
Ludwig menatap kikuk Lilia. Dia tahu bahwa wanita itu merasa takut padanya. Lilia, memang pernah melihat Ludwig berkelahi dan mengalahkan anak buah Lech saat di depan bar. Namun, tidak ketika pria tampan tersebut menghabisi lawannya secara brutal seperti tadi.
“Lilia, aku ….” Ludwig kebingungan saat hendak memberikan penjelasan. Tak ingin ambil pusing, pria itu langsung menarik tangan Lilia sambil menjinjing tas. “Kita tidak punya banyak waktu.” Ludwig menuntun wanita muda itu keluar dari apartemen. Mereka memanfaatkan suasana ricuh orang-orang di sekitar apartemen, untuk melarikan diri dengan leluasa. Tak ada siapa pun yang memperhatikan Ludwig dan Lilia. Semua orang sibuk mengerumuni mayat Marik yang mengenaskan. Wajahnya hancur karena jatuh dari ketinggian puluhan meter.
Sambil terus berjalan cepat, Ludwig sesekali melihat arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Akan tetapi, suasana masih terang-benderang, berhubung saat itu sedang memasuki musim panas. Ludwig dan Lilia memiliki waktu sekitar dua jam, untuk tiba di stasiun bawah tanah Kota Warsawa. Namun, sebelumnya Ludwig sudah membuat janji bertemu terlebih dulu dengan Oliver.
“Kita akan ke mana?” tanya Lilia resah.
“Aku ada urusan sebentar,” ucap Ludwig. Dia berjalan menuju markas lama, di mana dirinya menyekap Ulger. Di sana, Oliver sudah menunggu.
"Bagaimana?" tanya Ludwig.
"Orang ini tidak mau bicara apapun tentang Radko Trava. Aku akan mencari cara untuk membuatnya buka mulut," jawab Oliver.
"Terserah hendak kau apakan dia. Aku harus segera berangkat ke Austria. Bagaimana dengan rekanmu di stasiun?" tanya Ludwig lagi.
"Aku sudah menghubunginya. Kau tinggal datang ke sana." Oliver menjelaskan semua yang harus Ludwig lakukan, untuk menemui orang yang dimaksud. "Dia pastikan kau dan wanitamu bisa tiba di Austria dengan aman," ujar Oliver yakin.
Ludwig menoleh kepada Lilia yang lebih banyak diam. Wanita itu masih terkejut dengan apa yang disaksikanmya tadi. Dia menurut saja, ketika Ludwig kembali menuntun dan membawanya pergi ke arah stasiun kota.
Sebelum pergi ke stasiun, Ludwig mengajak Lilia untuk membeli perbekalan makanan terlebih dulu. Keduanya memasuki sebuah mini market, lalu berkeliling mencari aneka camilan pengganjal lapar. Ada hal lucu yang berlangsung di sana, yaitu ketika Ludwig memasukkan beberapa kaleng bir ke keranjang. Tanpa diduga, Lilia kembali menyimpan dan menggantinya dengan air mineral.
Ludwig melotot hendak protes. Akan tetapi, Lilia berlalu begitu saja dengan sikap tak acuh. “Tunggu pembalasanku,” ancam Ludwig sambil berbisik, saat mereka menuju kasir. Sedangkan, Lilia lagi-lagi tak memedulikannya.
__ADS_1
Tersisa waktu sekitar setengah jam lagi. Mereka bergegas menuju stasiun kota dengan berjalan kaki, hingga tiba di sana. Sesuai arahan dari Oliver, Ludwig langsung menemui orang yang akan membantu menyusupkan mereka ke dalam gerbong kereta barang.
Tanpa banyak bicara, orang itu melakukan tugasnya dengan segera. Dia sudah melakukan persiapan terlebih dulu, sehingga tak terlihat canggung lagi saat mengarahkan Ludwig dan Lilia ke satu gerbong kosong paling ujung. “Semua gerbong sudah terisi pupuk. Rencananya, kami akan mengisi gerbong kosong ini dengan jerami yang diangkut dari Austria,” jelas pria tersebut.
“Terima kasih, Tuan,” balas Lilia ramah. Dia tersenyum hangat kepada pria tadi.
“Sama-sama, Nyonya.” Pria itu mengangguk sebelum berlalu. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali menoleh. “Kita akan segera berangkat. Semoga perjalanan kalian menyenangkan, meskipun ….” Dia mengangkat kedua bahu, lalu kembali berbalik ke depan. Pria itu meninggalkan Ludwig dan Lilia yang segera duduk.
“Aku tidak menyangka akan kembali ke Austria,” ucap Lilia sambil bersandar pada dinding kereta. Dia duduk sambil meluruskan kaki, sama seperti yang Ludwig lakukan.
“Apa kau lapar?” tanya Ludwig. Dia melirik Lilia yang terlihat kelelahan.
“Ya,” jawab Lilia membalas lirikan Ludwig. Mereka saling bertatapan beberapa saat, hingga goncangan kereta yang bergerak menyadarkan keduanya. Lilia sedikit tersentak, lalu tertawa renyah. Namun, dia langsung menutupi mulut menggunakan telapak tangan.
Setelah mengisi perut, Ludwig dan Lilia tak tahu harus melakukan apa lagi. Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan, selain duduk dan termenung. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga Lilia terlihat menguap panjang.
“Kemarilah.” Ludwig merengkuh pundak Lilia tanpa sungkan. Dia memaksa wanita itu agar semakin merapat. “Apa kau takut padaku?” tanyanya.
Lilia tidak menjawab. Wanita cantik berambut merah tersebut bahkan tak membalas tatapan Ludwig. Dia mungkin ragu untuk berbicara. Terlebih, setelah melihat tindakan Ludwig terhadap Marik dan anak buahnya.
Ludwig menggumam pelan. Dia dapat memahami arti sikap diam Lilia. Pria itu mengembuskan napas dalam-dalam sambil bersandar. Ludwig memejamkan mata, tapi tak berniat untuk tidur.
“Aku terlahir dengan nama Ludwig Zielinski. Ayahku seorang pengusaha asal Polandia. Namun, dia tidak ingin membawaku bersamanya, karena aku terlahir dari wanita simpanan.” Ludwig kembali menggumam pelan. “Ibuku seorang wanita penghibur, Lilia,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Lilia sontak mendongak. Dia memandang Ludwig dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Beruntung, karena aku diadopsi seorang pria asal Jerman bernama Albert Stegen. Dari sana, kehidupanku mulai berubah drastis. Ayah angkatku mengajari banyak hal. Dia menjadikanku seseorang yang piawai dalam berbisnis. Namun, aku tidak merasa puas. Akhirnya, aku menjadi Ludwig Stegen seperti yang kau lihat sekarang.” Ludwig mengembuskan napas berat.
“Bagaimana kau bisa menjadi buronan pemerintah?” tanya Lilia penasaran.
Ludwig mengarahkan tatapan kepada Lilia. Sorot mata pria itu tidak setajam biasanya. Dia meraih tangan wanita yang tengah dirinya dekap mesra, lalu menggenggam erat jemari lentik berkuku lancip tersebut. “Kesalahanku adalah karena telah jatuh cinta terhadap wanita yang salah. Dia justru menarik diriku dalam kebodohan, sehingga aku menjadi sangat lemah dan tidak bisa berpikir dengan baik. Tibalah diriku dalam kehancuran itu. Semuanya terlepas dari genggaman dan aku … aku menjadi seperti yang kau lihat saat ini. Begitu menyedihkan.”
“Kau tidak terlihat menyedihkan sama sekali. Kau justru ….” Lilia tak melanjutkan kata-katanya. Dia menyandarkan kepala di dada Ludwig.
“Aku seorang pelaku kriminal kelas berat, Lilia,” ucap Ludwig lagi. “Tak salah jika dirimu takut padaku. Namun, tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk membuatmu merasa terancam. Aku menyukaimu. Tolong jangan membuat diriku kembali menjadi pria bodoh karena cinta. Masih banyak hal yang harus kuperbaiki.” Ludwig mencium mesra tangan Lilia yang kembali mendongak padanya. “Aku tidak akan berlaku kasar atau menyakitimu secara fisik, karena wanita bukanlah lawanku. Jadi, kau tidak perlu takut.”
Lilia tersenyum manis. Dia semakin mendekat kepada Ludwig. Wanita itu memejamkan mata.
“Apa kau sudah mengantuk?” tanya Ludwig setengah berbisik.
“Iya,” jawab Lilia parau.
“Letakkan kepalamu di sini.” Ludwig menepuk pahanya.
Tanpa banyak protes, Lilia langsung merebahkan tubuh. Dia menjadikan paha Ludwig sebagai bantal. Setelah kejadian huru-hara di peternakan, Lilia tidak bisa tidur nyenyak jika tidak mengonsumsi obat.
Namun, malam itu Lilia terlelap, bahkan hingga tak sadar saat Ludwig memindahkan posisi tidurnya. Ludwig memakai tas jinjing sebagai pengganjal kepala. Dia berbaring di belakang Lilia yang tidur menyamping. Ludwig memeluknya, lalu ikut tidur.
__ADS_1
Tanpa terasa, hari sudah berganti siang. Perjalanan berakhir, ketika mereka tiba di Austria.