Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity

Mr. Stegen : A Man With Hidden Identity
Menutup Tabir Kelam Masa Lalu


__ADS_3

“Apa? Ibu kandungmu?” Lilia mengernyitkan kening, setelah mendengar pengakuan Ludwig tentang status hubungannya dengan Delma. “Jika dia memang ibumu, kenapa kau memanggilnya dengan nama ‘Delma’?” tanya wanita itu lagi tak mengerti.


“Karena kami sudah membuat perjanjian. Aku dan Delma saling menutupi jati diri. Aku pernah bercerita padamu tentang siapa ibu kandungku, kan?” Ludwig yang biasanya tak banyak bicara dan selalu tertutup dengan kisah hidupnya kepada siapa pun, kali ini terlihat sangat enteng saat mengungkapkan segala hal kepada Lilia. Pria tampan tersebut memberikan sedikit penjelasan, kenapa dirinya tak memanggil Delma dengan sebutan ‘ibu’.


“Baiklah. Aku bisa memahaminya. Kau pasti membutuhkan waktu untuk itu.” Lilia tersenyum lembut. “Kau tahu bahwa aku hidup sebatang kara. Jika memang dirimu masih merasa berat untuk memanggil Nyonya Delma dengan sebutan ‘ibu’, maka izinkan aku untuk mengawalinya. Sejak dulu, aku ingin memiliki seorang ibu.” Sepasang mata Lilia mulai berkaca-kaca.


“Aku mencintaimu, Lilia. Kau tak akan sendirian lagi, karena aku tak akan pernah meninggalkanmu,” ucap Ludwig. Dia membelai pipi Lilia. Ludwig mencium mesra calon istrinya tersebut sebelum memutuskan turun dan masuk ke butik tadi.


......................


Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Ludwig berdiri di dekat altar dengan perasaan was-was. Untuk kali ini, dia tak berharap ada senjata atau pertumpahan darah di pesta pernikahannya. Ludwig sudah berjanji dalam hati, bahwa dia tak akan lagi bersentuhan dengan dunia hitam. Dua tahun menyandang predikat buron, sudah cukup untuk menjadi bagian dari kisah kelam kehidupannya.


Kini, Ludwig hanya ingin menjalani hidup wajar. Dia memiliki beberapa perusahaan legal yang tak kalah menguntungkan, dari bisnis haram yang pernah dijalaninya. Dengan dukungan dari ketiga anak buah yang masih setia, yaitu Dietmar, Niklas, dan Jedrick yang tak pernah berhenti memberikan semangat, Ludwig akan kembali bangkit untuk memulai hidup baru.


Ya, kehidupan baru Ludwig tengah berjalan menghampirinya. Semakin mendekat, membuat perasaan pria tiga puluh tiga tahun tersebut menjadi gelisah. Sungguh lucu, ketika seorang Ludwig Stegen merasakan debaran menggila yang sulit untuk dirinya kendalikan, saat menatap Lilia telah berdiri di sampingnya dengan gaun pengantin putih yang sangat indah.


Tak seperti pernikahan mereka sebelumnya. Kali ini, Lilia dapat merasakan kebanggaan dan rasa percaya diri saat mengenakan gaun impian para gadis di seluruh dunia. Lilia ingin menitikkan air mata, tapi dia takut mengecewakan tim penata rias yang sudah memoles wajah cantiknya, sehingga menjadi semakin memesona.


Iringan musik klasik terus terdengar sepanjang acara pesta. Selesai upacara pemberkatan, dilanjutkan dengan sesi jamuan santai dan berbagai acara lain. Satu hal yang terasa berbeda ialah, ketika Ludwig melihat Oliver Harald beserta istrinya di antara tamu undangan.

__ADS_1


“Tamu istimewa. Apa kabar, Pak menteri?” sapa Ludwig. Dia menyalami Oliver, yang langsung membalas jabat tangan pria tampan tersebut.


“Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Akan tetapi, mereka menolak. Mereka mengatakan bahwa pemberantasan terhadap Organisasi Schaefer telah dilakukan sejak dulu, tapi tak ada yang bisa sampai memporakporandakannya. Apakah kita patut untuk menyombongkan diri?” Oliver yang biasa bersikap ketus terhadap Ludwig, kali ini terlihat jauh lebih ramah.


Ludwig tersenyum simpul menanggapi ucapan pria paruh baya tersebut. “Itu akan menjadi hal terakhir yang kulakukan. Setelah menikah, aku akan fokus menjadi suami,” ucap Ludwig seraya melirik Lilia. “Nikmati pestanya, Pak menteri.” Ludwig mengangguk samar, sebelum menuntun Lilia berlalu dari hadapan pasangan suami istri tadi.


Namun, baru sekitar dua langkah Ludwig dan Lilia menjauh, Albertina tiba-tiba berkata, “Putriku menitip salam untukmu, Tuan Stegen.”


Ludwig tertegun, kemudian menoleh. Namun, tidak dengan Lilia.


“Petra sekarang tengah melanjutkan pendidikannya di Finlandia. Kuharap, dia menjadi gadis yang bisa dikendalikan,” ucap Albertina lagi.


Selagi Ludwig bertegur sapa dengan ketiga anak buahnya tadi, Lilia menghampiri Delma yang menikmati pesta seorang diri. Wanita muda yang kini telah resmi menyandang nama belakang Stegen tersebut, membawakan Delma minuman. “Kenapa Anda menyendiri, Nyonya?” tanya Lilia lembut.


Delma tersadar. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut seraya menerima minuman yang Lilia sodorkan. “Terima kasih, Lilia,” ucapnya.


“Anda sudah mempersiapkan semua ini dengan sangat baik. Pesta pernikahan yang menjadi impian para gadis. Ini pesta yang indah. Aku yang seharusnya berterima kasih,” ucap Lilia lembut. Kerendahan hati wanita bermata abu-abu itu benar-benar membuat Delma merasa terlena.


“Aku sudah mengetahui semuanya. Ludwig telah mengatakan padaku tentang hubungan kalian,” ucap Lilia lagi, yang seketika membuat Delma terkejut.

__ADS_1


“Lilia, aku ….” Delma tak tahu harus berkata apa. Dia mungkin merasa malu dengan masa lalunya, karena Ludwig pasti mengatakan segala hal kepada Lilia.


“Aku memintanya untuk memanggilmu ‘ibu’. Akan tetapi, Ludwig masih membutuhkan waktu. Bersabarlah, Nyonya.” Lilia kembali memperlihatkan senyum lembut kepada Delma. Wanita muda itu terdiam sejenak, sebelum mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. “Jika Anda mengizinkan, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ‘ibu’?” tanya Lilia sedikit ragu.


“Astaga. Kau tak perlu meminta izin untuk itu. Aku akan sangat bahagia memiliki putri secantik dan selembut dirimu, Lilia. Kau adalah bidadari penyelamat bagi putraku. Lihatlah. Akhirnya, dia memutuskan untuk menikah. Itu berarti, kau merupakan wanita yang sangat istimewa bagi Ludwig.” Delma tak kuasa menahan air mata, ketika Lilia memeluknya.


“Terima kasih, Ibu,” ucap Lilia diiringi senyum tulus penuh kebahagiaan.


Ludwig yang tadinya tengah asyik berbincang dengan Dietmar, Niklas, dan Jedrick, mengalihkan perhatian kepada dua wanita lintas usia tadi. Dia menatap mereka dengan sorot tak dapat diartikan. Tak ada kata-kata yang bisa dirinya ungkapkan saat itu. Ludwig merasa bingung. Namun, satu yang pasti bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya akan segera dijelang.


Langit gelap telah menyelimuti Kota Berlin. Pesta pernikahan meriah telah berakhir, meninggalkan rasa bahagia di hati semua yang menghadirinya. Namun, kata kebahagiaan saja rasanya tak cukup untuk menggambarkan apa yang ada ada dalam hati Ludwig dan Lilia. Sepasang pengantin baru tersebut tengah menggenggam surga penuh bunga-bunga semerbak.


Di bawah deraian air yang mengalir deras dari shower, mereka kembali menautkan kasih yang kini telah terikat semakin kuat. Ludwig menemukan sisi lembutnya dari Lilia. Sedangkan, Lilia menjadi lebih kuat di dekat seorang Ludwig.


...- The End -...


Hai, readers setia Komalasari. Terima kasih telah mengikuti cerita Ludwig Stegen. Semoga suka dan terhibur. Bagi para pembaca baru, jangan lupa untuk mampir juga ke novel lain yang pastinya sudah tamat dan tak kalah seru. Ada berbagai pilihan genre yang semuanya berisi cerita dengan konflik dan tema berbeda.


Salam sayang,

__ADS_1


🍒 Komalasari


__ADS_2