
Ludwig berpindah tempat ke dekat Lilia. Dia menatap wanita itu dari jarak cukup dekat, sehingga dapat melihat paras cantik Lilia dengan sangat jelas. Wanita yang dulu selalu terlihat polos itu, kini sudah banyak berubah.
Lilia merias wajahnya dengan polesan make up hingga sedemikian rupa dan tampak berbeda. “Kau semakin cantik,” sanjung Ludwig, seraya membelai lembut pipi Lilia yang hanya diam menatapnya. “Maafkan aku,” pinta pria tampan itu lirih.
Lilia tidak menanggapi. Sepasang mata abu-abunya mulai berkaca-kaca. Wanita muda itu tak bisa menepis perasaan dalam hati, bahwa dia memang jatuh cinta terhadap Ludwig alias Heinz. Lilia mungkin terlalu lemah, saat harus menghadapi perasaan cinta yang terlalu besar kepada Ludwig. Si pemilik rambut merah itu memejamkan mata, saat kening mereka saling bersentuhan.
“Aku ingin mendapatkan kebebasanku kembali,” ucap Ludwig pelan, bahkan setengah berbisik. “Semuanya sangat memusingkan.” Ludwig mere•mas lembut rambut panjang Lilia yang masih memejamkan mata. Wanita itu mulai terbuai. Dia kembali terkenang pada malam-malam yang dulu dihabiskannya bersama Ludwig.
Ciuman mesra penuh perasaan berlangsung selama beberapa saat. Tak hanya satu kali, tapi hingga berkali-kali mereka melakukan pertautan manis itu. Lilia bahkan seakan terlupa dengan segala rasa sakit yang telah diberikan oleh Ludwig. Kenyataannya, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tersebut semakin terbuai, hingga sofa panjang itu akhirnya menjadi saksi percintaan panas yang terjeda selama beberapa bulan.
Helaan napas berat, berbaur dengan desah napas lembut yang mengisi ruang apartemen berpencahayaan temaram itu. Mereka kembali menikmati penyatuan panas untuk melebur rindu yang menggebu. Sekian lama keduanya tak saling bersentuhan, saling merasakan, dan berbagi rasa hangat penuh kemesraan.
Seperti menjadi yang pertama kali bagi Lilia, saat dia kembali merasakan keperkasaan seorang Ludwig. Begitu juga dengan pria itu yang teramat merindukan kelembutan seorang Lilia. Mereka saling melengkapi lagi, dalam melakukan perjalanan menuju puncak. Mengetuk pintu nirwana.
Sekitar satu jam kemudian, Ludwig sudah kembali mengenakan celana jeansnya. Namun, dia belum sempat memakai T-Shirt, ketika Lilia memeluknya dari belakang. “Kau tahu bahwa ini tidak gratis. Kau harus membayarku untuk pelayanan tadi,” ucap putri tunggal Gunther tersebut.
Ludwig menggumam pelan. Dia membalikkan badan, lalu menangkup paras cantik Lilia yang masih dalam keadaan polos. Pria itu mencium lembut, lalu membopong si pemilik tubuh ramping tadi menuju kamar. Ludwig membaringkan Lilia di kasur. Dia menyeringai kecil sambil menurunkan resleting celananya. Untuk kedua kali dalam malam itu, dia menikmati pelayanan Lilia hingga mereka sama-sama terkulai beberapa saat kemudian.
“Apa kau sudah memaafkanku?” tanya Ludwig, saat Lilia bergelayut dalam dekapannya.
“Memangnya kenapa?” Lilia balik bertanya.
__ADS_1
“Kita bercinta sebanyak dua kali malam ini. Bukankah kau tidak boleh disentuh pria lain selain ….” Ludwig menjeda kata-katanya. Dia berpikir sejenak. “Apakah pria tadi yang kau sebut sebagai bos besar” tanyanya.
Lilia menegakkan tubuhnya. Dia beranjak turun dari kasur, lalu mengambil kimono berbahan satin dari lemari. Lilia mengenakan baju tidur itu, kemudian duduk di ujung tempat tidur dengan posisi membelakangi Ludwig.
“Kau tidak ingin bercerita padaku?” tanya Ludwig, memancing Lilia agar mengungkapkan semua yang wanita itu alami.
Lilia tertunduk lesu. Wanita itu meletakkan kedua tangan di samping kanan dan kiri tubuh. Jemari lentiknya meremas permukaan bedcover, yang melapisi kasur tempat dirinya bercinta dengan Ludwig beberapa saat lalu.
“Bicaralah,” pinta Ludwig. Meski nada bicara serta raut wajah pria itu masih terkesan dingin dan kaku, tapi dia berusaha untuk menunjukkan perhatiannya kepada Lilia.
“Apa yang ingin kau ketahui? Aku sudah mengatakannya kemarin,” balas Lilia tanpa menoleh.
“Kau belum mengatakan semuanya,” bantah Ludwig. “Siapa bajingan itu, Lily?”
Lilia masih dalam posisi duduk membelakangi dengan kepala menunduk. Beberapa saat wanita cantik tersebut hanya terisak pelan, hingga dirinya merasa puas. Setelah itu, barulah Lilia menyeka air mata yang membasahi pipi. Dia beranjak dari duduknya, lalu mengambil rokok dari meja rias. Putri pemilik Peternakan Lienhart yang telah terbakar tadi, duduk anggun sambil menyilangkan kaki. Gerakannya begitu luwes saat menyulut rokok hingga mengeluarkan asap. Lilia mengisapnya pelan, kemudian mengepulkan asap tipis ke udara.
Sementara, Ludwig duduk di tempat tidur sambil melingkarkan tangan pada kedua lutut yang ditekuk. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Lilia dengan detail. Wanita itu memang bukan lagi seseorang yang dikenalnya saat di peternakan. Entah seburuk apa kemalangan yang telah menimpa Lilia, sehingga wanita dua puluh tiga tahun tersebut berubah drastis seperti itu.
“Malam itu, saat kau pergi meninggalkanku dalam huru-hara.” Lilia memulai cerita, sebelum kembali mengisap rokok, lalu mengepulkan asapnya. “Marik mengikat kedua tanganku ke belakang, saat dia memaksa agar aku ikut dengannya. Dia juga menutupi mataku dengan kain. Saat itu, semuanya gelap. Termasuk pikiranku.” Lilia membuang abu rokok ke dalam asbak. “Aku tidak tahu berada di mana. Namun, saat itu mereka belum membawaku keluar dari Austria.” Lilia mengisap rokok yang hanya tersisa setengah. Tatapan wanita itu tertuju lurus kepada Ludwig. Sendu dan penuh kepedihan yang sengaja disembunyikan.
“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Ludwig kemudian, tanpa mengubah posisi duduknya.
__ADS_1
“Marik membawaku masih dengan mata tertutup kain dan tangan terikat. Aku tidak bisa melakukan apapun. Pikiranku terlalu kacau. Seluruh tenaga dalam tubuhku seakan sirna dan ….” Lilia mematikan sisa rokoknya di dalam asbak. Dia menyandarkan tubuh ke sofa, sambil menopang kening.
“Aku mendengar pria itu menyebutkan namanya. Lech. Ya, Lech,” ulang Lilia seraya tertawa getir. “Kuakui dia pria yang tampan … sepertimu.” Wanita cantik berambut pirang tersebut kembali melayangkan tatapannya kepada Ludwig. “Dia setampan dirimu, Tuan Stegen,” ulangnya.
“Lech?” Ludwig menyebut kembali nama yang tadi diulangi Lilia hingga dua kali.
Lilia mengangguk. Angannya melayang pada beberapa waktu silam, setelah peristiwa mengerikan yang terjadi di Peternakan Lienhart.
“Aku mendapatkan wanita ini dari peternakan itu, Tuan.” Pria yang tak lain adalah Marik, mendorong tubuh Lilia hingga jatuh ke hadapan seorang pria yang tengah duduk penuh wibawa sambil menikmati segelas minuman.
Pria dengan perawakan tegap tadi, meletakkan gelas berisi minuman. Dia mencondongkan tubuh, lalu meraih rambut panjang Lilia. Digenggamnya mahkota indah berwarna cokelat tembaga milik wanita malang tersebut, hingga Lilia sedikit mendongak. Si pria memandang paras cantik dengan mata tertutup kain tadi hingga beberapa saat, sebelum menyuruh Marik agar keluar. “Tinggalkan kami berdua.”
“Baik, Tuan. Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya Marik lagi.
“Aku hanya ingin kau menutup pintu rapat-rapat. Jika ada yang mencariku, katakan bahwa Lech sedang sibuk,” jawab si pria bernama Lech tersebut.
“Baik, Tuan.” Sekali lagi, Marik mengangguk penuh hormat, sebelum keluar dari ruangan itu. Dia juga menutup rapat pintu, lalu melangkah pergi meninggalkan sang tuan dengan wanita yang entah akan seperti apa nasibnya.
“Siapa namamu, Sayang?” tanya Lech seraya mengangkat dagu Lilia yang merintih pelan.
“Lily,” jawab Lilia pelan.
__ADS_1
“Lily,” ulang Lech. Dia membantu Lilia berdiri, lalu tiba-tiba mengempaskan tubuh lemah wanita malang itu ke sofa dalam posisi telungkup. Lilia tak bisa berontak, karena tangannya masih terikat.