
“Apa lagi yang mereka perintahkan selain menemui pengusaha yang kau sebutkan tadi?” Ludwig terus mencecar Anatoli dengan macam-macam pertanyaan. Dia harus mendapat informasi sebanyak-banyaknya.
“Aku … ah, tidak! Kumohon, Tuan. Bisa saja anak buah pria itu tengah mengawasiku saat ini,” tolak Anatoli. Dia tak ingin mengungkapkan lebih banyak lagi kepada Ludwig. Anatoli terlalu takut dengan risiko yang akan diterimanya.
“Jangan khawatir. Kupastikan kau bisa bebas berbicara malam ini,” ucap Ludwig pelan. Gaya bicara pria tampan itu sangat mirip dengan seorang psikopat, yang akan menghabisi korbannya.
“Apa jaminannya?” tanya Anatoli memastikan. Dia tak bisa memercayai setiap orang asing yang datang padanya. Pria itu tidak ingin kembali terjebak. “Aku tidak mengetahui siapa kalian. Bisa saja, kau dan temanmu yang di belakangku ini merupakan anak buah dari pria yang pernah mendatangiku dulu.”
“Jangan sembarangan, Bung!” sanggah Jedrick. “Kami bukan bagian dari organisasi manapun. Tuanku adalah seorang bos besar,” ujarnya. Namun, pria berjaket hoodie dengan bagian penutup kepala yang menyembunyikan rambut uniknya tersebut segera diam, saat Ludwig memberi isyarat agar dia tak banyak bicara.
“Aku tidak akan menjamin apapun. Aku hanya memastikan saat ini tak ada orang lain yang menguntitmu, selain rasa takut. Namun, jika kau bersedia bekerja sama, bisa saja semua rasa takut itu akan segera pergi untuk selamanya.” Ludwig menyeringai kecil.
Anatoli terdiam beberapa saat. Raut wajah serta sorot matanya tampak seperti tengah menimbng-nimbang. Helaan napas berat pun terdengar mengiringi kebimbangannya. “Baiklah,” putus pria itu, “tapi, tolong suruh temanmu untuk melepaskanku terlebih dulu.”
Ludwig menoleh kepada Jedrick. Dia memberi isyarat agar pria muda itu melakukan apa yang Anatoli inginkan. Tak harus diberi perintah secara lisan, Jedrick langsung menurut. Dia melepaskan pegangan kencangnya dari tangan Anatoli.
“Bicaralah,” suruh Ludwig dingin.
Anatoli mengusap-usap tangannya yang terasa pegal. Setelah melakukan sedikit peregangan, barulah dia berbicara. “Aku tidak mengetahui nama pria itu. Namun, aku masih mengingat ciri-cirinya.”
“Sebutkan,” suruh Ludwig lagi, setelah Jedrick sudah bersiap dengan perekam di ponselnya.
“Pria itu memiliki tinggi kurang lebih enam kaki. Dia berwajah cukup sangar, ya terlihat menakutkan. Kedua matanya sangat tajam dengan iris berwarna gelap. Sama seperti warna rambutnya. Seingatku, pria itu berambut gondrong. Sedikit di atas bahu. Lurus, dengan potongan belah tengah dan ….” Anatoli menjeda sejenak kata-katanya untuk kembali mengingat-ingat.
“Dan apa?” tanya Ludwig mulai tak sabar.
__ADS_1
“Pria itu memiliki luka parut di dekat pelipis kanan. Luka sepanjang lima senti kurang lebih,” jelas Anatoli. “Aku juga melihat tato ular kobra berukuran kecil di dekat ibu jari sebelah kiri.” Anatoli kembali diam dan berpikir. “Hanya itu yang bisa kuingat, Tuan,” ucapnya kemudian.
“Kuharap kau memberikan informasi yang benar. Jika kau berani bermain-main denganku, kupastikan bayanganmu pun tak akan berani mengikuti kau keluar rumah,” ancam Ludwig dingin dan penuh penekanan.
“Ti-tidak, Tuan. A-aku … itu yang sebenarnya,” balas Anatoli pasrah.
“Baiklah.” Ludwig membetulkan topi baseball yang dikenakannya, sebelum pergi meninggalkan Anatoli. Dia sudah mengantongi ciri-ciri orang yang dikiranya merupakan Radko Trava.
Ludwig bermaksud kembali ke rumah yang dirinya tempati. Namun, pria itu tertegun sejenak, saat melewati depan gedung apartemen tempat tinggal Lilia. Ludwig sedikit mendongak. Dia tak yakin apakah Lilia ada di tempatnya malam itu.
“Red Lily biasa tampil dua kali dalam sebulan. Karena itulah, tarif pertunjukannya terbilang mahal,” ujar Jedrick tanpa diminta. Dia seakan sudah tahu apa yang Ludwig pikirkan.
Ludwig menggumam pelan seraya melanjutkan langkah. “Kau salah satu penggemar beratnya?”
“Aku tidak tahu jika dia pandai menari,” ujar Ludwig pelan dan datar, sambil terus berjalan menyusuri trotoar.
“Anda sudah lama mengenalnya?” Jedrick memberanikan diri bertanya.
“Sejak kapan kau jadi ingin tahu dengan urusan pribadiku?” jawab Ludwig dingin. “Selamat malam, Jed.” Ludwig mengambil jalan lain untuk menuju rumah yang dia tempati.
Setibanya di dalam rumah, Ludwig segera membuka rekaman yang tadi diambil saat menginterogasi Anatoli. Dia mengulang itu sampai beberapa kali, sebelum mengirimkannya kepada Oliver.
Buatkan aku sktesa dari ciri-ciri yang sudah disebutkan pria itu. Segera kirimkan hasilnya.
Beberapa saat kemudian, Oliver membalas.
__ADS_1
Akan kukirimkan hasilnya besok siang.
Ludwig tak membalas lagi jawaban dari Oliver. Tubuhnya terasa begitu lelah. Dia langsung berbaring, dengan tatapan menerawang langit-langit ruangan kamar. Bayangan paras cantik Lilia, tiba-tiba berkelebat di benaknya.
"Kau sangat menggangguku, Lilia," keluh Ludwig seraya kembali bangkit, lalu duduk di ujung tempat tidur. Niatnya untuk beristirahat dia urungkan. Ludwig memilih keluar kamar, lalu mengambil sekaleng minuman dari lemari es.
Pria tampan berambut cokelat tembaga itu berdiri dekat jendela kaca tanpa tirai. Kilasan kejadian beberapa waktu silam kembali hadir silih berganti. Hal tersebut membuat Ludwig merasa aneh. Sejak kapan dia mulai memiliki rasa bersalah?
"Tidak, Ludwig! Jangan terjerumus lagi dalam kebodohan!" tolaknya seraya meneguk minuman kaleng, yang sedari tadi ada dalam genggaman. "Aku harus tetap fokus," ucap pria itu lagi pada diri sendiri.
Keesokan harinya, sesuai dengan yang sudah dijanjikan. Oliver mengirimkan hasil sketsa ciri-ciri pria yang disebutkan Anatoli. Tak lupa, Ludwig langsung menunjukkan itu kepada Jedrick, agar anak buahnya tersebut ikut mencari informasi tentang sosok pria dalam gambar.
“Aku akan meminta bantuan Valeska. Dia mengenal dan biasa bertemu banyak orang,” ucap edrick.
“Valeska? Siapa dia?” tanya Ludwig seraya memicingkan mata, karena nama itu teramat asing di telinganya.
“Dia salah seorang kenalanku, Tuan,” jawab Jedrick enteng. “Jika mau, kita bisa menemuinya nanti malam,” tawar pria itu.
“Baiklah. Apapun akan kulakukan demi kebebasan mutlak,” balas Ludwig. Dia sengaja tak pulang. Ludwig terus berada di tempat Jedrick hingga malam tiba. Kedua pria itu kembali melanjutkan misi mencari informasi, seperti yang dilakukan kemarin malam.
Jedrick mengajak Ludwig ke sebuah tempat karaoke. Dia memesan ruangan dengan pemandu Valeska Vondra. Seorang petugas, mengarahkan mereka ke ruangan yang sudah dipesan. Jedrick dan Ludwig menunggu beberapa saat, hingga seorang wanita cantik berambut pirang masuk ke sana.
“Hai, Jedi. Sudah lama kau tidak kemari,” sapa wanita berpakaian minim itu. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Ludwig, yang duduk tenang penuh wibawa di sofa. Valeska berjalan ke dekat pria tampan tersebut, kemudian duduk di sebelahnya. “Hai, Tampan. Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.
Ludwig menoleh, lalu menatap lekat kepada Valeska.
__ADS_1