
Nafsu berahi telah menguasai. Rasa cinta yang teramat besar, berbumbu kerinduan menggebu. Kedua hal tadi menjadikan Ludwig dan Lilia menjadi terlupa. Mereka tak ingin melakukan yang lain lagi, selain menuntaskan semuanya dalam satu kehangatan.
Peluh bercucuran, seiring deru napas memburu. Keindahan itu kembali mereka reguk bersama dalam penyatuan yang telah lama tak dilakukan, karena terpisah jarak dan keadaan. Kali ini, dua sejoli tersebut ingin benar-benar menikmati setiap detail sentuhan memanjakan.
“Ah, Ludwig.” Desah pelan Lilia terdengar begitu merdu di telinga Ludwig yang terus memacu diri, menuju titik puncak tertinggi. Akhirnya, mereka terkulai dengan napas terengah-engah menahan lelah.
Lilia tertawa renyah, ketika Ludwig memeluk tubuh polosnya. Wanita cantik itu terlihat sangat nyaman, berada dalam dekapan pria pujaan hatinya.
“Setelah ini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Ludwig sambil terus mendekap erat Lilia.
“Ke mana?” tanya Lilia penasaran.
“Nanti juga kau akan tahu,” jawab Ludwig, membuat rasa penasaran dalam diri Lilia kian menjadi. “Bersihkan dulu dirimu. Setelah itu, berpakaianlah yang rapi.” Ludwig melepaskan rangkulannya. Dia turun dari tempat tidur, lalu mengenakan kembali celana yang tergeletak di lantai. Ludwig melangkah ke pintu di sudut ruangan.
Sementara, Lilia hanya memperhatikan dengan wajah yang masih terlihat penasaran. Tak ingin terus bertanya-tanya, wanita cantik tersebut ikut turun. Dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, Lilia masuk ke ruangan di balik pintu tadi. Untuk kesekian kalinya, wanita cantik tersebut kembali dibuat terperangah dengan apa yang dia lihat.
Di dalam ruangan itu, terdapat banyak dress cantik dan berbagai perlengkapan lain. Lilia mendekat kepada Ludwig, yang tengah berdiri di depan lemari kaca. Pria itu terpaku memperhatikan dress-dress cantik yang digantung rapi.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Lilia. Suara lembutnya membuyarkan lamunan Ludwig. Membuat pria tampan dengan beberapa tato itu seketika menoleh.
“Aku ingin memilihkan salah satu dress ini untukmu. Namun, kupikir sebaiknya kau memilih sendiri. Aku hanya ingin kau merasa nyaman dan tidak terbebani,” jawab Ludwig diiringi senyum simpul.
Lilia berjalan semakin mendekat. Dia berdiri di sebelah Ludwig, lalu mengarahkan perhatian pada deretan dress cantik tadi. “Aku hanya ingin selalu terlihat cantik di matamu. Jadi, berikan apapun yang menurutmu pantas untukku,” balas Lilia seraya menyandarkan kepala ke lengan Ludwig.
__ADS_1
“Kau adalah wanita termanis yang pernah kutemui,” ucap Ludwig seraya merengkuh pundak Lilia, lalu mengecup pucuk kepala wanita yang telah mengubah kembali rambut aslinya.
Beberapa saat kemudian, Lilia sudah tampil cantik dengan dress mahal yang Ludwig pilihkan. Dia melangkah anggun keluar kamar, untuk menemui Ludwig yang menunggunya di ruang tamu.
Ludwig juga sudah berpenampilan rapi. Dia mengenakan kemeja hitam berlapis blazer abu-abu. Pria itu tampak asyik memainkan ponsel, ketika Lilia berdiri di hadapannya. Satu hal yang pertama kali mengalihkan perhatian Ludwig, adalah sepasang kaki jenjang dengan ankle strap heels indah berwarna putih.
“Ratuku,” sambut Ludwig penuh kekaguman. Dia segera berdiri. Satu ciuman mesra sebagai hadian bagi Lilia, karena sudah tampil sangat cantik siang itu. “Ayo,” ajak Ludwig. Dia membawa wanita dengan midi dress hitam tersebut menuju lift.
Siang itu, jalanan Kota Berlin tampak ramai. Ludwig mengemudikan sendiri mobil jeep hitam kesayangan yang sangat dia rindukan. Sesekali, pria tampan berambut cokelat tembaga tadi melirik Lilia yang terlihat begitu menikmati perjalanan mereka.
Ludwig ingin fokus pada lalu lintas yang dilaluinya. Namun, dia tak tahan untuk tidak menyentuh wanita cantik, yang sejak tadi terdiam karena terlalu asyik menikmati suasana Kota Berlin. Sentuhan lembut Ludwig mendarat di paha Lilia yang tertutupi dress hitam. Pria itu kemudian menggenggam erat jemari lentik wanita pujaannya.
Lilia hanya tersenyum sambil menatap Ludwig. Dia ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, harus dirinya urungkan karena mereka telah tiba di tempat tujuan.
Selang beberapa saat, pintu terbuka. Tampaklah seorang wanita paruh baya dengan tatanan rambut serta penampilan yang sangat elegan. Wanita itu menatap Ludwig dengan sorot tak percaya. “Nak,” ucapnya lirih.
“Apa kabar, Delma?” sapa Ludwig datar. Dia lalu menoleh kepada Lilia. “Dia adalah Lilia Lienhart. Calon istriku,” ucap Ludwig.
Senyum semringah dengan binar indah, menghiasi wajah cantik Lilia dan wanita bernama Delma yang mereka temui siang itu. Lilia menatap lembut penuh cinta kepada Ludwig. Sementara, Delma langsung memeluk pria berpostur tegap tersebut.
“Masuklah. Kita bicara di dalam,” ajak Delma.
Ludwig yang belum melepaskan genggamannya dari Lilia, kembali menuntun wanita itu memasuki bangunan tadi. Dia membawa wanita dua puluh empat tahun tersebut duduk tepat di sebelahnya.
__ADS_1
“Aku akan segera melangsungkan pernikahan dengan Lilia. Kuharap, kau bisa membantu mempersiapkan segala sesuatunya kali ini,” ucap Ludwig, saat Delma sudah duduk di salah satu kursi.
“Tentu. Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk pesta ini,” balas Delma. Dia tak kuasa menahan haru, setelah mendengar keputusan Ludwig yang sangat mengejutkan tadi. “Kau menghilang sekian lama, lalu kembali membawa seseorang kemari. Aku tidak bisa memercayai ini.”
“Kau tak harus memikirkan macam-macam, Delma. Lakukan saja segala sesuatunya dengan sempurna. Kau sudah tahu seperti apa yang kuinginkan,” ujar Ludwig. Dia lalu berdiri. Tak lupa, dirinya mengulurkan tangan kepada Lilia, dengan tujuan mengajak wanita itu agar ikut berdiri.
“Kalian akan ke mana sekarang?” tanya Delma yang ikut beranjak dari tempat duduknya.
“Aku ingin mengajak Lilia memilih gaun pengantin,” jawab Ludwig seraya menoleh kepada wanita cantik yang tengah menatap ke arahnya. “Aku ingin melangsungkan pesta pernikahan secepatnya,” ucap pria itu lagi, tanpa mengalihkan perhatian dari paras menawan Lilia.
Delma tak mampu berkata-kata. Dia tersenyum penuh keharuan, melihat perubahan besar dalam diri Ludwig. Delma tak tahu apa yang terjadi dalam masa pelarian Ludwig selama kurang lebih dua tahun, hingga pria itu dinyatakan bebas. Semua rasa penasaran wanita paruh baya tadi terjawab, saat dirinya dapat memeluk Lilia. Wanita cantik yang Ludwig sebut sebagai calon istrinya.
Ludwig dan Lilia kembali menyusuri jalanan Kota Berlin. Kali ini, Lilia tidak menjadi pendiam seperti tadi. Ada rasa ingin tahu yang harus ditanyakannya kepada Ludwig.
“Nyonya Delma adalah wanita yang sangat baik. Dia juga terlihat sangat menyayangimu,” ucap Lilia, membuka percakapan.
“Ya. Dia selalu membantuku untuk mengurus hal-hal yang tidak kumengerti,” sahut Ludwig.
“Aku melihatnya dengan jelas. Cara dia menatapmu sangat berbeda. Sepertinya, kau merupakan seseorang yang istimewa untuk Nyonya Delma,” ucap Lilia lagi. Entah mengapa, dia terus membahas wanita paruh baya tersebut.
“Begitukah?” Ludwig menoleh sekilas kepada Lilia, sebelum menepikan kendaraan di depan butik khusus gaun pengantin. Dia melepas sabuk pengaman, lalu setengah menghadapkan tubuh kepada Lilia. “Kau ingin mengetahui sesuatu, Lilia?”
“Apa?” Lilia balik bertanya.
__ADS_1
“Aku tak pernah mengatakan ini pada siapa pun. Kau yang pertama mengetahui, bahwa Delma adalah ibu kandungku,” jawab Ludwig enteng.