah itu Ludwig juga meringis kecil, karena luka tembak yang belum pulih.
Ludwig mengangkat kakinya, lalu diletakkan di dekat pangkal paha Ulger. Dia sengaja menekan kuat, menjadikan paha anak buah Lech tersebut sebagai pijakan. "Cepat katakan! Aku bukan penyabar," desak Ludwig lagi dengan nada bicara yang sama seperti tadi.
Lagi-lagi, Ulger hanya menyunggingkan senyuman sinis penuh cibiran. Pria itu tetap memilih bungkam.
"Apa yang lebih penting bagimu? Informasi tentang Radko Trava, atau aset berharga ini." Ludwig menggeser kakinya ke bawah perut Ulger. Dia menekan area tersebut dengan tidak terlalu kencang.
"Kasihan sekali karena kau tak bisa lagi menikmati surga dunia. Wanita-wanita cantik itu hanya akan menjadi mimpi buruk bagimu." Kini, giliran Ludwig yang tersenyum sinis penuh cibiran, saat melihat raut wajah tegang yang diperlihatkan Ulger.
"Carilah terus. Sampai kiamat pun kau tak akan pernah menemukan sosok Radko Trava." Ulger menggeleng kencang, saat Ludwig terus menekan area bawah perutnya dengan kaki berlapis hiking boots.
"Kenapa? Kenapa aku tidak akan pernah menemukan Radko Trava? Apa dia memang makhluk tak kasat mata?" selidik Ludwig tanpa mengubah intonasinya.
"Kau hanya akan membuang waktumu, Sobat. Lagi pula, kusarankan sebaiknya jangan menantang seseorang yang belum terlalu kau ketahui kekuatannya. Kecuali, jika dirimu memang sudah bosan hidup dan ingin menyerahkan nyawa dengan sukarela."
"Jangan mengguruiku, Bodoh!" sergah Ludwig. "Cepat katakan, di mana aku bisa menemukan keberadaan Radko Trava!" sentak Ludwig yang sudah hilang kesabaran.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Ulger malah tertawa dengan nada mengejek. Dia tak peduli, meski Ludwig kembali memukulnya keras. "Dari pada terus bertanya tentang Radko Trava, sebaiknya kau segera pulang untuk memastikan keadaan Red Lily."