
Sepeninggal Gunther, Ludwig bergegas ke teras pondok. Dia mengangkat salah satu papan, yang ternyata sangat mudah untuk dilepas. “Gunther terlalu gegabah,” gumam Ludwig seraya mengambil kotak besi, tempat ayahanda Lilia menyimpan kunci. Kotak besi itu sendiri ternyata tidak dikunci menggunakan gembok atau sandi-sandi khusus. Ludwig bisa mengambil isinya dengan mudah.
Setelah memasukkan kunci itu ke saku celana panjang, Ludwig mengembalikan kotak dan papan tadi seperti semula. Dia berdiri, lalu melangkah ke dekat pintu. Ludwig mencoba membuka gembok dengan kunci yang sudah ada di tangannya. Akan tetapi, sayangnya kunci itu ternyata tidak cocok dengan gembok yang terpasang. Ludwig berkali-kali mencoba memutarnya, tapi tetap tidak bisa.
“Ah! Brengsek! Sial!” gerutu Ludwig. Pria tampan dengan warna rambut ash grey tersebut mendengkus kesal. Dia bahkan sempat menendang pintu itu dengan cukup keras. Namun, rupanya pintu tadi terbuat dari kayu tebal berkualitas tinggi, sehingga terlalu sulit untuk didobrak paksa. Kecuali, jika Ludwig ingin menimbulkan keributan. Tak ada pilihan lain bagi Ludwig, selain kembali ke rumah. Dia harus mencari cara agar bisa mendapatkan kunci pintu pondok kayu tadi.
......................
Menu sarapan telah tersaji di meja makan. Pagi itu, Gunther juga ada di antara putri dan menantunya. Pria paruh baya itu tampak biasa saja. Tak ada yang aneh atau mencurigakan sama sekali.
Lain halnya dengan Ludwig. Sesekali, pria tampan tersebut melirik sang ayah mertua. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Sejak semalam, Ludwig terus mencari cara agar dirinya bisa mendapatkan kunci pondok kayu di dekat sungai.
“Hari ini, sepertinya aku akan sangat sibuk di peternakan. Ada seorang rekan yang ingin melihat-lihat kemari. Bisakah kau membantuku, Heinz?” Gunther membuka percakapan di meja makan.
“Tentu,” jawab Ludwig singkat. Dia menoleh sekilas kepada sang ayah mertua, yang menatapnya dengan sorot penuh isyarat. Ludwig tahu bahwa pria paruh baya itu pasti tengah merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
“Semangat,” ucap Lilia seraya tersenyum manis. Dia mengusap lembut lengan kokoh sang suami, yang menjadi tempat ternyaman untuk melepas penat.
Hingga sarapan selesai, tak ada lagi percakapan yang berarti. Setelah santap pagi, Ludwig dan Lilia kembali ke kamar. “Aku tidak tahu jika ayah akan kedatangan tamu hari ini,” ucap Lilia heran.
“Memangnya, dia tidak mengatakan apapun padamu?” tanya Ludwig sambil merapikan kemeja pendek, yang melapisi T-Shirt round neck hitam di dalamnya.
“Tidak,” jawab Lilia. Dia menghampiri Ludwig, lalu berdiri di hadapan pria itu. Lilia merapikan bagian depan kemeja kotak-kotak lengan pendek sang suami. “Biasanya, aku selalu tahu agenda harian ayah.”
Ludwig tidak menanggapi. Pria dengan iris mata cokelat madu itu menatap lekat paras cantik Lilia. Dia kembali berpikir selama beberapa saat. “Semalam, aku melihat ayahmu keluar. Dia pergi ke peternakan,” tutur Ludwig.
__ADS_1
Lilia mengernyitkan kening. Ekspresi wanita muda itu terlihat sangat polos. “Jam berapa?” tanyanya.
“Hampir tengah malam,” jawab Ludwig. “Aku merasa penasaran. Karena itu, aku mengikutinya. Kau tahu dia pergi ke mana?” Ludwig menaikkan sebelah alis.
“Ke mana?” tanya Lilia lagi.
“Ayahmu pergi ke pondok kayu dekat sungai. Aku melihatnya masuk ke sana.”
Lilia membelalakan mata karena tak percaya. Dia beranjak dari hadapan Ludwig, lalu duduk di tepian tempat tidur. Lilia tampak menggeleng pelan, karena tak yakin dengan apa yang suaminya katakan. “Tidak mungkin. Ayah mengatakan bahwa tak ada siapa pun yang masuk ke sana, setelah ibu meninggal. Para pekerja hanya membersihkan bagian luar pondok dari tanaman liar, agar tetap terlihat asri,” bantah wanita muda itu.
“Kau percaya padanya begitu saja?” Ludwig ikut duduk di sebelah Lilia. “Lalu siapa yang kulihat semalam? Tidak mungkin hantu, kan?”
Lilia terdiam. Sesaat kemudian, putri tunggal Gunther tersebut menoleh kepada Ludwig. Namun, dia tak mengatakan apapun.
“Apa kau tahu di mana ayahmu biasa menyimpan kunci-kunci penting?” tanya Ludwig.
Lilia tak segera menjawab. Dia tampak mengingat-ingat. “Kurasa, tak akan jauh dari ruang kerja,” pikir wanita muda itu ragu. Dia menggerakkan bola matanya dengan tidak beraturan.
Ludwig setengah membungkukkan badan, sambil mengusap-usap kedua telapak tangan. Beberapa saat kemudian, pria tiga puluh dua tahun tersebut menoleh kepada Lilia. “Carikan kunci itu untukku. Akan kubawa kau ke dalam pondok. Kurasa, dirimu juga pasti sangat penasaran dengan yang ada di dalam bangunan kayu tersebut. Benar, kan?”
“Kau benar. Aku ingin sekali melihat keadaan pondok saat ini. Akan tetapi, sayangnya aku tidak berani masuk ke ruang kerja ayah tanpa permisi,” ujar Lilia masih terlihat ragu.
“Tidak apa-apa. Kurasa tak akan menjadi masalah, selama dia tak tahu kau menyelinap ke sana,” ujar Ludwig seraya tersenyum samar. Ditatapnya wajah cantik Lilia. Pipi mulus wanita muda itu merona, ketika Ludwig mengusap lembut bibir ranumnya menggunakan ujung ibu jari.
“Aku akan membuat ayahmu sibuk, agar kau bebas masuk dan mencari kunci itu dengan leluasa,” ucap Ludwig lagi. Tatap matanya tegas, tapi tetap terlihat memesona dan penuh rayuan. Terlebih, bagi wanita yang berpikiran polos seperti Lilia.
__ADS_1
Lilia membalas tatapan mata Ludwig dengan sorot penuh cinta. Rasa percaya yang begitu besar, wanita itu berikan kepada sang suami. Untuk sejenak, Ludwig terkesan akan hal itu. Sudut hatinya bergetar pelan. Ada sesuatu yang mulai menyentuh perasaannya sebagai seorang pria, tetapi segera pria itu tepiskan.
“Ayo,” ajak pria asal Jerman tersebut seraya bangkit. Dia menarik lembut tangan Lilia. Langkah kakinya yang lebar membuat putri sang pemilik peternakan itu sedikit kesulitan mengikuti. Mereka lalu berhenti di depan ruang kerja Gunther. Ludwig dan Lilia saling pandang, sebelum Ludwig memutuskan untuk mengetuk pintunya.
“Masuklah." Suara Gunther terdengar dari dalam.
Ludwig memutar gagang pintu, lalu membukanya lebar-lebar. Di dalam sana, terlihat Gunther yang tengah bersantai di kursi kebesarannya sambil mengisap cerutu. “Apa kau sudah siap, Heinz? Sebentar lagi, rekanku akan datang,” tanya Gunther seraya mencondongkan tubuh, lalu mematikan cerutunya di dalam asbak.
“Aku siap, kapanpun Anda membutuhkan,” sahut Ludwig seraya mere•mas tangan Lilia yang sedari tadi dia genggam, sebagai tanda bahwa istrinya itu harus bergerak setelah Gunther meninggalkan ruang kerja.
“Baiklah.” Gunther berdiri dan meraih topi laken yang tergeletak di atas meja. Dia memakai topi itu sambil berjalan mendekat ke arah Ludwig. Tanpa canggung, Gunther merengkuh pundak sang menantu. Dia mengajaknya keluar ruangan.
“Pergilah ke dapur, Lilia. Buatlah kue untuk kau hidangkan kepada kami sepulang dari peternakan nanti,” titah Gunther tanpa menoleh.
“Baik, Ayah. Akan kubuatkan kue yang lezat untuk kalian." Lilia berpura-pura mengikuti langkah Gunther dan Ludwig. Namun, saat kedua pria itu berbelok ke koridor lain, Lilia langsung berbalik. Dia kembali memasuki ruang kerja.
Lilia memulai pencariannya di rak buku besar di sisi ruangan. Dia merogoh ke balik buku-buku besar. Barangkali, dirinya bisa menemukan tombol yang bisa membuka ruang rahasia. Akan tetapi, ternyata tak ada apapun di sana.
Wanita itu melanjutkan pencarian ke meja kerja Gunther. Satu demi satu laci dia buka hingga yang paling bawah. Tak ada apapun di dalam sana yang dirasa penting. Lilia bahkan membolak-balik bantalan kursi, dengan harapan bisa menemukan sesuatu di sana. Lilia bahkan menyingkap karpet di lantai ruang kerja, yang terbuat dari kayu khusus.
Akan tetapi, lagi-lagi Lilia harus kecewa. Sembari menarik napas panjang, wanita muda nan cantik itu mengempaskan tubuh ke sofa. Sorot matanya sayu menatap karpet yang masih tersingkap dan belum sempat dia kembalikan. Di saat dirinya mulai putus asa, saat itulah Lilia menangkap sesuatu di lantai. Sebuah benda berkilau saat terkena cahaya matahari, yang masuk melalui jendela kaca.
Lilia bergegas menghampiri benda itu. Keningnya berkerut saat menyadari bahwa benda tersebut adalah pengait yang terbuat dari besi yang berbentuk melingkar. Penasaran, Lilia menarik pengait tadi. Tak disangka, pengait itu ternyata berfungsi sebagai gagang, yang membuka sebuah kotak persegi di bawah lantai kayu.
Lilia melongok ke dalam kotak yang berukuran kurang dari 30 cm. Tangannya merogoh ke dalam kotak itu. Di sana, dia menemukan sebuah kunci dengan model kuno yang telah berkarat. “Inikah kunci yang dimaksud oleh suamiku?” pikir Lilia pelan.
__ADS_1