
Rasanya seperti mimpi, ketika Lilia bisa kembali menginjakkan kakinya di tanah peternakan Lienhart. Sungguh mengharukan, saat dirinya dapat menghirup aroma angin yang berembus di tempat itu.
Namun, kebahagiaan Lilia menjadi tak sempurna, ketika dia harus menyaksikan tempat di mana dirinya dibesarkan sudah rata dengan tanah. Tak ada lagi rumah megah yang menjadi surga baginya. Tidak terdengar lagi suara lenguhan sapi, serta hiruk-pikuk para pekerja peternakan.
Satu-satunya bangunan yang masih tersisa dan berdiri kokoh hanyalah pondok kayu tepi sungai. Karena bangunan itu berjarak beberapa meter dari peternakan, sehingga luput dari pengrusakan. Lilia dan Ludwig juga tak mengerti, karena pondok kayu tersebut bisa selamat dari huru-hara pada malam mencekam itu.
“Mari kita ke sana,” ajak Ludwig. Dia menuntun tangan Lilia, yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
“Tidak,” tolak Lilia dengan segera. “Aku tidak mau!” Wanita cantik berambut merah itu menggeleng kencang. Dia tak bergerak dari tempatnya berada, meski Ludwig sudah menarik pelan tangannya. “Di dalam sana … aku masih ingat dengan kerangka manusia, dalam lemari yang kita temukan dulu.” Lilia mulai terlihat cemas.
“Tidak apa-apa.” Ludwig tetap memaksa Lilia agar ikut dengannya. Dia menuntun wanita itu berjalan mendekat ke pondok.
Ludwig dan Lilia berdiri beberapa saat. Mereka mengedarkan pandangan, melihat sekeliling. Kondisi pondok sangat kotor. Banyak dedaunan yang jatuh di halaman serta teras bangunan yang seluruhnya berbahan kayu tersebut.
“Kau yakin ini aman?” tanya Lilia ragu. “Tempat ini sudah lama ditinggalkan. Apa kau tidak berpikir ….”
“Kita periksa dulu ke dalam,” ajak Ludwig. Dia kembali menuntun Lilia menaiki teras, lalu memutar gagang pintu yang tidak terkunci. Setelah pintu terbuka lebar, mereka melangkah masuk dengan sangat hati-hati.
Di dalam pondok kayu itu kondisinya masih sama seperti beberapa bulan lalu, saat sebelum terjadi huru-hara. Bedanya, kali ini di sana jauh lebih kotor dan berdebu. Pengap serta bau apek pun tercium jelas di hidung Ludwig serta Lilia.
Ludwig tak melepaskan genggaman tangannya. Dia melihat sekeliling, sebelum mengalihkan pandangan kepada Lilia yang tampak tidak nyaman. “Kita bisa membersihkan tempat ini,” ujarnya.
“Apa rencanamu?” Lilia malah bertanya. Nadanya terdengar ragu.
“Entahlah. Aku hanya memikirkan bahwa kau ingin kemari. Lagi pula, aku harus membawamu menjauh dari Lech,” jawab Ludwig. Dia meletakkan tas jinjing miliknya. Begitu juga dengan Lilia. Ludwig melangkah ke dekat pintu kamar, di mana terdapat kerangka manusia dalam lemari.
“Tidak! Jangan! jangan ke sana, Ludwig,” cegah Lilia.
__ADS_1
Ludwig menoleh. Dia menatap Lilia untuk sesaat, sebelum memegang gagang pintu. Ludwig tak menghiraukan larangan Lilia. Namun, baru saja pria itu akan memutarnya, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi menyapa mereka.
“Kalian kembali?”
Sontak, Ludwig dan Lilia langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka terbelalak, melihat penampakan seorang pria dengan penampilan lusuh, berdiri di ambang pintu. Pria dengan pakaian kumal serta janggut lebat tak terawat. Dia adalah Gunther Lienhart.
“Ayah?” Lilia tak kuasa menahan haru. Wanita cantik dua puluh tiga tahun tersebut langsung menghambur ke pelukan Gunther yang segera menyambutnya.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Gunther seraya merenggangkan pelukan. Dia menatap Lilia dengan penampilan barunya yang terlihat sangat lain. “Rambutmu merah,” ucap Gunther lagi tak percaya.
Lilia tak langsung menanggapi. Dia menoleh kepada Ludwig yang berjalan mendekat kepada mereka.
“Apa kabar, Ludwig?” sapa Gunther.
“Seperti yang kau lihat, Tuan Lienhart,” jawab Ludwig biasa saja. “Aku bertemu dengan Lilia di Polandia. Dia ingin kembali kemari,” ujar pria bermata cokelat madu tersebut.
“Aku sangat mencemaskan keadaanmu, Ayah. Kupikir kau ….” Lilia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Terlebih, karena Gunther langsung menarik tangannya ke bagian sudut ruangan. Di sana, dia membuka dua bilah papan yang menjadi pelapis lantai. Tampaklah bunker di bawah pondok kayu itu.
“Masuklah, Nak. Di dalam sana jauh lebih aman.” Gunther mengarahkan agar Lilia melompat ke bawah.
“Tunggu, Lilia!” cegah Ludwig. Dia menarik lengan wanita yang hendak melompat ke bawah. “Kita tidak tahu seberapa aman di sana.”
Lilia menatap ragu kepada Ludwig. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Gunther.
“Jangan khawatir. Bunker itu merupakan tempat persembunyianku sejak dulu,” ucap Gunther. Pria itu mundur beberapa langkah.
“Sejak dulu?” Ludwig menaikkan sebelah alisnya. Dia berjalan mendekat kepada Gunther yang mulai terlihat tidak nyaman. “Katakan, Tuan Lienhart.” Tatapan Ludwig tajam tertuju kepada ayahanda Lilia tersebut. “Apakah saudara kembarmu tidak pernah datang kemari?” Pertanyaan yang Ludwig layangkan terdengar lain di telinga Gunther.
__ADS_1
“A-apa maksudmu? Dari mana kau tahu bahwa aku memiliki saudara kembar?” tanya Gunther sedikit gugup.
“Bukankah kau pernah bercerita padaku tentang Paman Dominik? Aku masih mengingatnya, Ayah,” ucap Lilia ikut berkomentar.
Gunther langsung mengalihkan perhatian kepada putri semata wayangnya tersebut. Dia menjadi salah tingkah. Namun, pria paruh baya tersebut berusaha untuk tetap terlihat biasa saja, dengan menutupi rasa gugupnya. “Oh, i-iya. Aku lupa pernah bercerita tentang itu padamu. Ya, kau benar.” Gunther manggut-manggut.
Namun, sikap kikuknya tersebut tak dapat membohongi penglihatan seorang Ludwig. Pria tampan berambut cokelat tembaga itu memicingkan mata. Ludwig seakan menangkap sesuatu yang lain dari bahasa tubuh Gunther. “Baiklah, Tuan Lienhart. Kau mungkin bisa memberikan sedikit penjelasan tentang tulang belulang manusia di dalam lemari. Lilia sangat ketakutan saat menemukannya.”
“A-apa? Tulang belulang apa maksudmu?” Gunther terlihat semakin gugup.
“Aku yakin jika itu merupakan tulang belulang asli,” sahut Lilia ragu. “Aku memang tidak melanjutkan kuliah, tapi aku paham benar jika yang kulihat malam itu bukanlah mainan, Ayah
“Lilia ….” Sorot mata Gunther berubah sendu. Dia menatap lekat-lekat wanita cantik yang kini mengubah warna rambutnya menjadi merah itu. “Lilia, maafkan aku,” ucap Gunther seraya bersimpuh di hadapan Lilia secara tiba-tiba. Dia merengkuh dan memeluk erat-erat kedua kaki putrinya itu.
Lilia keheranan dengan sikap aneh sang ayah. Dia menoleh pada Ludwig untuk meminta bantuan. Namun, pria itu juga tampak bingung. “Katakan. Ada apa ini, Ayah? Kenapa kau meminta maaf padaku?” cecar Lilia.
“Aku sungguh-sungguh tulus menyayangimu.” Gunther mendongak. Dia memandang sendu pada wajah cantik Lilia yang keheranan.
“Tentu saja, karena kau adalah ayahku,” balas Lilia. Dia juga berusaha menarik tubuh Gunther agar kembali berdiri.
“Tidak.” Gunther menggeleng pelan. “Aku bukanlah ayahmu. Aku hanya seorang paman yang tidak berguna, Nak," sanggahnya.
“Apa?” Lilia dan Ludwig bicara secara bersamaan.
“Aku adalah seorang pengecut yang lari dari kejaran para penjahat, lalu bersembunyi di balik sosok ayahmu. Dia … dia meninggal karena kesalahanku,” racau Gunther.
“Lelucon apa lagi ini, Ayah?” Lilia memaksa untuk melepaskan kakinya, dari cengkeraman tangan Gunther. Rasa takut kembali hadir dalam diri wanita malang itu, sehingga dia beringsut menjauh dan bersembunyi di balik tubuh tegap Ludwig.
__ADS_1
“Namaku sebenarnya adalah Dominik. Sedangkan, tulang belulang yang kalian temukan itu merupakan milik Gunther, ayah kandungmu yang asli,” jelas pria paruh baya tadi, bagaikan petir yang langsung menyambar tubuh rapuh Lilia.