
“Astaga! Apa-apaan ini?” Wanita muda berambut pirang tadi tersadar dari lamunan. Dia terlihat resah. Si pemilik iris mata hijau itu mundur dan menjauh dari bibir jurang, lalu berjalan mondar-mandir sambil sesekali menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
“Kau kenapa?” tanya Ludwig heran. Pria tampan tersebut memicingkan mata, lalu menaikkan sebelah alis.
“Apanya yang kenapa? Aku sudah melakukan hal yang sangat tidak manusiawi dan ... ah, baiklah. Kita memang harus melakukannya. Ya, ini cara yang sangat tepat." Wanita muda tadi meracau tak jelas, setelah membantu Ludwig membuang mayat-mayat itu ke dalam jurang.
Ludwig menatap wanita muda bermata hijau di sebelahnya. Namun, dia tak mengatakan apapun. Pria tampan tersebut malah membalikkan badan. Dia hendak berlalu dari hadapan si pemilik rambut pirang tersebut.
“Hey, Tuan! Tunggu!” cegah wanita muda itu. Dia berlari menyusul langkah tegap Ludwig. “Bagaimana ini?” tanya wanita itu lagi. Parasnya yang cantik, menyiratkan keresahan begitu besar. Dia berjalan cepat, berusaha mengimbangi langkah Ludwig dari sisi sebelah kanan pria itu.
“Apanya yang bagaimana?” Ludwig balik bertanya, dengan nada bicara yang terkesan biasa saja. Dia bahkan bersikap cenderung dingin kepada si wanita.
Wanita muda itu tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir, sambil terus menyejajari
langkah tegap Ludwig. “Namaku Petra. Petra Harald," ucapnya memperkenalkan diri.
Ludwig seketika menghentikan langkah setelah mendengar nama Harald. Dia menoleh, lalu kembali menatap lekat wanita muda bermata hijau tadi. “Harald?” ulangnya seraya memicingkan mata.
Wanita muda bernama Petra itu mengangguk. “Ya,” jawabnya yakin.
Ludwig terdiam dan berpikir beberapa saat. “Dari mana asalmu?” tanyanya masih dengan intonasi seperti tadi. Dingin dan tidak berlebihan, meski dia tengah berhadapan dengan wanita muda berparas cantik.
“Aku … sebenarnya, aku baru tiba tadi siang di sini. Aku datang dari Jerman bersama seorang teman. Rencananya, kami berdua akan menikmati liburan selama beberapa hari dengan berkeliling Austria. Namun, itu semua hanya tinggal rencana,” jelas Petra penuh sesal. Kesedihan serta rasa kecewa, terpancar jelas dari raut wajahnya.
Akan tetapi, tidak demikian dengan Ludwig. Pria tampan bermata cokelat madu tersebut justru menyunggingkan senyuman samar di sudut bibir. “Aku juga merupakan warga negara Jerman,” ucap pria itu seraya menoleh sekilas kepada Petra.
__ADS_1
“Sungguh?” Petra membelalakan mata karena tak percaya. "Kau juga berasal dari Jerman?" Raut sedih tadi seketika berubah ceria.
“Ya,” jawab Ludwig singkat. Dia kembali melanjutkan langkah.
Sementara, Petra terus mengikutinya. “Aku tidak tahu harus ke mana. Setelah dari bandara, kami menaiki taksi. Tadinya, aku dan temanku akan menuju hotel. Akan tetapi, sopir taksi itu … dia malah membawa kami ke tempat lain,” tutur wanita cantik berpostur semampai tersebut.
“Maksudmu?” Ludwig kembali menoleh sekilas sambil terus melangkah.
“Saat tiba di bandara, aku dan temanku bertemu seorang pria. Dia memesankan taksi online untuk kami berdua. Namun, belakangan kami baru sadar bahwa itu bukanlah taksi online, melainkan ….”
“Bodoh sekali,” cibir Ludwig tanpa menghentikan langkah.
“Ya, kau benar. Aku dan temanku datang kemari tanpa perencanaan yang matang. Lagi pula, aku pergi dengan sembunyi-sembunyi. Jika ayah tahu diriku akan berangkat kemari, dia pasti akan memberikan pengawalan ketat. Aku tidak menyukainya, karena ini adalah liburan, Aku membutuhkan privasi tanpa diawasi siapa pun,” celoteh Petra tanpa jeda.
Ludwig tak menanggapi semua yang Petra katakan. Namun, dia semakin yakin bahwa wanita muda di sampingnya pasti bukan putri dari orang sembarangan. Ludwig, dapat menyimpulkan dengan cepat. Kali ini, Tuhan sedang berpihak kepada dirinya. “Lalu, di mana temanmu sekarang?” tanya Ludwig. Tanpa terasa, dia sudah hampir tiba di area peternakan.
Ludwig menghentikan langkah di depan gerbang masuk peternakan. Dia sengaja tidak mengambil jalan depan. Ludwig pun harus pintar-pintar menghindari kamera pengintai, yang terpasang di beberapa sudut pintu masuk.
“Ikuti aku,” ajak Ludwig. Dia berjalan ke bagian lain tempat itu. Ludwig baru berhenti di dekat tembok cukup tinggi, yang berfungsi sebagai benteng. “Di sini tidak ada kamera CCTV. Akan tetapi, ada penjaga yang berkeliling setiap lima belas menit sekali. Kau bisa masuk lewat sini, tapi pastikan tak ada siapa pun yang melihatmu,” pesan Ludwig. Pria itu menurunkan tubuh. Dia membiarkan Petra menjadikan pundaknya sebagai pijakan.
Setelah wanita muda tersebut menjejakkan kaki di pundak, Ludwig kembali berdiri tegak sehingga Petra dapat mencapai bagian paling atas tembok tadi. Tanpa ada kesulitan yang berarti, Petra menaikinya, lalu melompat masuk ke peternakan. Dia mengendap-endap, bersembunyi dari petugas yang kebetulan melintas di sana saat dirinya turun.
“Apa kau mendengar suara aneh?” tanya salah seorang dari dua penjaga itu.
“Ya. Jangan-jangan, penyusup yang masuk kemarin malam kembali lagi. Kita gagal menangkap mereka,” sahut rekannya seraya mengarahkan lampu senter ke berbagai arah, lalu memeriksa beberapa sudut yang dirasa bisa dijadikan sebagai tempat bersembunyi. Namun, kedua penjaga tadi tak melihat apapun yang mencurigakan.
__ADS_1
“Tak ada yang aneh di sini. Sebaiknya, kita periksa ke bagian lain saja.” Kedua penjaga itu akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Sementara, Petra masih bersembunyi di kandang yang berisi dua ekor anak sapi. Dia harus menahan bau tak sedap yang menusuk hidung, hingga terdengar suara Ludwig memanggilnya pelan. Petra bergegas keluar. Dia hampir muntah di hadapan pria itu. “Astaga,” keluh wanita muda berambut pirang tadi.
“Ikuti aku,” ajak Ludwig lagi. Dia berjalan cepat menuntun Petra menuju lumbung, yang pernah dirinya tempati selama hampir dua bulan.
“Untuk sementara, kau bisa tinggal di sini. Aku akan mencari cara agar kau bisa menghubungi keluargamu. Bersembunyilah jika ada yang masuk kemari. Jangan sampai ada siapa pun yang mengetahui keberadaanmu,” pesan Ludwig. Setelah berkata demikian, dia berjalan menuju pintu.
“Tunggu!” cegah Petra.
Ludwig tertegun, lalu menoleh. “Ada apa?” tanyanya.
“Pakaianku bau sekali,” jawab Petra sambil mengendus bajunya. “Aku bersembunyi di dalam kandang. Jadi ….”
Ludwig tidak menanggapi. Dia malah berlalu keluar dari lumbung. Tak lupa, dirinya menutup pintu rapat-rapat.
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, saat Ludwig kembali ke dalam kamar. Dia melihat Lilia masih terlelap. Tanpa menimbulkan suara, Ludwig melepas jaket serta T-Shirt yang dikenakannya. Begitu juga dengan celana jeans yang dirinya ganti dengan celana tidur.
Setelah itu, Ludwig naik ke ranjang. Dia kembali berbaring di sebelah Lilia, yang menggeliat pelan sembari memicingkan mata. “Apa ini sudah pagi?” tanya Lilia dengan suara parau nan manja.
“Belum,” jawab Ludwig datar. “Lanjutkan tidurmu,” suruhnya pelan.
“Kau tidak ingin memelukku?” Hampir setiap malam, Lilia bertanya demikian.
“Kemarilah.” Ludwig merentangkan tangan, agar Lilia dapat masuk ke pelukannya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Lilia menggeser tubuh. “Nyaman sekali,” ucap wanita muda itu seraya kembali memejamkan mata. Lagi-lagi, Lilia tak mengetahui apa yang Ludwig lakukan. Dia tak pernah menyangka, bahwa suaminya menyembunyikan seorang wanita di dalam lumbung.