
Lech, terpaku merasakan pisau yang menancap di salah satu bagian tubuhnya tersebut sambil memegangi dada. Pria itu menatap tajam kepada Ludwig yang bangkit, lalu meraih tangan Lilia dengan cepat dari belakangnya.
Ludwig membalas tatapan Lech yang makin lama semakin sayu. Meskipun sudah terluka parah, tapi Ludwig tak ingin terlihat lemah. Dia menyembunyikan tubuh ramping Lilia di belakang postur tegapnya.
“Siapa kau” tanya Lech penuh penuh penekanan. Dia terus berusaha berdiri tegak, meski darah sudah mengalir deras membasahi pakaian. Merembes keluar, meski tak terlihat karena saat itu Lech mengenakan kemeja berwarna hitam.
“Kau tidak perlu mengetahui siapa diriku,” jawab Ludwig memasang wajah beringas. Dia melayangkan tendangan keras ke dada Lech yang tertusuk pisau tadi, sehingga tubuh tegap pria itu terjengkang ke belakang. Lech terkapar dengan napas tersengal-sengal. Lemas dan tak berdaya, karena
kehilangan banyak darah.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Ludwig. Dia mencabut paksa pisau yang menancap di dada Lech, seraya kembali menendang tubuh yang sudah tak berdaya tadi berkali-kali. Ludwig tak peduli meski Lech memekik kesakitan, hingga akhirnya tak sadarkan diri. Satu kesalahan Ludwig ialah dia tidak langsung menghabisi Lech saat itu juga, karena dirinya juga sudah terluka parah dan hampir kehabisan energi.
“Sudah. Hentikan. Ayo kita pergi dari sini,” ajak Lilia. Dia menarik tangan Ludwig yang sedikit gontai.
Ludwig menoleh. Dia bergegas membawa Lilia pergi dari sana. Pria itu bahkan setengah menyeretnya, agar Lilia bisa berlari lebih cepat. Namun, langkah keduanya terpaksa harus berhenti. Beberapa meter di depan, telah berdiri seorang pria berpostur tinggi besar yang siap menghadang dengan pistol terarah langsung ke arah mereka.
“Ulger,” gumam Ludwig. Akhirnya, Ludwig menemukan pria dalam sketsa yang dalam beberapa hari ini dirinya cari. Dia sebenarnya membutuhkan pria itu untuk diinterogasi. Namun, karena situasi seperti saat ini yang tak menguntungkan, maka Ludwig harus kembali memutar otak.
“Mundur, Lilia,” bisik Ludwig. Dia bergerak perlahan ke depan tubuh wanita cantik tersebut. Ludwig, menyembunyikan tangannya yang tengah memegang pisau berlumur darah Lech.
“Kau pikir bisa keluar dari sini hidup-hidup?” Pria bernama Ulger tadi menyeringai lebar.
Bersamaan dengan Ulger yang menarik pelatuk pistolnya, Ludwig pun melemparkan pisau tadi hingga menancap tepat di pergelangan tangan dan mengenai urat nadi. Pistol menyalak, memuntahkan peluru yang melesat cepat ke arah Ludwig.
“Tidak!” pekik Lilia, saat melihat lengan Ludwig terkena tembakan. “Ayo kita pergi!” Lilia menarik pria yang masih diakui sebagai suaminya.
Ludwig melangkah agak sempoyongan sambil memegangi lengan yang terkena tembakan. Dia berjalan dengan dipapah oleh Lilia. Ludwig pasrah, saat wanita cantik tersebut membawanya keluar melalui jalur lain bar.
“Kita akan ke mana?” tanya Ludwig sambil meringis menahan sakit.
__ADS_1
“Aku pernah mencoba melarikan diri melalui jalan ini. Namun, sayangnya gagal karena anak buah Lech lebih dulu menemukanku,” jawab Lilia menerangkan sambil terus memapah Ludwig. “Apa kau masih kuat berjalan?” tanyanya khawatir.
“Jangan khawatir,” sahut Ludwig. Suaranya terdengar berat dan dalam.
Lilia terus membawa Ludwig menyusuri gang kecil. Benar-benar kecil, karena hanya bisa dilalui satu orang. Lilia berjalan di depan sambil menuntun Ludwig yang berusaha tetap terjaga. Setelah beberapa saat berlalu, mereka keluar dari gang kecil tadi. Keduanya sudah berada di pinggir jalan. Namun, bukan jalur utama yang biasa Ludwig lalui.
“Dari sini, kita akan ke mana?” tanya Ludwig lagi. Dia terlihat ragu, karena melihat Lilia yang melihat ke sana-sini, seakan memang tak tahu arah.
“Um … kita ….” Lilia terlihat kebingungan.
Akhirnya, Ludwig mengajak wanita itu untuk mencari tempat yang cukup tersembunyi. Dia lalu mengeluarkan ponsel. Ludwig menghubungi Jedrick. Dia meminta agar anak buahnya tersebut segera menjemput ke titik lokasi yang dirinya kirimkan.
Sambil menunggu kedatangan Jedrick, Ludwig duduk bersandar demi menetralkan semua rasa sakit di tubuhnya. Sedangkan, Lilia melepas bra yang dirinya kenakan. Kain penutup payu•dara tersebut, digunakan untuk mengikat lengan Ludwig agar tidak terus mengeluarkan darah.
“Apa yang kau lakukan?” Ludwig tak percaya, saat lengannya diikat menggunakan barang pribadi seorang wanita. “Astaga,” keluh pria itu.
“Diamlah.” Lilia tak menghiraukan protes yang Ludwig lakukan. Dia melanjutkan apa yang sedang dilakukannya, hingga terdengar langkah kaki seseorang.
Sambil menahan sakit, Ludwig memicingkan mata. Dia tahu betul bahwa yang berdiri di hadapan mereka bukanlah Jedrick, melainkan Ulger. Ternyata, pria tinggi besar tersebut mengejar keduanya hingga ke sana.
Ludwig yang mengalami luka-luka dan kehilangan banyak darah, memaksakan diri untuk berdiri. Begitu juga dengan Lilia. Wanita itu mengancingkan bagian depan mantelnya, lalu merapatkan tubuh kepada Ludwig.
“Kembalikan Red Lily, maka akan kubiarkan kau tetap hidup.” Ulger berkata sambil mengarahkan senjata api ke arah Ludwig. “Kau orang asing yang bodoh, karena telah berani berurusan dengan Tuan Lech Czeslaw.” Pria dengan luka parut di pelipis kanan itu menyeringai. Samar, wajah sangarnya terkena cahaya lampu berwarna kuning yang terpasang tak jauh dari tempat itu.
“Langkahi dulu mayatku!” balas Ludwig tak gentar. Dia menyuruh Lilia agar menjauh darinya. Semntara, Ludwig sendiri memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang.
“Kali ini, tembakanku tak akan mele ….” Belum sempat Ulger melanjutkan kata-katanya, pria itu lebih dulu ambruk setelah mendapat pukulan keras di tengkuk. Ulger tergeletak tak sadarkan diri, setelah kembali mendapat pukulan sebanyak tiga kali menggunakan benda tumpul.
“Jed?” Ludwig menyebut nama sang anak buah.
__ADS_1
“Maaf, karena aku terlambat. Anda tidak apa-apa, Tuan?” tanya Jedrick seraya langsung menghampiri Ludwig. “Astaga. Kita harus bergegas mengobati luka Anda.”
“Seret pria itu sekalian. Aku membutuhkannya untuk mengorek informasi,” titah Ludwig. Dia menoleh kepada Lilia, lalu mengisyaratkan wanita dengan mantel cokelat tersebut agar mendekat.
“Baik, Tuan. Ayo. Kita harus segera pergi dari sini,” ajak Jedrick. Dia menyeret tubuh Ulger dengan susah payah, berhubung posturnya jauh lebih kecil dari pria yang dalam kondisi tak sadarkan diri tersebut. Setelah tiba di dekat mobil, Jedrick memasukkan tubuh Ulger ke dalam bagasi.
“Kita ke tempatku saja,” ucap Ludwig setelah kendaraan milik Jedrick mulai melaju, meninggalkan tempat tadi. “Di sana merupakan lokasi yang aman.” Ludwig sudah terlihat semakin pucat. Membuat Lilia tampak sangat khawatir.
“Sebaiknya kita segera ke rumah sakit, untuk mengobati luka tembak dan luka lain yang kau derita,” ucap Lilia dengan tatapan iba.
Namun, Ludwig segera menggeleng. Dia menolak saran dari Lilia. “Jedrick tahu harus melakukan apa. Kau tidak perlu khawatir,” ujarnya menenangkan.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan rumah yang ditempati Ludwig. Lilia langsung membantu pria itu turun dari mobil, lalu berjalan masuk meski cukup sulit. Sementara, Jedrick mengurus Ulger yang masih dalam kondisi pingsan. Dia mengikat serta menutup mulut pria itu menggunakan lakban. Jedrick memang selalu menyimpan banyak barang di mobil tuanya.
Setelah mengurus Ulger, Jedrick langsung membawa kotak P3K yang selalu tersedia di mobilnya. Dengan cekatan, pria dua puluh lima tahun tersebut membantu mengeluarkan peluru dari lengan Ludwig. Beruntung timah panas tersebut hanya menembus lapisan luar, sehingga Jedrick dapat mengeluarkannya tanpa ada kesulitan yang berarti.
“Pelurunya tidak terlalu dalam, Tuan. Tuhan masih menyayangi Anda,” ucap Jedrick diiringi senyum kalem. Dia membebat lengan Ludwig memakai perban.
“Apa pria itu belum sadarkan diri?” tanya Ludwig. Dia terlihat jauh lebih baik, meski masih masih merasakan sakit yang luar biasa, karena Jedrick mengeluarkan peluru tadi tanpa memakai obat bius.
“Belum, Tuan. Aku akan membawanya ke tempatku. Bagaimana menurut Anda?”
“Iya. Bawa dan amankan dia. Nanti aku menyusul ke sana” balas Ludwig diiringi ringisan kecil.
“Baiklah, Tuan. Aku pergi dulu. Lagi pula, ada yang merawat Anda di sini,” ujar Jedrick, seraya mengarahkan perhatian kepada Lilia, yang baru muncul sambil membawa makanan. Entah apa yang telah dia buat untuk Ludwig.
Ludwig mengangguk samar. “Pergilah. Hubungi aku jika ada sesuatu yang penting,” pesannya, saat melihat Jedrick sudah bersiap untuk beranjak dari sana.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Lilia setelah Jedrick benar-benar pergi. “Maaf, aku mengambil bajumu tanpa izin. Aku ….”
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Lilia,” sela Ludwig. “Kuharap ini belum terlambat,” ucapnya lagi.