Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Ludwig terus berlindung di balik tiang dengan diameter tidak terlalu lebar tadi. Dia juga sudah bersiap dengan senjata di tangan. Ludwig menajamkan pendengaran, untuk setiap derap langkah yang mendekat ke arahnya.


Namun, suara langkah itu tiba-tiba berhenti. Ludwig bergeser ke sisi lain tiang. Dia menunggu hingga terdengar lagi suara pergerakan, yang kembali mendekat padanya.


Dari balik tiang, Ludwig melihat dua orang pria berjalan ke dekat lantai di mana terdapat pintu menuju bunker. Salah seorang pria berjongkok. Dia memegang alat yang menyala berwarna merah. Ludwig tahu betul bahwa itu merupakan alat pelacak.


“Sinyalnya berhenti di sini,” ucap si pria yang memegang alat tadi.


“Mungkinkah Red Lily ada di balik lantai ini?” pikir rekannya.


“Bisa saja.” Si pria yang memegang alat pelacak tadi meraba permukaan lantai. Namun, belum sempat dia menaikkan pintu menuju bunker, satu tembakan mendarat tepat di telinganya. Darah mengucur seketika, membuat si pria tersungkur dan tewas saat itu juga.


Melihat temannya tewas tertembak, pria yang satu lagi langsung mengambil sikap siaga. Dia menoleh, lalu melesatkan tembakan ke arah tiang di mana Ludwig bersembunyi. Apa yang dilakukannya, bersamaan dengan tembakan yang juga diarahkan oleh Ludwig.


Namun, Ludwig lebih diuntungkan, karena dia berada di balik tiang. Sedangkan, sang lawan berdiri bebas. Timah panas yang dimuntahkan dari senjata api milik Ludwig, menembus leher bagian bawah lawannya. Pria tadi tumbang seketika, hanya dengan satu kali tembakan.


Sesaat kemudian, dua orang lagi masuk ke pondok. Mereka menembakkan senjata secara membabi buta, lalu terfokus ke tiang. Hal itu membuat Ludwig harus menyingkir dari tempat persembunyiannya. Dia bergerak cepat menghindari tiang, dengan senjata yang langsung terarah kepada musuh.


Ludwig menjatuhkan diri di lantai dengan posisi menyamping. Beruntung, tembakannya kali ini mengenai perut salah satu dari dua pria tadi. Sebelum bangkit, Ludwig kembali memuntahkan dua kali tembakan pada kedua pria tadi.


Satu dari dua pria itu tewas. Seorang lagi terluka di bagian paha. Melihat kesempatan itu, Ludwig bergegas bangkit. Dia berjalan mendekat kepada pria yang tertembak di bagian paha tersebut. “Katakan berapa banyak yang datang kemari?” tanya Ludwig, sambil terus mengarahkan moncong senjata api yang dipegangnya kepada pria itu.


Si pria yang terduduk di lantai, segera beringsut mundur saat Ludwig mendekat. Dia tak bisa melawan, ketika Ludwig menyeretnya menjauh dari pintu yang terbuka. Ludwig membawa ke bagian dalam yang lebih tersembunyi. Dia mengempaskan cengkramannya, dari rambut si pria yang tadi dirinya seret.


“Masih ada satu peluru tersisa di dalam senjata ini,” ucap Ludwig lagi penuh penekanan, sambil menginjak luka tembak si pria sekencang mungkin. Pria itu memekik kesakitan.

__ADS_1


“Bicaralah atau kubuat kau diam selamanya!” gertak Ludwig lagi masih dengan nada yang sama. Pria itu memicingkan mata, seakan tengah mendeteksi sesuatu. Ludwig langsung menarik tubuh si pria yang terluka tadi, lalu berbalik dengan menjadikan pria tersebut sebagai tameng. Alhasil, rentetan tembakan yang diarahkan kepadanya, bersarang di tubuh si pria malang.


“Ludwig Stegen!” Terdengar suara yang tidak asing bagi Ludwig. “Kau belum jera juga rupanya.”


Ludwig mengempaskan tubuh yang sudah tak bernyawa tadi ke samping. Kali ini, dia berhadapan langsung dengan si pemilik suara yang tak lain adalah Lech Czeslaw. “Kau masih berharap?” cibir Ludwig sinis.


“Kembalikan Red Lily-ku.” Nada bicara Lech penuh penekanan. “Kau telah berurusan dengan orang yang salah. Jangan berpikir bahwa aku akan melepaskan begitu saja, seseorang yang telah bermain-main dengan Lech. Kau bahkan telah menghabisi Marik. Kurang ajar!”


“Bukan hanya Marik. Kau pun akan kulempar ke neraka sekarang juga!” Ludwig tiba-tiba mengarahkan senjatanya. Dia memuntahkan sisa peluru yang hanya tinggal satu. Begitu juga dengan senjata yang yang dipegang Lech. Isinya hanya menyisakan satu butir peluru.


Kedua pria tadi saling membidik, lalu melesatkan peluru terakhir masing-masing. Tembakan Lech mengenai lengan kiri bagian atas Ludwig. Sedangkan, Ludwig berhasil menggores perut samping Lech. Pria itu lebih dulu menghindar, meski tetap terkena peluru Ludwig.


Merasa apa yang mereka lakukan tak ada gunanya, kedua pria itu melempar pistol yang telah kosong. Ludwig bersiap mengambil kuda-kuda. Begitu juga dengan Lech. Dia maju, lalu menyerang dengan melayangkan pukulan keras ke arah Ludwig.


Sigap, Ludwig langsung menangkis pukulan yang diarahkan padanya menggunakan lengan. Dia balas melakukan hal yang sama, sehingga kedua pria tampan berbeda negara tersebut saling baku hantam. Pertarungan sengit terus berlangsung. Ludwig tak memedulikan luka di lengan yang terus mengeluarkan darah. Begitu juga dengan Lech. Mereka berdua terus saling menyerang tanpa henti.


Lech menginjak lengan Ludwig yang terkena tembakan tadi berkali-kali. “Mati kau, Brengsek!” seringainya puas.


Akan tetapi, Ludwig tak ingin menyerah begitu saja. Pada injakan kesekian kalinya, dia langsung memegangi kaki Lech sekencang mungkin. Ludwig mengerahkan segenap tenaga dan mengabaikan rasa sakit yang kian mendera. Dia menahan sebelah kaki Lech menggunakan tangan kanan, lalu menghantamkan tangan kiri yang terluka. Kepalan sempurna Ludwig terarah langsung ke area bawah perut Lech. Hanya itu titik serang yang dapat dirinya jangkau.


“Aw!” Lech berteriak nyaring sambil bergerak mundur. Dia memegangi pangkal pahanya. Saat pria itu kembali bersiap untuk menyerang, Ludwig lebih dulu bangkit. Satu tendangan keras terarah tepat ke wajah Lech, hingga pria itu mundur beberapa langkah. Pusing yang Lech rasakan setelah menerima tendangan tadi, Darah segar mengucur dari hidung dan bibir. Pria tampan asal Polandia tersebut berusaha mengembalikan keseimbangannya dengan terdiam sesaat.


Kondisi tadi menjadi peluang emas bagi Ludwig. Dia tak memberi kesempatan kepada Lech, untuk mengembalikan kekuatan. Ludwig langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah pria yang telah berani menjamah Lilia tersebut, sehingga keseimbangan Lech semakin terganggu. Pria itu sempoyongan, ketika Ludwig menarik tangannya.


Ludwig mencengkram erat rambut belakang Lech. Dia mengarahkan pria tadi pada salah satu tiang penyangga, lalu menghantamkan kepala pria tersebut berkali-kali. Ludwig melakukan hal itu sekeras mungkin. Dia seakan ingin menuntaskan rasa puasnya, dengan menghabisi Lech secara brutal.

__ADS_1


Tak hanya melakukan tindakan tadi, Ludwig lalu berpindah ke belakang tubuh Lech. Dia menempelkan dada Lech ke tiang, lalu menarik kedua tangannya ke belakang. Ludwig menekan punggung pria itu dengan sangat kencang, hingga Lech memekik keras.


Bukanlah Ludwig, jika dia tak membuat lawannya mati mengenaskan. Pria itu menyeret tubuh Lech yang sudah tak berdaya ke dekat jasad Dominik. Ludwig mengempaskan Lech begitu saja, hingga terkapar pasrah. Dalam kondisi seperti itu, pria tampan asal Jerman tersebut menginjak pangkal paha Lech tanpa ampun. Dia tak peduli meski lawannya terus memekik kesakitan. “Itu untuk Lilia-ku yang sudah kau nodai!” geramnya setelah merasa puas, saat melihat Lech hampir tak sadarkan diri.


Deru napas berat terdengar beberapa kali meluncur dari bibir berkumis tipis Ludwig. Dia menatap tajam Lech beberapa saat, sambil menetralkan tenaganya yang terkuras akibat pertarungan tadi. Sementara, darah terus mengucur dari luka-luka yang dirinya alami.


Setelah merasa lebih tenang, Ludwig lalu menurunkan tubuhnya tepat di dekat Lech. Dia mengambil pistol milik Dominik. Senjata api itu tergeletak begitu saja, di samping pria yang telah menjadi mayat tersebut. Ludwig mengarahkan moncong pistol tadi ke dalam mulut Lech. “Apa kau ingin mengatakan sesuatu sebelum kukirim ke neraka?” tanya Ludwig yang sudah berada di atas angin.


Lech tak segera menjawab. Dia menatap tajam kepada pria yang telah berhasil mengalahkannya. Tanpa diduga, Lech tersenyum sinis penuh cibiran. “Jadi, kau adalah peliharaan Oliver Harald?” Lech tertawa cukup nyaring. Tawa yang terdengar aneh bagi Ludwig.


“Aku bukan peliharaan siapa pun,” bantah Ludwig penuh penekanan.


“Pria tua itu sudah menghancurkan semuanya. Schaefer yang kubangun dari nol sejak mengalami keterpurukan, kini telah benar-benar dia berantas. Itu semua karena dirimu, Ludwig Stegen!” ujar Lech. Sorot mata pria itu kian sayu menatap Ludwig.


“Apa hubunganmu dengan Radko Trava?” tanya Ludwig.


Bukannya menjawab, Lech justru tertawa puas. Dia menggeleng samar. “Radko Trava,” ucapnya lemah. “Carilah dia hingga kau mati karena lelah,” cibirnya.


“Brengsek kau!” Ludwig memukulkan gagang pistol ke wajah Lech, karena terlampau kesal.


Beberapa saat Lech terpejam, sampai dia kembali membuka mata. Pria itu seakan tak ingin menyerah pada kematian. Lech terus bertahan, meski dia mengalami luka lebih banyak dan parah dibanding Ludwig. “Ketahuilah satu hal, Ludwig,” ucap pria itu kemudian. “Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah menemukan sosok Radko Trava. Orang itu tidak pernah ada.”


“Apa maksudmu?” tanya Ludwig tak mengerti.


Lech kembali tertawa. “Kau tak perlu mengetahui sesuatu yang bukan menjadi urusanmu. Sebaiknya, kau membuat perhitungan dengan Oliver Harald.”

__ADS_1


“Untuk apa?” seringai Ludwig.


“Karena dialah yang telah membakar habis peternakan ini.”


__ADS_2